
"Serius? Kamu salah satu korban Alex?" tanya Sarah sembari melotot pada Anna.
Anna mencebikkan bibirnya lalu mengangguk. "Ya, begitulah. Korban PHP," jawabnya.
"Oh, kirain korban keganasannya, yang bener kalau ngomong," protes Sarah. Lidya dan Andre hanya tertawa melihat interaksi keduanya.
"Habisnya, aku heran banget sama lelaki yang bernama Alex Pradana ini, kenapa semua pada heboh cerita soal dia," ucap Anna.
"Tapi dia suaminya Lidya lho, jangan lupakan itu," sahut Sarah. Sontak Anna menutup mulutnya dengan kedua tangan sembari menatap jengah pada Lidya yang sedang tertunduk. Entah apa yang istri Alex itu pikirkan, yang jelas saat ini Lidya terlihat sedikit galau.
"Bisakah kita langsung saja ke inti masalah dan tujuan kita?" potong Lidya cepat. Lama-lama ia merasa tidak nyaman juga mendengar nama Alex menjadi bahan perbincangan yang cenderung ke arah negatif. Satu sisi hatinya merasa tidak terima jika suaminya terus saja dijelek-jelekkan.
"Oh, sorry," ucap Sarah dan Anna bersamaan.
"Oke, kau mau berubah bagaimana, dari cara berpakaian atau penampilan serta wajahmu?" tanya, Anna sembari menatap intens ke seluruh tubuh dan wajah Lidya.
"Kalau bisa, ubah aku dari semua sisi, baik penampilan dan cara berpakaian ku," jawab Lidya.
"Ehm, komplit ya."
Lidya mengangguk. "Begitulah."
Anna kemudian memberikan banyak penilaian terkait penampilan Lidya saat ini, menurut pandangan matanya. Ada banyak kelebihan yang sebenarnya sudah Lidya miliki, hanya saja Lidya masih ragu untuk mengeksplor dirinya sendiri, lebih membuka diri terhadap semua orang, tanpa harus selalu jaga image, di hadapan banyak orang.
"Lalu bagaimana menurutmu agar aku bisa tampil beda di depan suamiku?" tanya Lidya lebih jauh, setelah ia mendapatkan banyak saran dan masukan dari Anna.
"Apa kau ingin tampil beda tanpa dikenali oleh suamimu?" tanya Anna sembari tersenyum misterius.
"Aku mau, tetapi apakah bisa? Dia sudah terlalu sering melihatku seperti ini," jawab Lidya.
"Aku akan melakukan sesuatu padamu," tegas Anna. "Apa kau buru-buru?"
Lidya menggeleng. "Masih banyak waktu," jawabnya.
__ADS_1
"Oke, aku akan lakukan sesuatu mulai dari cara berpakaian." Anna yang juga seorang designer itu beranjak dari duduknya lalu mengajak Lidya untuk masuk ke bagian dalam butik, di sebelah ruang kerjanya, sementara Saran dan Andre tetap menunggu.
"Anna terlihat sangat meyakinkan," ucap Andre.
"Tentu saja, dia seorang beautician dan designer profesional," jawab Sarah, merasa bangga dengan teman baiknya itu.
Andre menganggukkan kepalanya paham. "Lalu, apakah Lidya akan terus datang ke sini sebelum bertemu Alex untuk menjalankan rencana?"
Sarah mengedikkan bahunya. "Kita lihat saja nanti, hasilnya bagaimana, dan apakah itu permanen atau tidak, riasan dan juga pakaiannya," ujarnya. Andre kembali mengangguk paham.
Setelah menunggu sekitar satu jam lamanya, Anna masuk kembali ke ruangannya, sendirian. Sarah dan Andre terlihat bingung karena tidak melihat Lidya. Namun saat mereka baru saja membuka mulutnya hendak bertanya, tiba-tiba seseorang datang dari belakang tubuh Anna.
"Hadirin sekalian, kita sambut bintang hari ini, Lidya Maranggi," ucap Anna sembari menepi dan memberikan tempat untuk Lidya berjalan bak seorang model senior, di hadapan Sarah dan Andre yang seketika menatapnya takjub.
Lidya terlihat begitu berbeda dalam balutan celana kulot highwaist berwarna hijau lumut yang dipadu padankan dengan atasan crop top putih tulang, dengan lengan sepanjang siku, membuatnya terkesan sedikit casual yang begitu feminim. Sementara rambutnya diurai dengan beberapa curly pada bagian samping depan, membuat Lidya terlihat jauh lebih muda dan trendy.
Tak kalah memukau, wajah Lidya dipoles dan disulap oleh Anna hingga terlihat sangat jauh berbeda, siapapun tidak akan bisa mengenali bahwa wanita itu adalah Lidya.
"Oh, wow! Bagaimana bisa kau melakukannya?" tanya Sarah takjub. Ia semakin terpana saat melihat senyum dari bibir Lidya.
Lidya tersenyum penuh terima kasih pada Anna. Ia sendiri pun tidak menyangka, penampilannya jauh lebih menarik saat ini. Sementara Andre tak berkedip sedikitpun saat menatapnya.
"Lidya, aku hampir tidak mengenalimu, hanya saja, siapapun tidak akan mampu menghilangkan lesung pipit dari wajahmu, sebagai ciri khasmu yang sudah aku ketahui sejak kita kecil dulu," ucap Andre sembari menelan ludahnya kasar.
Lidya tertawa. "Ah, kau masih mengingatnya."
"Tentu saja."
Sarah dan Anna saling menatap penuh arti saat melihat interaksi Andre dan Lidya yang begitu akrab dan saling mengenal satu sama lain. Keduanya mengerti, Andre mempunyai perasaan khusus pada Lidya.
"Jadi, saat Lidya akan bertemu Alex, apakah dia harus datang ke tempat ini terlebih dahulu?" tanya Sarah pada Anna yang masih menatap Lidya dan Andre.
"Oh tidak, Lidya sudah mengerti apa yang harus ia lakukan untik bisa berpenampilan seperti ini," jawab Anna. "Dia juga sudah memesan beberapa baju yang akan ia gunakan untuk menjalankan rencana nantinya."
__ADS_1
"Syukurlah," ucap Sarah lega. "Tadinya aku pikir kami harus bolak balik ke tempat ini, sebelum beraksi," imbuhnya.
"Sarah, apa kau sudah memikirkan cara untuk menarik perhatian Alex dan membuatnya melihat Lidya palsu?" tanya Anna.
"Lidya palsu?"
Anna mengangguk. "Anggaplah seperti itu. Lidya asli adalah seorang model dengan penampilan natural dan sangat feminim, tetapi Lidya yang ini adalah Lidya palsu dengan penampilan yang cenderung casual," jelasnya.
"Kenapa kau memilih konsep casual untuk Lidya?" tanya Sarah penasaran.
"Karena Alex sudah terlalu banyak bertemu dengan wanita-wanita feminin yang terlihat gemulai dan mudah ditaklukkan. Dia pasti akan bosan dan mencari sosok yang baru, yang pastinya lebih bisa menantangnya," jawab Anna.
"Wah, pemikiran yang sangat bagus!" puji Sarah. "Aku setuju denganmu."
Anna tersenyum lebar. "Jadi, bagaimana cara agar Alex bisa melihatnya untuk pertama kali saat ini?" tanyanya, mengulang.
"Ambil foto terbaik Lidya dan posting dalam akun media sosialmu, tag Sarah dan juga aku, dengan caption yang sesuai, misalnya tentang menawarkan produk baru di butikmu, atau apapun itu," celetuk Andre dengan idenya gang baru saja muncul dalam benaknya. "Jika kau berteman dengan Alex, dia pasti akan melihat postingan mu di beranda."
"Kau benar, Tuan. Aku akan melakukannya." Anna segera memanggil dua orang anak buahnya untuk mempersiapkan pemotretan.
Dengan segera pemotretan pun dilakukan. Lidya mengikuti semua arahan dari Anna dan juga penata gerak dan pose, agar penampilannya terlihat lebih meyakinkan. Setelah selesai, ia lalu memposting pose terbaik dan memberikan keterangan yang cukup membuat penasaran semua orang yang membacanya.
"Aku yakin setelah ini Alex pasti akan memberondong ku dengan pertanyaan tentang nomor ponsel Lidya palsu," ucap Sarah penuh percaya diri.
"Lidya palsu? Apa tidak ada nama lain yang lebih baik dari itu untukku?" protes Lidya.
Sontak semua terdiam memikirkan ucapan Lidya, lalu tak kama ketiganya pun berteriak kompak. "Sephia!"
Lidya menatap takjub ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu. "Sephia? Selingkuhan?" tanyanya dengan nada sedikit resah.
"Why not?" sahut Anna yang seketika diangguki oleh Sarah dan Andre.
"Aku tidak mau."
__ADS_1
"Itu hanya nama palsu, untuk penyamaranmu ini, Lidya. Jadilah selingkuhan Alex, karena dimatanya kau bukanlah seorang Lidya," jawab Sarah.