Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Bawa Aku Pergi


__ADS_3

"Iya, Lidya baru saja menikah, seminggu yang lalu," jawab Maria. "Kamu masih belum tahu?"


Andre tertegun mendengarnya. Ia terus saja menatap Maria dengan penuh tanya. Apakah informasi itu memang benar adanya.


Pramana tersenyum tipis, ia lalu menepuk pelan punggung tangan Andre. "Jangan shock begitu, apa kamu tidak suka jika Lidya menikah terlebih dahulu?"


"Ini bukan tentang siapa yang lebih dahulu menikah, ini tentang hati dan perasaanku yang hancur," desis Andre dalam hati.


Andre tersenyum. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, Andre cuma kaget saja, ternyata Lidya sudah menikah," kilahnya. "Wah, patah hati nih, padahal Andre sudah lama nungguin Lidya, Om, Tante," gurau Andre memberanikan diri.


Sontak Maria dan Pramana saling pandang lalu menatap Andre penuh penyesalan. "Maafkan kami, Nak. Kami nggak tahu kalau kamu menunggu Lidya selama ini. Apa kalian saling mencintai?" tanya Maria.


Andre tertegun. "Nggak kok, Tante, Andre hanya bercanda," jawabnya sembari tertawa kecil. "Andre tidak tahu bagaimana perasaan Lidya, kalau Andre sih mau-mau saja sama lidya," lanjutnya.


Pramana menatap Andre dengan intens. Meskipun terlihat bercanda, ia bisa mendapati kesungguhan di wajahnya. Seketika batinnya perih, jika memang benar Andre mempunyai perasaan tertentu pada Lidya, begitu juga sebaliknya dengan Lidya sendiri, maka ia sudah membuat kesalahan besar, telah memisahkan mereka dengan perjodohan itu.


"Berarti Andre sudah tidak bisa bertemu Lidya lagi, Om?" Andre menatap Pramana yang saat itu sedang diam termenung.


"Oh, masih boleh, asalkan kau ijin dulu sama suaminya," jawab Pramana.


"Sayangnya Andre tidak punya banyak waktu, besok pagi ada harus segera ke bandara, ada urusan pekerjaan di Surabaya," ucap Andre pelan, seolah bergumam.


"Kamu bisa janjian dulu sama Lidya," usul Maria. "Tunggu sebentar, biar tante coba hubungi Lidya sekarang."


Seketika wajah Andre berubah cerah. Kedua matanya menatap Maria dengan penuh harap.


"Kalau misalkan bisa, kalian bertemu di sini saja ya, untuk menghindari fitnah," ucap Maria sembari menunggu jawaban dari panggilannya.


"ada apa, Ma, merindukanku? Baru juga dua hari," sapa Lidya dari ujung panggilan.


"Ah, Nak, kamu ada waktu nggak? Ada yang datang mencarimu," jawab Maria sembari mengedipkan matanya pada Andre.


"Siapa, Ma?"


"Ada deh, kamu harus lihat sendiri, siapa yang datang."


Terdengar suara ******* kecewa dari ujung panggilan. "Nggak bisa ya, pakai video call saja, Ma?"


"Mama nggak paham, video call itu yang gimana?" kilah Maria sembari terkekeh.


"Mama bohong, ih, padahal kita udah video call semalam."


"Iya 'kah? Oh itu, video call namanya?"


Sontak Lidya mendecih sembari memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Ma, kasi tahu dong, siapa yang cari Lidya? Kepo banget, nih."


"Mama nggak akan kasi tahu sebelum kamu datang ke gubug reyot mama ini," sahut Maria.


"Apa'an sih Mama, ya udah, Lidya pulang sekarang," putus Lidya pada akhirnya.


Maria tersenyum lebar. "Oke, mama tunggu ya, buruan. Jangan lupa pamit sama suami kamu.",


" Beres! Alex lagi keluar, Ma. Nanti Lidya pamit sama Bik Marni aja, biar disampaikan nanti kalau Alex pulang," jawab Lidya.


"Ya sudah, yang penting pamit dulu, biar suamimu itu nggak curiga."


"Iya, Ma."


Maria menutup panggilan dengan ceria. "Tunggu, sebentar lagi Lidya datang," ucapnya pada Andre, yang sedang sibuk bermain ponsel.


Andre mengangkat wajahnya antusias. Sontak ia berlari ke wastafel untuk membasuh wajah dan merapikan rambutnya.


"Sepertinya kamu memang suka sama Lidya," gumam Maria saat melihat Andre begitu senang ketika mendengar bahwa Lidya akan datang.


Andre hanya tersenyum penuh arti, ia tidak bisa menutupi perasaan yang sesungguhnya pada teman masa kecilnya itu. Maria ikut tersenyum, tetapi merasa sedih.


"Katanya jam berapa mau datang, Tante?"


"Mungkin sebentar lagi," jawab Maria. "Kamu sudah tidak sabar, Nak?".


"Mau kemana?" tegur Maria.


Pramana menoleh padanya lalu menatap Andre. "Aku ke ruang kerja dulu, baru ingat kalau masih ada yang harus ku kerjakan sekarang juga. Nanti setelahnya, aku akan kembali ke sini," jawabnya.


Maria dan Andre sama-sama mengangguk. Maria yakin, suaminya itu pasti tidak ingin melihat pertemuan antara Lidya dan Andre, karena merasa bersalah.


Sementara itu, di kediaman Alex, Lidya meminta ijin pada Bik Marni, bahwa ia akan pulang ke rumah orang tuanya sebentar. Bik Marni mengijinkan, dengan catatan Lidya harus mengirim pesan pada Alex, saat berangkat nantinya.


Tak lama Lidya pun keluar dari rumah. Ia sudah mengirim pesan pada Alex, namun tidak kunjung dibalas olehnya.


"Lidya berangkat, Bik. Tolong sampaikan, kalau nanti Alex datang," pamitnya. "Aku sudah kirim pesan, tapi mungkin Alex sedang sibuk, karena masih belum menjawabku."


"Beres Mbak, nanti bibik yang bilang."


"Terima kasih."


Lidya pergi bersama sopir pribadinya, yang di kirim oleh Arman bersama Bik Marni. Salah satu bentuk perhatiannya untuk sang menantu pilihan.


Setelah menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit perjalanan, tibalah mereka di kediaman Pramana. Rumah tempat Lidya menghabiskan masa kecilnya, bersama kedua orang tuanya.

__ADS_1


Lidya tersenyum menatap halaman rumahnya yang kini sudah di sulat dengan baik menjadi sebuah taman yang indah. Mengingat tentang masa kecil, membuat Lidya ingin kembali ke dunia itu. Dunia dimana tidak ada paksaan untuk menikah dan bisa menikmati semuanya, sesuka hatinya.


Lidya menatap mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di sana. Dalam hatinya bertanya-tanya, siapakah yang sudah datang mencarinya.


"Akhirnya kamu datang juga, Nak," sambut Maria antusias. Ia lalu memeluk putrinya dengan erat, melepas semua kerinduan dalam hatinya. "Bagaimana kabarmu?"


"Lidya baik dan sehat, Ma," jawab Lidya.


"Kau semakin cantik dan terlihat dewasa, Anak kecil," sahut Andre yang menatap Lidya dengan takjub.


Sontak Lidya melepaskan pelukannya lalu menoleh, menatap Andre. Untuk sesaat ia mengernyit bingung, namun tiba-tiba ia tertawa renyah saat mengingat, satu-satunya orang yang memanggilnya "anak kecil" hanyalah Andre.


"Andre! Lama tak jumpa," seru Lidya yang lalu menghambur memeluk pemuda itu. "Jangan panggil aku anak kecil," protesnya." Aku sudah sedewasa ini, asal kau tahu."


Andre tersenyum menikmati hangatnya pelukan Lidya. Namun sesaat kemudian Lidya tersadar dan segera mengurai pelukannya. Maria yang melihat hal itu, tersenyum haru. Sementara Pramana di tempat persembunyiannya, mengintip dengan hati pedih.


"Selamat atas pernikahanmu, semoga bahagia," ucap Andre sembari tersenyum, dengan bibir bergetar.


Lidya tertunduk. "Terima kasih."


Andre menatap Lidya penuh tanya saat Lidya tiba-tiba terlihat murung.


"Kalian bicaralah, aku akan menyiapkan minuman di belakang," pamit Maria yang lama-lama merasa jengah, berada di tengah dua insan yang saling melepas rindu.


"Kenapa murung? Padahal baru saja kau tertawa ceria," tanya Andre penuh perhatian.


"Nggak, aku cuma tidak menyangka saja, kau tiba-tiba datang. Jahat, dua tahun nggak kirim kabar padaku," jawab Lidya.


"Maaf, aku sibuk banget di sana."


Lidya menatap Andre tak berkedip. Tiba-tiba terlintas satu ide gila dalam benaknya. "Ndre," panggilnya.


"Ya?"


Lidya menelan saliva dengan susah payah. "Bawa aku pergi," pintanya.


Andre terkesiap. "Pergi? Kemana?"


"Kemanapun, asal aku tidak kembali ke rumah itu," jawab Lidya.


Andre menatap lekat kedua mata Lidya. "Aku akan mengajakmu pergi, kemanapun kau mau, asal kau bercerai dengan suamimu," jawab Andre.


"Kau sungguh-sungguh akan melakukannya?"


Andre mengangguk tegas. "Ya, aku akan membawamu pergi dan menikahimu."

__ADS_1


Lidya tertegun menatap pemuda itu.


__ADS_2