
Alex berdiri tegak sembari menatap tajam Andre yang sedang memegang kemudi. Kedua matanya terpejam ketika mobil Andre mulai mendekatinya.
"Kamu serius mau tabrak dia?" tanya Lidya cemas. Bagaimanapun bencinya ia pada Alex, tetap saja ia menyayangkan dan tidak ingin melihat Alex celaka.
"Kenapa, kau keberatan?" tanya Andre.
"Stop!" teriak Lidya saat moncong mobil itu nyaris menyentuh Alex. "Aku cuma nggak mau kau terlihat jahat dimata Alex," ucapnya yang lalu membuka pintu mobil dan berlari keluar, menarik tangan Alex dan mengajaknya menepi.
Andre menyeringai. "Kau begitu mencintainya, Lid, jangan bohongi aku," lirihnya.
"Lex, apa kau sudah gila?" gertak Lidya saat mereka sudah berada di pinggiran jalan keluar parkir mobil tempat itu.
"Kenapa, kau takut?"
Lidya mencebikkan bibirnya. "Konyol saja kalau orang lain tahu, penabrak mu adalah pimpinan perusahaan tempatku bekerja," jawabnya.
Alex tertawa. "Bilang saja kalau kau sebenarnya takut aku celaka," ucapnya pongah. "Ikut aku sekarang." Alex langsung saja menarik lengan Lidya dan mengajaknya masuk ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Mau kemana?"
"Pulang. Aku yang akan mengantarmu, bukan mereka," tegas Alex yang lalu memasangkan sabuk pengaman untuk Lidya.
"Kau ini, tidak bisakah sekali saja kau menghargai orang lain?" protes Lidya. "Biarkan aku bersama mereka."
"Tidak bisa, kau ini istriku dan sepenuhnya jadi tanggung jawabku," jawab Alex.
Sontak tawa Lidya berderai, sudut matanya sampai berair. "Lelucon apa yang sedang kau mainkan saat ini, hm?"
Alex menatap Lidya heran. "Ada suami tanggung jawab, bukannya terima kasih malah dibilang lelucon," omelnya.
"Bukannya aku ini istri abal-abal mu?"
"Tidak usah membahas hal itu. Semua yang terjadi harus sesuai dengan keinginanku."
"Dasar egois!"
"Biar saja, yang penting kau bisa terus bersamaku," timpal Alex yang lalu bersiap untuk pergi.
"Tunggu, alex. Kau tidak bisa memaksaku seperti ini. Aku ada keperluan lain bersama mereka dan setelahnya baru pulang," jelas Lidya.
"Keperluan apa? Bersenang-senang di kafe, begitukah?" sindir Alex.
__ADS_1
"Tidak, jangan sok tahu. Ini masih berhubungan dengan pekerjaanku," jawab Lidya.
Alex tertawa sinis. "Pekerjaan apa yang kau banggakan itu? Model? Yang biasanya mempertontonkan lekuk tubuh dengan busana minim layaknya pelac*r itu kah?"
PLAK!
"Jaga bicaramu!" desis Lidya marah. Ia begitu tersinggung dengan ucapan Alex yang mengingatkannya pada semua uang yang Alex berikan setelah mereka memadu kasih di atas ranjang.
"Salahku apa?" tantang Alex dengan kedua matanya yang melotot marah. Baru kali ini ada wanita yang lancang dan berani menamparnya.
"Pikir saja sendiri!" bentak Lidya yang lalu melepas seat belt dan membuka pintu lalu melangkah keluar dengan cepat menuju mobil Andre. Beruntung mereka masih bertahan di sana, menunggu Lidya.
"Kita pergi sekarang, Ndre," ucap Lidya lirih. Sarah memerhatikan raut wajah Lidya yang terlihat jengkel, sedangkan Andre menatap tajam sosok Alex yang kini keluar dari mobilnya, hendak menyusul Lidya.
"Ndre, kita pergi. SEKARANG!" bentak Lidya kesal.
Andre yang terkejut sontak melajukan mobilnya dengan kencang, menjauh dari Alex yang sedang berteriak memanggil Lidya.
"Sorry, aku sudah membentak mu," sesal Lidya sembari mengusap kasar wajahnya. "Aku cape banget hari ini, masih ditambah ulah Alex yang menyebalkan," gerutunya.
"Memangnya ada masalah apa?" tanya Andre hari-hati.
Lidya tertunduk diam, sementara tangan Sarah terlihat sibuk menepuk pundaknya dengan lembut. "Yang sabar ya, Lid."
"Kita kemana, Lid?" tanya Lidya hati-hati, seolah paham dengan isi hati Andre.
Lidya sedikit tersentak. "Kemana aja, yang penting jangan ke apartemenku dulu," jawabnya.
"Ke apartemenku saja ya?" ucap Sarah menawarkan.
"Terserah, yang penting Alex tidak tahu."
Tanpa banyak bicara lagi Andre segera melesatkan mobilnya menuju apartemen Sarah yang lokasinya agak jauh dari tempat kerja mereka, tetapi tidak masalah bagi mereka, karena kenyamanan Lidya jauh lebih penting.
"Kalian masuk dulu, aku mau berkeliling, jaga-jaga kalau Alex mengikuti kita," ucap Andre.
Sarah mengajak Lidya untuk masuk ke apartemennya. Lidya terlihat sangat kacau, maka Sarah berinisiatif untuk memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga sembari menemani Lidya yang mungkin nantinya akan menceritakan masalahnya dengan Alex.
"Masuklah," ucap Sarah sembari membuka pintu unit apartemennya. "Tidak semewah tempatmu, tetapi ku harap di sini cukup nyaman untuk kita bertiga," imbuhnya sembari tersenyum.
Lidya melangkah masuk dengan lemas. Kondisi hatinya sedang tidak menentu kali ini, akibat ulah Alex yang sejak awal sudah mengganggu pikirannya dengan sikapnya yang selalu menganggap dirinya wanita bayaran. Apakah seperti itu keseharian Alex jika di luaran sana? Alex terlihat sudah terbiasa.
__ADS_1
"Jangan melamun, bersihkan tubuhmu dulu, baru setelahnya kita makan, sambil menunggu Andre," ucap Sarah. Lidya mengangguk patuh dengan senyum yang dipaksakan. Ia lalu masuk ke kamar mandi setelah menerima handuk bersih yang diberikan Sarah untuknya.
Tak lama Andre datang dengan membawa makanan dan minuman pesanan Sarah. Ia lalu menyimpan semuanya di meja depan televisi atas permintaan Sarah.
"Pesan banyak banget, kita 'kan cuma bertiga. Apa pacarmu kau udang juga?" ucap Andre yang lalu merebahkan tubuhnya dengan nyaman pada sandaran sofa.
"Nggak, untuk kita bertiga aja. Buat jaga-jaga kalau ntar malem kelaparan lagi," jawab Sarah.
"Mana Lidya?" tanya Andre
"Mandi."
"Ada masalah apa lagi pengantin baru ini?" tanya Andre lelah. Dari awal ia mengetahui pernikahan itu, tidak sekalipun ia melihat wajah bahagia Lidya. Yang ada justru semacam perasaan tertekan. Ingin rasanya ia bertanya langsung pada Lidya, tetapi ia khawatir Lidya tersinggung, apalagi ini menyangkut masalah pribadinya.
Dari hasil penyelidikan anak buahnya, Andre tidak menemukan sesuatu apapun yang berarti. Hanya ada bukti foto kebersamaan Alex dan Lily dalam beberapa acara bisnis. Tentang ayah Alex pun ia menemukan hal yang sama. Itu berarti memang mereka membatasi diri pada seluruh awak media nasa terkait masalah pribadi mereka selama ini.
"Mungkin Alex lagi minta jatah, tapi Lidya masih kelah," jawab Sarah sekenanya.
"Tahu apa kamu soal jatah?"
"Cukup tahu dan mengerti, untuk seorang gadis seusiaku ini," jawab Sarah.
Andre mencebikkan bibirnya. "Kau sudah dewasa," gumam Andre seraya mengusik surai di puncak kepala Sarah.
"Kapan kalian nikah?" tanya Andre tiba-tiba.
"Entar deh kalau sudah siap," jawab Sarah.
"Terlalu lama," gerutu Alex. "Apalagi yang kau tunggu? Bersiap? Sedia? Macam lomba lari saja kau ini."
"Menunggu hatiku siap. Dari tadi juga udah aku sudah bahas soal ini!" jawab Sarah jengkel. Andre tertawa.
"Baunya nyampe kamar mandi, lagi bikin apa sih?"
"Manager mu itu lagi belajar masak," sahut Andre, menjawab tanya Lidya. "Dia bilang sudah siap menikah, jadi butuh persiapan yang lebih matang,"
Lidya mencebikkan bibirnya sembari melirik Sarah yang kini tertunduk. "
"Itu hoax. Selama tidak ada bukti, maka kabar itu hanya angin lalu," tegas Sarah.
"Lalu sampai kapan kita bengong di sini? Kalian apa tidak lihat, makanannya sudah memanggil kita," ucap Lidya yang lalu duduk di sofa menghadap makanan itu.
__ADS_1
"Lid, telepon dari Alex," ucap Sarah memberitahu.
Lidya mencebik lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau bicara dengannya."