The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 60


__ADS_3

Langkah gontai disematkan oleh Mike setiap sepatunya membentur lantai marmer rumah mewahnya, tubuhnya berjalan lunglai, Mike sudah benar-benar putus asa. Dulu dia melakukan apapun hanya untuk mendapatkan Imelda walau akhirnya wanita itu mengkhianatinya dan sekarang Mike tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Elina menerimanya


"Aaarrrgghhh" teriaknya melampiaskan semuanya pada barang-barang di kamarnya


Mike sudah menyelesaikan hubungannya dengan Imelda walau butuh sedikit ancaman agar wanita seksi itu mau menjauh darinya. Dia akan berubah mengerikan jika sudah marah, bahkan gubernur Erwin pun menciut nyalinya dengan ancaman empat pria itu, gubernur itu tampak sekali tidak ingin menambah musuh


"Elina.." lirihnya mengusap layar ponselnya dimana gambar Elina yang sedang tersenyum terabadikan disitu secara diam-diam


Wanita yang sudah diikatnya dengan pernikahan, wanita yang saat ini sedang mengandung anaknya serta, wanita yang telah diam-diam mendiami hatinya sebagai pemilik tahta tertinggi kini teramat sangat membencinya karena satu kesalahan tidak disengajanya di masa lalu


Bayangan Mike kembali lagi pada saat dia berhasil melarikan diri dalam hutan saat itu, menjelang malam dia keluar dari dalam hutan dan berencana menemui Revan serta ingin memastikan keadaan bapak yang ditabraknya baik-baik saja


Dari kejauhan, dalam gelap Mike remaja melihat polisi sedang mencarinya hanya bermodalkan sketsa wajahnya. Dari itu Mike sudah menangkap kesimpulan bahwa dia menjadi satu-satunya tertuduh dalam kasus itu dan Revan bebas dari tersangka apapun.


Mike berbalik kembali berlari, meninggalkan semuanya hingga beberapa hari kemudian dalam keadaan kumal, Mike berhasil sampai ke sebuah kota besar bernama Jakarta. Polisi tidak ada yang bisa menangkapnya dikarenakan tidak ada sedikitpun data tentangnya, dia memang tidak memiliki data apapun, karena selama ini Mike hanya hidup liar, tidur sembarangan, makan apapun yang didapatnya. Bahkan, dirinya pernah memungut makanan dalam tong sampah saking laparnya saat proses pelarian diri waktu itu


Hidup terlunta-lunta di jalanan sebagai gelandangan, bekerja serabutan dipasar hanya untuk sesuap makanan yang layak. Mike remaja yang masih berumur 16 tahun saat itu sudah bekerja sangat keras di kota besar hanya untuk bertahan hidup


Mike hidup sebatang kara, tidak ada satupun keluarga atau saudara yang dimilikinya, tanpa rumah, tanpa tunjangan apapun dan kini dia juga tertuduh sebagai pembunuh yang berarti korban yang ditabraknya sudah meninggal


Pernah sekali dirinya menangis dengan sepotong roti ditangannya, tangisan penyesalan akan dirinya yang tidak tegas mengambil tindakan waktu itu, mungkin jika dia sedikit lebih tegas dengan keputusan itu maka bapak yang ditabraknya masih bisa selamat


Selama hampir 2 bulan penuh Mike mengalami siksaan mental maupun fisik, dia menjadi bulan-bulanan preman pasar yang terus memalak uang hasil kerja kerasnya hingga tidak ada hari dimana tubuhnya tidak ada lebam. Menangis! Airmatanya bahkan sudah tidak lagi mau keluar dan lagian Mike tidak berencana menjadi pria cengeng


Malam-malamnya dipenuhi dengan mimpi buruk saat kejadian dirinya menabrak bapak itu dan kata pembunuh seakan terngiang-ngiang di telinganya hingga sering kali Mike berteriak malam-malam hanya untuk menghilangkan suara yang terus berdengung di kepalanya hingga tidak sedikit orang-orang tuna wisma didekatnya mengumpatinya bahkan melemparnya dengan barang apapun yang mereka gapai karena Mike mengganggu tidur mereka yang hanya beralaskan kardus bekas


Puncak itu semua, Mike memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia naik keatas sebuah jembatan bermaksud untuk mengakhiri hidupnya, lagian tidak ada seorang pun didunia ini yang akan merasa kehilangan dirinya karena dia tidaklah memiliki siapa-siapa

__ADS_1


"Ingin bunuh diri?" tanya seorang remaja pria yang berdiri tidak jauh dari Mike. Remaja itu sudah memperhatikan gerak-gerik Mike sedari dua jam lalu dan mengikuti pria itu hingga sampai keatas jembatan itu


Mike menatap remaja pria itu yang berjalan mendekat kearahnya dengan sebuah kamera bermerk Canon tersemat ditangannya


"Hidupmu terlalu disayangkan jika harus habis dibawah jembatan ini" ujar remaja itu lagi dengan santai dan memilih berdiri disamping Mike


"Siapa kamu?" tanya Mike bingung melihat remaja itu yang sok akrab dengannya


"Aku! Kenalkan! aku Billy Anderson, calon fotografer profesional di masa depan" jawab remaja itu yang bernama Billy dengan penuh percaya diri sembari menjulurkan tangannya pada Mike


"Aku tidak mengenalmu" jawab Mike datar


"Sama. Aku juga tidak mengenalmu, karena itulah aku memperkenalkan diriku padamu biar kamu mengenalku" ujar Billy sembari memamerkan senyum menawannya. Mike mengabaikan uluran tangan Billy dan berbalik menghadap ke depan jembatan kembali


"Aku tidak memiliki urusan denganmu. Jadi, tinggalkan aku sendiri"


"Mana bisa begitu. Kalau aku biarkan kamu bunuh diri sekarang, takutnya kamu akan merusak seni gambarku yang indah" ujar Billy lagi, Mike berkerut bingung dengan ujaran Billy. Seni apa maksudnya?


"Lihat ini!" Billy memperlihatkan tangkapan gambarnya di kamera yang dibawanya, dimana gambar yang diambilnya semuanya terdapat Mike didalamnya


"Kau mengikutiku?" tanya Mike kembali, menatap aneh Billy yang terus memamerkan senyumnya


"Sayangnya iya! aku suka sama wajah dan tubuhmu, kau pasti akan sangat indah jika jadi model kelak. Makanya aku bilang, hidupmu akan sangat disayangkan jika berakhir disini"


"Maaf, aku tidak tertarik" tolak Mike


"Baiklah jika kau tidak tertarik untuk menjadi model, tapi coba lihat kebawahmu, lihat itu." tunjuk Billy pada kerumunan orang yang berlalu lalang berdesak-desakan dibawah jembatan yang mereka pijak

__ADS_1


"Menurutmu berapa banyak dari mereka yang jenuh dengan kehidupan ini?" tanya Billy


"Tidak tahu" Billy tersenyum dengan jawaban itu


"Hampir 99 persen dari mereka semua jenuh dengan kehidupannya tapi coba kau lihat! Apa mereka menyerah? Tidak kan. Pertanyaannya kenapa? Karena hidup mereka terlalu indah untuk mati sia-sia" jelas Billy membuat Mike menatap remaja itu takjub dengan pemikiran dewasa itu padahal kalau Mike tebak umur Billy tidak berbeda jauh dengannya


"Lalu, apa kau juga termasuk salah satu dari mereka?" tanya Mike pada Billy


"Ya, kau benar. Bahkan masalah hidupku cukup rumit untuk dipahami oleh orang dewasa sekalipun tapi aku belum ingin mati" jawab Billy masih terus tersenyum membuat Mike bertanya-tanya apakah pria didepannya ini tidak pernah merasa wajahnya pegal karena terus tersenyum


"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"


"Pertanyaan bagus. Ayo ikut aku!" Billy langsung menarik tangan Mike untuk turun dari jembatan menuju sebuah restoran terdekat. Walau Mike terus menolak karena merasa tidak enak tapi Billy terus menarik tangan teman barunya itu menuju sebuah meja


Billy mulai menanyakan permasalahan yang sedang dihadapi oleh Mike hingga memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Mike mulai menceritakan semuanya, mulai dari siapa dirinya, kasus tabrak lari yang dilakukannya hingga keadaan dia sejak tinggal di Jakarta


Sejak itu Billy mulai dekat dengan Mike dan mengangkat pria itu sebagai salah satu sahabatnya dan dikenalkan pada Marcel dan Eric yang tentu saja menerima Mike dengan penuh sukacita dan jadilah mereka sahabat rasa saudara sampai sekarang


Mike tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Dia mungkin sudah menjadi mayat jika saja Billy tidak ada saat itu dan dia juga tidak akan sesukses ini tanpa bantuan sahabatnya Marcel dan Eric


Mereka dulu hanya kumpulan 4 remaja kesepian dan waktu 10 tahun berhasil membuat mereka mengikat tali persaudaraan bahkan tanpa ikatan darah sekalipun


.


.


.

__ADS_1


Note: Maaf jika part ini hanya mengisahkan masa lalu 4 sahabat ini. Untuk Mike dan Elina sendiri akan lebih banyak ceritanya di bab berikutnya. Terima kasih untuk pembaca setiaku yang selalu memberi dukungan🙏😘


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2