Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Lolos Lagi


__ADS_3

Keributan kecil itu memancing perhatian para maid di sana. Ada yang memilih untuk pergi, tetapi ada juga yang tetap bertahan di tempat dengan berpura-pura tetap sibuk dengan pekerjaannya.


Hingga akhirnya Kim memutuskan untuk memanggil seorang ahli tato untuk secepatnya datang ke rumah itu.


Alex semakin uring-uringan mendengar ucapan Kim tentang tato permanen. Sementara para maid yang ada di tempat itu menahan tawa mereka, Alex yang mereka tahu sering berkencan dengan banyak wanita itu ternyata sama sekali tidak mengetahui perihal tanda kepemilikan yang Kim anggap tato itu.


Seketika suasana menjadi ramai karena Alex sedari tadi terus saja menggerutu.


"Ahli tatonya sudah datang, Tuan. Silahkan bersiap," ucap Kim memberitahu.


"Biar langsung ke kamar saja!" titah Alex yang kini melangkah masuk ke dalam kamarnya. Kim keluar untuk menyambut ahli tato itu lalu mengajaknya masuk ke kamar Alex.


Setelah menceritakan masalah Alex, Kim berlalu pergi meninggalkan ahli tato itu berdua dengan Alex.


"Bisa saya lihat dulu tatonya, Tuan?" tanya ahli tato itu tanpa banyak basa basi.


Alex membuka bajunya lalu menunjukkan semua bekas kepemilikan yang terlihat jelas di leher dan dadanya. Sontak sang ahli tato itu menahan tawanya. Hal semacam ini ternyata tidak dipahami oleh seorang Alex yang sudah begitu dewasa, bahkan yang ia dengan sudah menikah.


"Maaf, ini bukan tato, Tuan," ucap ahli tato itu memberitahu.


"Bukan tato?" Alex terperanjat. "Kalau bukan tato apa?"


"Ini, ehm, bekas sentuhan wanita atau, ehm, tanda kepemilikan, kata orang-orang," jawabnya dengan gugup karena tidak tahu harus menjelaskan dengan cara bagaimana.


Alex tertegun. Ia baru sadar telah membuat kesalahan dengan memamerkan bekas tingkah lakunya bersama Inge di depan umum. "Ah, iya, aku lupa kalau semalam baru saja bertempur dengan istriku, ha ha ..." ucapnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ahli tato itu tersenyum penuh arti, tanpa sadar ia membayangkan bagaimana ganasnya sang istri Tuan Besar saat pertempuran semalam. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya, mengusir segala bayangan kotor dalam benaknya.


"Kenapa?" tanya Alex.


"Ah, tidak. Saya hanya memikirkan kalau tanda itu tidak permanen. Dalam beberapa hari akan hilang dengan sendirinya, kecuali kalau bekas luka dalam," jelas ahli tato itu.


"Begitu ya? Jadi aku tidak harus melakukan operasi pengelupasan kulit untuk menghilangkannya?" tanya Alex lugu.


Ahli tato itu tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia sampai terduduk dengan lemas. "Kalaupun itu tato permanen, tidak perlu operasi pengelupasan kulit jika Anda ingin menghilangkannya," jelasnya kemudian, setelah ia berhasil menghentikan tawanya.

__ADS_1


Alex terdiam melihat ahli tato itu tertawa. Ia merasa tersinggung dan tidak terima, tetapi mau bagaimana lagi, ia yang sudah membuat semua ini terjadi.


"Baiklah, terima kasih informasinya," ucap Alex dingin. Ia lalu mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. "Ini untukmu," ucapnya sembari memberikan uang itu pada ahli tato.


"Untuk apa, Tuan?" tanya ahli tato itu bingung.


"Untuk semua informasi darimu karena aku benar-benar tidak tahu tentang hal ini," jawab Alex jujur.


"Tapi itu masalah yang wajar untuk suami istri seperti Anda berdua," jawan ahli tato itu. "Semua yang melihatnya pasti akan memakluminya."


"Tidak, aku malu," jujur Alex. Dalam hatinya saat itu, ia tidak ingin jika Lily mengetahuinya, terlebih ayahnya.


"Baiklah, Tuan, kalau begitu tugas saya sudah selesai," ucap ahli tato itu yang lalu beranjak dari duduknya.


"Kau tidak ingin menerimanya?" tanya Alex sembari melirik lembaran uang kertas di tangan kanannya.


"Saya tidak melakukan apa-apa, Tuan. Terima kasih, Anda simpan saja uang itu," jawab ahli tato.


Alex menatapnya takjub. "Yakin tidak mau menerimanya? Apa jumlahnya masih kurang buatmu?"


Ahli tato itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Saya menerima bayaran hanya untuk jasa melukis tato, bukan yang lain,' jawabnya sopan.


"Tanpa Anda beri, saya akan tutup mulut, Tuan. Saya paham sepenuhnya bahwa ini adalah wilayah pribadi Anda yang tidak pantas untuk dijadikan konsumsi umum," jawab ahli tato itu bijak.


Alex tersenyum sumringah. "Aku terkesan padamu. Jadilah salah satu orang kepercayaanku, jika kau bersedia," ucapnya.


Ahli tato itu tersenyum. "Biarlah saya menjadi seperti apa yang saya inginkan, jika Anda membutuhkan, silakan menghubungi saya sewaktu-waktu maka saya akan berusaha untuk memenuhi keinginan Anda," jawabnya. Ia memang tidak pernah suka dikekang ataupun harus tunduk pada peraturan. Sepenuhnya ia ingin tetap bebas dan berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa ada pengaruh dari orang lain.


Alex mendekati pria itu lalu menepuk bahunya pelan. "Senang bertemu denganmu," ucap Alex yang lantas menyelipkan lembaran uang darinya ke dalam tas milik ahli tato itu. Namun dengan cepat dikeluarkan lagi oleh sang pemilik tas. Alex hanya menggelengkan kepalanya saja lalu mengantar ahli tato itu keluar.


Sepeninggal ahli tato, Alex memanggil Kim. "Cepat utus seseorang untuk mengikuti ahli tato itu, cari dimana tempat tinggal dan bagaimana kehidupannya. Setelah itu kirim laporan padaku," titahnya.


"Siap, Tuan."


Kim segera pergi untuk menjalankan tugasnya. Sementara Alex kini menatap kesal tanda kepemilikan di tubuhnya. Ia tidak akan bisa bertemu Lily ataupun Lidya jika kondisinya seperti itu.

__ADS_1


***


"Luar biasa, kamu lolos lagi, Lidya," puji Andre saat Lidya keluar dari studio penguji dengan membawa amplop berwarna emas. Itu berarti ia otomatis berlanjut ke tahap akhir, sebagai penentu bahwa dirinya akan resmi menjadi seorang model, setelah mengalahkan dua peserta lainnya.


"Terima kasih, semua berkat dukunganmu, Ndre," ucap Lidya.


"Semua juga karena kemampuan dan secara kebetulan kamu sudah memenuhi kriteria yang kami butuhkan," timpal Sarah yang datang dari belakang Andre.


Lidya menyambutnya dengan tersenyum lebar. "Terima kasih, Sarah. Pasti semua juga karena bantuanmu, karena ternyata kau ada di sana, sebagai salah satu pengujinya," ucapnya takjub.


Sarah tertawa renyah. "Itu tidak benar, semua murni atas usaha dan kemampuanmu," tegasnya. "Selamat, ya! Aku yakin kau lah nantinya yang terpilih," imbuhnya sembari menepuk punggung tangan Lidya yang ada dalam genggaman tangan kanannya.


"Terima kasih, sekali lagi," ucap Lidya tulus.


"Mau sampai kapan ucapan terima kasihnya?" celetuk Andre saat melihat interaksi Lidya dan Sarah yang terlihat akrab. "Sekarang sebaiknya kita rayakan keberhasilan Lidya," imbuhnya, memberi ide.


Sarah menyambutnya dengan antusias. "Oke, aku akan ajak Roni, jam berapa? Sekarang 'kah?"


"Ya sekarang dong, mumpung lagi jam makan siang," jawab Andre. "Hubungi aja Roni, kita bertemu di kafe depan."


"Oke."


Andre mengajak Lidya menuju kafe di seberang jalan, tempat biasa mereka makan siang berdua, selama Lidya masih di Bandung.


"Yang paling ujung sana, view nya bagus, dan bisa buat berempat," celetuk Lidya.


"Oke, sepertinya dari kemarin kamu sudah incar tempat ini, ya?" tebak Andre.


Lidya tertawa. "Memang cuma kamu doang yang bener-bener paham tentangku."


Andre tersenyum bangga. "Gimana, masih nggak mau sama aku?"


Lidya memutar bola matanya malas. "Sudah aku bilang, jangan sembarangan bicara, aku ini istrinya Alex!" tegasnya.


"Alex?" tanya Sarah yang tiba-tiba datang dan kini duduk di sebelah Lidya.

__ADS_1


Lidya mengangguk membenarkan. "Iya, Alex. Kamu kenal?"


"Alex Pradana 'kah?"


__ADS_2