
"Alex, kau tidak bisa seenaknya begini," protes Lidya sembari berontak dalam gendongan Alex.
"Diam dan tenanglah. Semakin kau bergerak dan berontak, kau semakin membangunkan sesuatu di bawah sana," desis Alex. Sontak Lidya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Begitu Alex merebahkannya di atas ranjang, Lidya segera bangun dan duduk sembari menahan dada Alex yang hendak menciumnya. "Tunggu dulu, kau tidak boleh begini, Alex," tolak Lidya.
"Kenapa tidak boleh? Aku suamimu."
"Memang benar kau suamiku, tetapi apa kau melakukan ini hanya denganku saja? Ataukah kau melakukan hal yang sama dengan wanita lain?"
Raut wajah Alex berubah. "Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Karena aku sudah tahu bagaimana dirimu, Alex. Sebelum ini kau bersama wanita lain. Apakah itu yang disebut suami?"
Alex beranjak dari duduknya lalu berdiri sembari menatap tajam Lidya. "Apapun yang ku lakukan di luar, entah bersama siapa, bahkan meski aku bersama wanita lain, itu bukan urusanmu. Ingat, kau ini hanya istri abal-abal buatku," tegas Alex dingin.
Lidya tertawa miris. "Istri abal-abal? Tapi kau sudah meniduri ku Alex, dan apa yang kau lakukan itu nyata, asli bukan abal-abal."
"Lalu apa masalahnya bagimu? Itu adalah hakku atas dirimu."
Lidya kembali tertawa. "Hakmu? Lalu apa hakku? Apa aku tidak punya hak dalam hal ini, karena aku hanya istri abal-abal mu?" sinisnya. "Picik sekali pikiranmu."
Alex mendengus kesal. "Diam dan lakukan apa yang ku inginkan," desisnya marah. Tanpa banyak bicara lagi ia lalu menerkam Lidya, menindih tubuhnya sembari menciumi seluruh wajah Lidya yang saat ini terlihat begitu cantik di matanya.
"Lepaskan!" desis Lidya sembari terus mendorong tubuh kekar Alex dari atas tubuhnya. Tetapi tenaga Alex jauh lebih kuat. Pria itu berhasil menahan kedua tangan Lidya sembari terus melakukan aksinya.
"Jangan khawatir, aku akan melakukannya dengan cepat," desis Alex sembari membuka pakaian bawah Lidya dan juga resleting celananya dengan satu tangan, lalu mulai mengeksplor inti Lidya dengan jemari tangannya. Lidya melenguh tertahan. Alex begitu lihai melakukan aksinya, membuatnya yang semula berontak, kini justru memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan Alex di tubuhnya, terlebih di kedua bukit kenyal, tempat yang paling sensitif miliknya.
__ADS_1
Keduanya bergulat dengan penuh gairah. Lidya terbawa suasana, hingga tanpa sadar kedua tangannya yang terlepas dari tangan Alex kini melingkar erat di leher suaminya itu. Suara desahannya membuat hasrat Alex semakin berkobar. Ia pun mengakhiri aksi jemarinya di bawah sana lalu mulai mengarahkan perkakas miliknya yang sudah begitu keras ke lubang sempit milik Lidya. Ia sudah memasang pengaman sebelumnya.
Lidya memekik tertahan saat benda tumpul itu memenuhi intinya. Alex berhenti sejenak dengan napas memburu, merasakan kenikmatan tiada tara yang hanya ia temukan dalam diri Lidya.
"Alex ...," desis Lidya.
Mendengar suara sendu Lidya, Alex mulai memompa tubuhnya dengan pelan. Lidya menggeliat. Hujaman demi hujaman dari Alex membuatnya merasakan sensasi yang begitu dahsyat dalam dirinya. Semua terasa begitu nyaman hingga ia terus menerus mengeluarkan suara kenikmatan, terlebih saat Alex menghujam dengan keras dan berirama, semakin cepat dan berakhir dengan tubuh keduanya yang mengejang dan bergetar, lalu saling memeluk erat dengan napas yang memburu. Peluh keduanya membasahi pakaian yang masih melekat di tubuh mereka. Hanya tubuh bagian bawah mereka yang kini terbuka dan masih menyatu. Alex seolah enggan memisahkan diri dari Lidya.
"Alex, sudah. Aku harus segera ke studio," ucap Lidya pelan. Ia masih terbawa kenikmatan yang baru saja Alex suguhkan, sementara benda itu masih berada di dalam intinya, masih terasa keras. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak kembali bersuara aneh yang mungkin akan membuat Alex kembali beraksi.
Tanpa banyak bicara, Alex beranjak dari tubuh Lidya sembari memegangi perkakasnya yang masih terbungkus pengaman. Ia takut isinya tumpah dan akan berbuah bayi dalam tubuh Lidya. Tidak. Ia masih belum siap mempunyai keturunan dari siapapun, termasuk dari Lidya, istrinya.
Berbeda dengan Lily. Ia tidak pernah memakai alat pengaman ketika melakukan hubungan bersama Lily, karena wanita itu selalu mengkonsumsi obat pencegah kehamilan, jadi ia merasa aman.
Alex masuk ke kamar mandi sebentar lalu keluar dengan kondisi yang sudah rapi. Tanpa menoleh pada Lidya, ia meletakkan dua bendel uang kertas di atas ranjang lalu bergegas keluar.
"Sesaat lalu kau begitu manis dan menggairahkan. Tetapi sesaat kemudian, dalam sekejap kau berubah menjadi setan, yang terus menghantui hidupku dan melukai perasaanku," desisnya kesal.
Suara ketukan di pintu luar menyadarkan Lidya. Ia lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan cepat. Waktu terus berlalu, sementara ia sudah membuangnya banyak bersama Alex, dan ia harus segera berangkat ke studio.
"Segar sekali, mandi besar nih pengantin baru," sindir Sarah sembari tertawa kecil. Ia bisa menduga hal itu karena melihat wajah Alex yang merah saat keluar dari tempat itu.
Lidya tersenyum menanggapi ucapan Sarah. "Dia selalu memaksaku," lirihnya. Andre menatapnya nanar. Tak bisa dipungkiri, hatinya sakit mengetahui kenyataan itu. Sangat sakit.
"Oke, kita berangkat sekarang." Sarah menyambar tas perlengkapan Lidya lalu memberikannya pada Andre. "Tolong Ndre, berat."
Dalam diam Andre membawa tas itu keluar. Ia melangkah mendahului kedua wanita itu dan bergegas menuju mobilnya berada, tanpa menyadari tatapan sendu dari Lidya.
__ADS_1
"Andre cemburu," bisik Sarah.
"Entahlah. Sepertinya tidak mungkin," jawab Lidya.
"Mungkin saja. Aku tahu dia sebenarnya mencintaimu, Lidya," ucap Sarah.
Lidya tersenyum dan menggeleng. "Jangan katakan itu. Kasihan Andre. Lagipula aku sudah menikah dengan Alex dan mencintainya."
Sarah terdiam mendengar ucapan Lidya. Dalam hatinya membenarkan, tetapi tetap saja ia lebih memihak pada Andre, saudaranya itu. Terlebih ia sudah tahu bagaimana Alex yang sesungguhnya.
"Kau tahu, Alex sudah menyakitiku," ucap Lidya.
"Oya? Apa yang sudah dia lakukan padamu?"
"Ini." Lidya menunjukkan dua ikat uang kertas yang cukup tebal ke hadapan Sarah.
"Uang? Bagus dong Alex memberimu nafkah yang cukup banyak. Kenapa tidak ditransfer saja? Bukannya dia orang kaya?"
Lidya menyimpan uang itu sembari mendengus kesal. "Dia memberiku ini setelah meniduriku, Sarah," jelas Lidya. Ia cukup terbuka dengan Sarah akhir-akhir ini, meskipun Sarah belum menikah, tapi ia sudah cukup dewasa dalam hal ini.
Kedua mata Sarah membelalak lebar. "Apa?" teriaknya tidak terima. "Jadi dia menganggap mu pelac**?"
"Seperti itulah."
"Bangs*t! Dasar laki-laki sombong!" umpat Sarah dengan begitu emosi.
"Itulah yang selalu membuatku berpikir, apa aku salah karena sudah mencintai pria yang justru sangat merendahkan ku?" lirih Lidya.
__ADS_1
"Salah kaprah!" sahut Sarah cepat. "Kau salah besar karena sudah mencintainya, Lidya."