
"Yakin Tuan tidak menemui direktur NurFilm?" tanya Kim memastikan.
"Yakin, kau saja yang ke sana. Sudah, jangan bawel. Atau kau mau aku kirim dua wanita yang kemarin lagi?"
"Ampun Tuan. Tidak akan lagi ku ulangi," ucap Kim pura-pura takut. Bagaimana tidak, Alex sama sekali tidak mengetahui nomor kontak para perempuan itu, karena setiap kali membutuhkan wanita, Kim lah yang selalu menghubungi seorang kenalannya.
Bicara tentang membutuhkan wanita, Kim saat ini merasa jauh lebih lega karena Alex tidak pernah lagi memesan padanya. Pria itu bahkan terkesan mengurangi kebiasaannya datang ke club malam atau minum di kafe langganan mereka.
"Kau masih mau di sini menemaniku?" tegur Alex saat melihat Kim hanya diam termenung.
"Oh, apa masih ada yang harus ku kerjakan, Tuan?"
Alex menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak ada lagi. Sebaiknya kau bersiap untuk pulang ke Jakarta."
"Baik."
"Oh iya, kalau kau besok bertemu sama Lily, jangan lupa bilang kalau aku masih ada urusan bisnis di kota ini," pesan Alex, meskipun belum tentu Lily akan bertanya. Kim hanya mengangguk patuh lalu segera beranjak pergi untuk melanjutkan kegiatannya.
Alex menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Pikirannya melayang, mengingat wajah Lidya saat mereka melakukan hubungan kilat, beberapa jam yang lalu. Alex memejamkan mata. Seulas senyum menghiasi wajah tampannya, saat mengingat suara-suara ajaib yang diperdengarkan dari bibir merah Lidya, masih belum lagi gerak tubuhnya yang begitu membuat Alex tertantang untuk terus menghujaninya dengan ciuman dan hujaman keras perkakasnya. Sungguh, pesona Lidya membuatnya terikat hanya pada satu hal, nyaman.
Ya, Alex begitu nyaman dan menikmati permainan mereka. Satu hal yang tidak pernah ia dapatkan saat ia sedang bersama wanita yang lain. Hanya sayangnya, setiap kali berhubungan dengan Lidya, ia harus menggunakan alat pengaman. Andai saja ia tidak menggunakannya, semuanya pasti terasa lebih nikmat dan menggugah hasratnya, sebagaimana yang ia rasakan saat berhubungan dengan Lily.
Lily? Apa benar Alex merasakan hal yang sama saat ia melakukannya bersama Lily? Alex tercenung. Beberapa kilasan kejadian saat ia bersama Lily dan Lidya melintas begitu saja dalam benaknya. Rasa yang sama, nikmat yang sama dan juga daya tarik yang sama. Tetapi Alex merasakan masih ada satu hal yang tidak ia temukan saat bersama Lily, apa itu?
Alex mengusap kasar wajahnya. Mengingat kedua wanita itu membuat perkakasnya kembali menegak, meminta untuk segera dipuaskan. Kini ia bingung, akan menuntaskan dengan cara bagaimana, hanya satu yang pasti, bayangan wajah Lidya begitu erat melekat dalam benaknya saat ini. Ya, Alex sangat menginginkan Lidya saat ini. Lidya sudah seperti candu baginya, yang setiap saat harus ada di hadapannya dan memenuhi semua keinginannya, sebagaimana yang sudah Lidya lakukan untuknya selama ini. Jika dengan Lily, justru dirinyalah yang seringkali seperti kerbau di cocok hidungnya, selalu patuh dengan apapun yang Lily perintahkan.
Alex menghela napas berat. Kini ia bingung untuk menghubungi Lidya. Bagaimana mungkin ia bisa menemuinya jika tadi dirinya tidak menghiraukan panggilan istrinya itu setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan dari tubuh Lidya.
Alex mengusap kasar wajahnya. Ia lalu menyambar ponselnya dan menghubungi Kim.
__ADS_1
"Kau ada dimana?" tanya Alex.
"Di kamar, Tuan. Sedang packing untuk besok."
"Jangan lakukan itu. Bersiaplah, temani aku pergi ke suatu tempat," titah Alex.
"Kira-kira sampai berapa lama, Tuan?"
"Bisakah kau tidak bertanya tentang hal itu? Aku saja masih belum tahu akan pergi kemana, kau sudah bertanya berapa lama," gerutu Alex kesal.
"Maaf, Tuan."
"Cepatlah, siapkan mobil untukku." Alex langsung mematikan panggilan lalu bersiap untuk pergi dengan pakaian yang lebih santai. Belum ada tujuan pasti dalam benaknya, namun tiba-tiba ada satu keinginan dalam hatinya untuk melihat Lidya di lokasi pemotretan, milik perusahaan Andre. Dari yang ia tahu, lokasi pemotretan itu di dekat tempat wisata, dan sudah pasti secara outdoor, mengingat Lidya adalah brand ambasador produk kecantikan yang mengutamakan kesegaran.
Suara ketukan pintu membuat Alex segera melangkah keluar, menemui Kim yang sudah berdiri menunggu di depan kamarnya, dengan menggunakan pakaian santai, sama seperti dirinya.
"Itu pujian atau sindiran, Tuan?"
"Bukan keduanya," tegas Alex yang lalu melangkah lebih cepat menuju pintu lift yang kebetulan terbuka. Kim mengikutinya dari belakang. Ia berharap, atasannya itu kali ini tidak mengajaknya ke kafe atau bar, untuk minum-minum seperti biasanya, karena ia tidak siap dan besok harus pergi sendiri ke Jakarta.
***
"Sip, kerja bagus! Kita ketemu lagi lusa, karena besok masih ada meeting di Jakarta," ucap sang fotografer, mewakili atasannya yang saat itu tidak bisa hadir.
"Oke, berarti besok kami libur dulu ya," sahut Sarah, sebagai manager Lidya.
"Yo'i, kalian libur dulu saja lah, sambil istirahat. Nggak ada omongan lain lagi dari Pak Bos," jawab pria itu yang lalu membereskan semua peralatannya bersama para kru. Andre memperhatikan sembari tersenyum. Sejak dari awal Lidya tidak pernah melakukan kesalahan yang berarti, seolah ia memang sudah terbiasa melakukan pemotretan ataupun pengambilan video untuk iklan.
"Ndre, kita pulang sekarang atau gimana?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Kalau nggak pulang mau kemana emangnya?" Andre balas bertanya.
"Kali aja ada traktiran," sindir Sarah sembari terkekeh.
"Andre ulang tahun?" tanya Lidya yang baru selesai mengganti kostumnya dengan pakaian santai miliknya sendiri.
"Oh nggak. Andre baru menang tender, Lid. Masa nggak bagi-bagi sih sama kita," sindir Sarah lagi sembari melirik Andre. Yang dilirik justru melenggang pergi dengan santainya menuju mobil lalu masuk dan duduk di bangku kemudi, tanpa menoleh pada dua wanita yang masih kasak kusuk membicarakan dirinya.
"Dasar pelit!" umpat Sarah kesal. Ia berharap Andre akan mengajak mereka shoping atau sekedar makan di restoran untuk merayakan kesuksesan bisnisnya. Tapi rupanya Alex lebih memilih untuk pulang ke apartemen, mengantar Lidya.
Baru sekian meter mobil melaju dari halaman parkir, Lidya dan lainnya tercekat, Alex berdiri dengan gagah, tepat di tengah jalan, menghadang laju mobil milik Andre.
"Mau apa orang ini?" tanya Sarah gusar, sementara Lidya melengos, membuang muka, saat melihat tatapan tajam mata Alex yang tepat menuju padanya.
"Turunkan dia, aku yang akan mengantarnya pulang ke apartemen! Titah Alex sembari tetap berdiri di depan mobil Andre.
" Enak saja," gerutu Lidya. "Terus aja, Ndre. Jangan pedulikan ucapannya," ucapnya.
"Tapi dia tepat di depan mobilku, Lid."
"Tabrak aja nggak masalah kali ya, orang dia sendiri yang nantangin," ucap Lidya asal.
Andre mencebikkan bibirnya lalu kembali melajukan mobilnya secara perlahan, berusaha agar & menepi dengan sendirinya. Tetapi ternyata Alex justru tetap berdiri tenang, seolah menantang nyali Andre.
"Kau yakin mau menabrak ku?" teriak Alex.
"Kenapa tidak?" Andre mengedikkan bahu sembari mencebikkan bibirnya.
"Ya sudah lakukan saja," sahut Alex pasrah.
__ADS_1