
Kedua pria itu memutar tubuhnya lalu meringis saat melihat petugas sekuriti mendatangi mereka dan bertanya. Sontak salah satu pria yang memegang benda itu segera menyimpan kantung plastik itu ke dalam saku dan menggantinya dengan sesuatu yang lain.
"Kami sedang mencari sesuatu," jawab pria itu.
Petugas sekuriti memicingkan matanya. "Apa yang kalian lakukan dengan mengais sampah seperti ini?"
"Mencari ini, Pak Bro!" salah satu dari pria itu menunjukkan sesuatu di tangan kirinya yang terbungkus sarung karet, pada sekuriti.
"Apa itu, cincin?" tanya sekuriti itu memastikan.
"Iya, bos kami kehilangan cincin ini saat membuang sampah di sini. Kami diminta untuk mencarinya."
Sekuriti itu mengangguk paham. "Sudah selesai?"
"Sudah, sekarang kami bersiap untuk pulang," jawab mereka kompak.
"Oke."
Sekuriti itu melenggang pergi dengan santai setelah yakin kedua pria itu tidak melakukan apapun yang bisa membahayakan hotel.
"Cepat kembali, Bos sudah menunggu kita!"
Kedua pria itu segera mencuci tangan di wastafel lalu melesat pergi menuju rumah tuannya.
"Cincin siapa itu?" tanya salah satu pria itu.
"Milik seorang pengunjung yang tidak tahu kalau cincin ini terlepas dari jarinya," jawab temannya.
"Kau tidak mengembalikannya?"
"Aku bermaksud mengembalikan, tapi orang itu tak kunjung keluar dari hotel," jawabnya.
"Alasan saja kau ini. Itu cincin mahal, pasti pemiliknya saat ini sedang kebingungan mencarinya."
"Aku sudah meninggalkan nomorku di resepsionis, jadi kalau ada yang bingung mencari dia bisa menghubungiku, aku akan mengembalikannya," jawabnya tenang. "Santai Bro, aku tidak sejahat itu."
Pria yang satunya pun tertawa. "Kalau sang pemilik ternyata tidak mencarinya bagaimana?" pancingnya.
"Nah, kalau begitu memang ini rejeki ku, lumayan Bro, bisa buat beli motor baru," jawabnya sembari tertawa lebar.
__ADS_1
"Dasar!"
***
Lidya dan Andre sudah selesai berbelanja semua kebutuhan Lidya untuk tahap-tahap seleksi. Mereka kini masuk ke salah satu restoran untuk makan malam.
Sembari menunggu, Andre melihat semua pesan yang masuk dari para anak buahnya yang saat itu sedang mengawasi Alex di hotel.
Ia mengernyit saat melihat foto benda berlendir yang mereka simpan dalam plastik. Seketika itu juga Andre menyimpulkan bahwa Alex sudah melakukan hal yang berlebihan bersama mantan kekasihnya di hotel itu.
Andre mendecak kesal. Ia lantas menatap iba pada Lidya yang saat itu sedang menikmati penampilan biduan panggung, yang sedang menghibur para pengunjung restoran yang cukup ramai saat itu.
Ia ingin memberitahu Lidya semua informasi tentang Alex, tetapi ia tidak mau merusak mood Lidya yang sepertinya sedang bagus saat ini. Lagipula mereka masih mau makan, tidak pantas rasanya jika ia membahas masalah kelakuan Alex yang cukup menjijikkan itu. Mungkin nanti saat ia mengantar Lidya pulang ke hotel, ia akan menceritakan semuanya.
"Kenapa melamun saja? Uangmu habis?" tanya Lidya iseng. Sejak tadi ia memerhatikan Andre yang termenung sembari menatap meja di hadapannya.
Andre tertawa. "Mana mungkin uangku habis? Cuma begini saja," jawabnya pongah.
"Cih, sombong!"
Alex kembali tertawa. "Jangan khawatir, kamu juga akan menyusul menjadi salah sayu orang kaya, setelah menjadi seorang model, nantinya," ucapnya.
Andre tersenyum takjub. Ia sudah menduga, Lidya akan menjawab seperti itu. Sahabatnya ini sedari kecil selalu mengatakan kalau ia tidak mau langsung kaya, jika sudah dewasa nantinya. Ia juga tidak mau berbangga dengan kekayaan milik orang tuanya, karena ia ingin menunjukkan kemampuannya, meskipun dirinya hanyalah seorang wanita.
"Itu yang membuatku selalu mengagumimu," jujur Andre Sembari menatap dalam kedua mata indah milik Lidya.
"Jangan menatapku seperti itu, awas, nanti kamu jatuh cinta padaku," seloroh Lidya.
"Aku memang jatuh cinta padamu, Lidya," ungkap Andre jujur. Sontak Lidya tersedak saliva nya sendiri. Ia Tidak menyangka, Andre akan sejujur itu.
"Kamu bicara apa, ingat, aku ini istrinya Alex," jawab Lidya dengan wajah merona. Sejujurnya dalam hatinya saat itu bersorak, ketika tahu perasaan Andre padanya. Tetapi seketika ia pun sadar, karena dirinya saat ini telah menjadi milik Alex, seutuhnya.
Andre tertawa pelan. "Nggak lah, aku tahu sampai dimana batasanku, dan kamu pun bukan sosok wanita yang mudah jatuh cinta, terlebih padaku," ucapnya.
Lidya ingin menjawab Andre namun urung, karena makanan pesanan mereka sudah datang. Lidya lantas mencuci tangan ke wastafel sembari melirik Andre sekilas yang sepertinya masih belum puas bicara tentang perasaan dengannya.
Keduanya makan dengan diam, hanya sesekali bicara tentang menu yang saat ini ada di hadapan mereka. Menu makanan kesukaan Lidya yang ternyata masih di ingat betul oleh Andre. Sementara Lidya sama sekali tidak ingat apapun kesukaan Andre sejak dulu.
"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Andre.
__ADS_1
Lidya terdiam sesaat lalu menggeleng. "Mungkin aku mending tidur aja kali ya, buat persiapan besok," jawabnya kemudian. "Lagian aku sudah lelah, dua jam berkeliling butik dan mall."
"Oke, aku antar."
"Setelahnya kamu ada acara?" Lidya balik bertanya.
Andre menggeleng. "Pulang saja, aku ngantuk. Memangnya kenapa? Ada rencana mengajakku ke suatu tempat?" tanya Andre iseng.
"Nggak deh, ntar jadi gosip tak sedap. Aku juga harus jaga perasaan Sarah," jawab Lidya.
"Sarah? Apa hubungannya dengan Sarah?" tanya Andre heran.
"Aku tidak mau dianggap pelakor," jawab Lidya cepat sembari tertawa.
"Pelakor?" Andre tertawa. "Aku dan Sarah tidak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak dari tanteku," jelasnya.
"Ah, syukurlah kalau begitu," sahut Lidya sembari tersenyum lega.
"Kenapa? Lega karena tidak ada halangan lagi kalau kamu mau denganku?" Andre semakin gencar menggoda Lidya.
"Bukan, aku lega karena aku sedang tidak mengganggu hubungan siapapun," tegas Lidya dengan wajah seriusnya. "Kamu ini kenapa sih? Pertanyaannya begitu amat?"
Andre tertawa. "Sorry, aku cuma iseng goda kamu. Sudah lama aku nggak melakukannya."
"Dasar!"
Keduanya pun beranjak pergi setelah Andre membayar pesanan mereka. Lidya sempat marah, karena Andre melarang dirinya saat hendak membayar semuanya, tetapi Andre tetaplah Andre, yang selalu menang jika harus berdebat dengan Lidya.
"Terima kasih untuk hari ini, Ndre. Pulanglah, istirahat," ucap Lidya.
"Oke, tapi setelah aku mengantarmu sampai ke depan pintu kamarmu. Lihat, belanjaan mu begini banyak, mana aku tega membiarkanmu membawanya sendirian ke lantai atas?" jawab Andre.
"Oke, baiklah." Lidya pun lagi-lagi pada akhirnya mengalah.
Keduanya terus bicara sembari sesekali tertawa saat membicarakan tingkah mereka di masa lalu, hingga tanpa sadar tidak mengetahui, seseorang sedang mengikuti dan mengambil foto keduanya.
Saat keluar dari lift, tanpa sengaja Lidya tersandung sesuatu dan nyaris terjatuh, namun dengan sigap Andre menahan tubuhnya, hingga terlihat seperti sedang memeluk Lidya dari samping. Sontak seseorang itu pun segera mengambil foto mereka sembari menyeringai.
"Uang besar, nih!" gumam sosok itu.
__ADS_1
"Hapus atau nyawamu melayang!" hardik seseorang di belakangnya.