Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Harus Putus


__ADS_3

"Papa?"


Alex melepas pelukannya pada Lily. Ia lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju ayahnya, yang berdiri tegak, tepat di pintu apartemen milik Lily. "I-ini tidak seperti yang Papa pikirkan," ucap Alex gugup. Jauh di dasar hatinya bertanya-tanya, darimana ayahnya itu tahu kalau dirinya sedang berada di tempat ini?


Arman memicingkan kedua matanya menatap Lily dan Alex bergantian. Dari wajah keduanya Arman tahu, telah terjadi sesuatu diantara mereka. Beruntung ia datang tepat waktu, hingga sejoli itu tidak melakukan hal yang di luar batas.


"Pulang, sekarang juga!" tegas Arman.


"Tapi, Pa, urusanku masih belum selesai dengannya," ucap Alex dengan wajah jengah menatap Lily, yang saat itu tertunduk malu.


"Dia pasti akan mengerti, bukan begitu Nona?"


Lily mengangkat wajahnya lalu menatap Arman malu-malu. "Pulanglah, Lex, tempatmu memang bukan di sini," ucapnya sedih.


"Kau dengar itu, Alex? Nona Lily sangat memahami kondisimu." Arman menyeringai lalu tersenyum penuh terima kasih pada Lily.


Alex mengusap tengkuk dan wajahnya dengan kesal. Kini ia kebingungan untuk memutuskan. Jika ia pulang, maka sudah pasti Lily tidak akan lagi mau menerima kedatangannya. Tetapi, jika ia tetap bertahan di sana, maka seluruh miliknya akan direbut secara paksa oleh ayahnya itu, sebagaimana perjanjian yang pernah mereka buat, di awal ia memisahkan diri dari perusahaan utama, dan berdiri sendiri membuka bisnisnya. Tidak, ia tidak mau jatuh miskin hanya karena masalah wanita, meskipun sejatinya ia sangat mencintai Lily.


Lily menatap nanar pada Alex. Jauh di sudut hatinya ia sangat berharap kekasihnya itu bertindak tegas, memutuskan untuk tetap tinggal, sebagai bukti cinta pada dirinya. Tetapi, di sisi lain, ia juga berharap Alex segera pergi, karena takut kejadian ini tercium media.


"Papa tunggu di luar. Selesaikan urusanmu dengan cepat, dan satu lagi yang harus ku tekankan di sini, kalian harus putus!" ucap Arman yang bersiap untuk pergi. Bagaimana pun juga ia pernah muda, dan sangat paham bagaimana kondisi hati seseorang yang kasmaran jika akan berpisah.


"Nona Lily, maaf atas kelancangan kami, masuk ke apartemen mu tanpa ijin," ucap Arman yang lalu tersenyum seraya melangkah pergi meninggalkan sejoli itu berdua. "Lima menit!" teriaknya, yang cukup di dengar oleh semua orang yang ada di sana.


Alex berdecak kesal. Ia begitu malu, karena diperlakukan seperti anak kecil di hadapan Lily. Sementara Lily hanya tertunduk diam, tanpa berani memandang wajah Alex.


"Maafkan aku Lily, aku harus pulang," ucap Alex pada akhirnya.


Lily menghela napas lalu tersenyum tipis. "Pergilah."

__ADS_1


"Kau marah padaku?"


"Tidak ada gunanya aku marah, karena sudah jelas kau bukan milikku," tegas Lily.


Alex menghela napas panjang. "Aku tetap dengan janjiku, dalam waktu satu tahun atau kurang, aku akan menceraikan Lidya dan menikahimu," ucapnya.


Lily tertawa kecil. "Sudahlah, kau sudah ditunggu ayahmu, lekas pergilah."


"Aku mencintaimu, Lily," ucap Alex tanpa memedulikan ucapan Lily yang telah mengusirnya secara halus.


Tanpa bicara sedikitpun, Lily mendorong tubuh Alex hingga ke pintu. "Selamat tinggal, Alex. Berbahagialah dengan takdir cintamu," ucapnya yang lalu kembali mendorong tubuh Alex hingga keluar pintu apartemennya. Ia menatap sekilas lalu menutup pintu itu dengan cepat sebelum Alex melangkah masuk kembali.


"Lily, aku belum selesai bicara!" teriak Alex. Namun Lily tetap bungkam di dalam.


"Tuan Arman sudah menunggu Anda di mobil, Tuan Alex," ucap bodyguard Alex, mengingatkan.


"Aku tidak mau pulang!" bentak Alex gusar. "Aku bukan anak kecil, aku berhak menentukan, aku harus pulang atau tidak!"


Dari kejauhan, Arman melihat semuanya dengan sedih. Begitu dalamnya kah cinta Alex pada wanita itu? Dari yang ia tahu, Lily adalah seorang model kelas atas yang sudah mempunyai kekasih, dan sedang menjalani hubungan jarak jauh, karena kekasihnya itu sedang mengurus bisnisnya di Korea.


Tetapi apa yang ia lihat? Lily justru sedang bermesraan dengan putranya, yang saat ini menyandang predikat seorang suami. Sungguh sebuah hubungan cinta yang teramat ironis jika dipikirkan terlalu dalam. Cinta yang sangat tidak mungkin untuk disatukan, karena keduanya sama-sama memiliki pasangan, meskipun Lily masih belum menikah. Itulah sebabnya Arman berkeras menjodohkan Alex dengan Lidya, yang ia tahu gadis itu mempunyai sifat dan perilaku yang baik.


Arman menghubungi bodyguardnya, meminta mereka untuk membuat Alex bungkam, bagaimanapun caranya, karena kelakuannya akan mencoreng nama baik keluarga, terlebih dilakukan tepat di depan apartemen milik seorang model terkenal seperti Lily.


Tanpa menunggu lama, dari kejauhan terlihat dua bodyguardnya sedang memapah tubuh Alex yang lunglai. Bisa dipastikan jika kedua orang itu telah melakukan sesuatu hingga membuat Alex pingsan. Sudut bibir Arman terangkat, saat melihat kedatangan beberapa wartawan, tepat di saat Alex berhasil di dudukkan di sebelahnya.


"Jalan, Pak Mun," titah Arman pada sang sopir. "Kalian berdua cepat pergi dari sini, sebelum mereka banyak bertanya pada kalian," lanjutnya pada kedua bodyguard yang masih berdiri menatap kepergiannya.


Sontak keduanya segera masuk ke dalam mobil lalu pergi dengan cepat, kembali ke perusahaan Arman.

__ADS_1


Ya, beberapa waktu yang lalu saat Alex tengah berada di lokasi pemotretan, seorang rekan Arman secara tidak sengaja melihatnya. Ia langsung menghubungi Arman, dan bertanya apakah benar yang ada di dekatnya saat itu adalah Alex.


Arman segera bertindak. Ia tahu Alex sedang menemani Lily, maka dengan cepat ia mengutus beberapa anak buahnya untuk mengikuti Alex hingga akhirnya Alex berada di apartemen milik Lily.


Dengan mudah ia melumpuhkan dua penjaga di sana lalu segera membuka pintu dengan keras, karena takut Alex sudah bertindak terlalu jauh bersama kekasihnya itu.


Arman melirik ke samping, menatap Alex yang mengerang kesakitan sembari memegang tengkuknya. Ia lalu kembali menatap ponsel ketika Alex menoleh padanya dengan kesal. "Kenapa Papa begitu tega?" gerutunya.


Arman hanya menggumam tidak jelas. Ia tetap asik dengan ponsel di tangannya.


"Alex bukan anak kecil, Pa."


"Maka seharusnya kau tahu batasan yang tidak boleh kau langgar," sahut Arman cepat. Kini ia menyimpan ponselnya lalu menatap Alex dengan serius. "Katakan pada papa, apa yang membuatmu tidak suka pada Lidya."


Alex sedikit tercekat. Namun ia berusaha untuk tetap terlihat tenang. "Karena Alex tidak mencintainya," jawabnya tegas.


"Cinta bisa datang kapan pun, Alex."


"Dan tidak sesederhana seperti pemikiran Papa," timpal Alex. "Menikah juga tidak bisa asal menikah, karena pernikahan itu menyatukan dua hati yang saling mencintai," lanjutnya.


"Papa tahu itu. Tetapi dalam hal ini semuanya berbeda, Alex."


Alex tersenyum getir. "Memang, sangat jauh berbeda dari apa yang pernah ku bayangkan selama ini," sahutnya.


"Bukan begitu, pernikahan ini justru demi kebaikanmu," tegas Arman.


Alex tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Papa tidak salah? Demi kebaikan, tetapi Papa sudah menyakiti hati Alex. Apa itu Papa anggap baik?"


Arman menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Tidak, bukan? Kalau begitu lekas ceraikan kami!" pinta Alex sedikit memaksa, yang seketika membuat kedua mata Arman membelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang ia dengan dari mulut putranya itu.


__ADS_2