
Ketika Suci sedang disibukkan dengan mengasuh Zain karena Nicko dan Indah sedang ada meeting dengan klien,tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pintu.
Tok... Tok...
Suci bergegas melangkahkan kaki untuk menuju ke arah pintu depan tentu dengan menggendong Zain.
"Ada tamu sayank.. Yuuk kita buka pintu dulu."Celoteh Suci kepada Zain.
Ceklek...
Suci terdiam tergagap melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan kedatangan seorang laki-laki yang sepantaran dengan usianya.
"Assalamualaikum?"Sapa laki-laki itu yang tak lain adalah Hendrik ayah Andra.
"Waalaikum salam..."Jawab Suci dengan ketus dengan tatapan malas.
"Ada apa?"Tanya Suci ketus.
"Suci,boleh saya masuk?"Tanya Hendrik balik dengan memasang mimik sendu.
"Diluar saja!"Jawab Suci sambil berjalan kearah teras rumah.
Hendrik hanya diam menunduk mengekor di belakang Suci dan menjatuhkan bobotnya dikursi.
"Ada keperluan apa?"Tanya Suci dengan nada ketus sembari membuang pandangannya.
"Suci,saya minta tolong sama kamu tolong bujuk Andra agar tidak memutuskan hubungannya dengan Sisil.Kasian dia."
Mendengar ucapan Hendrik,kedua bola mata Suci menatap tajam dengan tatapan amarah.
"Aku tau aku salah.Aku minta maaf sama kamu dan juga Andra."
"Maaf?"Ulang Suci dengan nada menyindir.
"Saya sudah memaafkan anda.Untuk masalah Andra dan anak tiri anda bukan urusan saya.Saya tidak mau ikut campur!Permisi"Ucap Suci beranjak berdiri dan melangkahkan kaki.
Langkah kaki Suci terhenti ketika dia hendak mau masuk berpas-pasan dengan Andra yang baru datang.
Andrapun mencium punggung tangan Suci sebelum menengok ke arah tempat duduk kursi bambu teras.
Andrapu memasang dengan tatapan malasnya.
"CK!"Andra mencebikan mulutnya.
"Andra bagaimana hubunganmu dengan anak tirinya?"Tanya Suci ketus ke Andra yang seolah menyindir Hendrik.
"Andra sayang ibu."Jawab Andra dan Sucipun mengangguk.
"Jelaskan sekarang hubunganmu kepada laki-laki yang berada diujung sana,ayah kamu dan ayah tiri mantan kamu."Tambah Suci dan bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Andra dan Hendrik.
__ADS_1
"Andra?Anak Ayah???"Kata Hendrik dengan mata berkaca-kaca sembari mau meluk Andra.
"Stop!!"Seru Andra kepada Hendrik yang akan mendekat ke arah Andra.
Hendrikpun menghentikan langkahnya.
"Jika anda datang kemari hanya untuk membujuk saya agar kembali lagi dengan Sisil,saya persilahkan anda keluar dari rumah ini."Ucap Andra sambil menunjuk jari telunjuk ke arah luar.
Dengan berdiri mematung sambil mata berkaca-kaca Hendrik tertunduk.Pria itu seakan menunjukan kesedihan nya kepada anak kandung yang kurang lebih 21 tahun ia tinggalkannya.
Hendrik mendongakkan kepala tatapannya menatap Andra yang berdiri menatapnya dengan tajam.
"Maafin ayah Andra,"
"Silahkan pergi dari sini."Ucap Andra lagi dengan wajah datarnya.
"Pergiii....!!"Bentak Andra.
"Andra stop!!"Pekik Sisil yang datang tiba-tiba dan berjalan menghampiri Andra.
"Jahat banget sih kamu Andra?Dia itu ayah kamu.Bisa-bisanya kamu berbuat jahat sama dia."
Mendengar ucapan dari Sisil Andra mengernyitkan alisnya.Dia pun menatap Sisil sembari melipatkan kedua tangannya didada.
"Ayah aku?Bukan!!Tapi ayah kamu..."Kata Andra menatap Sisil dengan tatapan tajam dan Andra memutar badannya melangkahkan kaki menuju pintu rumah dan mengabaikan Sisil dan Ayahnya.
"Andra!"Pekik Sisil yang kecewa dengan sikap Andra.
"Cukup Sisil!Jangan buang-buang waktu ku hanya untuk mengurusi masalah sepele seperti ini.Hubungan kita sudah berakhir.Satu lagi yang perlu kamu tau,kalau dia memanglah ayah kandungku tidak seharusnya dia pergi meninggalkanku disaat aku masih didalam kandungan ibuku.Dan bodohnya aku,ternyata dia adalah ayah tiri kamu anak dari seorang pelakor!Cuihh,"
"Andra!"Pekik Hendrik.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Andra membuat mata Sisil mulai berkaca-kaca.Dadanya mulai terasa sesak.Dia mengeluarkan air bening yang tak bisa dibendungnya.
"Andra.Ayah yang salah,ayah mohon sama kamu.Jangan sakiti Sisil."Ucap Hendrik yang memeluk Sisil.
"Dia tidak tau apa-apa."Tambah Hendrik.
"Sepertinya anda sayang sekali dengan anak tiri anda tanpa anda tau anda telah menggores luka dengan anak kandung anda sendiri selama kurang lebih dua puluh satu tahun.Good dramanya..."
Brakkkkk
Andra memutuskan untuk masuk kedalam rumah dan membanting pintu dengan kencang.
Sementara itu Hendrik masih memeluk Sisil anak tirinya yang menangis Sendu.
"Ayok nak,kita pulang."Ajak Hendrik yang mengurai pelukannya.
"Maafin ayah.Ayah tidak bisa membujuknya.Tapi ayah tidak akan berhenti untuk terus berusaha."Hibur Hendrik kepada Sisil.
__ADS_1
"Ayah sudah cukup.Terimakasih ayah sudah berusaha dengan sepenuh hati untuk membantu Sisil.Sampai kapanpun kita tidak akan bersama lagi.Karena aku dengan dia sudah memutuskan untuk mengakhirinya."Ucap Sisil dan melangkahkan kaki nya berjalan keluar halaman rumah Nicko.
Hendrik masih mematung sejenak sebelum dia mengikuti anak tirinya itu.
"Maafin ayah Andra,maafin ayah Sisil."Batin Hendrik sembari menengok ke arah pintu rumah sebelum beranjak pergi meninggalkannya.
Sepasang mata ternyata telah memantau Hendrik dan Sisil dari dalam rumah melalui jendela dibalik horden.
Suci..
Setelah Hendrik dan Sisil pergi,Suci menghampiri Andra yang duduk di meja makan.
Suci melihat anak laki-lakinya itu yang sedang duduk sambil meminum air dengan tandas.
Suci datang menghampiri Andra dan duduk menghadap Andra dan mengusap-ngusap lengannya.
"Ibu?"Kata Andra sambil menaruh gelas disamping lengannya.
Sucipun tersenyum tipis,
"Apa kamu sangat mencintai Sisil?"Tanya Suci dan Andra terdiam mendengar ucapan sang ibunya.
Andra masih terdiam nampak sedang memikirkan sesuatu.Dia mengakui sejauh ini dia sangat lah mencintai Sisil,namun apalah daya semesta memang tidak memihak kepadanya.
Dia juga harus menjaga perasaan ibunya yang perjuangannya dari hamil yang tak terhitung lagi pengorbanannya yang lain hingga membuatnya sukses saat ini.
Ibumu... Ibumu... Ibumu...
Otaknya selalu me-record kalimat itu.
"Andra?"Tanya Suci kepada anak nya yang melamun.
"Ibu cintaku pada Sisil tidak begitu besar seperti cintaku padamu Bu.Andra hanya ingin melihat ibu bahagia selamanya Bu.Andra sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya Bu.Andra sayang ibu."Ucap Andra sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Andra ke dalam dulu ya Bu,"Pamit Andra dan melangkah menuju kamarnya .
"Maafin ibu Andra,ibu mungkin sangat egois.Tapi ibu belum bisa untuk menerima kenyataan seperti ini.Sisil anak yang sangatlah baik,tapi entah kenapa ibu merasa sakit sekali kalau mengingat masa lalu ibunya."Gumam Suci.
Andra mendengar apa yang ibunya ucapkan dan memilih untuk pergi ke kamarnya.
Haii reader jangan lupa like dan komennya ya.
Jangan lupa baca novel aku yang lainnya ya.
1.Valentain terakhir
2.My Mommy My Wonderwoman.
Terimakasih mbebkuhh😘😘😘😘
__ADS_1