Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Salah Satu Korban


__ADS_3

"Kau harus berubah, Lidya, jangan sampai kalah dengan Lily!" ucap Sarah jengkel, sementara Andre hanya mengangguk, menyetujui saran dari Sarah untuk Lidya.


"Berubah bagaimana?" tanya Lidya tidak paham.


"Jadilah orang lain untuk Alex, goda dia dan kalau bisa buat agar dia benar-benar bucin sama kamu!" jelas Sarah berapi-api.


Lidya mengerutkan keningnya. "Jadi orang lain?" Ia masih saja tidak mengerti.


"Ya! Kau harus memakai penyamaran untuk itu, lalu rayu lah Alex, ajak dia bercinta atau apapun, sampai dia benar-benar tergila-gila padamu, sampai dia bisa melupakan Lily!" jawab Sara sedikit geram. Ia sudah benar-benar marah, karena Alex seolah menganggap remeh pernikahannya bersama Lidya.


Lidya tertawa mendengarnya. "Kau ini sedang bercanda, ya?"


Sarah memutar bola matanya malas. "Buat apa aku bercanda? Ini serius, Lidya. Aku cuma pengen kepastian saja, dan tentunya itu buatmu sendiri, bukan untukku," tegasnya.


Lidya termenung, memikirkan saran dari Sarah dan juga Andre, yang sepertinya paham dengan maksud dan niat Sarah. Sebenarnya ia juga paham, tetapi ia tidak yakin, bagaimana caranya ia menyamar, padahal Alex sudah begitu mengenalinya dan terlampau sering melihat wajahnya.


"Kamu pasti ragu," celetuk Andre yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Lidya. "Jadi intinya gini, Lid, kamu menyamar, syukur-syukur kamu bisa menarik hati Alex agar dia menjadikanmu salah satu wanita simpanannya," jelas Andre.


"Salah satu?"


"Tentunya salah satu dong, masa salah dua? Yang bener aja, Alex itu punya koleksi cewek yang jumlahnya nggak sedikit, Lidya," jawab Sarah. Lidya kembali diam, memikirkan semuanya.


"Ntar kalau ketahuan gimana?" tanya Lidya, ragu.


"Itu mah soal nanti, yang terpenting sekarang kamu coba dulu. Gimana, mau apa nggak?" sahut Sarah cepat.


Lidya kembali terdiam selama beberapa saat lalu akhirnya mengangguk pelan, antar iya dan tidak, tapi ia harus mulai berani mengambil keputusan, demi masa depannya sendiri, meskipun mereka tidak tahu, usaha ini akan berhasil atau tidak, yang pasti Lidya kini harus mulai berpikir matang untuk merebut Alex dari tangan para wanita itu dan menjadikannya satu-satunya pasangan hidup, terlebih setelah Alex merenggut kesuciannya.


Sebuah pernikahan tidak akan langgeng jika kita tetap membiarkan kesempatan untuk pasangan terus berselingkuh terbuka lebar. Dan semuanya tergantung bagaimana kita menyikapinya, bukannya malah pasrah setelah tahu pasangan berkhianat, tanpa melakukan usaha apapun dan berujung perceraian yang pastinya anak yang akan menjadi korbannya. Perceraian adalah solusi terakhir, disaat semua usaha yang sudah kita lakukan tidak membawa hasil yang baik dan menemui jalan buntu.


"Oke, aku mau," jawab Lidya. Sarah dan Andre tersenyum lebar menyambutnya.


"Keputusan yang bagus! Aku jamin kau tidak akan pernah menyesal telah melakukannya, Lidya," ucap Sarah, sementara Andre bertepuk tangan memberi semangat untuk Lidya.


"Lalu, apa yang harus ku lakukan untuk pertama kali?" tanya Lidya yang lalu bersiap-siap untuk pergi.


"Setelah pemotretan, kita langsung menemui seseorang, kenalan dan juga teman sekolahku dulu," jawab Sarah.

__ADS_1


"Mau apa kesana?"


"Kau lihat saja nanti, pasti akan sangat menyenangkan buatmu," sahut Sarah cepat, sembari menyunggingkan senyum di bibirnya. "Alex tidak akan mungkin menolakmu nantinya. Camkan itu!" imbuhnya dengan percaya diri. Lidya dan Andre tertawa melihat Sarah. Lidya yang akan berperang, tetapi justru Sarah yang terlihat begitu bersemangat.


Dan saat ini, setelah menghabiskan waktu 3 jam pemotretan, Lidya bersama Sarah dan Andre pergi mengunjungi teman Sarah yang adalah seorang beautician, yang sudah lama berkecimpung dalam dunia kecantikan para artis. Sarah sudah menghubunginya sejak mereka baru saja menyelesaikan sesi terakhir pemotretan dan beruntung, karena teman Sarah ini sedang ada di rumah yang sekaligus ia jadikan sebagai kantor dan tempat usahanya yang lain.


"Yakin aku akan kelihatan beda nantinya?" tanya Lidya ragu, saat Sarah mengungkapkan semua rencananya pada Lidya.


"Kau akan lihat sendiri nanti, setelah konsultasi dengan temanku. Dia pasti akan memberikan perawatan khusus buatmu dan juga memberikan saran terbaik, sesuai dengan apa yang kita rencanakan," jawab Sarah.


"Aku kok deg-degan, ya," celetuk Lidya sembari tertawa geli.


"Kau ini sudah seperti yang mau dilamar saja," sahut Andre. Sarah hanya tertawa sembari menepuk pelan punggung tangan Lidya yang duduk di sebelahnya.


"Menurutmu, aku baiknya memulai semua ini kapan?" tanya Lidya lagi.


"Setelah kau terlihat pantas dan meyakinkan," jawab Sarah.


"Oke, berarti masih butuh waktu lama," gumam Lidya.


"Tentu saja. Atau kau mau mulai hari ini?" tantang Sarah.


Sarah terdiam menatap Lidya, ia tidak tahu akan mengatakan apa, kalau dirinya ada di posisi Lidya, pasti akan sangat sulit menjalaninya, harus berbagi suami dengan banyak wanita yang kita tidak tahu darimana asalnya, dan bagaimana kesehariannya.


Andre menoleh menatap Lidya dari kaca spion. Ia benar-benar paham apa yang saat ini sahabatnya itu rasakan. Tetapi jika memang benar pernikahan itu terjadi karena paksaan kedua orang tua dari masing-masing pihak, akan sulit bagi Lidya untuk menghindarinya. Mau tidak mau Lidya yang harus banyak berpikir untuk mengamankan posisinya termasuk juga menyelamatkan pernikahannya, demi orang tua mereka. Andre menghela napas panjang. Ia tidak menyangka masa muda Lidya harus dihabiskan dengan cara seperti ini.


"Ehm, kalau boleh tahu, sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Alex," tanya Sarah memastikan sekali lagi. "Benar kau sudah mulai jatuh cinta pada suami mu itu?"


Lidya mengangguk sedih. "Sialnya begitu. Aku mulai mencintainya, setelah apa yang terjadi diantara kami."


"Meskipun kau dianggap permainan atau hanya sekedar pemuas nafsu Alex?" tanya Sarah lebih jauh.


Lidya tertunduk dalam. "Iya, aku tetap mencintainya," jawabnya lirih. Andre mengusap kasar wajahnya lalu memukul pelan pinggiran kemudi yang ia genggam, sementara Sarah menyandarkan tubuhnya dengan pasrah.


"Itu berarti rencana ini harus kau jalankan, Lidya. Satu keharusan, bukan lagi tawaran. Karena kau harus memperjuangkan cintamu," ujar Lidya.


"Kau benar. Aku akan melakukannya sepenuh hatiku, dan akan membuktikan lada Lily serta semua teman wanita Alex, bahwa dia hanya milikku."

__ADS_1


Sarah menepuk pelan bahu Lidya, memberinya dukungan dan kekuatan. Sementara Andre bersumpah serapah dalam hatinya, merutuki kebodohan Alex.


"Itu berarti kau sudah siap dengan segala resikonya?" tanya Andre.


Lidya mengangguk tegas. "Aku siap."


"Bagus!"


"Asal kau kuat saja, karena nantinya pasti akan banyak kejutan, dalam perjalanan rencana ini," timpal Sarah.


"Aku akan berusaha. Kalian tetap bersamaku 'kan?"


"Tentu saja," jawab Sarah dan Andre kompak.


"Terima kasih."


Tak lama mereka pun sampai di depan kediaman teman Sarah. Setelah memberitahu sekuriti, mereka langsung diantar ke ruang kerja teman Sarah, melewati butik dan juga salon kecantikan yang berukuran cukup luas dan lumayan ramai pengunjungnya.


"Silakan, Nona Anna sudah menunggu di dalam," ucap sekuriti setelah ia masuk untuk melapor pada teman Sarah.


Lidya dan yang lain langsung saja masuk setelah terdengar suara lembut seorang perempuan dari arah dalam, mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Hai, Sarah, long time no see," sambut teman Sarah yang dipanggil Anna itu.


"Hai juga, makin cantik aja nih," seru Sarah yang lalu memeluk Anna.


"Oke, aku siap dengerin keluhan kalian, yang mana yang mau aku permak hari nanti?" ucap Anna sembari mengurai pelukannya pada tubuh Sarah. Wanita berusia sekitar 27 tahun itu menatap ramah pada Lidya dan Andre secara bergantian.


"Oh iya, kenalkan ini Lidya, yang aku ceritakan tadi, dan ini Andre, CEO perusahaan kami," ucap Sarah memperkenalkan.


"Satu kehormatan bagiku di datangi oleh seorang model dan CEO dari perusahaan terbaik kota ini," ucap Anna sembari melangkah mendekati mereka. Lidya dan Andre menyambut uluran tangan Anna. Mereka terlihat akrab meskipun masih baru bertemu hari ini.


Sarah menceritakan masalah Lidya pada Anna tanpa mengurangi ataupun menambahkan, apa adanya seperti yang terjadi saat ini. Anna mendengarkan dengan seksama sembari sesekali tersenyum setelah mengerti dengan maksud kedatangan mereka sesungguhnya.


"Apakah ini tentang Alex Pradana?"


Lidya dan yang lainnya mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Sarah penasaran.


"Aku salah satu korbannya," jawab Anna yang sontak membuat Lidya dan yang lainnya ternganga.


__ADS_2