Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Pelajaran Di Kamar Hotel


__ADS_3

Alex terdiam selama perjalanan menuju ke Bandung. Semua ucapan ayahnya terus terngiang dalam benaknya. Menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak Alex dan kini ia jadi meragukan dirinya sendiri. Apakah benar ia sudah mulai mencintai Lidya? Dan lily, dimana dia sekarang, kenapa tidak pernah nampak sekalipun ia mencari di rumah dan apartemennya?


Benak Alex dipenuhi dengan bayangan kedua wanita itu. Di satu sisi ia masih sangat mencintai Lily, tapi di sisi lain ia kini takut kehilangan Lidya. Entah apa yang sudah terjadi pada dirinya hingga ia begitu takut jika ada orang lain yang merebut Lidya darinya.


"Bagaimana rasanya jatuh cinta, Kim?" tanya Alex pada Kim yang saat itu sedang fokus mengemudikan mobil dengan kencang.


"Jatuh cinta?" Kim justru balik bertanya pada Alex.


"Ya, bagaimana rasanya?"


Kim tertegun. Bagaimana ia harus menjawab tuannya itu, sedangkan dirinya tidak pernah jatuh cinta sampai sejauh ini. Yang ada dirinya malah dijauhi oleh wanita karena sikapnya yang dingin saat di dekati, karena tuntutan pekerjaannya yang begitu tinggi, sebagai asisten Alex selama ini. Lagipula masih belum ada satupun wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta.


"Kim, kenapa malah bengong? Jawab!" protes Alex.


Kim menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu membayangkan semua saudara dan teman-temannya yang pernah bercerita saat mereka sedang jatuh cinta.


"Rasanya nano-nano, Tuan," jawab Kim.


"Seperti permen? Come on, Kim, jangan bercanda!" hardik Alex tidak puas.


Kim semakin bingung menjawabnya. "Atau mungkin rasanya seperti orang sakit flu, Tuan."


"Kok bisa?"


"Yaaa, kadang-kadang bisa demam lalu bersin gitu kalau kedinginan saat jauh dari orang yang di cintai," jelas Kim asal saja.


"Memang kalau lagi kesepian itu selalu dingin ya, Kim?" tanya Alex gusar. Ia lantas memukul bahu Kim dengan keras. "Kau ini, mana bisa jatuh cinta disamakan dengan sakit flu!" protesnya.


"Masalahnya saya juga tidak tahu, Tuan," jujur Kim pada akhirnya.


"Apa di internet tidak ada?"


"Pastinya ada, coba Tuan cari sesuai keinginan Tuan di sana," jawab Kim lugu. Ia selama ini tidak pernah sampai sejauh itu mencari informasi tentang jatuh cinta dari informasi di internet. Boro-boro jatuh cinta, melihat wanita dalam waktu lama saja tidak sempat, karena Alex selalu minta untuk diprioritaskan selama ia mulai bekerja padanya.


Alex membaca semua informasi di internet dengan serius. Ia terlihat gusar karena berkali-kali terlihat berdecak marah dan tidak terima. Hanya sesekali ia terlihat tersenyum sendiri lalu menggelengkan kepalanya. Kim hanya memperhatikannya sekilas lalu kembali fokus memerhatikan jalanan yang cukup padat hari itu.


Hingga saat mereka sampai di Bandung dan memesan kamar hotel, Alex telah tertidur dengan nyaman di tempatnya hingga Kim tetap membiarkannya dan berdiri diam di luar mobil sembari bersandar, melepas penat.


Saat ada beberapa gadis yang melintas, iseng ia memerhatikan salah satunya yang ia anggap cantik, namun ternyata reaksi mereka sangat jauh dari harapan, karena para gadis itu justru bergantian menggodanya dan malah berusaha untuk mendekatinya. Cepat Kim masuk ke dalam mobil dan menutup kaca jendelanya diiringi derai tawa para gadis itu yang merasa geli melihat tingkah Kim yang ternyata malu-malu.


Kim mengusap dahinya yang berpeluh. Ia sungguh ketakutan melihat semua gadis itu yang terlihat begitu antusias menggodanya. Sontak Kim menatap pantulan wajahnya pada kaca spion lalu menyunggingkan senyum. "Lumayan juga, semula ku kira mereka justru takut dengan tampang kaku milikku," gumamnya pelan. Jika Alex yang menghadapi situasi ini, ia pasti akan menyambut semua gadis itu dengan tangan terbuka dan melayani mereka dengan baik, tetapi jika itu adalah dirinya, maka ia tidak mempunyai nyali sedikitpun untuk bisa menarik perhatian mereka lebih jauh lagi.

__ADS_1


"Mulai gila?" tegur Alex yang sudah membuka matanya dan melihat Kim sedang bercermin pada kaca spion lalu tersenyum sendiri.


Kim terkejut. Ia lantas menatap Alex lalu tersenyum tipis. "Kamar sudah dipesan, Tuan. Anda bisa masuk sekarang," lapornya.


"Kau pesan berapa kamar?"


"Satu," jawab Kim lugu.


"Apa kau mau tidur denganku? Pesan lah sendiri untukmu!" protes Alex yang lalu keluar dari mobil dan melangkah menuju lobi hotel, meninggalkan Kim yang tertegun sendirian. Bukankah tadi Alex memintanya untuk memesan satu kamar?


Dengan langkah gontai Kim mengejar langkah Alex dan mengikutinya sampai ke pintu lift, karena Alex menunggunya di sana.


"Di kamar berapa?"


"233, lantai 3," jawab Kim.


Alex meminta kunci kamarnya lalu menyuruh Kim untuk memesan kamar sendiri sembari membisikkan sesuatu di telinga asistennya itu.


"Satu, Tuan?" tanya Kim lugu.


"Ya, satu. Apa kau mau juga?"


Kim menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, Tuan, saya ingin mempertahankan keperjakaan saya sampai menemukan wanita yang sesuai dengan hati saya," tolaknya.


"Tidak, Tuan. Please, biarkan saya tetap seperti ini, saya hanya akan memesankan satu orang untuk Tuan," jawab Kim dengan wajah memelas.


"Ini perintah!" bentak Alex yang sontak membuat Kim seketika menjalankan tugasnya dengan hati dongkol.


Tak lama Kim datang ke kamar Alex lalu memberikan dua kotak alat pengaman ke tangan Alex. Ia lalu mempersilahkan dua wanita yang datang bersamanya untuk masuk dan melayani Alex, sementara ia cepat-cepat pergi dari tempat itu.


Alex menatap kepergian Kim dengan gusar. "Kim! Kembalilah!" teriaknya yang seketika membuat Kim membeku di tempatnya. "Kembali atau kau ku pecat dengan tidak hormat!" teriak Alex sekali lagi.


Seketika wajah Kim memucat. Jika ia dipecat, maka bagaimana nasib kedua orang tuanya yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit? Kim tidak punya pilihan lain, dengan sangat terpaksa ia lalu melangkah kembali dengan gontai di iringi tatapan lapar dari kedua wanita yang datang bersamanya.


"Salah satu dari kalian, layani dan ajari dia yang masih polos dan lugu ini," titah Alex. Sontak kedua wanita itu saling berebut namun Alex seketika membentak mereka. "Aku yang akan menentukan!" Kedua wanita itu terdiam.


"Masuk dan bersiaplah!" titah Alex saat Kim sudah sampai di hadapannya.


"Tapi, Tuan ...."


Tanpa banyak bicara Alex langsung saja menarik tubuh Kim untuk masuk ke dalam. Ia lantas mengunci pintu dan membiarkan kedua wanita itu melayani Kim dan ia hanya duduk diam menontonnya sembari menenggak minuman dalam botol.

__ADS_1


"Be a true man! Ayo Kim, kau pasti bisa!" teriak Alex menyemangati, saat Kim kewalahan menolak kedua tangan wanita yang begitu lapar melihat tubuh kekarnya.


Kim mengumpat dalam hati. Teganya sang tuan mengumpankan dirinya pada dua wanita liar yang tidak pernah temui sebelumnya. Ia bukan tandingan fan lawan yang seimbang untuk kedua wanita itu. Kim yang bagai kerbau di cucuk hidungnya itu kini menutup wajahnya saat kedua wanita itu melucuti seluruh pakaian yang ia kenakan.


Alex tertawa keras. Menertawakan Kim yang terlihat pasrah tak bedaya menghadapi aksi kedua wanita itu.


"Tunggu dulu!" cegah Alex. "Kalian berdua, lakukan dengan kedua mata tertutup! Kalian harus saling membantu untuk mengikat dasi ini!" titahnya yang lantas dipatuhi oleh kedua wanita itu. Alex tidak akan membiarkan perkakas Kim dilihat secara gratis oleh wanita sembarangan seperti mereka. Oleh sebab itu selagi belum semua terlepas dari tubuh Kim, Alex memerintahkan mereka untuk menutup mata.


Kim melotot, menatap Alex penuh dendam. Sedangkan Alex hanya menyeringai menyadari kemarahan Kim padanya. "Nikmatilah, sebentar lagi kau akan mengakhiri keperjakaanmu!" celetuk Alex dengan santainya.


"Tuan, tolong jangan lakukan ini," pinta Kim memelas. Lagipula ia begitu malu ketika ia harus melakukannya di depan Alex yang sudah begitu berpengalaman.


"Tenanglah, aku tidak akan mengganggumu," ucap Alex yang lalu memanggil salah satu dari wanita itu untuk melayaninya.


Kim menghela napas lega. Setidaknya bosnya itu akan disibukkan dengan sang wanita yang kini telah ada dalam pangkuan Alex. Dan saat ini Kim sekuat tenaga menahan diri dan hasratnya ketika wanita yang bersamanya mulai melucuti kain terakhir penutup perkakas utamanya. Berkali-kali ia mengumpat ketika dengan lihainya wanita itu memainkan perkakasnya dengan gerakan yang sangat memancingnya untuk melakukan lebih, tetapi Alex sudah memperingatkannya untuk memakai pengaman jika ingin tetap sehat dan aman.


Kim menyambar satu kotak alat pengaman, dan membuka salah satunya. Ia yang awalnya bingung kini tertegun saat wanita yang melayaninya itu dengan santainya mengulum dan menjilat perkakasnya sembari menggerakkan kepalanya berirama.


Kim yang tidak pernah merasakan kenikmatan itu kini memejamkan matanya, menikmati setiap sensasi yang tercipta dari gerakan wanita itu. Sesekali ia menggeram dan berteriak tertahan ketika cairan pertama keluar dari miliknya.


Dengan napas terengah-engah, Kim menatap nanar alat pengaman yang masih ia pegang di tangan kanannya sementara kini wanita itu mulai bergerak liar menyusuri setiap jengkal tubuhnya yang polos lalu berhenti pada bibirnya.


Kim kembali terlena hingga akhirnya miliknya pun kembali menegang dan wanita itu tersenyum senang. "Ini pelajaran pertama bagimu, Tuan, dan milik Anda sungguh sangat luar biasa," bisiknya sembari mendesah manja. Kim merinding mendengarnya.


Saat tangan wanita itu bergerak turun dan memegang perkakas dengan erat, cepat Kim memasang alat pengaman itu, lalu setelahnya membiarkan wanita itu memulai sesuatu yang hanya ia ketahui dari film dewasa yang beberapa kali ia tonton saat sendirian di rumahnya.


Alex menyeringai saat melihat Kim mulai menikmati permainan. Ia yang sedari tadi hanya bermain-main di area bagian atas tubuh wanita di hadapannya, kini mulai ikut merasakan sensasi pada miliknya yang mulai mengeras. Namun pikiran sehat masih memenuhi benaknya. Bayangan tentang Lidya membuatnya urung untuk melakukan hal yang lebih dan kini ia meminta wanita itu untuk menyerang Kim secara bergantian dengan temannya.


Alex lebih memilih untuk mendinginkan dirinya di kamar mandi sembari membayangkan pergulatannya bersama Lidya. Saat itu juga ia menyadari, bahwa kehadiran Lidya sudah begitu dalam memenuhi hati dan seluruh pikirannya. Bayangan tentang keindahan tubuh, suara dan gerak manja Lidya seolah menguncinya dan menahan dirinya untuk melakukan hal semacam itu bersama wanita lain.


"Lidya," desah Alex sembari memejamkan matanya. Ia lalu menyamankan posisinya, berendam dalam air dingin dan mulai tertidur.


Satu jam berlalu, kini Kim meminta kedua wanita itu untuk menyudahi permainan mereka. Kim kewalahan dan tubuhnya terasa ngilu, terlebih pada bagian intinya. Ia berkali-kali mengumpat dan menggelengkan kepalanya sembari memukul dinding dengan keras seolah kesetanan, membuat kedua wanita itu segera merapikan pakaiannya dan berlalu pergi dengan cepat.


"Bagaimana rasanya?" tanya Alex saat keluar dari dalam kamar mandi dan menyeringai menatap Kim yang tergeletak lemah dengan hanya memakai lilitan selimut di tubuhnya. "Pelajaran pertama yang sangat berharga buatmu, Kim," ucapnya.


"Bangs*t! Anda telah membuat mereka memperkosaku, Tuan!" umpatnya kesal.


Alex tertawa keras tak henti, terlebih ketika ia melihat Kim menyambar seluruh pakaiannya lalu melangkah dengan tertatih menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Jangan seperti perawan yang baru ditiduri suaminya!" oloknya pada Kim yang sontak membuatnya terdiam, teringat perbuatannya pada Lidya saat itu.

__ADS_1


Sementara Kim membanting pintu dengan keras lalu membasahi tubuhnya dibawah kucuran air shower.


__ADS_2