
Setiap jam istirahat Indah selalu pulang ke rumah Nicko.Tempat tinggal sementara Indah,sedangkan Nicko tinggal di mess kantornya.
Semenjak Indah tinggal dirumah Nicko,rumahnya jadi terawat.
"Aku mau kita menikah"Kata Nicko yang duduk di teras rumahnya.
"Menikah?"Ulang Indah dengan raut wajah terkejut.
Nickopun menganggukan kepalanya sembari menggenggam tangan Indah.
Indahpun terdiam.
"Kamu kenapa Indah kok diam?"Tanya Nicko sembari melepas genggaman Indah.
"Boleh beri aku waktu dulu?"Jawab Indah.
"Kenapa?Kamu meragukan aku?"Tanya Nicko sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Bukan gitu maksud aku Nicko.Ak..."
"Oh.. Aku tau kamu meragukan aku karena kamu juga suka sama bos kamu itu kan!"Kata Nicko yang menyela.
"Kok kamu ngomong seperti itu?Kamu usia sudah 25 tahun tapi jalan pemikiran kamu seperti anak dibawah umur!"Kata Indah kesal dan Nicko hanya diam.
"Maksud aku beri aku waktu dulu.Menikah itu bukanlah perkara yang mudah."
"Iya.. Aku tau itu.Tapi lihat usiaku sudah 25 tahun,aku juga malu dilihatin orang-orang kesana kemari menjalin hubungan tanpa tujuan."Jelas Nicko.
"Setau aku yah.. Perempuan kalau diajak menikah sama pasangannya pasti mereka mau.Tapi ini beda dengan diri kamu,apa yang kamu pikirkan?Bos kamu itu.."Ucap Nicko dengan amarah.
"Aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia Nicko!Aku harus menjelaskan apa sih agar kamu paham dan mengerti."Jawab Indah geregetan.
"Udah cukup!Mau sampai berapa lama kita berdebat?Aku sudah masak buat kita makan siang loh.."Tambah Indah.
Brakkkk
Nicko menendang kaki kursi yang berada di dekat Indah.Lalu dia pergi tanpa menghiraukan Indah.Indah hanya bisa mengelus dada.
"Astagfirullah.. Apa aku salah ngomong seperti itu.?"Gumam Indah.
Indah pun kembali ke kantornya setelah dilihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 1 siang.
Dia juga baru ingat kalau jam 3 sore bosnya ada meeting dengan karyawan yang lain.Indahpun bergegas merapikan makanan yang dimasaknya.
"Padahal aku sudah capek-capek masakin buat dia.Tapi apalah daya dia marah begitu."Indah yang menggerutu.
Indahpun kembali ke kantor..
Sebelum naik ke lantai dua,biasa dia berhenti dulu ke meja reseptionist.
"Ini.. Aku tadi masak di kos Sisil.Aku bagi sama kamu.."Kata Indah yang memberikan rantangan nasi untuk Sisil.
__ADS_1
"Hmmmm... Makasih Indah,sering-sering kek ngasih biar aku enggak beli terus."Jawab Sisil sembari memeluk rantang nasi dari Indah.
"Heleh!!Pemalas.."Kata Indah ketus dan mau beranjak pergi namun di halau Sisil.
"Indah... "Kata Sisil.
"Apa??"...
"Kamu tau enggak meeting hari ini apa yang dibahas?"Tanya Sisil ke Indah.
"Enggak!"Jawab Indah sambil menggelengkan kepala.
"Emang apa?"Tanya balik Indah.
"Pak Mochi mau pindah!"Kata Sisil dan Indahpun terkejut.
"Kenapa katanya Sil?"Tanya Indah penasaran.
"Nah.. Bukannya kamu sekertarisnya pak Mochi ya?Harusnya kamu lebih tau dari pada aku."Kata Sisil yang sedikit menyindir Indah.
"Pak Mochinya loh.. Enggak ada dia cerita soal ini."Indah yang mengelak.
Indahpun mengakhiri percakapannya dengan Sisil,lalu dia berjalan menuju ke lantai 2.Untuk menanyakan ke jelasan berita ke pindahannya.
Tanpa basa-basi Indahpun langsung masuk keruangan Mochi tanpa mengetuk pintu dulu.
Braghhhhh
"Maaf pak!"Kata Indah terkejut dan menutup pintu kembali.
Indahpun menuntun Mochi ke sofa dan mengambil kotak P3K.Lalu dia mengolesi dahi bosnya dengan minyak tawon.
"Aduhh.. Kenapa sih pak Mochi ini memandangi ku seperti itu."Batin Indah yang salah tingkah.
Dag.. Dig.. Dug..
"Jantungku kan jadinya mau copott.. Aishh.. Please dong pak jangan melihatiku begitu."Batin Indah lagi.
Mochi menatap Indah dengan penuh perasaan.Dia menikmati sentuhan tangan-tangan Indah yang mengolesi dahinya minyak tawon.
Gerakan cepat,Mochi meraih tangan Indah.Indahpun tertunduk lalu Mochi mengangkat dagu Indah dan memiringkan kepalanya.
"Maaf pak!"Protes Indah yang mengetahui Mochi akan menciumnya.
Mochipun gelagapan sambil menggaruk-garukan kepalanya.
"Waktunya meeting!"
Indahpun berdiri dari sofanya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Mochi.
Sementara Mochi hanya terdiam melihat Indah yang berlalu dari pandangannya.
__ADS_1
"Shiitt... Kenapa sih,kamu susah sekali ditakhlukkan!"Kata Mochi yang meninju angin.
Diapun mengeratkan dasinya dan merapikan jassnya dan berlalu berjalan ke ruangan meeting.
Meeting yang dimulai dari jam 3 sore kini berakhir sampai jam 7 malam.
Indah dan Mochipun saling tertawa di teras kantor di sela-sela jam pulang.
Nicko yang melihatnya dari jauhpun terasa geram.Alih-alih dia memang sangatlah cemburu melihat Indah dekat dengan bosnya.
Dengan mengepalkan tangannya dan emosi jiwa,Nicko pergi dari kantor Indah.
Nickopun nimbrung ditongkrongan cafe.Jarang-jarang dia nongkrong ditempat seperti itu.
Lalu Erika melihat Nicko yang duduk sendirian pun punya niat jahat ke Nicko.
Ketika Nicko pergi ketoilet dan meninggalkan meja nya,Erika datang dan memberi sebutir obat di minuman Nicko.
Setelah itu Erika meninggalkan meja Nicko dengan bahagia.Nickopun kembali dari toilet dan duduk kembali di mejanya.
Diapun mulai meminum minuman yang sudah di pesannya.
glek.. glek.. glek..
Nicko meminum habis minuman yang telah dipesannya tadi.5 Menit kemudian obat itu mulai bereaksi.Nickopun berkali-kali mengibaskan kepalanya.
"Aduhh.. Kenapa ya tubuhku seperti ini?"Gumam Nicko.
Merasa ada yang aneh dengan badannya Nicko mulai meninggalkan cafe itu.
Sementara itu...
Indah pun sudah sampai dirumah.Seperti biasa dia setelah selesai makan malam tidak lupa mulai membersihkan rumah dan dapurnya.
Setelah beres-beres sudah selesai,Indah membersihkan dirinya dengan mandi.Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk,dia memakai baju tidur yang tipis sekali.
Sembari duduk dipinggiran ranjang,Indah melihati handphonenya yang sama sekali tidak ada notifikasi pesan dari Nicko.
"Apa dia masih marah ya sama aku?"Gumam Indah.
"Aku telfon enggak ya...?"Gumam Indah sembari berfikir.
"Nanti kalau aku telfon pasti marah-marah."Gumamnya lagi.
"Hoooammm..."Sambil menggeliat dan menutup mulutnya.
"Besok saja deh.. Aku telfon,lebih baik aku istirahat dulu."Kata Indah sembari mem pupuk bantal dan merebahkan tubuhnya di ranjang dan menarik selimut.
Malam ini terasa berat dan melelahkan untuk Indah.Meskipun begitu dia tidak pernah lupa untuk bersyukur,karena masih diberikan kesempatan dalam menjalankan kehidupannya.
Rumah peninggalan mendiang keluarga Nicko sangatlah nyaman untuk ditempatinya,rumahnya kecil sederhana namun tanah kosongnya lumayan luas.Meskipun sedikit jauh dari tetangga tidak membuat Indah merasa takut untuk menempati.
__ADS_1
Justru lebih menenangkan hati Indah dari hiruk pikuk keramaian mulut tetangga yang terkadang bisa menggores luka.