
Dalam untaian rindu yang tidak tersampaikan pada sang ayah yang sudah berbeda alam, Elina tidak pernah menyangka penabrak sang Ayah adalah pria yang juga menuduhnya sebagai pembunuh
"Kembalikan ayahku" lirihnya dengan begitu pilu. Tidaklah adil bagi dirinya jika ayahnya tidak kembali, dia sudah kehilangan segalanya. Satu-satunya keluarganya, kehormatannya, kisah cintanya bahkan dia kehilangan jati diri dan hidupnya hanya karena seorang pria dan pria itu sudah mendapatkan kembali apa yang menjadi obsesinya yaitu sang kekasih, Imelda sila
"Maaf" hanya kata itu yang mampu terus terulang dari bibir Mike, tidak mungkin baginya untuk melakukan apa yang diminta oleh Elina
"Aku tidak bisa melakukan itu,Elin"
"Dasar pembunuh, kau membunuh ayahku. Aku tidak akan pernah memaafkan iblis pembunuh sepertimu" tutur Elina dengan emosi yang meledak
Mike bangkit berdiri kembali, dia tersenyum menyedihkan akan hidupnya sedang air mata merembes dengan sendirinya dari mata tajam nya. Kembali menjatuhkan tatapannya pada sang istri yang masih setia mengacungkan pisau tajam tersebut kearahnya
"Kamu benar sayang. Jangan pernah maafkan iblis sepertiku, aku pantas merasakan neraka kehidupan bernama penyesalan tapi aku tidak akan pernah bisa memberikan apa yang kamu minta, Elin"
"Kalau begitu gantilah dengan nyawamu" ucap Elina menatap tajam suaminya itu yang tersenyum lembut kearahnya, perlahan Mike mendekatinya
"Baik. Jika nyawaku bisa menghapus rasa amarah dalam hatimu. Aku akan memberikannya sayang, tapi ijinkan aku untuk memelukmu dan calon anak kita yang berada dalam kandunganmu. Aku merindukan kalian" ujar Mike dengan wajah lelahnya. Lupakan soal mata pandanya yang tampak begitu jelas, dia bahkan belum beristirahat sedikit pun
"Jangan berani mendekatiku. Selangkah kau berani maju, aku tidak akan segan-segan menusukmu" ancam Elina dengan nada tegasnya. Mike menghiraukannya, dia terus melangkah mendekat pada sang istri
"Percayakah kamu, jika aku bilang kecelakaan yang menimpa ayahmu bukan sepenuhnya kesalahanku tapi mantan kekasihmu Revan juga ikut andil didalamnya" ujar Mike memberi penjelasan. Elina menggeleng, dia bukan tidak percaya tapi dia tidak ingin mendengar apapun saat ini, hatinya terlalu panas dengan kemarahan pada fakta siapa yang menabrak sang ayah
__ADS_1
"Kau pembunuh" hanya kata itu yang terus di lontarkan oleh Elina pada suaminya itu
Mike masih tersenyum lembut dengan menyedihkan, dia mengerti dengan sikap Elina, gadis itu jelas tidak akan semudah itu mempercayainya kan?
Mike berhasil mendekat dan kini tepat berada dihadapan sang istri yang hanya berdiri di tempat, tidak peduli dengan pisau yang masih teracung Mike tetap mendekat hendak memeluk sang istri
"Hentikan, atau aku akan benar-benar menusukmu" ancam Elina
"Lakukanlah sesuka mu sayang, dan biarkan aku melakukan apa yang kuinginkan saat ini. Bukankah aku harus membayar atas nyawa yang telah ku hilangkan" Mike semakin mendekat tanpa peduli dengan ujung pisau yang kini menyentuh kemeja kusutnya
Elina mengeraskan hatinya agar tidak menjauh saat dapat dirasanya pisau itu merobek kemeja Mike dan menyentuh kulit perut pria itu. Mike tersenyum bahagia saat berhasil memeluk wanita yang sudah begitu dirindunya itu, mengecup dahi Elina dengan penuh kasih sayang, menghiraukan rasa sakit saat perutnya robek oleh benda tajam
"Kau memang harus membayarnya. Nyawa dibayar nyawa dan kau pantas mendapatkannya" ujar Elina yang kembali teringat akan kesakitannya karena pria yang kini memeluknya dengan lirihan kata maaf dari bibir sembari menekan pisau itu hingga menancap sempurna di perut Mike
"Maafkan aku Elina dan aku merasa sangat bahagia saat ini. Terima kasih atas semuanya, dan entah kenapa...aku...merasa...lelah sekarang.." kata Mike mulai terputus-putus saat darah semakin deras merembes dari bekas tusukan pisau itu
Sekali lagi Mike mengecup lama pucuk kepala Elina sebelum terjatuh tersungkur tidak sadarkan diri
"MIKE!!" seruan lantang terdengar dari Billy yang baru saja sampai bersama suster Dira, pria itu langsung melompat keluar dari mobil begitu berhenti, dia berlari cepat menuju sang sahabat yang sudah tersungkur berlumuran darah di area perut dan pinggangnya sedang sebilah pisau masih setia tertancap disana.
Billy langsung merangkul sang sahabat sembari memanggil-manggil namanya, tidak peduli dengan seorang wanita yang berdiri dengan gemetar disamping tubuh sahabatnya. Wanita yang dikenalnya sebagai istri dari sahabatnya itu tampak begitu bergetar dengan tangan yang kotor oleh darah
__ADS_1
"Elin.." panggil Dira yang juga begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia bahkan sempat menolak untuk mengatakan alamat panti pada Billy tadi karena rasa marahnya akan tindakan pria playboy itu yang kurang ajar. Elina perlahan memutar kepalanya kearah Dira, wajahnya basah dengan air mata serta gemetar ketakutan
"Dir..." belum sempat menuntaskan katanya, Elina sudah lebih dulu tidak sadarkan diri. Dira dengan sigap menangkapnya, walau akhirnya keduanya juga jatuh terduduk karena Dira yang tidak sanggup menopang bobot tubuh Elina yang mulai berisi. Setidaknya Dira berhasil menggagalkan benturan fatal yang mungkin terjadi pada kandungan Elina
"Mike, sadarlah. Kau harus tetap sadarkan diri" ujar Billy dengan panik, dia mencabut pisau itu dari perut Mike lalu membuangnya asal lalu menekan darah yang terus keluar dari luka Mike, merobek pakaiannya lalu mengikatnya pada luka itu agar sedikit menghentikan pendarahan
Billy mulai mengangkat tubuh sahabatnya itu dengan susah payah, dikarenakan Mike memiliki tubuh yang sedikit lebih besar dan tinggi darinya hingga sedikit sulit baginya mengangkat pria itu, tanpa peduli dengan pakaiannya yang robek serta darah Mike yang juga mengotorinya, Billy berusaha menyelamatkan sahabatnya
Sudah cukup hidupnya kehilangan dan kesepian, Billy tidak akan membiarkan dirinya kembali kehilangan apalagi jika harus kehilangan salah satu sahabatnya, dia pasti akan sangat terpuruk. Senyuman menawan yang selama ini ditampilkannya juga tidak akan bisa menutupi kesepiannya
"Bertahanlah Mike, aku akan membawamu ke rumah sakit" ujarnya disela-sela usahanya membopong tubuh Mike yang tidak sadarkan diri ke dalam mobil sedang matanya mulai berair, Billy mulai menangis
Dira yang melihat bagaimana tindakan seorang Billy dengan sahabatnya yang terluka merasa begitu takjub. Sangat sulit sekarang menemukan seorang teman setulus Billy, Dira bahkan melihat pria itu mengeluarkan air mata tadi saat melihat keadaan Mike. Walau dia seorang suster, dirinya tidak dapat melakukan apapun saat ini saat Billy memilih melakukannya sendiri bahkan mengabaikan dirinya yang telah dibujuk sedemikian rupa oleh pria playboy itu agar memberitahu alamat panti
Mobil Billy melaju dengan kencang menuju rumah sakit terdekat, tidak peduli itu rumah sakit paling tidak steril sekalipun, asal sahabatnya selamat, Billy akan tetap membawa sahabatnya kesana
"Kumohon, bertahanlah Mike" lirihnya sembari terus mengemudi dengan cepat ke rumah sakit
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏