The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 64


__ADS_3

Ditengah kalutnya pikirannya yang bercabang, Mike berhasil juga menyelesaikan tugas-tugasnya setelah bergadang semalaman. Setidaknya untuk saat ini, dia tidak akan kembali mendapat peringatan dari komisaris saham karena absennya dari segala tugasnya


Tuduhan Revan padanya walau itu fakta tapi tetap saja dibaluti dusta, membuatnya tampak begitu buruk di hadapan istrinya dan untuk saat ini dirinya akan mengambil langkah untuk menjelaskannya pada sang istri, tidak peduli Elina akan mempercayainya atau tidak


Mike menyambar kunci mobilnya dan melangkah keluar dengan buru-buru, sekarang juga dirinya akan menemui sang pemilik hati. Diterima atau tidaknya, itu akan dipikirkannya nanti, yang penting rasa rindu yang menggerogoti hati dapat tersampaikan. Mike begitu merindukan Elina saat ini setelah beberapa hari tidak melihat wanita yang sedang mengandung anaknya itu


Mengabaikan tatapan heran para karyawan kantornya yang menatap bingung pada dirinya yang berlari dengan terburu-buru serta penampilan yang acak-acakan, jauh dari kata rapi dan menawan. Niko, sang asisten pun sempat terkejut melihat Mike yang keluar dengan buru-buru. Tidak biasanya atasannya itu berpenampilan kusut seperti itu terlebih dengan pakaian yang sama dengan yang dipakainya kemarin, dan itu cukup membuktikan kalau Mike bahkan belum kembali ke rumahnya dan tentu saja belum membersihkan diri.


Tidak mau ambil peduli dengan Mike yang perlahan menghilang dari hadapannya, sang asisten pun kembali pada pekerjaannya, mempelajari apa yang ditinggalkan Claudia sebagai tugasnya


Tidak lama setelah kepergian Mike, salah satu sahabatnya mendatangi kantor pria itu. Billy berjalan pelan memasuki kantor itu bertujuan pada ruangan kerja Mike tapi, langkahnya dihentikan oleh resepsionis yang mengatakan kalau Mike baru saja pergi keluar


"Pergi! Kemana?" tanya Billy bingung


"Kami tidak tahu tuan tapi sepertinya pak Mike buru-buru, beliau juga kelihatan sedikit beran-takan" ujar resepsionis itu sedikit takut dengan kata terakhirnya


"Apa!!" seru Billy sedikit terkaget, pikirannya langsung terpikir kalau Mike pasti pergi pada Elina di desa, sesuai seperti apa yang dikatakannya tadi malam. Billy yang merasa perasaannya tidak enak sejak kemarin malam mulai mengerti apa alasan perasaannya tampak kacau seperti ini saat mengingat Mike. Dirinya yakin, sesuatu yang besar akan menimpa sahabatnya itu dan prediksinya selama ini tidak pernah salah karena dia tahu bagaimana perasaannya saat sesuatu menimpa salah satu sahabatnya. Hubungan persahabatan mereka sudah melebihi ikatan darah sekalipun dan Billy tulus menyayangi semua sahabatnya


Billy bergegas berlari menuju mobilnya untuk mengejar Mike. Namun, Billy tersadar saat sudah mendudukkan diri di kursi kemudi bahwa dia tidak pernah tahu dimana desa istrinya Mike


"Sial!" umpatnya sembari memukul setir mobilnya. Billy kemudian menelpon dua sahabatnya yang lain menanyakan kemungkinan mereka tahu nama desa tempat tinggal Elina namun, tidak ada jawaban dari keduanya. Billy membenturkan kepalanya pada setir mobil berharap otaknya dapat bekerja dimana dia bisa mencari tahu alamat desa itu. Menelpon Mike! Percuma. Pria itu tidak akan menjawabnya. Mike sering tidak peduli apapun saat melakukan sebuah tindakan walau itu akan membawa kerugian bagi dirinya sendiri


Ditengah perputaran otaknya memikirkan dimana dia dapat mencari jawaban, terlintas sebuah nama yang sudah membuatnya jatuh terlalu dalam pada sosok itu, sekaligus sosok yang begitu membencinya saat ini karena kebodohannya mengambil tindakan


"Mandira" lirihnya menemukan sebuah pencerahan

__ADS_1


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Menyetir dengan cepat menuju tujuan, terkadang mendesis kesal saat macet memperlambat perjalanannya menuju sang istri. Lupakan dengan segala imej yang melekat padanya, kini Mike tidak lebih dari seorang pria menyedihkan yang mengharapkan maaf sang istri


Mobil mewahnya melaju membelah jalanan begitu dia terbebas dari macet. Didalam pikirannya hanya terbayang satu wajah dan satu nama yaitu Elina juliana. Rasa bersalah bercampur menjadi satu dengan rasa cintanya


Sesampainya dia di panti yang menjadi tempat sang istri menghabiskan hari selama ini, Mike turun dari mobilnya. Tampak suasana panti yang begitu sepi seperti tidak berpenghuni membuat Mike mengerutkan keningnya bingung


Dia melangkah masuk saat mendengar suara tawa dari arah taman belakang dan Mike berdiri terdiam saat pandangan matanya tertuju pada istrinya yang tampak tertawa lepas, tawa yang tidak akan pernah muncul karena dirinya


Mike hanya berdiam beberapa saat melihat Elina yang sibuk bercanda dengan beberapa anak panti, mereka saling kejar-kejaran tapi hanya dalam batas wajar. Tampak perut istrinya kini membuncit tanda anaknya tumbuh dengan baik didalam sana


Tersenyum bahagia melihat tawa itu walau bukan karenanya, setidaknya istrinya bahagia saat ini. Saat dirinya tidak hadir di hadapan sang istri. Mike tersenyum melihat betapa cantiknya Elina saat tertawa bebas seperti itu


"Kakak kembali, aku merindukanmu" ujar anak itu.Mike bersyukur, setidaknya masih ada orang yang merindukannya


Mike membalas pelukan itu sambil tersenyum. Namun senyum itu langsung lenyap saat matanya bertemu dengan mata Elina. Wajah istrinya itu sudah berubah, tatapan bahagia yang terlihat tadi menghilang terganti dengan tatapan penuh kebencian. Tatapan mata yang sama dengan korban yang pernah ditabraknya, yang belakangan diketahuinya bahwa itu ayahnya Elina


Pantas saja Mike merasa tidak asing dengan tatapan itu, karena dirinya pernah melihat tatapan putus asa dari ayah Elina yang sekarat sebelum dirinya memutuskan lari dari tanggung jawab


Tidak ada lagi tawa cerah yang dikaguminya tadi, yang ada kini hanya ekspresi marah dan kecewa yang menghiasi. Mike mengerti itu, bukan hal mudah bagi sang istri memaafkannya yang telah membunuh orang tuanya


"Elin" panggil Mike lirih berusaha mendekat namun terhenti saat Elina mengangkat tangan menyuruhnya agar tidak mendekatinya


Elina berbalik dan menyuruh adik-adik pantinya untuk tetap disana lalu dirinya mulai melangkah ke halaman depan tanpa mengucapkan apapun pada Mike. Walau akhirnya Mike mengikuti langkah istrinya itu menuju halaman depan panti yang tampak sunyi karena sebagian anak panti termasuk ibu panti mungkin pergi ke kebun seperti jadwal mereka biasanya

__ADS_1


" Buat apa kemari lagi?" ujar Elina dengan suara tertahan, tampak kentara sekali kalau Elina sedang menahan emosinya. Mike tidak menjawab, dia mendekat pada sang istri dengan tatapan kerinduan terbayang di matanya. Mike ingin sekali membawa sang istri kedalam dekapannya


"Jangan mendekat!" Mike tertegun saat sebilah pisau tampak teracung padanya dari tangan istrinya. Elina menatap nyalang pada pria itu dengan mata memerah. Persetan pria itu suaminya, karena yang diketahuinya saat ini pria itu adalah pembunuh ayahnya


"Elin.."


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu! Bukankah aku ini pembunuh. Kenapa tidak memanggilku dengan sebutan itu? Kenapa hah!" Elina mulai meledak sedang pisau masih teracung pada Mike


"Bukankah kekasihmu sudah kembali, jadi tepati janjimu. Lepaskan aku dan sekarang aku minta kau, kembalikan ayahku" Mike tercekat dengan kata-kata itu sedang Elina sudah kembali menangis


"Tolong kembalikan ayahku. Aku mohon!" ucap Elina dengan pilu membuat Mike terjatuh dari berdirinya


'Bagaimana dia akan mengembalikan orang yang sudah mati'


Kata-kata mohon Elina membuatnya semakin tidak bisa menahan desakan air mata yang ingin meluncur, tubuh lelahnya tidak lagi mampu menopang jiwanya. Mike begitu menyesali segalanya, dia bahkan tidak pernah memohon seperti itu saat menginginkan Imelda kembali ke sisinya, dia dengan arogannya langsung menuduh dan memaksakan kehendaknya pada wanita yang saat ini menjadi istrinya tanpa pernah ingin mendengar penjelasan apapun dari Elina


Lalu kini, apakah wajar, jika Elina tidak akan mendengar apapun penjelasannya? Jawabannya sudah sangat jelas bukan? Tindakan itu sangatlah wajar


.


.


.


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2