Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Penyelidikan Andre


__ADS_3

"Apa-apa'an kau ini?" gertak Lidya. "Dia ini tamuku, buat apa kau usir-usir dia seenak hatimu?" protesnya tidak suka.


"Aku berhak atas dirimu, Lidya Pradana! Jangan menentang ku, aku ini suamimu, kalau kau ingin ku ingatkan," tegur Alex sembari menatap tajam Lidya.


"Tapi nggak gitu, main usir orang seenaknya saja, dia datang baik-baik maka harusnya keluar juga baik-baik, kenapa harus di usir?"


Alex menyeringai. "Oke kalau itu maumu," jawabnya yang lalu berganti menatap Andre. "Tuan Andre, apakah Anda masih ada urusan lain lagi dengan istri saya?" tanyanya, kali ini dengan sikap yang dibuat sesopan mungkin, sembari melirik Lidya.


Andre yang mulai merasa tidak nyaman akhirnya mengangguk dengan terpaksa. "Urusan saya sudah selesai, saya permisi dulu," pamitnya. "Lidya, maaf untuk semua ini," ucapnya penuh penyesalan sembari menatap nanar sahabatnya itu.


"Nyonya Alex Pradana! Maaf, Anda harus selalu ingat hal itu," tegas Alex, meralat panggilan Andre pada Lidya.


"Maaf, Nyonya Alex Pradana," sahut Andre cepat sembari mengangguk hormat pada sepasang suami istri itu, lalu melangkah pergi dengan gontai.


Di dalam, Pramana dan Maria hanya mampu menatap pilu, kepergian Andre yang bagi mereka sudah seperti anak sendiri. Tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan selain pura-pura tidak tahu, karena rumah ini pun sebenarnya sudah dijaminkan pada Arman, sebagai penguat janji, bahwa Lidya akan menikah dengan Alex. Maria begitu kecewa, karena sebagai ayah, ia tidak mampu melakukan apapun untuk membela putrinya.


"Inilah hasil keegoisanmu, Pram," desis Maria jengkel. Baru kali ini ia memanggil nama suaminya tanpa embel-embel panggilan kesayangan.


"Maafkan aku, Maria," lirih Pramana.


Maria mendengus seraya masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu saat Pramana hendak mengikutinya ke dalam. Alhasil pria itu akhirnya melangkah kembali menuju ruang kerjanya. "Papa janji akan segera membebaskan mu, Lidya," gumamnya dalam hati.


*


"Pulang kataku!"


Lidya menggelengkan kepalanya, menolak perintah Alex. "Aku masih mau di sini, aku kangen sama Mama," jawabnya.


Alex mendengus sinis. "Kangen Mama atau kangen mantan?" sindirnya tajam.


"Siapa mantan? Aku tidak punya pacar di masa lalu," balas Lidya.


Alex tertawa. "Nggak laku, ya? Memang sih, orang sepertimu mana bisa laku keras seperti diriku?" ejeknya sembari mencebikkan bibirnya.


Lidya menyeringai. "Itu karena aku sangat berharga dan tidak untuk dijual, apalagi secara bebas," balasnya telak. "Mungkin kau terlalu laku karena dijual secara obral, sangat murah!"


Sontak ucapan Lidya membuat Alex seketika meradang. Wajahnya sampai memerah. Ia lalu menarik tangan Lidya dengan kasar, mengajaknya pergi dari rumah itu. "Sepertinya kau ini perlu dihukum," desisnya kesal.

__ADS_1


"Aku tidak mau pulang!"


"Harus!" bentak Alex kasar.


"Tidak, sebelum aku berpamitan pada Papa sama Mama," tolak Lidya yang lalu menyentakkan tangan Alex dengan keras dan berlari ke dalam untuk mencari Pramana dan Maria.


"Ma!" panggil Lidya di depan kamar ibunya.


"Ada apa teriak-teriak seperti itu, Lidya?" tanya Maria heran.


"Lidya pamit dulu, Alex sudah mengajak Lidya pulang," jawabnya sedih.


"Ya sudah, hati-hati ya. Yang sabar kalau menghadapi Alex, mama yakin dia itu sebenarnya baik, hanya saja dia masih kecewa dengan pernikahan ini," ucap Maria sabar.


"Kecewa, apa Lidya tidak kecewa? Lebih dari kecewa, Ma. Sakit hati, malah. Tapi apa, Lidya nggak bisa berbuat apapun di sini, semuanya harus apa kata Alex. Padahal Lidya masih ingin di sini sama Mama," keluhnya sembari terisak. Pramana yang tadinya hendak menghampiri, kini mengurungkan niatnya dan kembali masuk ke ruang kerjanya dengan wajah sendu.


"Mama cuma bisa bilang, sabar. Sebab tidak ada lagi hal lain yang bisa merubah keadaan selain sabar, sayang," ucap Maria.


"Lidya, cepat! Aku harus segera balik ke kantor!" teriak Alex dari depan, membuat Lidya seketika mengelus dada dan menghela napas berat.


***


"Selidiki tentang Alex Pradana dan segala hal tentangnya, tanpa terkecuali," titah Andre pada dua orang anak buahnya, saat ia sudah berada di kediamannya.


"Siap!" Serempak.


"Kirim kabar kapanpun juga, kalau kalian menemukan sesuatu," imbuh Andre.


"Oke, Mas."


"Ya sudah, lakukan dari sekarang."


Kedua anak buah Andre segera berlalu, dengan hanya berbekal nama dan ciri-ciri fisik sosok Alex Pradana, yang tadinya sudah disebutkan oleh Andre. Satu pekerjaan berat untuk mereka, karena harus memulai semuanya dari nol.


"Alex, aku tidak akan tenang sebelum tahu siapa sebenarnya dirimu dan sebesar apa kekuasaan yang kau miliki," desis Andre. Ia lalu membuka laptopnya dan berselancar internet, mencari informasi tentang Alex. Ia tidak akan pernah puas, biarpun saat ini ia sudah membayar orang untuk menyelidiki semua hal tentang Alex.


Dahi Andre berkerut, saat menemukan profil Alex dengan mudah, begitu juga tentang perusahaan dan kedua orang tuanya, yang ternyata pebisnis handal. Wajar saja jika Alex bersikap begitu arogan padanya, mengingat posisi keluarganya berada di urutan teratas saat ini, menurut majalah bisnis Internasional.

__ADS_1


Andre berdecak kagum. Ternyata Lidya dijodohkan dengan orang terkaya di wilayah ini. Posisi ayahnya pun berada satu tingkat di bawah keluarga Pradana. Ia mengakui bahwa memang Pradana Group telah banyak menguasai berbagai bidang bisnis, dan berkembang dengan pesat hanya dalam waktu dua tahun saja, pada awal berdirinya saat itu.


Andre menganggukkan kepalanya paham. Ia sedikit lega, karena setidaknya Lidya akan selalu hidup berkecukupan, meskipun suaminya terkesan arogan dan dirinya tidak suka melihatnya. Lidya juga akan tetap merasakan kenyamanan yang selama ini selalu ia nikmati dari hasil usaha orang tuanya, yang meskipun tidak setingkat dengan dirinya dan Alex, tetapi masih bisa dibilang berkecukupan, bahkan sangat kaya, sebagaimana yang ia tahu selama ini.


Berpikir tentang keluarga Lidya, Andre seketika beralih mencari informasi tentang Pramana dan perusahaannya. Ia melebatkan kedua matanya tak percaya ketika melihat keterangan yang tertera perihal perusahaan milik ayah Lidya yang ternyata saat ini sedang berada di bawah lingkup Pradana Group.


Andre berpikir keras, bagaimana itu bisa terjadi, mengingat dari yang ia tahu selama ini kondisi perusahaan Pramana baik-baik saja.


"Apa Om Pramana sedang tertimpa masalah?" gumam Andre pelan. Ia lalu menggali lebih dalam lagi informasi mengenai bisnis Pramana dan berakhir dengan gerak mulutnya yang ternganga lebar. "Apa ini, kolaps? Om Pramana kalah tender hingga ratusan milyar? Oh, ****!"


Andre tidak mau percaya begitu saja. Ia pun lantas menyambar ponselnya lalu segera menghubungi ayahnya.


"Yes?"


"Dad, apa yang terjadi dengan perusahaan Om Pram?" tanya Andre langsung saja tanpa basa basi.


"Oh, ehm, dua bulan yang lalu dia sedang tertimpa masalah besar, Pram kalah tender hingga ratusan milyar," jelas Sasongko, ayah Andre.


"Jadi berita itu benar?"


"Yes! Semua berita dan artikel tentang Pram itu benar. Kasihan dia, saat itu benar-benar sangat terpuruk."


"Daddy tidak berusaha membantu Om Pram?" tanya Andre ingin tahu.


"Daddy sudah menawarkan bantuan, tapi Pram berkeras untuk mencari dan berusaha sendiri. Kau tahu bukan, dia masih ada hutang pada Daddy, yaaaah, meskipun Daddy tidak pernah mempermasalahkannya."


"Ck! Sayang sekali," desis Andre kecewa.


"Tumben tanya soal Om Pram, apa kau baru saja dari rumahnya? Pram cerita semuanya padamu?"


"Andre baru saja bertemu mereka, Dad. Andre kangen sama Lidya."


Terdengar kekehan tawa Sasongko. "Cepat pinang dia, Daddy akan merestui kalian."


"Lidya sudah menikah, Dad. Dengan putra dan ahli waris tunggal Pradana Group," jawab Andre lesu.


"What?"

__ADS_1


__ADS_2