The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 35


__ADS_3

Suasana cafe tampak begitu tenang, Claudia masuk sembari memperhatikan sekitar.Melihat dimana keberadaan Revan yang sedang menunggunya


Tampak olehnya seorang pria melambai tangan kearahnya dari barisan meja yang ketiga, Claudia tersenyum mulai mendekat kearah meja yang sudah duluan ditempati oleh Revan


"Maaf, aku sedikit telat" kata Claudia dengan menyesal.Dia telat karena sibuk memilih pakaian apa yang cocok dipakainya untuk bertemu Revan dan akhirnya dia tampil dengan mengenakan Midi dress bertema Mix and Match yang mudah dipadukannya karena tidak terlalu tinggi ataupun rendah dengan blus sebagai dalaman dressnya, serta high hill yang senada dengan pakaiannya membuat penampilannya terlihat casual namun berkelas.Apalagi Claudia menggerai rambut blondenya yang biasanya dia ikat untuk kerapian


Revan cukup terpukau dengan penampilan gadis blonde didepannya, tidak disangkanya gadis itu akan terlihat begitu cantik tanpa pakaian formalnya.


"Wow..kamu mau kencan ya?" tanya Revan bermaksud menggoda tanpa menggubris kata penyesalan Claudia karena terlambat


"Apa!"


"Kamu terlihat sangat cantik malam ini.Aku pasti berpikir kamu pergi kencan jika saja bukan aku yang ingin kau temui" wajah Claudia langsung memerah mendengar penuturan Revan yang menampilkan senyum jenakanya


"Kenapa memang? Aku memang berpakaian seperti ini tiap kali pergi keluar dengan temanku" Claudia menjawab berusaha agar tidak gugup.Revan menatap gadis itu


"Tapi jujur, kamu terlihat begitu cantik tanpa pakaian kerjamu" ah, Claudia dapat merasakan jantungnya hampir meloncat dari tubuhnya karena detakannya yang sudah menggila.Bisakah pria itu berhenti memujinya dan mengucapkan kata-kata manis seperti itu


"Biasa saja, pasti kekasihmu lebih cantik" Claudia mencoba mengalihkan bahasannya.Revan tersenyum pada gadis itu


"Iya kamu benar tapi malam ini kamu terlihat lebih cantik" oke..fix, bisakah Claudia langsung menarik pria itu sekarang ke kantor catatan sipil untuk menikahinya


"Berhenti menggombal.Kamu sudah memesan?" Claudia kembali mencoba mengalihkan


"Aku tidak sedang menggombal, kamu beneran cantik Claudia.Aku tidak akan percaya kalau kamu tidak punya kekasih jika saja belum mengenalmu"


"Iya-iya..terserahlah.Cepat pesankan saja makanannya?" Revan tertawa kecil saat melihat gadis itu salah tingkah dengan godaannya


"Oke..mau kupesankan apa?"


"Samaan saja sama kamu"


Sembari menunggu pesanan mereka sampai, Revan mulai kembali memulai pembicaraan bertanya apa yang membuat gadis itu ingin mencurahkan isi hatinya


"Sebenarnya bukan masalah besar sih tapi aku benar-benar kesal sama pak Mike.Dia mempergunakan kekuasaannya dengan seenaknya" kata Claudia mulai menjelaskan apa yang menjadi bebannya


"Memang apa yang dilakukan Mike?" tanya Revan penasaran, apa yang membuat gadis itu sekesal itu sama atasannya.Claudia mulai menjelaskan semuanya pada Revan, mulai dari telepon Mike hingga dia yang harus pusing mengurus semua kekacauan yang ditinggalkan bosnya yang tidak bertanggung jawab

__ADS_1


"Memang Mike pergi kemana hingga mengambil cuti?" tanya Revan lagi, Claudia mengangkat bahunya tanda tidak tahu


"Entahlah, dia agak sedikit gila sepertinya" ujar Claudia lebih seperti berbisik, tidak ingin orang lain menilainya buruk karena mengatai bosnya.Revan kembali dibuat tertawa


"Sepertinya kamu senang sekali saat aku mengatai atasanku?"


"Iya kamu benar.Aku punya alasan pribadi untuk itu" Claudia mengerutkan keningnya bingung tapi gadis itu memilih tidak mempedulikannya.Karena sudah jadi hal biasa bersitegang antara para pria


Keduanya larut dalam obrolan mereka yang kadang-kadang terselip tawa renyah dari keduanya dan karena pertemuan ini juga dua insan itu tanpa sadar menjadi semakin dekat


πŸ€πŸ€πŸ€


"Udara malam tidak baik untuk kesehatan" ujar seorang pria dibelakang Elina yang sedang fokus menatap bulan yang hanya tinggal setengah penampakannya.


"Jangan pedulikan kesehatanku.Anda urus saja kesehatan Anda" jawab Elina tanpa berpaling sedikitpun, dia tahu siapa yang ada dibelakangnya saat ini dan dirinya sedang tidak ingin berurusan dengan pria itu sekarang


"Tentu saja aku harus peduli, ada anakku dalam perutmu.Jadi,kamu harus selalu sehat agar anakku juga sehat" Elina memejamkan matanya kesal, lagi-lagi anak jadi alasan pria itu ingin mengganggunya.Dengan kesal gadis itu berbalik hingga bertatapan langsung dengan Mike yang berdiri tepat dibelakangnya


"Sebenarnya apa mau Anda tuan Mike yang terhormat?" tanya Elina dengan penuh kekesalan.Entah kenapa Elina merasa dirinya sangat mudah emosi belakangan ini terlebih moodnya yang juga naik turun


"Oh Tuhan, andai aku tidak ingat untuk mendapatkan hatinya.Sudah kucium bibirnya sekarang.Kenapa dia harus semenggoda ini?" batin Mike menatap penuh hasrat pada wajah Elina yang menampilkan wajah kesalnya


"Tentu saja kamu menerimaku untuk menikah denganmu.Itu mauku" lanjut pria itu tepat disamping telinga Elina yang langsung mendorong keras dada bidang pria didepannya


"Menjauhlah dariku" desis gadis itu penuh kejengkelan pada pria tidak tahu malu itu


Mike menggeser sedikit badannya mundur, dia juga tidak bisa berada terlalu dekat dengan Elina karena hasratnya naik begitu saja hanya dengan mencium aroma gadis itu


"Kau benar-benar sudah gila" cecar gadis itu lagi dan mulai melangkah hendak pergi dari sana


"Iya, aku memang sudah gila.Tapi, apakah kamu percaya jika aku mengatakan aku mencintaimu" langkah Elina terhenti dan berbalik menatap Mike yang menatap lembut kearahnya.


"Sepertinya kau harus segera ke dokter" jawab Elina masih tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibir yang beberapa hari yang lalu masih menuduhnya sebagai pembunuh bahkan pria itu pernah mengatainya wanita ******.Mike tersenyum bodoh dengan reaksi Elina, dia akan memaklumi itu.Mana mungkin Elina percaya dengan pernyataannya itu sedangkan luka yang dibuatnya masih begitu menganga


"Kau boleh menganggap aku hanya mengatakan omong kosong tapi aku serius dengan perasaanku Elina" jelas Mike lagi, Elina menggeleng tidak ingin percaya, dia berbalik dan langsung berlari memasuki kamarnya meninggalkan Mike yang tersenyum miris dengan semua kebodohannya selama ini


"Ternyata benar, anak muda ini mencintai Elina" batin bu panti yang berdiri dibalik dinding mendengarkan pembicaraan keduanya

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€


Dua insan beda gender berjalan berjejeran keluar dari cafe tempat mereka baru saja menghabiskan beban cerita mereka.Revan sesekali melempar senyum pada Claudia yang tampak salah tingkah disampingnya


"Kamu pulang dengan apa?" tanya Revan pada gadis blonde itu


"Kurasa aku akan naik kendaraan umum saja" jawab Claudia dengan canggung, dia orang kaya yang jadi miskin untuk saat ini karena perbuatan kakak lucknutnya


"Biar kupesankan taksi untukmu" tawar Revan.Claudia langsung mengibaskan tangannya ingin menolak itu semua, dia sedang dalam masa penghematan sekarang.Dia bahkan akan memilih jalan kaki hanya demi menghemat satu sen uang logam dikantongnya daripada harus habis untuk membayar taksi


"Jangan, tidak perlu.." Claudia ingin menolak namun langsung dipotong oleh Revan


"Aku yang akan bayar biayanya.Jadi, tidak perlu menolaknya.Biar aku panggil taksi ya" kata Revan yang mulai melambaikan tangan menghentikan taksi yang sedang lewat


"Tapi.." Claudia masih merasa tidak enak


"Oke, sekarang masuk dan pulanglah dengan nyaman" ujar Revan menarik Claudia agar memasuki kursi penumpang taksi tersebut, mengabaikan sikap gadis itu yang ingin menolak kebaikannya.Walau Revan mengakui dirinya bukan pria yang baik tapi dia juga tidak mungkin membiarkan seorang gadis pulang sendiri malam-malam dengan kendaraan umum.Andai dia punya mobil, itu akan lebih mudah untuknya


"Baiklah aku akan pulang, tapi bukankah lebih baik jika kamu juga ikut pulang bersama dengan taksi ini.Itu akan lebih menghemat biaya" usul Claudia yang mendongak kearah Revan yang masih berdiri hendak menutup pintu taksi tersebut.Pria itu tampak berpikir sejenak dan menyetujui usulan Claudia akhirnya


"Baiklah, itu pilihan bagus.Aku juga bisa menjagamu sekalian" kata pria itu dengan santai sedang Claudia dapat merasakan jantungnya kembali berdetak dengan menggila hanya karena ujaran pria itu


Baru saja Revan hendak masuk kedalam taksi saat Claudia sudah bergeser kekursi samping, mata tajam Revan menangkap seseorang yang dikenalnya terlihat sedang tertawa bersama temannya diujung jalan menuju sebuah hotel


"Imelda.." gumam pria itu lirih menajamkan penglihatannya


"Maaf Claudia, kamu pulang saja dulu.Aku masih ada hal yang harus ku urus.permisi.." Revan langsung berlari mengejar kearah tadi dia melihat Imelda berjalan meninggalkan Claudia yang hanya mampu menatap kepergian pria itu dengan bingung


"Imelda, siapa itu? apa jangan-jangan itu nama kekasihnya Revan" pikir Claudia masih setia menatap kepergian Revan hingga sang supir taksi menyadarkannya dan Claudia memilih untuk pulang saja


.


.


.


Kritik dan saran diharapkanπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2