
Matahari tidak pernah memadamkan sinarnya yang menyengat walau manusia yang disinarinya sama panas dengan dirinya kalau sudah menyangkut hati dan harga diri.Revan datang ke kantor Mike seorang diri, dia ingin buat perhitungan dengan pria bejat itu.Hatinya memanas, matanya juga memanas menerima fakta kalau kekasihnya sudah dinodai pria itu dengan bejat
"Wah! akhirnya kau muncul juga setelah dua minggu menghilang" sambut Mike tersenyum sinis di kursi kebesarannya. Revan mengepalkan tangannya, dia sudah kesusahan untuk sampai berhadapan dengan pria didepannya.Revan sempat tertahan di resepsionis kala ingin bertemu Mike dan baru diizinkan setelah hampir setengah jam dirinya menjelaskan kalau dirinya ada keperluan penting sama Mike. Revan hampir saja mengamuk kalau saja Mike tidak mengatakan pada karyawannya untuk membiarkan Revan masuk menemuinya
"Apa yang kau lakukan pada Elina bajingan?" ujar Revan tanpa basa-basi memandang tajam wajah tampan Mike
"Apa yang seharusnya dia terima, dia membunuh calon istriku. Sudah sepantasnya dia menerima hukumannya, masih untung aku tidak membunuhnya?"
"Membunuh calon istrimu? hah, kau yakinElina yang melakukan itu?" tanya Revan tersenyum mengejek.Mike mengangguk yakin
"Tentu saja aku yakin"
"Kau sudah mencoba mencari tahu faktanya? kalau memang Elina yang melakukannya, apa tujuannya melakukannya? kau pernah berpikir bagitu?" kata Revan.Mike mulai berpikir
"Itu karena dia iri pada Imelda atau dia punya motif lain yang tidak kuketahui, yang pasti dia sudah membunuh Imelda" tuduh Mike jelas.Revan tersenyum sinis mendengar tuduhan itu
"Bagaimana kalau sebaliknya.Kau yang sudah membunuh orang terpentingnya?" tanya Revan balik, Mike berkerut bingung
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak mengenal siapa Elina?" tanya Revan lagi. Mike semakin bingung, Revan semakin tersenyum sinis
"Kupastikan kau akan menyesal kawan! kau telah berbuat kesalahan besar padanya" lanjut Revan. Mike menjadi berang.Dia berjalan cepat kearah Revan dan menarik kerah baju pria itu
" Katakan apa maksudmu bajingan? siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Mike marah.Revan menyingkirkan tangan Mike dari kerahnya dengan kasar
"Kau akan segera mengetahuinya" desis Revan masih dengan senyum sinisnya yang penuh dengan makna tersirat dan mulai melangkah pergi meninggalkan Mike yang terdiam bingung dengan maksud perkataan Revan
"Tidak...tidak mungkin aku melakukan kesalahan" gumam Mike pelan memandang punggung Revan yang hilang dibalik pintu ruangan kantornya
__ADS_1
πππ
Elina duduk termenung di kusen jendela penginapannya, keadaannya jauh lebih baik dari saat terakhir dirinya ingin bunuh diri namun sisa kesedihan sama trauma itu masih ada.Pandangannya tampak kosong dan Matanya mulai kembali berair dan meluncur bebas dari pipi mulusnya
Baru kali ini Elina merasakan penyesalan terbesarnya dalam kehidupan,dirinya benci pada dirinya sendiri bahkan jijik pada tubuhnya sendiri.Elina juga dapat merasakan kalau Revan juga terlihat berubah padanya pasca dia dinodai Mike, kekasihnya tampak lebih kaku saat bersikap padanya namun itu lebih baik daripada Revan mencampakkannya
Tidak ada laki-laki didunia ini yang mampu menerima wanita yang sudah ternodai selain sebagian kecil dari mereka.Elina sadar dirinya sekarang hanya menjadi beban besar bagi Revan apalagi kini tidak ada apapun didirinya yang berharga, semuanya telah terenggut..semuanya hilang..semuanya musnah
"Elin.." panggil Revan dari arah pintu dengan sebuah tentengan di tangannya.Elina menoleh kearah pintu, dilihatnya Revan pulang dengan wajah tersenyum sambil memperlihatkan sebuah tentengan plastik hitam ditangannya
"Mas sudah pulang...tapi kok lama sekali?" tanya Elina dengan datar, gadis itu telah kehilangan jiwanya.Revan berjalan mendekati kekasihnya dan mengelus lembut rambut panjang Elina yang sudah kembali lurus setelah kemarin kusut parah
"Tadi mas pergi kesuatu tempat dulu sebelum membeli makanan" jawab Revan dengan lembut, dirinya izin keluar untuk membeli makanan tadi pada Elina namun rasa terbakar dalam hatinya membawa langkahnya ke gedung kantor Mike
"Ayo kita makan" ajak Revan menarik pelan lengan Elina untuk duduk dikursi diruangan sederhana itu
Elina menolak untuk tidur diatas ranjang yang menjadi saksi terenggutnya kehormatan dirinya oleh Mike, gadis itu akan langsung menangis ketika melihat ranjang itu dan Revan juga terpukul telak ketika melihat bercak darah yang sudah mengering di seprai ranjang itu.Dia sadar darah apa itu? Revan hanya mampu memejamkan matanya menahan gemuruh di hatinya ketika teringat perbuatan Mike pada kekasihnya
"Kenapa belum menghubunginya?, ini sudah hampir 3 minggu kita di Jakarta kenapa belum kasih kabar pada Dira?"
"Aku tidak ingin membawa Dira dalam masalah ini mas.."
"Tapi.."
"Aku ingin kembali ke desa, aku tidak ingin tinggal disini lagi.." Elina memotong kata yang akan diucapkan Revan membuat pria itu menghembuskan nafasnya.Dirinya belum bisa meninggalkan Jakarta sebelum berhasil membalas perbuatan Mike ditambah sekarang dirinya sedang tidak ada biaya lebih, Revan sudah banyak menghabiskan uangnya untuk berobat pasca dirinya jatuh ke jurang dan untuk biaya mereka selama tinggal di Jakarta tanpa uang masuk sama sekali apalagi kini proyeknya tentang rumah impian Imelda sudah batal akibat kejadian yang sedang berlangsung
"Maafkan mas Elin..kita belum bisa kembali ke desa karena mas sudah tidak punya biaya untuk kita kembali" jelas Revan dengan menyesal. Sebenarnya dulu Revan adalah putra dari seorang kaya raya namun tiga tahun lalu keluarganya bangkrut dan ayahnya meninggal karena serangan jantung serta ibunya juga menyusul sang ayah tak lama setelahnya karena depresi.Tidak ada apapun yang ditinggalkan orangtuanya padanya yang selaku anak tunggal namun Revan tidak pernah mempermasalahkan semua itu karena dirinya sudah punya kemampuan dalam mencari uang sendiri
Elina menunduk lesu mendengar jawaban Revan, dia menyesal dengan permintaannya sendiri yang sudah sangat memberatkan Revan.Harusnya dirinya sadar akan keadaan Revan saat ini
__ADS_1
"Tapi Elin tidak sanggup lagi tinggal disini mas" Elina tetap pada keinginan awalnya yang ingin pergi dari sana.Dirinya sudah tidak sanggup melihat tempat yang menjadi objek hancurnya masa depannya
"Itulah kenapa mas ingin menelepon Dira, mas ingin meminta tolong padanya supaya kamu bisa tinggal ditempat Dira selagi mas berusaha cari biaya buat kita kembali ke desa"
"Tapi.."
"Dengar Elina, ini hanya untuk sementara karena mas akan segera membawamu kembali ke tempat kita dulu.Mas mohon!" Mendengar kata-kata Revan akhirnya Elina mengangguk, dirinya akan meminta tolong pada Dira
πππ
Pandangan mata tajamnya tidak pernah melembut membuat beberapa karyawannya menjadi sangat ketakutan untuk sekedar berbicara padanya.Mike menjadi semakin kejam setelah peristiwa meninggalnya Imelda saat acara pernikahan mereka
"Apa hanya ini yang dapat kalian berikan padaku hah!..ini hanya sampah tak berguna"
PLAAKK...Mike membanting proposal yang dibuat dengan susah payah oleh karyawannya,dia membuangnya bagai itu hanya sampah tidak berguna.Semua di ruang rapat itu terdiam,tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun saat melihat kemarahan Mike yang terpacu bukan hanya karena proposal yang diberikan padanya
"Kalau begini kerja kalian, untuk apa kalian kugaji hah! hanya untuk proyek sampah seperti ini" teriaknya memandang tajam satu persatu karyawannya yang ada dalam rapat itu
"Keluar kalian semua dan ingat aku tidak ingin ada proposal tidak berguna seperti ini kedepannya" lanjutnya yang membuat semua orang yang ada disana buru-buru pergi meninggalkan Mike sendiri yang memijat kepalanya
"Sial.." desisnya saat pikirannya dipenuhi dengan Elina, tentang bertanya siapa gadis itu sebenarnya dan tentang perbuatan dirinya pada gadis itu dan janjinya pada ayah Imelda yang akan membawa gadis itu kehadapan ayah calon istrinya itu
"Aku tidak peduli siapa gadis kecil pembunuh itu, dia harus membayar semua perbuatannya.Akan kutangkap dia besok,tunggu saja kamu wanita kecil" gumamnya dengan sorot mata tajamnya
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkanππ