
Seorang gadis memandang bulan yang tampak malu-malu menampakkan keindahannya dibalik awan,suasana malam begitu sunyi dan cerah.Claudia berdiri sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan pertemuannya dengan Revan siang tadi
Rasa lelahnya lenyap seketika ketika terbayang wajah Revan, dia mulai merasa Revan adalah pria yang tampan apalagi siang tadi pria itu memperlihatkan sisi lain yang lembut padanya,membuat Claudia semakin larut dengan perasaannya yang baru tumbuh.Apakah ini cinta? Claudia tidak berani menyimpulkan,karena dirinya belum pernah merasakan rasanya jatuh cinta sebelumnya
"Dia benar-benar manis saat seperti itu" gumamnya dibalik jendela balkon apartemen kakaknya, membayangkan wajah Revan yang tersenyum lembut padanya.Tapi akan lain saat pria itu bersikap datar dan judes, dia akan sangat mengerikan untuk diusik
"Ah, apa yang sedang kupikirkan" Claudia memukul kepalanya saat sadar dengan apa yang sedang dipikirkannya
"Kenapa aku harus memikirkan pria menyebalkan itu sih" cecarnya terlebih pada diri sendiri
"Tapi dia tipe idealku" detik berikutnya wajahnya langsung berubah tersenyum penuh cinta dengan mata berbinar-binar memandang bulan yang seakan mendukungnya dengan cahaya indahnya saat awan mulai bergerak menjauh dari sang bulan
Claudia beranjak kearah tas kerjanya hanya untuk mencari kartu nama Revan yang diberikan padanya oleh pria itu,rasa senang menyeruak masuk kedalam hatinya ketika tangannya sudah memegang kartu kecil itu.Dirinya terbayang pada pertemuannya dengan Revan siang tadi,pria itu mengajaknya bicara santai dan mereka dengan mudah akrab
"Ternyata kamu tidak semenyebalkan atasanmu" kata pria itu yang masih terngiang di kepala Claudia.Dia bahkan sempat berpikir bagaimana Revan bisa tahu kalau atasannya sangatlah menyebalkan namun pikiran itu tidak berdiam lama.Revan langsung berkata untuk tidak bicara terlalu formal dengannya dan mengajaknya untuk bersikap layaknya teman
"Oh Tuhan, kenapa dia bisa semanis itu" Claudia kembali senyam senyum sendiri sembari menggulingkan diri diatas kasur persis seperti remaja yang sedang kasmaran
πππ
Mike menatap foto yang diberikan Billy kembali, dia tidak akan percaya dengan semua perkataan sahabatnya itu jika saja Billy tidak menyertai bukti
Siang tadi, Billy dengan lugas menjelaskan tentang Eric yang melihat wanita itu dan akhirnya memotretnya lalu dikirimkan kepadanya untuk konfirmasi kalau penglihatan Eric tidak salah
"Kamu mungkin tidak dapat mempercayainya Mike..tapi bagaimana jika ini semua memang kenyataan dan kamu sedang dipermainkan oleh pria rubah licik itu?" kata Billy menatap serius sahabatnya
"Ini tidak mungkin..aku tidak akan percaya pada hal sampah seperti ini" Mike menjawab tidak percaya, masih menatap bingung foto ditangannya
"Terserah kamu jika tidak memercayainya tapi inilah kenyataan yang sebenarnya" kata Billy lagi
__ADS_1
"Ah..andai aku bisa menyeret Eric juga kemari, pasti akan lebih mudah menjelaskannya padamu tapi pria itu bahkan tidak bisa lepas dari pengawasan singa betinanya" lanjutnya dengan tawa kecil membayangkan kesengsaraan Eric
"Itu tidak mungkin..bagaimana seseorang yang sudah mati dapat hidup kembali, kurasa ini hanya orang yang mirip dengannya" jawab Mike dengan ketidak percayaannya
"Hah.." Billy tertawa remeh
"Mungkin saja..tapi kami dapat mengenali dengan jelas wanita itu Mike.Dari tingkah laku hingga posturnya wanita itu memang dia Mike, dia belum meninggal.Kamu hanya sedang dipermainkan selama ini" kata Billy lagi menjelaskan.Mike kembali menatap foto itu dengan teliti, dia juga dapat melihat kalau wanita di foto itu memang mantan calon istrinya yang dikabarkan meninggal, tapi bagaimana bisa wanita itu terlihat masuk restorant dalam keadaan yang sangat sehat, apa dia bangkit dari kematiannya?
"Kurasa kamu memang sedang dalam jebakan mereka Mike, Imelda mungkin memang tidak pernah meninggal.Bukankah kamu tidak melihat jasadnya saat dikuburkan?"
"Petinya memang dikubur"
"Tapi apa kamu melihat isi petinya, apakah Imelda ada didalam?" tanya Billy lagi, Mike menggeleng.Dia terlalu dikuasai amarah saat itu hingga tidak sempat melihat Imelda yang terbaring dalam peti.Billy menatap kasihan sahabatnya itu
"Jadi apa yang akan kau lakukan jika kecurigaan kita benar, kalau Imelda masih hidup?" tanya Billy lagi.Mike kembali menggeleng, otaknya buntu untuk berpikir sekarang
"Dengan kamu datang kesini dan membawa berita itu saja sudah menambah pikirannya, bagaimana bisa kamu menyuruhnya agar tidak dibawa beban pikiran?" timpal Marcel yang hanya diam sejak tadi
"Ah kamu..mulutmu itu ya" Marcel mendekat kearah Mike tidak peduli dengan Billy yang menggerutu dengan perkataannya barusan
"Mike, sebaiknya kamu segera lakukan penyelidikan akan hal ini.Sebelum semuanya benar-benar terlambat.Aku, Billy dan Eric juga akan berusaha untuk mencari bukti atas semua masalah ini" jelas Marcel menepuk pelan bahu Mike yang menatap kearahnya dengan kebingungan
"Tapi bagaimana jika semua ini benar dan aku sudah sangat terlambat?" tanya Mike pada pria didepannya dengan lesu, ketakutan hadir dalam dirinya saat membayangkan kalau semua ini benar, Imelda masih hidup dan itu berarti kesalahan yang dilakukannya pada Elina sudah sangat tidak manusiawi.Gadis itu tidak bersalah dan dirinya sudah begitu kejam dalam menuduh dan bertindak
"Itulah kenapa dulu aku pernah mengingatkanmu untuk tidak gegabah mengambil kesimpulan.Dari awal aku sudah tidak yakin dengan pernikahanmu dan Imelda, dan aku tidak pernah percaya kalau Gubernur Erwin benar-benar memberikan restunya pada pernikahan kalian.Pria tua itu tampak sekali tidak menyukaimu" Billy kembali angkat bicara disaat Marcel terdiam tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Mike
"Kau benar,aku terlalu gegabah" Mike memegang kepalanya dan menunduk.Airmata tampak mengenang dipelupuk matanya, pria jantan itu akhirnya menangis.Billy menatap Marcel dengan isyarat yang dibalas Marcel dengan mengangkat bahu
"Sudahlah.Coba kamu pikirkan baik-baik saranku dan jangan sampai kamu salah mengambil jalan lagi.Kami pergi dulu, perusahaanku juga sedang tidak baik-baik saja sekarang.Aku harus segera mengurusnya.Aku pergi ya" kata Marcel menepuk sekali lagi bahu sahabatnya yang masih menunduk di kursinya
__ADS_1
"Aku juga pergi ya..aku pasti akan membantumu untuk menyelidikinya" kata Billy yang juga pamit undur diri meninggalkan Mike yang menyesali kehidupannya
"Elina, dimana kamu sekarang?" tanyanya pilu dalam kesunyian memandang gambar pemandangan pegunungan yang ada di kalender diatas mejanya.
πππ
Revan sudah beberapa kali datang pada Dira menanyakan apakah Elina pernah memberi kabar pada suster itu tentang dimana keberadaannya dan jawaban Dira tetap sama, hanya gelengan yang didapat Revan yang berarti suster itu tidak mendapat kabar apapun
"Tidak mungkin Elina sekejam itu menyiksaku kan?" tanya Revan pada Dira yang hanya memandang kasihan pria itu
"Bagaimana bisa dia pergi begitu saja tanpa kabar seperti ini, sebenarnya apa kesalahanku hingga Elina harus bertindak seperti ini?" tanya Revan lagi dengan putus asa.Dia masih tidak bisa merelakan Elina walau keadaannya sekarang jauh lebih baik apalagi kini dia dekat dengan Claudia sebagai teman
"Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Elina melakukan ini semua mungkin karena tidak ingin terlalu membebanimu, karena keadaannya tidak lagi sama seperti dulu lagi" Dira menjelaskan dengan lembut
"Tapi tetap saja ini tidak adil bagiku Dir.."
"Aku tulus mencintai Elina, hanya dia satu-satunya perempuan yang aku cintai"
"Aku tahu.." Dira menepuk bahu Revan untuk menenangkan pria itu yang kembali diterpa tekanan emosi jiwa.
"Elin..haruskah kuberitahu keberadaanmu pada Revan, pria ini terlihat begitu menyedihkan sekarang" batin Dira bertanya
.
.
.
...Kritik dan saran diharapkanπ...
__ADS_1