Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Ke Hotel


__ADS_3

Satu jam telah terlewati dengan begitu cepat. Seperti yang sudah dijanjikan, Lidya dan tiga peserta seleksi tahap akhir lainnya berkumpul di aula, sebelah studio foto, perusahaan itu.


Jajaran team penguji dan juga perwakilan dari perusahaan produk kecantikan, duduk berjajar dengan rapi, sembari membawa papan kertas bertuliskan nomor peserta.


Jantung Lidya berdegup kencang. Berkali-kali ia menatap nomor peserta miliknya lalu memejamkan matanya, berdoa, berharap keajaiban akan segera datang dalam hidupnya kali ini dan impiannya akan terwujud.


Belum apa-apa Lidya sudah membayangkan tentang kesibukannya nanti jika dirinya dinyatakan sebagai pemenang dan model terpilih. Ia tidak akan terganggu dengan caci maki ataupun sikap dingin Alex tanpa susah payah mencari alasan untuk menghindar, terlebih ayah mertuanya mendukung semua usaha yang ia lakukan sepenuhnya, asal ia bisa membuat Alex mencintainya.


Semua keluarga peserta turut hadir bersama para peserta lainnya uang telah gugur. Penyelenggara akan memberikan penghargaan khusus untuk lima peserta yang dianggap paling mendekati kriteria. Oleh sebab itu semua turut hadir dalam acara puncak siang hari ini.


Tanpa Lidya sadari, diantara para penonton yang hadir, duduklah Alex bersama Kim dengan mengenakan pakaian santai. Alex dengan t-shirt dan celana soft jeans, lengkap dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya, sukses mencuri perhatian para wanita, tak terkecuali para peserta yang gagal. Mereka berkerumun di sekitar Alex sembari sesekali mengambil foto Alex secara diam-diam. Kim yang kerepotan, karena harus menjawab semua yang meminta nomor ponsel Alex.


Dari tempat duduknya Alex memerhatikan Lidya yang duduk dengan diam di barisan paling depan. Tanpa terasa hatinya berdesir saat melihat wajah Lidya terlihat begitu cantik dalam polesan make up dan balutan pakaian seksi di tubuhnya yang indah.


"Ada baiknya kalau Anda menutup mulut, Tuan. Karena banyak lalat yang berterbangan di tempat ini," bisik Kim tepat di telinga Alex. Kim sengaja menegurnya, karena sedari tado ia melihat Alex menatap Lidya tanpa berkedip sedikitpun. Atasannya itu terlihat begitu terpesona, hingga mulutnya ternganga, karena tidak menyangka Lidya bisa secantik itu jika dipoles dengan make up.


"Tugasmu memukuli lalat itu, Kim. Jangan ganggu kesenanganku!" jawab Alex asal. Ia merengut kesal, karena Kim sudah memergokinya sedang menatap Lidya dari kejauhan.


"Saya kebetulan tidak membawa pemukul lalat," sahut Alex pura-pura serius.


"Beli sana, jangan kayak orang susah!" bentak Alex. Kim tertawa mendengarnya.


Alex begitu penasaran ingin melihat wajah Lidya dari dekat. Tapi para pengunjung yang hadir tidak bisa sembarangan mendekat karena ruang geraknya terbatas, demi keamanan dan keselamatan para peserta begitu juga dengan pihak penyelenggara dan team penguji.


Jika dari jauh saja wajah Lidya terlihat begitu cantik, bagaimana jika dilihat dari jarak dekat? Setidaknya itulah yang sedang berkecamuk dalam hati Alex saat ini. Namun bagaimana pun sulitnya usaha yang ia lakukan, ia tetap terhalang oleh beberapa orang yang berada di depannya. Alex mengumpat berkali-kali.


Hingga akhirnya sang pemenang pun diumumkan dan satu kejutan bagi Alex, karena ternyata Lidya yang terpilih. Ia tidak tahu harus senang, bangga atau justru malu, karena istrinya yang notabene adalah nyonya besar Alex Pradana harus berkecimpung di dunia entertainment dan kini malah jadi brand ambassador sebuah produk kecantikan yang akan launching minggu depan.


Suara tepuk tangan meriah berkumandang dari setiap sudut, ternyata Andre mengajak semua rekan kerjanya untuk turut mendukung Lidya. Alex menatap tajam ketika Andre berlari maju menghampiri Lidya dan memberikan setangkai bunga mawar putih sembari berlutut di hadapannya.


Semua orang berteriak, menggoda Andre dan berusaha menjodohkan mereka, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Lidya sudah menikah.


Sarah tertawa melihat Lidya yang salah tingkah di goda oleh Andre. Tapi tak lama ia pun maju ke depan dan berdiri di samping Andre, untuk memberikan ucapan selamat pada Lidya bersama dengan team penguji lainnya.


Alex sedikit lega ketika melihat Sarah menggandeng lengan Andre dengan erat. Sarah hanya tidak ingin Lidya terkena masalah besar jika media tahu tentang kedekatan Lidya dengan Andre.


"Selamat, Lidya. Dari awal aku sudah yakin kalau kamu lah yang bakal terpilih," ucap Sarah di ikuti oleh semua rekannya yang lain.


Lidya hanya mampu tersenyum lebar penuh syukur ketika ternyata doanya terkabul. Ia terus mengucap terima kasih pada Andre dan Sarah, hingga kedua temannya itu merasa jengah sendiri.


Sejak saat itu, secara otomatis Lidya mendapatkan hadiah utama sebuah mobil dan juga fasilitas lainnya, termasuk pengawalan khusus dari pihak perusahaan, minus seorang manager, karena Lidya sendiri yang akan mencari seorang manager untuknya.


Alex semakin gusar ketika ia semakin kesulitan mendekati Lidya, terlebih kini Lidya selalu dalam pengawalan khusus dua pria tegap dan dua orang wanita yang berpakaian preman, yang selalu mengapit Lidya di sebelah kanan dan kirinya. Hanya Andre dan Sarah yang bisa mendampingi Lidya saat ini, meskipun harus diperiksa dulu oleh para pengawal.


"Kenapa harus berlebihan begini sih perlakuannya?" tanya Lidya pada Sarah.

__ADS_1


Sarah tertawa. "Karena kamu sekarang seorang model dan brand ambassador dari sebuah produk milik perusahaan terbesar negara ini, Lidya. Jangan kaget, karena sejak saat ini kamu akan mendapatkan kenyamanan yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya," jawab Sarah.


"Apa kau juga begitu?"


Sarah lagi-lagi tertawa menanggapi pertanyaan Lidya. "Aku bukan model, pengawalan untukku tidak seketat dirimu," jawabnya.


"Kalau Sarah dikawal ketat sepertimu, bisa dipastikan dia bakal stress berkepanjangan," celetuk Andre. "Mana bisa tracking kalau terus saja di ikuti dan diawasi."


"Entahlah aku ini, malah nggak suka kenyamanan yang model seperti itu, aku justru lebih nyaman hidup bebas," sahut Sarah.


"Jujur aku juga nggak nyaman dengan perlakuan seperti ini," ungkap Lidya sembari menatap para pengawalnya satu persatu.


"Nanti lama-lama kamu akan terbiasa," sahut Sarah. "Nanti aku yang akan mendampingi mu saat pemotretan awal dan setting lokasi bersama para kru," jelasnya.


"Oya? Syukurlah, ku kira aku akan langsung jalan sendirian tanpa pendampingan."


"Tanpa pendampingan pun kamu sebenarnya sudah mampu, Lidya. Hanya mungkin tidak terbiasa dengan lingkungan dan pekerjaan seperti ini," jawab Sarah. "Aku lihat potensimu sangat besar, itu sebabnya Ronald langsung memilihmu tanpa harus melihat penampilan peserta yang lain."


Lidya hanya tersenyum tipis menanggapinya. Entah kenapa saat mendengar nama Arnold hatinya merasa tidak nyaman, terlebih setelah melihat sikap Ronald saat pertemuan mereka sebelumnya.


"Tolong beri aku sedikit waktu untuk menyambut model terbaru produk kami," ucap Ronald pada para pengawal Lidya.


Sontak semua menepi dan memberikan ruang pada Ronald untuk mendekati Lidya. Mereka tidak curiga sedikitpun karena Ronald adalah salah satu pemegang saham di perusahaan produk kecantikan yang akan Lidya promosikan.


"Selamat bergabung dengan perusahaan kami, Nona, ehm, Mrs. Lidya Maranggi," sambut Ronald sembari merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Lidya.


Ronald sedikit mengernyit, tapi akhirnya ia tersenyum paham. Lidya cukup membatasi diri dihadapannya mungkin karena sikapnya tadi kurang berkenan di depan Lidya.


"Maaf untuk ketidak nyamanan yang tadi sempat saya perbuat, Mrs. Lidya, saya hanya bermaksud menguji Anda, dan ternyata Anda lolos ujian akhir khusus dari saya," ucap Ronald, berusaha menjelaskan dengan sopan, selain memang sebenarnya ia benar-benar tertarik dengan Lidya.


"Saya juga minta maaf, Pak Ronald, karena mungkin saya jadi salah paham karenanya," jawab Lidya.


"Sekarang apa boleh berjabat tangan? Saya membutuhkan dokumentasi khusus dengan model terpilih," tanya Ronald, memohon ijin.


Tersenyum lebar, Lidya pun akhirnya mengulurkan tangannya, menyambut uluran tangan Ronald dengan hangat.


"Mulai saat ini kita akan sering bertemu untuk urusan bisnis," ucap Ronald. "Semoga lancar dan semakin sukses ke depannya."


"Terima kasih," ucap Lidya.


Tak disangka-sangka, Ronald tiba-tiba memajukan tubuhnya lalu mencium pipi kiri dan kanan Lidya sekilas tanpa melepaskan jabatan tangannya.


Sontak Andre dan Sarah terbelalak melihatnya. Satu kebiasaan buruk Ronald yang sangat memalukan, kini telah Ronald lakukan pada Lidya, dan itu sangat mengganggu pemandangan.


Alex yang melihatnya dari kejauhan berteriak marah lalu berlari menghampiri Lidya.

__ADS_1


"Menjauh lah darinya!" gertaknya sembari menatap tajam Ronald. Ia tidak bisa mendekati Lidya karena para pengawal telah menahan langkahnya dengan sigap, sementara Lidya terkejut mendapati kedatangan Alex di tempat itu.


Sarah dan Andre saling menatap bingung. Mereka sama-sama tidak menyangka Alex akan datang dan justru melihat aksi Ronald yang dirasa kurang pantas itu.


Ronald menyeringai. "Anda siapa? Jangan lancang menggertak saya!"


"Kau tidak tahu siapa aku?" balas Alex, balik bertanya.


Ronald mendecih lalu menggelengkan kepalanya. "Sama-sama manusia saja sombong! Jaga sikapmu, kau orang asing di sini!" tegurnya keras.


"Kalau aku mau aku bisa membeli tempat ini, asal kau tahu! Aku cuma ingin mengatakan padamu, jangan sentuh apa yang sudah menjadi milikku!" teriak Alex gusar.


"Milikmu?"


Lidya seketika merasa malu, karena Alex sudah membuat keributan, di saat masih banyak wartawan yang masih belum pulang. Beberapa diantaranya justru berlari mendekat untuk merekam peristiwa itu, berharap bisa mendapatkan berita yang bisa dijual dengan mahal.


Melihat situasi yang memanas, Andre segera menghampiri Ronald dan mengajaknya pergi, sementara Sarah memberi kode pada para pengawal untuk segera mengantar Lidya ke hotel, sedangkan dirinya kini berdiri tepat di hadapan Alex dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya.


"Jangan halangi aku, biarkan aku menemui istriku!" gertak Alex.


"Maaf, untuk sementara Mrs. Lidya tidak bisa ditemui," jawab Sarah dengan sedikit ketus.


"Apa hakmu melarang ku?" teriak Alex gusar.


Sarah mengernyit saat melihat para awak media semakin berkerumun dan merekam kejadian itu.


"Sarah, apa boleh aku bicara dengannya?" bisik Lidya yang ternyata kini berdiri di samling Sarah.


"Kamu mau ajak dia bicara dimana?" tanya Sarah khawatir.


"Di hotel sepertinya lebih aman, lagipula ada para pengawal yang akan terus mengawasi ku," jawab Lidya


"Oke, baiklah. Nanti setelah selesai, kamu harus cepat berkemas dan tinggal di apartemen yang sudah kami siapkan untukmu," ucap Sarah.


"Oke."


Sarah berbalik menatap Alex. "Kau boleh bicara dengannya, tapi tidak boleh lebih dari satu jam, gunakan waktumu baik-baik, Tuan playboy!" sinis Sarah yang lalu beranjak pergi meninggalkan Lidya berdua dengan Alex.


"Dia tahu tentangku?" tanya Alex pada Lidya.


Lidya mengedikkan bahunya, "Entahlah, mungkin dia salah satu diantara para korbanmu," jawabnya. "Ikut aku," titah Lidya kemudian.


"Kemana?" tanya Alex bingung.


"Hotel!"

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2