
Lidya memulai aktifitas hari pertamanya sebagai seorang model di apartemen. Ia tinggal di sana sendirian, sementara para pengawalnya berada di unit apartemen sebelahnya.
Ia begitu bersemangat karena tidak lagi tinggal bersama Alex. Meskipun ia sedikit menyayangkan karena tidak lagi bisa bertemu Bik Marni, tetapi ia masih bisa terhibur karena masih bisa melakukan video call dengannya di waktu luang.
Arman menyambut gembira hasil yang sudah dicapai oleh Lidya. Ia juga sangat senang, karena dari laporan anak buahnya yang selalu mengawasi Lidya dan Alex, mereka mengatakan bahwa Alex beberapa hari ini uring-uringan karena jauh dari Lidya dan berakhir dengan jatah pertemuan selama satu jam di hotel. Itu berarti ada kemungkinan Alex dan Lidya melakukan kewajiban mereka dan akan segera memberinya seorang cucu.
Begitu juga dengan Maria. Sehari sebelum tahap akhir seleksi, Lidya sudah menceritakan semua padanya dan meminta restu darinya. Ia turut gembira karena dengan hal itu Lidya bisa mengambil jarak dengan Alex yang menurutnya terlalu arogan dan seenaknya sendiri itu, masih belum lagi kabar miring tentang perselingkuhan Alex dengan beberapa wanita di luar sana.
"Masak apa?" tanya Sarah saat ia datang berkunjung ke apartemen Lidya bersama Andre. Hari ini Lidya masih bebas tugas, tetapi jadwal untuk besok cukup padat dan harus dilakukan seharian penuh.
"Cuma nasi goreng," jawab Lidya. "Mau?"
Sarah menatap hasil masakan Lidya dengan penuh minat. Sejak masuk tadi ia sudah mencium aroma sedap yang cukup membangkitkan selera makannya.
"Boleh, kamu masak seberapa emangnya?"
"Cukup kalau buat kita bertiga," jawab Lidya sembari tertawa.
"Wah, sudah mirip cenayang ya, tahu kalau aku dan Andre mau datang," celetuk Sarah takjub.
"Nggak, aku tadi iseng aja masak nasi tapi kok kebanyakan. Daripada dibuang mending aku buat nasi goreng semuanya, ntar malam kalau lapar aku tinggal panasi lagi," jelasnya. "Tapi untungnya kalian datang."
"Berarti kami sedang beruntung nih," sahut Andre yang lalu duduk di meja makan minimalis bersama Sarah, menunggu Lidya selesai menggoreng telur untuk mereka bertiga.
Setelahnya, mereka lalu makan dengan sesekali bicara serius yang ditimpali dengan candaan. Sarah lebih sering bertanya tentang Alex, yang justru membuat mood Lidya menjadi buyar seketika.
"Sorry banget, dari tadi aku tanya terus soal Alex," sesal Sarah saat tahu Lidya tidak menghabiskan nasi gorengnya.
"It's oke, Sarah. Aku sudah kenyang aja kok," jawab Lidya sembari tersenyum dsn meneguk minumannya.
"Bicara soal Alex, boleh aku jujur sama kamu, Lid?" tanya Andre tiba-tiba. Sarah seketika mengalihkan atensinya pada Alex, kakak sepupunya itu, dengan penuh tanya.
"Boleh, jujur aja, apa yang mau kamu katakan padaku? Kamu cemburu dengannya?" tanya Lidya asal. Sarah tertawa sementara Andre justru memerah wajahnya.
"Bukan cemburu, hanya saja kemarin aku dapat kiriman ini dari anak buahku," jawab Andre sembari menunjukkan foto dari ponselnya.
Lidya sedikit mendekat ke Andre lalu melihat foto itu dan terperanjat ketika ada Andre bersama seorang wanita di foto itu, sedang bergandengan mesra di depan kamar hotel.
"Alex sama siapa itu?" tanya, Lidya pelan, mirip dengan gumaman. "Kamu memata-matai Alex, Ndre?"
Andre menggeleng. "Mengawasi mantan pacarku, lebih tepatnya. Karena yang sedang bersama Alex itu dia, Inge."
Lidya mengambil ponsel milik Andre lalu melihat foto itu lebih seksama. "Inge?"
"Ya. Kamu pernah mengenalnya?" tanya Andre.
__ADS_1
"Seperti pernah melihat, tapi dimana ya?" gumam Lidya. "Ah, sudahlah. Nggak penting juga buat di ingat."
"Jadi mantanmu ini kekasih Alex?" tanya Lidya.
"Kalau menurutku sih bukan kekasih, tetapi teman kencan doang, kayak yang lain," celetuk Sarah.
"Bisa dibilang begitu," jawab Andre, setuju dengan ucapan Sarah.
"Kalau dia ini Inge, apa kamu tahu wanita yang bernama Lily?" tanya Lidya mulai menyelidik.
"Lily? Dia model senior, Lid. Kapa hari ikut datang menonton di tahap pertama seleksi, kau pasti tidak tahu kalau dia datang," jawab Sarah.
"Kamu ada fotonya?" tanya Lidya penasaran. Saat itu ada banyak bintang taku yang ikut hadir, tapi tidak satupun yang ia kenal, ia hanya tertarik dengan satu orang yang berpenampilan elegan dan terlihat cantik sempurna. Lidya curiga, wanita itu adalah Lily, kalau melihat dari selera tinggi Alex.
"Ada, tunggu sebentar." Sarah mencari beberapa foto dari galeri ponselnya lalu tersenyum senang saat ia menemukan foto Lily saat hadir dalam seleksi tahap pertama. "Ini Lily, yang pakai baju hitam," ucap Sarah memberi tahu.
Lidya mengangguk paham. Ternyata benar wanita itu yang bernama Lily, yang kalau menurutnya, wanita itu adalah kekasih Alex.
"Ada apa dengan Lily?" tanya Sarah ingin tahu.
"Ehm, mungkin ini hanya pikiran buruk ku saja, tapi sepertinya Lily ini kekasih Alex," jawab Lidya ragu.
"Mungkin memang benar kekasih Alex, karena aku pernah, sering malah, melihat mereka berdua hadir dalam beberapa acara besar," sahut Sarah yang memang banyak mengenal para model dan juga beberapa artis ternama ibu kota.
"Kau yakin, Sarah?" tanya Andre memastikan.
"Ini siapa saja selain Lily?" tanya Lidya sembari cemberut. "Dasar playboy!" gerutunya.
"Selain para model, ada bintang sinetron dan film yang sempat jadi korban Alex," jawab Sarah. "Itu makanya aku sangat menyayangkan saat tahu kamu dijodohkan dengan Alex, apa masalah sebenarnya?"
Andre menyikut lengan Sarah yang begitu mudah melontarkan pertanyaan pada Lidya tanpa memperhitungkan perasaan gadis itu. Tetapi Sarah justru menepis lengan Alex dan menatap Lidya penuh tanya.
Mendapati pertanyaan seperti itu wajah Lidya seketika murung.
"Maafkan aku jika aku terlalu ikut campur masalahmu," ucap Sarah. "Tapi Lidya, Alex ini bukan laki-laki biasa, dia player sejati, pemain wanita yang sesungguhnya. Aku takut Alex menyakitimu."
Lidya tergugu mendengar ucapan Sarah. Tetapi di sisi hatinya yang lain ia tidak begitu saja mempercayai semua foto-foto tentang Alex dan beberapa wanita yang bersamanya. Memang benar Alex terlihat begitu dekat dan mesra dengan para wanita itu, tetapi bisa saja itu karena akting atau karena memang gaya berteman Alex yang seperti itu. Lidya takut membayangkan jika semua itu benar-benar terjadi, karena ia sudah terlanjur menyerahkan segalanya untuk Alex.
"Lidya, jangan terlalu dipikirkan semua ucapan Sarah," celetuk Andre saat tahu kesedihan Lidya.
Lidya menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah, Ndre. Hanya saja aku masih ragu tentang hubungan Alex dengan semua wanita itu, kecuali Lily, karena dia selalu menyebut namanya saat berhubungan denganku," ungkap Lidya, mengakui semuanya.
Sontak Andre dan Sarah membelalakkan matanya. "Apa?"
Lidya mengangguk membenarkan. "Di awal-awal pernikahan, kami sudah melakukannya, tetapi itu karena Alex sedang mabuk," jelas Lidya.
__ADS_1
"Lalu kamu diam dan menerima saja?" tanya Sarah gusar.
"Mau bagaimana lagi, Alex memaksaku, tenaganya jauh lebih besar," jelas Lidya.
Andre dan Sarah seketika diam.
"Sebelum menikah aku sama sekali tidak mengenal Alex, dan setelahnya pun Alex lebih sering keluar, membiarkan aku sendirian di rumah," jelas Lidya. "Karena inilah aku iseng mencari pekerjaan, untuk mengisi waktu luang ku yang terlalu banyak di sia-sia kan jika aku tinggal di sana. Dan siapa sangka aku justru mendapatkan hal yang lebih baik, dengan mendapatkan fasilitas khusus di sini."
Sarah menghela napas panjang. "Maaf, tapi karena aku sangat paham tentang Alex maka aku seperti ini padamu," sesal Sarah. "Tapi ku harap, setelah menikah denganmu Alex akan berubah."
"Semoga saja," jawab Lidya.
Andre tertunduk diam. Dari penyelidikan yang ia lakukan tentang Alex, ia justru mendapati Alex yang masih terus berhubungan dengan banyak wanita di kuar sana, dan ia tidak tega untuk mengatakannya lada Lidya.
"Kamu mencintai Alex?" tanya Sarah tiba-tiba.
Lidya terdiam. Ia ragu menjawabnya. Jika ia mengatakan tidak, tetapi hatinya selalu menginginkan Alex dan merasa sakit jika Alex menyebut nama wanita lain saat ini juga tentang foto-foto itu. Tetapi jika ia mengatakan cinta, hatinya masih sangat ragu, karena sikap Alex cenderung seenaknya dan tidak terlihat mencintainya. Ia tidak ingin sakit dalam perasaan cinta sendiri nantinya.
"Entahlah," jawab Lidya.
Andre menatap lekat wajah Lidya yang terlihat galau. Ia tahu jika sebenarnya Lidya mulai tertarik dengan Alex, terbukti saat ia memergoki sorot mata terluka Lidya ketika melihat foto-foto Alex bersama wanita lain pun bersama mantan kekasihnya.
"Jujurlah dengan hatimu, Lidya. Jika kamu mulai mencintainya aku bersedia membantumu untuk merubah sikap dan kebiasaan Alex, terlebih menghilangkan kebiasaan buruknya selama ini," ucap Sarah menawarkan diri. Ia benar-benar tidak tega melihat Lidya yang menurutnya terlalu pasif dan diam walaupun tahu Alex sudah mengkhianatinya.
"Aku masih belum yakin, Sarah," jawab Lidya jujur.
"Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu, dan jika kamu benar-benar yakin, hubungi aku secepatnya." Sarah tersenyum menatap Lidya. Ada satu ide yang saat ini melintas dalam benaknya yang akan ia utarakan pada Lidya jika wanita itu ternyata menyadari bahwa ia mencintai Alex. Meskipun tidak yakin akan berhasil nantinya, tetapi tidak ada salahnya jika dicoba terlebih dahulu.
"Oke, aku setuju, nanti aku akan langsung menghubungimu kalau hatiku sudah yakin tentang Alex," sanggup Lidya.
Sarah tersenyum lebar. "Keputusan yang bagus!" pujinya. "Lagipula sudah waktunya Alex untuk segera insyaf, karena sekarang sudah punya istri," imbuhnya sinis.
Lidya tertawa bersama Andre. Sarah selalu terbawa emosi jika membicarakan Alex. Mungkin karena tahu, sepupunya sudah dilukai oleh Alex.
"Sarah, untuk besok, apa yang harus ku persiapkan?" tanya Lidya mengalihkan pembicaraan.
"Eum, mungkin masih tahap perkenalan, jadi kamu tinggal menunggu intruksi dari Pak Ronald, sebelum memulai aktifitas besok pagi. Makan dan istirahat yang banyak, karena mulai besok akan banyak waktu yang terpakai untuk bekerja," ujar Sarah memberi saran. "Sampai malam hari," imbuhnya.
"Alu siap!" tegas Lidya.
"Ada aku yang akan selalu mendampingi dan mrmbantumu," timpal Andre. "Apa boleh aku melamar jadi managermu, Lidya?" tanya Andre iseng. Sarah memukul bahunya keras karena tahu, Andre tidak diperbolehkan untuk menjadi manager Lidya, karena ia adalah sang pemilik sekaligus CEO perusahaan yang menaungi Lidya.
Lidya tertawa menanggapi pertanyaan Andre, tapi ia kini menatap Sarah dengan penuh permohonan. "Bolehkah jika aku memintamu untuk menjadi managerku, Sarah?"
Sarah terkesiap. Ia tidak menduga Lidya meminta secara langsung di hadapannya. "Aku?" tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Lidya mengangguk membenarkan.