
Tubuh Lidya dan Alex tergolek lemah saat mereka selesai menuntaskan hasratnya. Seluruh tubuh Lidya terasa lemah dan ngilu, karena hampir satu jam mereka bergelut hanya dengan jeda sedikit waktu dan mengulangnya dua kali. Alex sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk diam barang sedikitpun hingga suaranya kian parau karena beberapa kali harus memekik karena kenikmatan yang sudah Alex suguhkan padanya. Lidya sungguh heran dengan kekuatan yang Alex miliki, beruntung ia cukup kuat dan mampu mengimbangi suaminya itu.
Alex beranjak dari ranjang lalu membuang pengaman yang baru saja ia lepas dari miliknya. Ia lalu melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan diri, sementara Lidya mencoba untuk bangun perlahan sembari menahan nyeri di bagian inti tubuhnya. Segel masih baru dua kali terbuka, maka dari itu ia masih merasakan perih ketika dihujam dengan keras oleh Alex yang sudah berpengalaman.
Memikirkan tentang pengalaman Alex, Lidya jadi termenung sendiri. Timbul satu pertanyaan dalam dirinya, sudah berapa wanita yang sudah ditiduri oleh suaminya itu, mengingat cara Alex memperlakukannya terlihat begitu terlatih dan sangat lihai. Beruntung Alex memakai alat pengaman hingga ia tidak khawatir tertular penyakit menular yang biasa terbawa oleh para pelaku hubungan bebas di luar sana.
Jauh di sudut hati Lidya menyesal, karena Alex dengan begitu seenaknya mengajaknya melakukan hubungan ini, tetapi mau bagaimana lagi, Lidya adalah istrinya yang mempunyai kewajiban untuk melayani suami. Hanya saja ia merasa tidak terima jika benar Alex mempunyai banyak teman wanita di luar sana yang juga pernah ditidurinya. Hancur perasaan hati Lidya jika memikirkan hal itu. Wanita mana yang mau berbagi suami dengan banyak wanita lain?
"Ini buatmu," ucap Alex sembari meletakkan dua ikat tebal uang kertas berwarna merah di hadapan Lidya.
Sontak Lidya menatapnya tidak terima. "Kau pikir aku ini pelacur?" protesnya.
Alex hanya menyeringai lalu menyambar ponselnya, menghubungi seseorang. "Kim, bawakan aku satu stel pakaian, lengkap!" titahnya. Setelah itu ia pun mengambil semua pakaiannya termasuk pakaian dalam lalu mengumpulkan semua ke atas sofa. Ia hanya memakai handuk kimono saat keluar dari kamar mandi.
"Bersihkan tempat ini dari kotoran yang kau buat barusan!" perintah Alex sembari menunjuk dua buah alat pengaman yang sudah tergeletak kotor dan basah di lantai.
"Enak saja, itu kotoranmu!" bantah Lidya yang lalu bersiap pergi ke kamar mandi.
"Aku bilang bersihkan! Jangan dulu masuk ke kamar mandi sebelum kau bersihkan lantai fan juga menyimpan pakaian kotorku ini ke dalam kantong plastik!" bentak Alex sembari duduk di sofa dan mengangkat satu kakinya ke meja.
Lidya hanya diam lalu tetap melangkah ke kamar mandi.
"Lidya! Kerjakan dulu perintahku, kau sudah ku bayar mahal!" teriak Alex gusar.
"Kau punya Kim, biar dia saja yang kerjakan semua perintahmu!" balas Lidya.
"Tapi aku sudah membayar mu mahal!"
Lidya tertawa miris. "Aku tidak memintanya, ambillah lagi. Aku tidak butuh!"
Alex mendecak kesal. Ia lalu bergerak sendiri menyambar bantal dan melepaskan sarung pembungkusnya lalu membersihkan lantai dari bekas cairan dan pengaman miliknya sembari menggerutu. Hanya Lidya yang selalu membantah perintahnya. Dan hanya Lidya saja yang membuatnya marah dan merasa tidak dihargai, seperti saat ini. Bagaimana mungkin seorang istri selalu membantah dan menolak perintah dari suaminya? Bukankah sudah kewajiban Lidya untuk mematuhi dan memenuhi semua keinginannya?
Alex melempar sarung bantal yang sudah sangat kotor itu ke tempat sampah, di dekat kamar mandi. Ia lalu memasukkan semua pakaian kotornya ke dalam kantong plastik besar dan mengikatnya. Ia benar-benar jijik karena sudah menyentuh ataupun tersentuh oleh Lidya. Haram baginya meninggalkan bekas wanita yang tidak sesuai dengan keinginnannya ataupun bukan wanita pilihan hatinya, pada semua pakaian miliknya.
Alex menghela napas berat ketika pekerjaannya telah selesai. Ia berkali-kali mengusap keringat uang mulai memenuhi dahinya. Ternyata meskipun hanya mengepel lantai dan juga menyimpan pakaian kotor ke dalam kantung plastik saja sudah membuatnya lelah, lalu bagaimana nasib semua maid dan para pekerjanya di rumah? Bodo amat, yang penting Alex sudah membayar mereka dengan jumlah yang pantas, menurutnya.
Suara ketukan pintu mengejutkan Alex. Ia langsung saja membukanya karena tahu pasti Kim yang datang membawakan pakaian ganti untuknya, namun ternyata bukan.
"Ada apa?" tanya Alex tidak ramah.
__ADS_1
"Sudah waktunya Lidya pindah ke apartemen yang sudah di sediakan," jawab Andre dingin. Ia tidak menyangka Alex ada di dalam kamar Lidya, dan kini hanya memakai handuk kimono di tubuhnya.
Merasa di tatap dengan intens, Alex sengaja membuka ikatan tali kimono agar Andre mengetahui kondisi tubuhnya yang polos, tanpa tertutup sehelai benangpun di balik handuk kimono itu.
Andre membuang muka dengan hati perih. Sudah pasti Alex dan Lidya baru saja berperang sebelum kedatangannya.
"Nanti saja Lidya ku antar ke sana. Dia masih kelelahan setelah melayaniku," ucap Alex sembari menyeringai.
Andre melihat jam tangannya lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Lidya harus berangkat bersama kami," bantah Andre tegas.
"Hey, jaga bicaramu! Memangnya siapa kau ini, hm? Lidya itu istriku dan kau harusnya sudah tahu bagaimana seharusnya memanggil nama Lidya dengan pantas!" hardik Alex gusar. "Lagipula aku tidak akan menculiknya. Kalau aku bilang antar ya pasti nanti aku antar ke sana."
Andre tersenyum sinis. "Lidya memang istrimu, tetapi mulai hari ini Lidya bekerja sebagai model dibawah naungan perusahaan milikku," tegas Andre, membalas Alex. "Jadi, tidak masalah aku mau memanggilnya bagaimana karena di sini bukan rumahmu!"
"Kau ...!" Alex nyaris memukul wajah Andre namun dua orang pengawal Lidya segera menahan gerakannya dengan cepat. "Lepaskan! Aku harus menghajar lelaki lancang ini," protesnya.
Dua pengawal Lidya tetap bergeming sembari menatap tajam Alex. Andre tersenyum lebar.
"Di tempat ini kau tidak akan bisa mengeluarkan jurus apapun, Bung! Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan kebodohanmu," ucap Andre.
"Pergi kau dari sini! Urusan Lidya biar aku saja yang tanggung!" usir Alex dengan geram.
Sontak wajah Alex merah merona begitu juga matanya. Ia benar-benar malu kali ini karena ternyata Andre yang sudah membayar sewa kamar hotel ini untuk Lidya dan ia dengan semena-mena malah mengusir Alex setelah menggunakan dengan seenaknya bersama Lidya.
"Pergilah, Tuan. Aku tidak ingin lagi ribut denganmu, semata-mata karena aku masih menghargai Lidya," ucap Andre dengan nada pelan.
Dengan terpaksa Alex menyambar kantong plastik berisi pakaian kotornya lalu membawanya ke kamar mandi. Ia mengetuk pintunya berkali-kali agar Lidya segera keluar namun ternyata Lidya malah tidak menjawab dan justru bernyanyi di dalam sembari mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Akhirnya Alex terpaksa memakai pakaian di belakang pintu sembari berkali-kali mengumpat karena harus memakai lagi pakaian yang menurutnya telah dikotori oleh Lidya.
Dengan kondisi pakaian yang masih berantakan Alex melempar handuk kimono ke sembarang arah lalu menyambar dompet dan ponselnya. Ia menatap sekilas dua ikat uang yang ia berikan untuk Lidya, namun tidak ada niat sama sekali dalam hatinya untuk mengambilnya kembali.
Alex melangkah gontai menuju pintu. Ia lalu menunjukkan dua ikat uang itu pada Andre. "Kau lihat uang itu? Ambillah semuanya untuk ganti rugi kamar ini yang sudah ku kotori bersama istriku barusan," ucapnya pongah.
"Aku tidak butuh uangmu, Tuan. Pergilah, sebelum para pengawal yang melemparmu keluar dari tempat ini," jawab Andre.
"Bangs--."
"Alex!" teriak Lidya saat ia melihat Alex mengangkat tangannya hendak memukul Andre. "Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Alex menyugar rambutnya yang basah karena keringat saat melihat Lidya datang menghampirinya. Entah kenapa hatinya menjadi gentar saat melihat Lidya marah dan menegurnya.
"Mau pamer kekuatan? Nggak takut sama pengawal? Jangan macam-macam deh, jangan mempermalukan aku dan dirimu sendiri di sini, Alex," tegur Lidya tidak suka.
"Andre yang buat aku seperti ini, Lidya," jawab Alex.
"Andre? Memangnya dia ngapain coba?" tanya Lidya.
Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dia terus berkeras akan membawa pergi ke apartemen, padahal aku yang akan mengantarmu ke sana. 'Kan sama saja," jelasnya. Andre hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Alex, sudah jadi ketentuan kalau aku harus patuh pada perusahaan tempatku bernaung. Dan kau harus menghormatinya," jawab Lidya. "Lagipula kau akan pergi, bukan?"
Alex semakin salah tingkah. Berada diantara dua orang yang sama-sama menatapnya tajam sungguh membuatnya gusar sekaligus cemas, karena takut wibawanya akan hilang di depan para pengawal Lidya.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi saja," putus Alex pada akhirnya. "Dan kau, ingat, jangan sentuh istriku!" ucapnya tajam, memperingatkan Andre.
"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhnya," jawab Andre sembari tertawa. "Setidaknya di depanmu, Tuan," imbuhnya yang sontak membuat Alex memutar tubuhnya dan menatap Andre berang.
"Sudah-sudah, pulanglah Alex, kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan. Dan kau Andre, tolong tunggu sebentar, aku masih belum sempat membereskan semua pakaian dan semua keperluanku," ucap Lidya.
"Biar kami bantu," ucap dua pengawal wanita yang lalu masuk begitu saja dan membantu Lidya dengan cepat.
Andre menatap Alex yang masih terus memandangi Lidya seolah tidak rela meninggalkannya. Namun setelahnya ia pun pergi dengan langkah gontai dan rambut yang acak-acakan.
***
"Kim, kemana saja kau ini? Lama sekali," protes Alex saat melihat Kim baru saja datang dan memarkirkan mobilnya di dekat lobi hotel.
"Maaf, Tuan. Ada sedikit masalah di kantor, jadi saya harus mampir ke sana dulu," jawab Kim cepat. Ia lalu memberikan pakaian Alex yang terbungkus rapi di dalam plastik.
"Maksudmu apa, aku harus ganti baju di depan umum?" tegur Alex sembari melihat ke sekelilingnya yang tengah ramai lalu lalang orang yang sedang melintas.
"Oh, maaf, naiklah Tuan, kita cari toilet umum," ucap Kim yang lalu kembali menyimpan pakaian Alex di dalam mobil.
"Apa katamu, toilet umum? Tidak! Pesankan satu kamar hotel untukku di sini, aku akan mengganti pakaian di kamar," titah Alex.
"Siap, Tuan! Untuk satu hari?"
"Tentu saja, mau berapa hari kalau hanya untuk mengganti baju?" tanya Alex gusar. Kim memutar bola matanya malas.
__ADS_1