
Dirumah sakit, sesaat Sisil sudah di pindah di ruangan rawat inap.
Terlihat tangan sebelah kanan yang sedang diinfus,raut wajah nya terlihat pucat pasi.Tangan satu nya memegang perut bawahnya yang dirasa sudah membaik.
Dilihatnya Indah dan ibu Ratih yang berada di sisi kanan dan kiri Sisil.
Sisil yang sudah membuka mata tersenyum melihat ibu dan Indah sahabat baiknya berada disampingnya.
Bola-bola matanya menelisik kesana kemari mencari seseorang,Andra!.
Sisil tidak menemui sosok itu.
Hingga dia menundukkan kepalanya saat bersandar di kepala brankar.
Melihat seperti itu Indah langsung dengan gercep memeluk Sisil istri dari keponakannya.
"Tenang ya,nanti dia kesini.Saat ini dia sedang ada meeting yang harus dia handle.Kamu tau sendiri kan pak Mochi sedang di luar kota dan dia hanya bisa mengandalkan Andra."Ucap Indah dengan berbohong dengan maksud agar Sisil bisa lebih fokus dalam kesehatannya.
"Tadi dokter bilang Bu,kalau Sisil sedang hamil."Ucap Sisil yang bahagia.
"Selamat ya nak,sebentar lagi kamu akan jadi ibu."Ucap ibu Ratih dan memeluk Sisil sembari mengusap punggungnya.
__ADS_1
Indah pun ikut tersenyum dan mengedipkan salah satu matanya kepada ibu Ratih sebagai kode agar tidak membahas soal Andra dan ayahnya.
Ibu Ratih pun paham dan membalas dengan mengulas tersenyum kepada Indah.
"Sisil,ibu Ratih saya pamit dulu ya.Kasian Om Hendrik yang momong Zain diluar."
"Terimakasih Indah ya,"Ucap Sisil dan Indah mengangguk lalu bersalaman mencium tangan ibu Ratih.
Setelah Indah berpamitan,Indah menggendong Zain berjalan menyusuri koridor dan dia melihat suaminya bersama Andra di lift.
Nicko yang berhasil menenangkan Andra dan juga mampu membawa Andra kembali lagi kerumah sakit.
"Andra,bullek minta sama kamu tahan emosi kamu saat ketemu Om Hendrik.Saat ini Sisil bener-bener sedang membutuhkan kehadiran kamu.Kamu ingat ya,dia sedang hamil.Di usia kehamilannya yang muda ini sangat rentan terjadi hal-hal buruk.Bullek harap kamu mengerti."Nasehat Indah yang panjang lebar.
"Andra!Bullek harap kamu paham!Ingat kamu sudah dewasa.Kamu juga harus mengatur emosi dan ego kamu.Kamu pikir perkara menikah itu gampang!Enggak segampang itu Ferguso..!"Ceramah Indah yang kesal dengan kelakuan ponakannya itu.
"Its okay.. Its okay bullek,udah?"
"Kalau gitu Andra lihat Sisil dulu."
"Pergi sana... Awas kalau macam-macam!"Usir Indah dan melihat Andra mengibrit pergi.
__ADS_1
"Sabar sayang,!"Ucap Nicko yang mengelus punggung istrinya.
"Sini Zain sama papa ya..."Kata Nicko dan meraih Zain dari gendongan Indah.
Indah dan Nicko pun pulang.
Sementara itu,Andra menghampiri Sisil diruang rawatnya.Dia juga melihat mertuanya sedang berada di kamar Sisil.
Ibu Ratih dan Om Hendrik pun berpamitan pulang ke pada Sisil dan Andra.
Andra pun duduk di brankar Sisil.Dia melihat raut wajah Sisil yang pucat pasi.Bibir yang biasanya berwarna pun juga berubah menjadi pucat.
Tangan Andra mulai membelai pipi Sisil.Jemari Sisilpun mendekap tangan Andra dan dieluskannya di pipi.
Kemudian Sisil membawa tangan Andra ke perut datarnya.
"Ada baby mas disini."Ucap Sisil lirih dan Andra pun tersenyum.
Kedua tangannya menangkup ke dua pipi Sisil.
"Terimakasih sayang,aku bahagia sekali mendengarnya.Maaf kan aku yang terkadang kurang peka dengan dirimu."
__ADS_1
Cup...
Belum sempat Sisil menjawab Andra sudah mengecup bibir Sisil.