
Siang begitu terik, sang surya seakan belum puas menyengat alam yang bahkan sudah terlihat gersang tanpa siraman kasih sayang sang pencipta.Derap langkah kaki seorang gadis berkebangsaan luar negeri itu begitu kontras dengan high heel yang dipakainya
Sinar matahari tidak berhenti menyengat kulit putih terawatnya yang bahkan mulai menggelap seiring berjalannya waktu dia tinggal di negara beriklim tropis ini.Langkahnya bergerak cepat menghindar sinar matahari dari balik bayang bayang gedung untuk sedikit menjaga kulitnya agar tidak mengalami penuaan dini karena terus terusan terpapar sinar ultra violet dari sang surya
Walau langkah bergerak cepat namun tidak kunjung juga membuatnya cepat sampai tujuan dan mulutnya terus-menerus melapalkan mantra pengutuk untuk tiga pria pembawa sial dalam hidupnya terutama pada bosnya yang dengan tidak berperasaannya menyuruhnya kembali meninjau proyek kerjasama perusahaan middle corp. dengan perusahaan pak Anwar disiang terik begini, terlebih tanpa ongkos transportasi sama sekali, bosnya benar-benar pelit namun Claudia, si gadis blonde tidak berani membantah karena sudah dua hari ini bosnya kembali ke masa kejamnya
"Andai aku bisa sihir, aku akan sangat mudah terbang ke tempat proyek itu..ah tidak.Kalau aku punya sihir akan kukutuk kakak lucknutku menjadi katak dan pak Mike sialan menjadi nyamuk serta si Revan menjadi ular..pasti seru melihat mereka saling santap menyantap" ujarnya sembari tertawa dengan pemikiran lucunya sembari mempercepat langkahnya dalam mengejar perputaran waktu.
Nafasnya terengah-engah serta buliran air asam keringat menetes dari dahinya, dirinya benar-benar butuh perjuangan hanya untuk sampai ke tempat proyek itu
"Hidup ini benar-benar tidak mudah" gumamnya memandang bangunan setengah jadi didepannya.Claudia berdiri tegap, merapikan pakaiannya sebentar dan mulai memantapkan langkah berjalan menuju ruangan yang dulu pernah ditunjukkan oleh Revan untuk mereka bicara sekaligus tempat yang menjadi saksi kejadian memalukan dirinya yang mencoba membuka kemeja pria itu.Perlahan Claudia mencoba mengetuk pintu ruangan yang tertutup didepannya
"Permisi,pak Revan" serunya mencoba memanggil dan tidak lama berselang waktu pintu ruangan itu terbuka menampilkan seorang pria yang tampak awut-awutan seakan tanpa jiwa yang memenuhi raganya
"Pak Revan" Claudia mencoba memanggil
"Ada apa?" tanya Revan langsung, sebenarnya dia sangat malas berurusan dengan orangnya Mike namun dia sudah menandatangani kontrak untuk proyek ini dan itu artinya dia harus tetap menahan diri dengan orang-orangnya Mike sampai proyek itu selesai dan kontraknya habis
"Anda bermalam disini?" pertanyaan itu keluar dengan sendirinya dari bibir gadis blonde itu.Revan menatap datar gadis didepannya yang menurutnya sangat suka mencampuri urusan pribadinya
"Katakan tujuan anda kemari? tidak perlu ikut campur dengan privasi saya" ujar Revan dengan judes membuat gadis blonde itu mengerucutkan bibirnya, percuma saja dia mengkhawatirkan pria itu saat melihat penampilannya dan dirinya cukup menyesal sempat kepikiran pria itu beberapa hari yang lalu hanya karena satu kejadian diantara mereka.Kini Claudia sadar, ternyata pria itu bermulut tajam dan sangat tidak sopan, pikirnya
"Saya kemari ingin membahas kembali kelanjutan proyek ini"
__ADS_1
"Bukankah sudah kita bahas tuntas minggu lalu"
"Iya, kita sudah membahasnya tapi pimpinan sialanku tidak juga memahaminya dan memintaku untuk meninjau proyek ini kembali.Dia benar-benar sudah gila" Claudia tanpa sadar mengumpati bosnya dengan lancar didepan Revan, dia terlalu kesal dan lelah hingga mengatakan kata umpatan itu tanpa menyadarinya.Revan menaikkan sebelah alisnya saat mendengar kata umpatan itu yang diyakininya tertuju pada Mike dan entah kenapa Revan merasa senang mendengarnya
"Kau membenci pimpinanmu?"
"Sangat! Kalau saja aku punya sihir seperti Harry potter sudah kukutuk pria sialan itu jadi nyamuk terus kakak lucknutku jadi kodok dan kau jadi ularnya" oke,Claudia sudah benar-benar lupa dengan siapa dia bicara sekarang hingga kata hatinya itu terpapar dengan begitu lancar didepan Revan.Claudia mengatakannya dengan tanpa beban
"Ular, kau ingin mengutukku jadi ular! Kenapa aku juga ikut-ikutan ingin kau kutuk?" Revan mulai tertarik menghadapi kata-kata gadis didepannya, ada rasa senang hadir ketika gadis itu berbicara ceplas ceplos didepannya
"Karena kau sama menyebalkannya seperti dua pria sialan itu..aah" Claudia menjerit pelan sembari menutup mulutnya dengan mata membulat.Apa yang baru saja dikatakannya? Kenapa dia bisa bicara begitu bebas didepan pria itu dan parahnya dia juga mengatakan pria itu menyebalkan didepannya langsung terlebih juga ingin mengutuknya
"Menyebalkan! Siapa? Aku?" tanya Revan menunjuk dirinya sendiri.Dia ingin sekali menggoda gadis blonde didepannya.Claudia mengangguk tapi sedetik kemudian menggeleng
"Pak Revan, Anda kenapa tertawa? emang ada yang lucu ya?" Claudia bertanya dengan polosnya.Revan menghentikan tawanya dan menatap gadis didepannya dengan instens
"Tidak, tidak ada yang lucu.Saya ingin tertawa saja" ucap Revan masih berusaha menahan senyumnya.Kemudian Revan mempersilahkan Claudia masuk kedalam ruangan
"Untung saja kau tidak memiliki sihir, karena jika benar kau memiliki sihir.Aku takut tidak lagi bisa berjalan karena dikutuk jadi ular olehmu" ujar Revan membuka pembicaraan.Claudia menunduk malu
"Maaf" cicitnya pelan,Revan tertawa tertahan.Entah kenapa dia merasa gadis blonde itu terlihat lucu
"Jadi benar kau ingin mengutukku jadi ular?" tanya Revan lagi masih ingin menggoda Claudia
__ADS_1
"Iya, aku memang ingin mengutukmu tapi dalam kutukan itu kaulah yang lebih unggul kan.Ular,kodok,sama nyamuk itukan seperti rantai makanan yang konsumen puncaknya adalah ular" Claudia mencoba menjelaskan yang tentu tujuannya untuk lepas dari rasa malu karena sudah berani mengatakan akan mengutuk pria itu didepan Revan langsung.
Revan mengangguk mengiyakan
"Jadi aku ularnya lalu memangsa kodoknya yang adalah kakakmu dan kemudian kakakmu itu memangsa Mike yang menjadi nyamuk..bagus juga pemikiranmu" Claudia memandang wajah pria itu, berharap agar Revan tidak marah saja sudah syukur karena jika Revan marah dan tidak mau mengonfirmasi tentang proyek itu padanya maka dapat dipastikan dia akan jadi darah segar sebagai santapan bos nyamuknya
"Tapi bukankah diatas ular masih ada elang yang menjadi konsumen puncaknya dan bolehkah aku tahu siapa yang akan memangsaku?" tanya Revan lagi dengan tersenyum membuat Claudia terdiam membeo, dia tidak kepikiran sampai kesana.Jadi bagaimana bisa dia memikirkan siapa yang akan dikutuknya menjadi elang
"Aku tidak tahu karena tidak ada yang ingin kukutuk menjadi elang.Kalau pun ada, aku yang akan menjadi elangnya dan memangsa kalian semua dan setelah itu aku akan merdeka setelah kalian bertiga musnah..ha..ha..ha" Claudia tertawa setelah mengatakan itu semua.Dia membayangkan kebebasan yang begitu indah ketika tiga pria itu hilang dalam hidupnya
Tidak ada lagi kakak yang selalu mengatur hidupnya, tidak ada lagi bos arogan yang menyuruh-nyuruh dirinya dan tidak ada lagi pria menyebalkan yang membuatnya seperti orang bodoh
Pluuk..sebuah map mendarat di kepalanya pelan.Claudia meringis sembari mengusap kepalanya dan memandang si tersangka utama yang memukulnya
"Berhentilah berkhayal yang tidak akan pernah terjadi..jadi mari kita bahas persoalannya sekarang" ujar Revan selanjutnya memutuskan untuk berhenti menggoda gadis blonde itu dan mulai fokus pada pekerjaan mereka
"Baiklah" jawab Claudia dengan rasa malas bercampur kesal menjadi satu.Malas karena harus kembali membahas hal yang sama dan kesal karena pria didepannya tampak sekali sedang mengerjainya atau tepatnya mengejeknya
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏