
"Maksudku, apa kamu tidak marah, karena disaat kamu dilarang untuk pergi bersama lelaki lain, ternyata sekarang justru Alex sendiri sedang bersama wanita lain, di hotel pula," jelas Andre.
"Biarkan saja, Ndre. Aku paham maksudmu, tetapi sejauh aku tidak melihatnya sendiri secara langsung, aku tidak akan percaya. Bisa saja mereka ke hotel karena ada alasan lain," jawab Lidya. "Yang terpenting bagiku saat ini adalah karir."
Andre mengangguk paham. "Oke kalau begitu."
"Jadi itu mantanmu, dan kamu masih cemburu melihatnya bersama pria lain?" tanya Lidya.
Andre terdiam sesaat lalu menggeleng. "Hanya harga diri yang sedang sakit, karena tahu ternyata seperti itu kelakuannya."
"Yakin?"
"Tentu saja. Sebab perasaanku padanya, sudah menguap sejak awal dia memutuskan aku."
"Suatu saat kamu akan menemukan wanita yang baik, yang bisa memberikan cinta untukmu, sebesar cintamu padanya. Jangan menyerah, Ndre."
Andre tersenyum lebar. "Semoga saja."
"Kita sudah sampai, jangan melamun lagi," ucap Lidya mengingatkan Andre yang kini tertawa sembari membelokkan mobilnya ke halaman parkir.
Setelah itu keduanya terlihat memasuki butik dan mencari semua yang di butuhkan oleh Lidya.
***
Sementara itu di Jakarta, Alex mengajak seorang wanita untuk memasuki sebuah kamar hotel yang sudah ia pesan.
Alex tersenyum miring, saat wanita itu terlihat sudah tidak sabar untuk melayaninya. Bukan hal baru bagi Alex, ketika ia ingin bersenang-senang. Karena ia sudah terlalu sering mengajak beberapa wanita ke hotel atau tempat wisata, hanya untuk mencari sebuah sensasi, yang selama ini tidak pernah ia alami dan rasakan.
Alex melihat ke sekitar, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kamar, menyusul sang wanita yang kini sedang menuangkan minuman untuknya, di dalam.
"Sudah terbiasa melayani tamu?" tanya Alex sembari menerima satu gelas minuman beralkohol dari wanita itu.
"Karena itu memang pekerjaanku," jawab sang wanita.
"Aku harus memanggilmu siapa? Tidak enak jika kita bicara tanpa menyebut nama." Alex meneguk minumannya perlahan sembari mengarahkan matanya, menatap sekujur tubuh wanita itu, dari ujung kaki hingga kepalanya.
__ADS_1
"Panggil dengan nama samaran ku saja, Inge," jawab wanita itu yang kini dengan berani, duduk di atas pangkuan Alex.
"Hm, nama yang bagus, sebagus tubuhmu," puji Alex, sembari terus meneguk minumannya secara perlahan.
"Om tidak ingin menikmatinya? Inge sudah di sini," ucap Inge sembari menekan tubuhnya yang berada tepat di bagian inti tubuh Alex, membuat pria itu kini terkekeh pelan lalu meletakkan gelas minumannya di atas nakas.
"Sudah tidak sabar?" tanya Alex sembari mulai melancarkan aksi dengan kedua tangannya.
"Berdasarkan jam kerja, ini sudah saatnya, Om," jawab Inge.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Om. Aku tidak setua itu."
Inge tertawa lalu memutar tubuhnya menghadap Alex. Wanita itu kini mulai menyerang Alex dengan ciuman yang membara di bibirnya.
Alex yang masih belum siap hanya membalasnya dengan kecupan kecil lalu menurunkan bibirnya menyusuri leher jenjang milik Inge, sembari satu tangannya melakukan sesuatu hingga pakaian yang dikenakan oleh Inge terbuka secara penuh di bagian atasnya.
"Hm, untuk seseorang dengan pekerjaan sepertimu, ini tidaklah buruk," puji Alex sekali lagi. "Pantas jika harga mu cukup mahal."
Inge hanya tertawa menanggapi ucapan Alex. Wanita itu kini mulai bergerak aktif untuk membangkitkan hasrat Alex, karena ia masih belum merasakan perubahan di bagian bawah, yang ia duduki.
Alex menyeringai saat melihat puncak bukit milik Inge ternyata sudah mengeras. Ia tahu, Inge sudah mulai on fire dan kini semakin liar di atas pangkuannya.
Inge menggeliat, mendongak dan mengeluarkan suara saktinya yang cukup membuat Alex semakin bersemangat memainkan lidah dan tangannya.
"Jangan itu saja, Lexy, bagian lain juga ingin di sapa," lirih Inge tepat di telinga Alex yang masih menikmati aksinya di dua bukit itu. "Ah, milikmu sudah mulai bereaksi," imbuhnya sembari menggigit cuping telinga Alex.
Alex menggeram tertahan saat dirinya mulai terpancing permainan Inge. Kini ia mulai meloloskan semua penghalang di tubuh Inge lalu mengangkat tubuh wanita itu dan menyandarkannya ke dinding.
Dengan satu gerakan nakal, Alex membuat Inge memekik pelan, saat bagian intinya dipenuhi oleh jemari tangan kiri Alex yang bermain di sana.
"Lexy, kau membuatku gila!" pekik Inge dengan terengah-engah. Alex semakin menyeringai. Apa semudah itu semua wanita terpancing? Sedangkan saat melakukannya bersama Lidya, Alex hampir putus asa, karena tak kunjung mendengar suara sakti Lidya.
Mengingat tentang Lidya, membuat Alex bergerak semakin liar. Ingatannya melayang saat ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, ketika ia menyentuh satu persatu milik Lidya yang berharga dan merenggut kesuciannya. Meskipun saat itu Alex sedang mabuk, tetapi ia masih sadar dan mampu merasakan semuanya dengan baik.
"Lexy, aku sudah tidak tahan lagi," bisik Inge sembari mencakar punggung Alex yang juga terbuka, setelah ia melepas semua pakaian Alex dengan cepat.
__ADS_1
Alex kembali menggeram. Dalam benaknya saat itu, ia membayangkan jika saat ini ia sedang menikmati tubuh Lidya. Ia terus bergerak, hingga akhirnya keduanya terjatuh di atas ranjang, dengan posisi Alex di atas tubuh Inge yang polos, tak tertutup sehelai benangpun.
"****!" desis Alex karena tersadar, tubuh yang terkungkung di bawahnya bukanlah Lidya, sementara tangan Inge kini mulai bergerilya, hendak meloloskan miliknya di bawah sana yang masih tertutup celana.
Cepat Alex mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, lalu beranjak dari tubuh Inge sembari meminta Inge untuk menunggu.
Alex memutar tubuhnya, memasang sesuatu yang ia keluarkan dalam saku itu ke miliknya yang kini sudah mulai mengeras. Jika ia tidak menuntaskan semuanya, bisa dipastikan ia akan merasakan pusing yang berkepanjangan. Maka sembari membayangkan tubuh Lidya, kini Alex mulai menyerang Inge setelah ia menutup kedua mata wanita itu dengan dasi miliknya.
Alex terus menceracau, membisikkan nama Lidya sembari terus memainkan kedua bukit yang membusung dengan bibir dan lidahnya. Ia tidak memedulikan teriakan Inge yang meminta penuntasan. Ia terus bergerak sesuai kata hatinya hingga akhirnya ia menghujamkan miliknya yang tertutup pengaman ke bagian inti Inge.
Alex bergerak dengan pelan lalu cepat, sembari memejamkan matanya, terus membayangkan Lidya, sementara Inge sudah melayang tinggi, terhanyut permainan Alex yang begitu memabukkan hingga tubuh keduanya sama-sama mengejang, saat merasakan puncak kenikmatan di akhir pergulatan itu.
Alex terengah-engah, sementara Inge tersenyum. Wanita itu kini mulai bergerak lagi menggoda Alex.
"Kau luar biasa Lexy, lakukanlah sekali lagi, kau membuatku ketagihan. Bila perlu, lakukan hingga waktu kita selesai, dan kau tidak perlu membayarku," ucap Inge yang kini menggerakkan tangannya, menuju ke bagian inti milik Alex yang masih mengeras di dalam bungkusnya yang basah.
Alex beranjak dari tubuh Inge sembari menepis tangan wanita itu dengan keras. "Jauhkan tanganmu darinya!" gertaknya yang lalu berlari menuju kamar mandi sembari menyambar semua pakaiannya.
Setelah Alex masuk ke kamar mandi, Inge membuka ikatan dasi Alex lalu tersenyum lebar. "Awesome! Hanya kau yang bisa membuatku sepuas ini dan menjadi ketagihan," gumamnya. "Kau membuatku pesasaran, karena melarangku menyentuh dan melihatnya."
Tak lama Alex keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang segar dan rapi, minus dasi. Pria itu mengeluarkan dompetnya, mengambil sejumlah uang kertas lalu melemparkan ke depan Inge. "Itu bayaranmu!"
Inge tersenyum menatap Alex. "semuanya gratis jika kau mau melakukannya sekali lagi," ucap Inge.
Alex tersenyum sinis. "Cukup kau saja yang bekerja seperti itu, bukan diriku! Kau pikir aku gigolo?" bentaknya tidak terima. Harga dirinya terluka karena Inge mengatakan hal itu, seolah ia pun sama dengan Inge.
Alex melangkah lebar meninggalkan Inge. Ia terus melangkah keluar dan turun menggunakan lift, menuju lantai bawah, tanpa menyadari, dua orang pria yang sedang mengawasinya dan kini mereka pun ikut turun ke bawah dengan menggunakan lift, di bagian yang lain.
Alex terus melangkah keluar, menuju basement. Ia lalu masuk ke dalam mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan hotel itu sembari melempar sesuatu ke box sampah yang berjajar rapi di bagian sudut sepi, sisi barat basement. Ia lalu kembali melajukan mobilnya dengan kencang.
"Ambil benda itu, kita jadikan bukti untuk Bos," ucap salah satu pria yang mengawasi Alex.
"Jorok, Bro! Itu barang maksiat!"
"Lakukan saja atau kita tidak mendapat uang sepeser pun!"
__ADS_1
"Oke!" salah satu pria itu memakai sarung tangan karet dan mengeluarkan kantung plastik dari dalam sakunya. Ia lalu mengambil sesuatu yang dibuang Alex dan menyimpannya ke dalam kantung dengan wajah jijik.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tegur seseorang yang cukup mengagetkan dua pria itu.