The Grudge Love

The Grudge Love
BAB 53


__ADS_3

Pagi hari yang cerah tapi tidak secerah suasana hati Mike saat dirinya harus bergelut dengan banyaknya pekerjaannya yang terteter selama dua minggu absen dirinya


Mungkin bagi sebagian orang pernah terpikir, menjadi CEO adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan, bisa bebas keluar masuk kantor sesuka kita, disegani, datang terlambat tidak ada yang tegur dan pekerjaan yang cuma tanda tangani berkas saja sama hadiri rapat.Kerja minim cuan banyak, itulah pemikiran sebagian orang


Namun, yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang berpikiran sempit seperti itu adalah, bagaimana seorang ceo harus menguras otak saat terjadi masalah internal dalam perusahaan, banyaknya berkas-berkas proposal yang perlu dipelajari dulu bukan asal tanda tangan saja, bahkan tidak jarang ada ceo yang sampai terbawa stress karena banyaknya pikiran dalam memimpin sebuah perusahaan dan yang paling mendasar, ceo tetaplah seorang pekerja dimana masih ada orang besar diatasnya yang biasa disebut komisaris saham, para orang berkuasa yang menanam saham dalam perusahaan itu.


Berjalan dalam dunia bisnis tidaklah seindah bayangan semata dan itulah yang saat ini sedang dialami oleh pria bernama lengkap Michael Ananda.


Dulu dia bekerja sangat keras dalam membangun perusahaannya yang tentu saja mendapat bantuan internal dari Marcel yang memang sudah jadi seorang businessman sejak masih remaja dan bantuan eksternal dari segi fisik dari Eric serta kebagian bantuan Billy sebagai penyemangat saja


Memandang banyaknya berkas-berkas yang seperti menunggu untuk dibacanya serta mengharap penyelesaiannya, Mike hanya mampu memijit pangkal hidungnya dengan helaan nafas berat.Kalau tahu akan berat seperti ini, dirinya tidak akan memilih jadi bisnisman dulunya.Akan sangat indah jika dia bisa hidup damai didesa bersama Elina dan anak-anak mereka kelak


Tapi, Mike juga tidak bisa mengabaikan kerja kerasnya ini yang sudah menyita waktu dan tenaganya selama 5 tahun dan tentu saja, perjuangan para sahabatnya dalam mendukungnya.Mike tidak mungkin sampai mengecewakan sahabat bernilai saudara seperti mereka bertiga


Padahal dirinya baru saja menyusun rencana kembali ke desa untuk menemui sang istri tercinta dan mengklarifikasi perbuatan Revan pada Claudia.Namun, kembali harus ditundanya karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikannya


"Oh Tuhan, aku merindukan Elina" gumam Mike pelan membayangkan wajah sang istri


Dari pintu masuk ruangannya, tampak Claudia memasuki ruangan masih dengan wajah pucatnya. Gadis itu mendekat dan mulai membacakan jadwal kerja Mike hari ini


"Kamu sudah sehat?" tanyanya pada Claudia yang langsung mengangguk


"Sudah pak, saya sudah merasa lebih baik"


"Syukurlah kalau begitu, tapi ingat! Kamu tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran.Kalau sampai kamu jatuh pingsan lagi, kakak sialanmu itu pasti akan menggantungku"


"Baik pak"


"Dan satu lagi.Mulai sekarang, kasih kegiatan yang butuh banyak tenaga buat dikerjakan oleh Niko, kamu jangan banyak bekerja diluar.Bagaimanapun kamu sedang hamil" ujar Mike dengan tenang.Diam-diam Claudia mengusap air matanya yang menetes. Dia tidak pernah terpikir kalau atasannya yang selama ini sangat menyebalkan memiliki sisi perhatian juga


Andai dulu dirinya bisa jatuh cinta pada Mike, mungkin hidupnya tidak akan semenyedihkan seperti sekarang.Mengandung tanpa mengetahui kemana pria yang menjadi dasarnya pergi.Tapi goresan takdir sudah tidak dapat dielaknya lagi

__ADS_1


Claudia pamit pergi setelah selesai menjelaskan semua jadwalnya Mike


"Aku sudah tahu siapa pria yang menghamilimu" ujar Mike yang membuat Claudia mematung dengan ujaran bos nya itu saat dirinya baru saja memegang handle pintu untuk keluar


"Dia Revan Anggara kan?" Mike langsung menembak tepat pada sasaran saat melihat reaksi Claudia yang langsung berbalik saat nama Revan disebutkan.Menilai dari ekspresi Claudia, Mike dapat menyimpulkan kalau gadis itu tidak ingin siapapun tahu kalau Revan orangnya


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Suasana kekeluargaan begitu kentara didalam panti.Para anak-anak memakan makanan mereka dengan lahap, begitu juga dengan Elina yang mulai kembali riang seperti biasanya, walau rasa rindu pada sosok Mike tetap ada


Revan melemparkan senyum manisnya pada mantannya tersebut.Walaupun saat ini Elina masih berstatus istri Mike, tapi Revan tetap yakin suatu saat akan ada celah baginya untuk mendapatkan Elina kembali.Apalagi saat ini dirinya memegang kartu as tentang kesalahan masa lalu Mike


"Makanlah yang banyak, lihat tubuhmu semakin kurus saja" ujar Revan sembari menaruh sayuran dalam piring Elina yang didekatnya


"Aku tidak suka sayur" balas Elina sembari memindahkan sayur itu kedalam piring Nita disampingnya


Revan kembali mengembangkan senyumnya, setidaknya hubungan mereka sedikit membaik setelah Revan mengatakan mereka untuk berteman.Elina tidak lagi secanggung beberapa bulan yang lalu padanya


"Siapa yang kau sebut jelek?" timpal Elina menjadi kesal tapi tidaklah serius


"Ya siapa lagi, memang ada siapa lagi disini yang berwajah jelek selain kamu"


"Hei mas Revan!!" teriak Elina memandang kesal Revan disampingnya yang hanya tertawa


Para anak-anak juga tertawa, begitu pula bu panti yang juga ikut tersenyum.Tapi, dari semua itu ada satu anak yang masih merindukan sosok Mike.Dia hanya berwajah datar dari awal makan hingga berakhir acara tersebut


" Semoga kak Mai cepat kembali kesini" batin Reno, si bocah matre


Setelah selesai makan, semua penghuni panti mulai beranjak melakukan kegiatan mereka masing-masing.Anak-anak banyak yang bergerak bergotong royong, ada yang pergi kekebun untuk sekedar memastikan kebun mereka bebas dari hama dan wereng dan ada juga yang sekedar bermain-main menghabiskan waktu


Sementara Elina berjalan kearah belakang panti, dimana dia sering duduk menghabiskan waktu disana sembari memandang taman yang bunganya mulai bermekaran

__ADS_1


"Kamu tidak ikut ibu buat beres-beres?" Revan bertanya dari belakang tubuh Elina


"Mas Revan!" seru gadis itu memandang kearah Revan yang mendudukan diri disamping Elina


"Bu panti melarangku melakukan pekerjaan berat sejak aku mengandung"


"Eum.." Revan mengangguk mengerti dan menjatuhkan pandangannya kearah taman yang tumbuh berbagai jenis bunga yang berwarna warni


"Elin, kira-kira apa yang akan kau lakukan pada orang yang menjadi dalang dari kematian orang tuamu?" tanya Revan yang membuat Elina tercekat, bertanya-tanya kenapa Revan membahas hal itu


"Apa maksudmu mas?"


"Jangan berpikir macam-macam, aku hanya ingin tahu bagaimana kamu akan menghadapi orang yang menyebabkan orang tuamu meninggal, jika kamu mengenal orangnya"


"Aku sudah lama melupakan masalah itu mas, lagian kalaupun nanti aku tahu siapa orangnya itu tidak akan mengubah apapun.Ayahku tetap tidak akan hidup lagi kan?" jawab gadis itu membuat Revan diam-diam tersenyum miris


"Tapi, apa yang akan kau lakukan jika pembunuh ayahmu adalah suamimu sendiri, Elin" Revan membatin


"Ah! Andai dulu aku langsung menikahimu setelah lulus sekolah, aku pasti akan sangat bahagia" ujar pria itu lebih kearah candaan untuk mencairkan suasana tegang diantara mereka


"Kalau begitu mas harus balik ke masa lalu dulu"


"Tapi waktu tidak akan kembali" tutur Revan menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap tepat pada manik mata Elina


"Elin, mari kita kabur?"


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2