The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 66


__ADS_3

Billy menunggu dengan gelisah diluar ruangan dimana Mike sedang di operasi oleh dokter, luka sobekan benda tajam itu lumayan dalam hingga membuat Mike harus terbaring di meja operasi sekarang


Suara langkah kaki yang terburu-buru tampak begitu kentara membentur lantai ubin rumah sakit yang tidak terlalu jauh letaknya dari desa


"Bil, bagaimana keadaan Mike?" tanya Marcel langsung dengan nafas terengah-engah. Dia langsung meninggalkan rapat di kantornya begitu mendapat kabar Mike masuk rumah sakit dan kehilangan banyak darah. Disamping Marcel, berdiri juga seorang Eric yang memasang wajah sama khawatirnya dengan Marcel


Billy menggeleng, wajahnya terlihat begitu tidak bersemangat


"Aku tidak tahu, dokter belum keluar sejak tadi" ujarnya menunduk dengan mata yang basah dengan air mata, Billy merasa gagal menjadi seorang sahabat. Marcel dan Eric memilih duduk di sisi kanan-kiri Billy, menepuk pelan bahu sahabatnya itu yang melihat sendiri bagaimana keadaan Mike tadi, tampak dari pakaiannya yang koyak serta berlumur darah


Dalam hati mereka masing-masing tampak melafazkan doa, memohon pada Sang Maha Kuasa agar Mike baik-baik saja. Sepuluh tahun lamanya mereka terikat dengan begitu baik, Marcel yang menanggung beban berat sejak remaja bisa bertahan karena para sahabatnya, Billy yang selalu kesepian merasa bahagia karena para sahabatnya dan Eric yang bahkan tidak ada yang ingin berteman dengannya karena status miskinnya merasa begitu bersyukur dengan penerimaan para sahabatnya. Kehilangan salah satu dari keempatnya pasti akan menjadi pukulan telak untuk yang ditinggalkan


"Bagaimana ini bisa menimpa Mike?" tanya Marcel lagi


"Aku tidak tahu" jawab Billy menarik rambutnya kebelakang, merasa begitu tidak berguna


" Aku hanya melihat Elina, dia.."


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Berlari dengan cepat begitu taksi berhenti di bandara internasional Soekarno-hatta tanpa peduli dengan tatapan aneh orang-orang disekeliling karena dirinya yang terburu-buru


Revan segera berlari kearah papan penerbangan Jakarta - London, berharap pesawat yang membawa wanita yang sedang mengandung darah dagingnya itu belum pergi


"Claudia, kumohon!" lirihnya dengan gusar, berharap Claudia belum pergi, dia terus mencari walau tubuhnya terus-terusan berbenturan dengan orang lain tapi Revan tetap mengabaikan rasa perih dari luka diwajahnya yang masih begitu kentara


Revan terus berlari mencari-cari kemungkinan dimana Claudia saat ini, rambut blonde gadis itu cukup membantunya walau dirinya juga salah mengenali beberapa turis yang juga mempunyai warna rambut yang sama

__ADS_1


Memandang secara menyeluruh setiap sudut yang tercapai netranya hingga matanya berhasil menemukan sosok itu, sosok Claudia yang sedang berbicara dengan pria yang kemarin memukulnya, pria yang dikenalinya sebagai kakak dari Claudia sendiri


Revan bergegas mendekat kearah dua orang tersebut


"Claudia" panggilnya dengan sedikit ragu, takut salah orang lagi. Si pemilik nama yang merasa terpanggil langsung berbalik menatap kearah suara begitu juga dengan pria di sebelahnya yang menampilkan seulas senyum sinis di wajah Tegasnya


"Revan" ucap Claudia dengan lirih, seakan tidak percaya dengan penglihatannya kalau pria itu mengejarnya sampai ke bandara


"Wow! Kau mengejar sampai kemari, apa pukulanku kemarin belum cukup ya! Mau menerimanya lagi?" ujar Christ dengan sedikit ejekan


Mengacuhkan kata-kata menjurus Christ, Revan langsung berhambur memeluk Claudia yang menegang karena terkejut


"Claudia, aku mengakui aku salah karena telah mencoba berlari dari tanggung jawabku. Aku menyesalinya, aku tidak ingin kau pergi apalagi sampai membawa calon bayi kita" spontan Claudia langsung melepas pelukan Revan, terkejut dengan tuturan pria itu


"Dari mana kau tahu kalau aku.."


"Kau mengalami kehamilan simpatik?" Revan mengangguk


"Pantas saja aku tidak merasa gejala seperti perempuan hamil pada umumnya, ternyata diambil alih sama kamu" ujar Claudia mulai tertawa ringan, Revan menatap gadis itu


"Jadi, bisakah kamu tidak pergi, ku mohon" pinta Revan dengan tulus, Revan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi untuk sekarang. Sudah cukup dirinya membuat kesalahan besar di masa lalu dan menyesalinya saat ini dan berharap dia tidak akan kembali melakukan hal bodoh lainnya


Claudia memalingkan wajah pada sang kakak yang hanya menatap datar dirinya, bertanya pendapat sang kakak melalui tatapan sedang Christ hanya mengangkat bahu tidak tahu harus menjawab apa. Dia menyayangi sang adik walau terkadang tindakannya terkesan kejam tapi itu juga untuk kebaikan Claudia sendiri, dan saat ini Claudia sudah bisa memilih jalannya sendiri walau harus tetap di pantaunya sampai Christ yakin kalau Revan adalah laki-laki yang tepat untuk adik satu-satunya


"Mungkin memang saat ini aku belum mencintaimu tapi aku akan berusaha untuk mencintaimu Claudia! Jujur, malam itu aku sadar kalau itu kamu dan kurasa aku menyukaimu walau belum bisa dikategorikan sebagai rasa cinta tapi aku akan berusaha untuk mengembangkan rasaku padamu. Sebenarnya aku mulai menyukaimu tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya" jelas Revan berharap Claudia mendengarkannya


Sekali lagi Claudia memandang sang kakak disampingnya dan Christ memberi sebuah isyarat dengan mengangguk

__ADS_1


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu Revan?" tanya Claudia setelah kembali menjatuhkan pandangannya pada Revan. Revan mengangguk mantap


"Aku yakin" ujarnya dengan keyakinan penuh


"Baiklah kalau begitu. Tapi, sebelumnya aku mau bertanya, kenapa kamu mengabaikanku saat itu?" Claudia teringat saat Revan tidak mengangkat sekalipun panggilan darinya


"Saat itu aku sedang menyelesaikan masalahku dengan mantan kekasihku" kawab Revan


"Mantan kekasih?" Claudia berkerut bingung


"Iya, mantan kekasih. Kamu tenang saja, hubunganku dengannya sudah bubar, sekarang kami hanya berteman apalagi kini dirinya sudah menjadi istri dari orang lain dan sedang mengandung juga" jelas Revan, Claudia tersenyum lega dengan penjelasan itu, begitu juga dengan Christ yang mengangguk-anggukkan kepalanya elegan


"Claudia mungkin sudah menerimamu tapi belum denganku man, aku masih harus mencobamu, apa pantas pria bajingan sepertimu bersanding dengan adikku yang cantik" tutur Christ, Revan menghelakan nafasnya kasar


"Silahkan, kalau kakak ipar ingin mengetesku"


"Hey, aku belum jadi kakak iparmu, kamu bahkan belum memperkenalkan dirimu secara resmi padaku. Enak saja ingin diakui sebagai adik ipar" desis Christ mulai berdiri saat pemberitahuan kalau pesawatnya akan segera terbang


"Datanglah ke london, minta Claudia secara baik-baik pada orang tua kami dan buktikan kalau kamu layak masuk dalam keluarga kami. Aku kembali sekarang, kuserahkan Claudia padamu. Jaga dia dengan baik karena aku tidak segan-segan melumuri tanganku dengan darahmu kalau terjadi sesuatu pada adikku" petuah Christ sebelum berjalan memasuki pesawat setelah mencium pucuk kepala Claudia dan sebuah tonjokan ringan pada dada Revan. Christ berangkat meninggalkan Revan dengan janji pastinya dan Claudia dengan jalan hidup barunya


Dia akan memilih mempercayai Revan saat ini


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2