
suasana pagi di rumah sakit yang tenang membuat denny terjaga dari tidurnya , perlahan dirinya membuka mata hanya terdengar suara mesin detak jantung Nilam dan tetesan air infus yang keluar sedikit demi sedikit .
denny berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya , air yang membasahi tubuhnya seakan perlahan menghapus kesedihannya hari ini .
berkali - kali dirinya memukul dinding rumah sakit sehingga ada luka di tangannya membuat air mandi yang jernih berubah menjadi darah .
" aku terlambat mengenalmu , aku terlambat melindungi dirimu "
baru kali denny merasakan kekecewaan pada diri nya , dirinya merencanakan setelah ini harus mencari tahu lebih dalam lagi tentang masa lalu Nilam .
selang beberapa menit Denny telah selesai dari mandinya dan menghampiri Nilam yang masih berbaring tanpa sadarnya .
tok .. tok .. tok
" denny " panggil ayahnya yang baru saja muncul ,
" ibu , ayah sedang apa ? "
" kami mau lihat menantu kami , ada apa dengan Nilam nak ? kenapa dia seperti ini ? " tanya ibu denny yang langsung menangis melihat menantu kesayangannya terbaring lemah .
" tidak apa Bu , hanya infeksi lambung baru selesai operasi kemarin "
" apa Nilam tidak cerita ? " tanya ayahnya
" tidak yah , dia hanya diam tidak enak denganku "
denny tau bahwa ayah dan ibu nya datang pasti sudah di beri kabar oleh Rara , agak sedikit lega karena kehadiran ayah dan ibunya memberi semangat pada nya .
tak lama saga datang membawakan beberapa perlengkapan untuk denny dan juga mengatur jadwal denny , kartu yang di pesan denny akhirnya datang juga walau saga bertanya untuk apa kartu baru tersebut .
" saga jadwalku tolong beritahu pada pusat bahwa istriku sedang masuk rumah sakit "
" baik jendral , tapi kartu baru ini untuk apa ? "
" untuk menghilangkan penganggu seperti Nathalie "
saga terdiam , ingin rasanya saga memberitahu kepada jendralnya bahwa kemarin Nathalie datang ke markas . kalau tidak di beritahu pasti denny akan tahu sendiri dari obrolan prajurit yang lain .
*setelah denny berangkat kerumah sakit*
" *dimana jendral kalian ? " Nathalie datang ke dalam rumah markas ,
" maaf nona , jendral mengantar istrinya pergi ke rumah sakit " saga berusaha menjelaskan .
" istri ? denny sudah menikah ? " Nathalie berjalan mundur dan terkejut
Rara dan cristhy yang mendengar keributan langsung pergi berlari ke arah luar pintu , Rara terkejut melihat sosok Nathalie yang ada di hadapannya .
cristhy memperhatikan Rara yang hanya terdiam mematung menghadap wanita yang tidak dia kenali sama sekali .
" untuk apa kau mencari kakak ? hah ? " teriak Rara mendorong Nathalie , cristhy berusaha melerai mereka .
" cari atau tidak itu urusanku , kau tidak pernah berubah ya terlalu manja ."
" kakak sudah menikah pergilah cari pria yang lain jangan ganggu pernikahan kakakku "
" denny tetap menikah denganku , sampai kapanpun dia akan terus - menerus menjadi milikku "
Nathalie berkali - kali menghubungi denny tetapi tidak ada jawaban , bahkan tiba - tiba ponsel denny menjadi tidak aktif saat itu .
Nathalie memandang Rara penuh dengan amarah yang bergejolak , saga hanya bisa menghadang takut - takut kalau Nathalie akan menyerang Rara Deng tiba - tiba .
Maria datang dengan membawa dua tas berisikan perlengkapan denny yang hendak di bawa ke rumah sakit , saga harus mengurungkan niatnya untuk pergi takut kalau Nathalie akan minta ikut nantinya* .
*back to sekarang*
__ADS_1
" hmm , jendral "
" ada apa ? bagaimana jendral Radit sudah ada kabar ? "
" belum jendral , bahkan ponsel jendral Radit tidak bisa di hubungi "
" aaarrggghhhh , bagaimana ini istriku kekurangan darah saga " denny memegang kedua bahu saga dan menggoyangkannya .
" jendral kemarin nona Nathalie datang ke markas !! "
" hah ? apa yang dia lakukannya ? " denny menatap heran ke arah saga .
" bertanya tentang ke beradaan anda jendral , tapi nona Rara marah besar "
" jangan bahas itu disini , ada orang tuaku di dalam kamar Nilam "
" baik jendral "
saga berpamitan pulang kembali, beberapa prajurit di kerahkan untuk menjaga pintu kamar Nilam yang masih koma .
denny masuk kembali ke kamar dan menatap kedua orang tuanya yang saling memegang tangan Nilam , rasanya ada yang teriris di hati denny .
merasakan bahwa masih ada yang mencintai Nilam selain dirinya juga gilbran , orang tua denny memang terkenal ramah pada semua orang tapi harusnya kalau untuk mencari menantu harusnya mereka lebih ketat lagi .
" ayah , ibu istirahatlah aku yang akan menemani Nil disini "
" kami tidak akan pulang , biarkan kami disini menemani menantu kami " ibu denny menangis hanya memohon agar dirinya di beri kesempatan untuk menjadi ibu buat Nilam ,
" Bu , ayok pulang besok kita kesini lagi ya " ajak ayah denny ,
" tapi yah , kasian Nilam "
" Bu , ayah juga ingin tapi biar yang jaga suaminya menurut lah !! " ayah denny begitu sabar menghadapi istrinya yang keras kepala .
denny memandangi Nilam yang masih nyenyak dalam tidurnya , ada buliran airmata yang siap terjun di ujung mata denny .
terdengar suara obrolan jendral Radit dari arah luar bersama prajurit yang menjaga di depan kamar Nilam , denny pun berjalan menghampiri jendral radit yang baru saja tiba .
" kenapa baru datang ? "
" syukur saya datang brooo " ucap Radit , dirinya paham denny seperti itu .
" yasudah mana kantung darahnya ? "
" tidak ada " Radit menjawab dengan ringan
" lalu kenapa kau datang kemari ? hah ? " denny meninggikan suaranya ,
" sabar , sabar !!! mana dokternya ? "
" buat apa ? darahnya saja tidak kau bawa " ingin sekali denny menghajar Radit yang terlalu sering bermain - main dalam keadaan mendesak .
mau tidak mau denny pun memanggil dokter yang mengurus Nilam saat ini , tak lama dokter pun tiba dengan di dampingi beberapa suster di samping nya .
Radit menjelaskan tentang kedatangannya yang ingin bertemu dengan dokter tersebut , tapi ada tatapan aneh yang membuat dokter tersebut menatap tajam ke arah Radit .
dokter tersebut mengajak Radit keruangan cek darah nya untuk memastikan terlebih dahulu , denny menatap ke arah dua lelaki yang baru saja meninggalkannya .
yoga bergabung dengan para prajurit denny dan berbincang - bincang bersama mereka .
" apa hubungan anda dengan pasien ? " tanya dokter tersebut seraya memasang alat pada Radit ,
" tidak ada , suaminya teman sesama di militer apa ada masalah ? "
" baik tuan , dengan siapa nama anda ? "
__ADS_1
" Radit "
" tuan Radit , golongan darah A negatif adalah golongan darah langkah bahkan kalaupun ada seharusnya anda dengan nyonya adalah keluarga yang terhubung "
" maksud dokter ? "
" sudah selesai , sebentar lagi darah anda di ambil oleh suster di sana " menunjuk dua suster yang sedang bersiap - siap
" dok tadi maksud anda gimana ? "
" begini , dorongan darah A negatif itu adalah golongan darah yang sulit . jika adapun atau tersedia setidaknya memanglah dari keluarga yang sama "
Radit menatap terkejut mendengar penuturan dokter tersebut , tangannya bergetar ingin rasanya dirinya bertanya pada Nilam apakah benar dia adalah anak dari Margaretha kekasih yang meninggalkannya untuk menikah dengan kakaknya .
Radit tahu Margaretha meninggalkannya karena tidak tega pada kakaknya yang ingin merasakan punya pasangan , tetapi Radit tak habis pikir pernikahan mereka di langsungkan secara diam - diam tanpa sepengetahuannya .
" dok apa boleh saya minta tolong ? "
" bantu apa tuan ? "
" bisa tolong cocokan darah saya dengan dara pasien yang mau saya donorkan ? "
" memangnya kenapa ? apa nyonya Nilam keluarga anda ? "
" cocokkan saja dulu nanti setelah lihat hasilnya akan saya beritahu "
" baiklah "
dokter mengambil darah Radit untuk menjadi sample dan akan di sandingkan dengan sedikit darah Nilam .
walau nanti hasilnya tidak sesuai yang di inginkan Radit , setidaknya wajah Nilam bisa menghibur dirinya dan mengenang mendiang Margaretha dalam hati nya .
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1