
Napas Lily terengah saat Alex membenturkan tubuhnya secara berirama ke tubuh bagian belakang Lily. Daerah bottom yang adalah tempat favoritnya itu kini menjadi tempat pelampiasan Alex untuk melepaskan kerinduannya pada Lily yang sudah lama tidak ia sentuh.
Berkali-kali Lily memekik tertahan ketika jemari Alex bermain dengan liar pada intinya. Pria itu tidak memberinya kesempatan sedikitpun untuk bernapas, ataupun sekedar duduk dan beristirahat. Alex benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya selagi ia bisa berdua bersama Lily.
"Beri aku yang terbaik darimu," bisik Alex dengan napas terengah.
"Bagaimana dengan istrimu?" tanya Lily yang seketika merusak hasrat Alex yang sedang berkobar.
"Tolong jangan bicarakan tentangnya selagi aku bersamamu," pinta Alex yang kini melepaskan pelukannya di tubuh Lily dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dengan kesal. Gairahnya yang memuncak kini meredup seketika.
"Maafkan aku," sesal Lily. Ia lalu melangkah mendekati Alex lalu duduk di atas pangkuannya. "Aku akan menebusnya."
Alex tersenyum tipis. "Akan kuberikan yang terbaik dariku jika kamu bisa membangkitkan nya lagi," ucap Alex sembari melirik perkakasnya yang sudah lemas, dibalik kain penutupnya.
"Itu soal gampang," desis Lily yang kini mulai bergerak perlahan mencium bibir dan rahang Alex sementara kedua tangannya merambat naik dan turun, menempel ke dada bidang Alex lalu turun menuju perkakas yang sedari tadi masih tertutup rapat.
"Ini akan sulit bagimu, Lily," ucap Alex.
"Jangan meremehkan ku, seolah kita tidak pernah melakukan ini sebelumnya," jawab Lily sembari menyeringai.
"Aku sepertinya membutuhkan hal lain darimu."
"Apa itu?" tanya Lily penasaran.
"Pikirkanlah, hal lain yang tidak pernah kamu lakukan selama bergulat denganku," jawab Alex.
Lily terdiam berpikir sembari menatap sekujur tubuh Alex yang terlihat begitu menantang itu. Sudut bibirnya terangkat saat ia menemukan satu ide yang ia yakin akan mampu membangkitkan gairah Alex lagi.
"Lakukanlah, Lily. Aku tidak akan menolakmu, apapun hal lain yang akan kamu lakukan." Alex menyamankan posisi duduknya yang bersandar dengan malas, sementara Lily menyesuaikan duduknya yang terus menempel pada inti tubuh Alex.
"Jangan memohon padaku jika hal lain yang kulakukan ini akan membuatmu ketagihan seperti biasanya," celetuk Lily.
Alex hanya terkekeh pelan sembari memejamkan matanya, menikmati pijatan Lily pada pangkal pahanya. Wanita itu benar-benar paham apa yang sangat dibutuhkan olehnya saat ini.
"Servis penuh atau setengah?" bisik Lily, tepat di telinga Alex. Saat itu posisinya berada tepat di atas tubuh Alex, dengan bagian inti dan kedua bukit yang menempel sempurna pada bagian yang sama di tubuh Alex.
Alex menghela napas berat lalu tersenyum. "Kalau bisa penuh, kenapa harus setengah?" jawabnya sembari mengedipkan satu matanya pada Lily yang kini terlihat sedang menahan gairahnya di atas tubuh Alex.
"Oke, sesuai yang kamu minta."
Lily mulai bergerak liar. Ia mencium bibir Alex dengan penuh hasrat, hingga kekasihnya itu terlihat kewalahan, sementara tubuh bagian bawahnya bergerak pelan, menggesek milik Alex dengan penuh tekanan. Maju dan mundur.
Merasa masih belum ada respon, Lily merubah posisinya menjadi duduk. Kedua tangan nya bergerak perlahan melucuti semua kain penutup tubuh Alex bagian bawah hingga perkakas itu terlihat jelas dihadapannya. Lily menyeringai.
"Kamu sudah siap?"
Alex yang sejatinya sudah sedari tadi menahan hasrat, kini hanya menunggu aksi Lily yang baru akan dimulai. "Lakukan Lily, please, jangan siksa aku," pintanya.
Tanpa banyak bicara, Lily melucuti semua pakaiannya dan menyisakan blouse yang masih menempel di bagian atas tubuhnya, sementara tubuh bagian bawahnya sama-sama polos seperti Alex.
Alex menelan ludahnya kasar saat melihat keindahan tubuh Lily yang selama ini sangat ia kagumi, terlebih ketika kini Lily mulai membungkuk dan menempatkan bibirnya pada posisi nyaman tepat di atas perkakas milik Alex.
Lily melirik Alex sekilas lalu mulai mengulum puncak perkakas yang masih lemas itu, sementara kedua tangannya bermain dengan liar di area sekitarnya.
__ADS_1
Alex mulai mengerang. Kini perkakasnya sudah mulai mengembang sempurna dan meminta tempat untuk segera melampiaskan hasratnya. Melihat hal itu Lily segera bergerak, merangkak naik ke atas pangkuan Alex dan mulai memasukkan perkakas itu ke intinya. Lily memejamkan matanya, menikmati sensasi sentuhan benda yang kini memenuhi seluruh tempat di bagian inti tubuhnya. Alex benar-benar perkasa.
"Do it, honey!" desis Alex, tidak mampu menahan dirinya lagi.
"See? Aku bisa melakukannya dengan cepat," ucap Lily.
"Lily," desis Alex.
Lily yang mengerti maksud Alex kini mulai menggerakkan pinggangnya, melakukan gerakan menggesek, memutar dan mengangkat tubuhnya, turun naik berirama.
Alex menceracau tak karuan saat Lily bergerak seolah sedang menunggang kuda. Wanita itu menyeringai saat melihat wajah Alex merah padam ditekan gairah. Ia lalu melepas tautan itu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menarik tangan Alex. "Aku sudah melakukannya, dan sekarang kau harus melakukannya juga untukku," titah Lily.
Tubuh Alex merayap turun menciumi semua yang ada pada tubuh Lily dengan rakus hingga akhirnya ia berhenti tepat di bagian inti tubuh Lily yang terlihat begitu terawat.
Alex memagut dan memainkan lidahnya di sana. Lily menjerit pelan saat lidah itu masuk begitu dalam dan menghangatkannya. "Alex, lakukanlah," pinta Lily memohon.
Alex menyudahi permainannya di bagian bawah kini ia memainkan lidahnya di atas gundukan kenyal yang terpampang nyata, tepat di depan wajahnya. "Nikmat dunia manakah yang kau dustakan?" gumam Alex yang lalu menyesap dan memilin puncak gundukan itu dengan gemas, membuat Lily semakin memekik, merasakan kenikmatan di sana.
Alex membuat Lily kelimpungan dan menggeliat gelisah, ketika ia terus saja bermain-main di area dada Lily. Alex tersenyum menyeringai. "Bersiaplah," desisnya.
"Bersiap untuk ap--, auh!" pekik Lily saat perkakas milik Alex mulai memasuki intinya. Lily menggigit bibir bawahnya ketika merasakan intinya penuh sesak dengan milik Alex yang kini bergerak perlahan, memompa tubuhnya.
"Kamu memang luar biasa," puji Alex yang lalu menghujamkan miliknya dengan tempo yang lebih cepat dan keras. Lily memekik nikmat.
Keduanya berpacu dalam penyatuan tubuh yang sama sekali tidak menggunakan pengaman itu. Mereka sudah terbiasa melakukannya dan Lily selalu mengkonsumsi pil pencegah kehamilan setiap kali melakukannya bersama Alex.
"Oh, ****!" Lily mengumpat saat milik Alex menghunjamnya semakin keras dan dalam, semakin lama semakin cepat dan akhirnya berakhir dengan tubuh mereka yang sama-sama menegang saat mengalami pelepasan.
"Aku masih belum puas," bisik Alex. Lily tersenyum menatapnya dengan napas memburu.
"Masih cape, Lex. Kamu mau yang bagaimana lagi?"
"Kamu tahu tempat dan gaya favoritku, bukan?" jawab Alex sembari balas bertanya.
"Ah, kau ini, lain kali saja ya," jawab Lily enggan.
"Ayolah, kapan lagi kita bisa begini? Ayahku selalu mengawasi kita dengan ketat di luar sana," rengek Alex.
"Oke, tapi kamu yang memimpin, jangan aku lagi," jawab Lily yang kini mulai memposisikan tubuhnya, membelakangi Alex sembari tetap berbaring.
Alex mencumbu punggung mulus milik Lily, lalu mulai menggerakkan kedua tangannya meremas dua bukit sembari memancing perkakasnya agar bisa kembali kencang dan kuat.
Tanpa banyak suara, Alex mulai mengangkat pinggang Lily lalu menancapkan perkakasnya dari arah belakang sembari menggeram, menikmati sensasi rasa yang selalu menderanya saat ia menyerang Lily dalam posisi seperti ini.
Deru napas dan suara khas kulit tubuh yang bertabrakan terdengar cukup keras memenuhi kamar itu. Alex dan Lily sama-sama tidak peduli, yang terpenting bagi mereka saat ini adalah kenikmatan dan pelampiasan rasa rindu mereka. Hingga akhirnya mereka kembali mencapai pelepasan untuk yang kesekian kalinya.
***
"Aduh!" pekik Lidya, saat ia sedang mengupas buah apel, tanpa sengaja ujung pisau yang runcing itu.
"Ada apa?" tanya Sarah panik.
"Biasa, aku kurang hati-hati," jawabnya.
__ADS_1
"Ck, kamu ini, selalu saja ceroboh," ucap Andre sembari menarik tangan Lidya, melihat lukanya lalu menghisap luka itu langsung dari bibirnya.
"Jangan, Ndre. Ini kotor," cegah Lidya sembari menarik tangannya dari bibir Andre. Sarah hanya diam menatap interaksi mereka. Dalam hatinya saat ini mengerti bahwa sebenarnya Andre mencintai Lidya.
"Kenapa bisa sampai terkena pisau?" tanya Andre penasaran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Lidya mengedikkan bahunya.
"Kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sarah.
"Aku sedang memikirkan tentang Alex barusan, entah kenapa hatiku tiba-tiba merasa cemas. Perasaanku tidak enak," jawab Lidya.
Sontak Andre terkejut mendengarnya. Pasalnya ia baru saja mendapatkan kiriman foto tentang Alex yang sedang bersama Lily di dalam sebuah hotel. Apakah perasaan dan hal yang baru saja dialami oleh Lidya adalah semacam firasat? Tanda bahwa Alex telah melakukan hal yang diluar batas bersama Lily. Kalau memang benar begitu, bisa dipastikan jika Lidya telah jatuh cinta pada Alex saat ini. Satu hal yang sangat disayangkan oleh Andre.
"Sepertinya kau mulai jatuh cinta padanya," celetuk Sarah.
Lidya terdiam. Ia tidak yakin sepenuhnya tentang semua hal yang ia rasakan terhadap Alex. Tetapi ia bisa memastikan, bahwa sebenarnya ia menikmati kebersamaannya dengan Alex, meskipun pria itu sekalu kasar padanya.
"Lidya," tegur Andre saat tahu Lidya malah melamun.
"Eh, ya, ada apa?"
"Apa kau mulai mencintai Alex?" tanya Sarah memastikan.
Lidya menggeleng pelan. "Aku masih belum yakin."
"Pikirkan dulu baik-baik, karena ini menyangkut masa depanmu." Andre menimpali. "Dan kamu tidak perlu menyembunyikan perasaan apapun di depan kami, agar tidak mempengaruhi pekerjaanmu."
"Ya, aku mulai mencintainya," jujur Lidya pada akhirnya.
Sarah dan Andre saling bertukar pandang. Dugaan mereka benar!
"Apa kau ingin dia berubah?" tanya Sarah lagi.
"Entahlah, apa memang dia bisa berubah?"
"Tentu saja bisa, selama kau mau berusaha," jawab Sarah.
"Aku tidak yakin. Alex dan kebiasaan buruknya sepertinya sudah mendarah daging. Dia tidak akan bisa hidup tenang hanya dengan satu wanita saja," jawab Lidya.
"Apa kau punya bukti tentang hal ini?" tanya Andre ingin tahu.
"Ada. Baru saja, seseorang mengirimnya padaku, Alex saat ini sedang berdua dengan Lily di kamar hotel," jawab Lidya yang lalu menunjukkan pesan gambar yang baru saja ia terima
"Sial! Alex benar-benar bangs*t!" umpat Sarah kesal. Ia benar-benar gusar, mengingat saat ini Alex adalah suami Lidya. Andre malah sudah membanting ponselnya begitu saja ke sembarang arah.
"Sudahlah, Lidya, kau harus segera memutuskan, kau mau dia berubah atau kau ingin tetap hidup dengan pria yang jelas-jelas tidak mencintaimu?"
"Sudah ku katakan, aku tidak yakin," jawab Lidya.
"Tapi kau masih belum mencobanya."
Lidya terdiam bingung.
__ADS_1