Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Kado Pernikahan


__ADS_3

Lidya tidak percaya, kini ia telah duduk di meja makan besar, bersama kedua orang tua dan juga mertuanya. Setengah jam yang lalu ia masih berbaring di kamar dan tidur dengan nyenyak, namun tiba-tiba Maria datang untuk membangunkannya, dan mengatakan bahwa mereka sudah ditunggu oleh keluarga Alex.


Meskipun enggan, tetapi Lidya mau tidak mau harus menghadiri acara itu karena mulai saat ini dirinya adalah menantu tunggal seorang pengusaha besar, Arman Romani Pradana.


Dan kini kedua mertuanya itu menatapnya sembari tersenyum, seolah mengatakan bahwa mereka tidak sia-sia telah menerimanya sebagai menantu dalam keluarga mereka.


"Kita tunggu Alex sebentar," ucap Arman, ayah Alex. Pramana dan juga Lidya serta Maria mengangguk sembari tersenyum canggung.


"kau tidak tahu dimana suamimu saat ini, Lidya?" tanya Rosa, sang mama mertua.


"Tadi Alex terburu-buru, Tante, Lidya tidak sempat bertanya," jawab Lidya berasalan.


"Mama, bukan tante, menantuku sayang," sahut Rosa cepat.


"Ah, maafkan Lidya," ucap Lidya jengah.


"Lama-lama kau akan terbiasa, Nak," celetuk Arman sembari tertawa. "Alex sedang ada pertemuan bisnis dengan seseorang, sekarang sedang dalam perjalanan ke sini," jelasnya.


"Iya Om, ehm, Pa." Lidya menelan saliva dengan susah payah. Dirinya masih terpukul dengan pernikahan itu, masih ditambah pula dengan pendekatan diri yang harus mulai ia biasakan dalam keluarga itu.


"Maaf, Alex terlambat, sedikit macet di jalan," ucap Alex yang baru saja datang, dengan napas terengah. Ia lalu duduk begitu saja di kursi yang kosong.


"Duduklah di samping istrimu, Lex," tegur Rosa. "Kau lupa kalau sudah menikah?"


Alex tersenyum kaku lalu berpindah duduk di sebelah Lidya yang sedang menunduk, menatap kedua tangannya yang bersilang di atas pangkuannya. Ia terlihat begitu canggung berada bersama keluarga terpandang itu.


"Urusanmu sudah selesai?" tanya Arman sembari menatap tajam putra tunggalnya itu.


Alex sedikit tertegun, ia yakin ayahnya itu tahu kemana sebenarnya ia pergi, sebelum datang ke tempat ini. Ia pun tersenyum tipis lalu mengangguk. "Sebenarnya masih belum selesai, tapi masih bisa dilanjutkan lain waktu," jawabnya.


"Bagus. Acara keluarga lebih penting daripada urusan luar," sindir Arman penuh penekanan.


Alex hanya mampu mengangguk pasrah lalu melirik Lidya. Wanita itu terlihat acuh, meskipun sedang menyembunyikan kedua tangannya yang gemetar. Alex sempat memperhatikannya.

__ADS_1


"Apa yang sudah kau katakan pada Papaku?" bisik Alex curiga.


Sontak Lidya mengangkat wajahnya lalu menatap Alex penuh tanya. "Apa maksudmu?"


"Kau bilang sama Papa kalau aku pergi?"


Lidya menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa beliau memanggilku? Padahal acaraku masih belum selesai," protes Alex.


Lidya tercengang. "Kenapa kau marah padaku? Aku tidak tahu apa-apa."


"Cih! Pura-pura lugu."


Lidya mendengus kesal.


"Jangan marahi istrimu, apa kau lupa kalau papa punya anak buah?" tegur Arman yang memahami tatapan intimidasi Alex pada Lidya. Bukan apa-apa, Arman hanya ingin semuanya terkesan baik-baik saja dan terlihat wajar di hadapan besan, yang adalah sahabatnya itu. Jika memang ada masalah, biarlah itu hanya diketahui pihak keluarga secara intern, tanpa harus menunjukkan pada Pramana.


"Alex cuma bercanda, Pa," jawab Alex asal.


Bukan cemburu yang Lidya rasakan. Tetapi harga dirinya terluka, ketika menyadari ia telah menikah dengan seseorang yang mencintai orang lain. Ia yang selama ini anti pelakor, secara tidak langsung telah menjadi salah satunya. Tidak, Lidya sangat tidak menyukai situasi ini. Namun saat melihat wajah ayah dan ibunya, ia kembali melemah. Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi dan dirinya harus tetap menjalankan perannya dengan baik. Entah sampai kapan.


"Tujuan kami mengundang kalian makan bersama kali ini, selain untuk bersilaturahmi, kami akan memberikan kado pernikahan untuk Alex dan Lidya," ucap Arman setelah mereka semua selesai makan.


Wajah Pramana sumringah, tetapi berbeda dengan Maria yang justru tertunduk malu. Ia masih belum sempat memikirkan tentang kado untuk pengantin baru itu, karena kepulangannya yang sangat mendadak ke Indonesia.


Sementara Lidya hanya diam mematung, menunggu mertuanya itu selesai bicara. Saat ini ia tidak mengharapkan apapun dari keluarga itu. Karena ia tahu, pernikahan ini hanyalah sebuah rencana bisnis, yang ia sendiri tidak tahu, sampai kapan akan bertahan.


Alex tersenyum kecut. Kali ini perasaannya tidak enak, karena ia tahu, ayahnya itu memang sudah lama mengincar Lidya untuk menjadi menantunya, tanpa pernah bertanya bagaimana isi hati Alex yang sesungguhnya. Arman selalu membatasi pergaulannya, termasuk ikut campur masalah teman wanitanya.


"Alex dan Lidya, terimalah ini," ucap Rosa, ibu Alex. Ia memberikan sebuah amplop ke depan sepasang pengantin baru itu.


"Apa itu, Ma?" tanya Alex enggan.

__ADS_1


"Kau bisa lihat sendiri bersama istrimu, terimalah." Rosa tersenyum penuh arti pada Alex.


"Aku tidak bisa menerimanya, karena--."


"Terimalah Alex, ini perintah!" desak Arman sembari menatap tajam puteranya itu.


"Tapi aku tidak--."


"Papa tahu kau mampu memberikan apapun untuk Lidya dari hasil keringatmu sendiri." Lagi-lagi ucapan Alex terpotong oleh Arman. "Tetapi, tolong kau terima kado dari kami yang tidak seberapa ini," pintanya.


Melihat tatapan yang aneh dari ayahnya, seketika Alex menyentuh lengan Lidya, memintanya untuk menerima pemberian kado pernikahan itu.


"Te-terima kasih Pa, Ma," ucap Lidya setelah menerima amplop itu.


"Buka dan lihatlah isinya," titah Rosa sembari tersenyum lebar.


Lidya menatap Alex, meminta ijin pada suaminya itu untuk membuka amplop. Alex hanya melirik dan mengangguk sekilas.


Tanpa banyak bertanya, Lidya membuka amplop itu dan mengeluarkan dua buah kunci, lalu meletakkannya di atas meja, di hadapan Alex.


"Apa ini?" tanya Alex sembari mengerutkan keningnya.


"Kunci rumah dan mobil," jawab Arman. "Kami sudah menyiapkan rumah baru yang bisa langsung kalian tempati sepulang dari sini," jelasnya.


Alex berdecak pelan. "Terlalu mahal. Untuk sebuah pernikahan yang tidak ku harapkan, ini pemborosan!" sungutnya dalam hati. Namun yang terjadi ia justru tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Bagaimana Lidya? Suka dengan kado kami?" tanya Rosa yang lalu menatap lekat wajah menantunya itu.


Lidya hanya tersenyum lalu menatap Alex. "Jika Alex menyukainya, maka Lidya juga akan menyukainya," jawabnya kemudian yang sontak mendapat lirikan tajam dari Alex.


Arman dan Rosa tersenyum senang. Menantunya justru lebih mementingkan putra mereka, bukan memikirkan dirinya sendiri. Satu nilai tinggi telah Lidya dapatkan dari kedua orang itu.


Sementara kedua mata Pramana berbinar cerah. Pria itu hendak ikut bicara, tetapi Maria menahannya, karena takut Pramana justru salah bicara yang justru akan merusak suasana nantinya.

__ADS_1


"Alex tidak menyukainya," celetuk Alex tiba-tiba.


__ADS_2