
Lidya mengikuti langkah Alex, masuk ke dalam rumah besar itu, setelah ia membuka kunci dengan terburu-buru. Sepanjang perjalanan hingga mereka sampai, pria itu sama sekali tidak mengajaknya bicara sedikitpun. Tetapi Lidya justru senang, karena ia tidak perlu repot-repot memikirkan bahan pembicaraan, atau menata diri agar tidak canggung, karena ia tahu, Alex begitu tidak menginginkannya. Ada satu keuntungan bagi Lidya, mengingat dirinya pun masih belum mempunyai perasaan apapun terhadap Alex.
"Ini kamarmu," ucap Alex sembari menunjuk satu kamar di sebelah ruang tamu, yang lebih pantas disebut sebagai kamar tamu itu.
Lidya hanya mengangguk lalu melangkah perlahan sembari menyeret kopernya.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" tegur Alex dingin.
Sontak Lidya menghentikan langkahnya lalu berbalik, menatap Alex dengan pasrah.
"Letakkan dulu kopermu itu di sana." Alex menunjuk depan pintu kamar Lidya. "Kau harus membuatkan kopi untukku!"
Lidya masih tetap diam lalu melakukan apa yang sudah Alex perintahkan.
"Ingat, kopinya jangan terlalu manis atau juga jangan terlalu pahit, kau paham?"
Lidya mengangguk paham. Ia lantas menuju dapur dan memasak air sembari mencari letak gula dan kopi di simpan.
Alex tersenyum sinis. Ia menatap Lidya tidak suka. "Kau tidak akan betah berlama-lama denganku, di sini. Kau pikir kau bisa menikmati pernikahan ini, huh?" desisnya dalam hati.
Alex melangkah meninggalkan Lidya. Hanya satu tujuannya kali ini, kamar tidur. Ya, ia sudah begitu lelah berdiri sejak pagi, menerima dan menyambut tamu undangan, lalu berkumpul bersama teman-temannya, masih lagi saat ia berdua dengan Lily. Mengingat tentang Lily, Alex mendengus kesal. Ia masih belum mendapatkan jatahnya dari perempuan itu. Alex sudah terbiasa dengan pelukan dan ciuman ganas Lily, yang selama ini telah mengikat hatinya.
Baru saja Alex menapaki tangga terakhir menuju lantai 2, dirinya dikejutkan suara bel pintu rumahnya. Ia ingin berteriak memanggil Lidya, namun ia ingat, wanita itu sedang menyiapkan minuman yang ia minta. Ia tidak mau Lidya membuat kesalahan. Maka dengan cepat Alex melangkah turun menuju ke pintu utama.
Lidya hanya melihat gerak gerik Alex. Tadinya ia hendak berlari untuk membukakan pintu, tetapi saat melihat Alex turun, ia mengurungkan niatnya dan berpikir mungkin Alex sedang kedatangan tamu, yang tidak ia kenal.
"Ada apa, Bik?"
Sayup-sayup Lidya mendengar suara Alex menyapa orang yang datang bertamu, yang adalah seorang wanita itu.
"Anu Mas, Bapak dan Ibu meminta saya untuk tinggal di sini dan membantu Mas Alex dan Mbak Lidya," jawab wanita itu dengan logat Jawanya yang kental.
Terdengar suara decakan kasar dari Alex. "Tidak perlu, Bik. Kami bisa sendirian. Lidya sepertinya cukup pintar untuk memasak dan membersihkan rumah," jawab Alex yang seketika membuat Lidya memutar bola matanya malas.
"Tapi Mas, Bapak bilang saya harus tetap tinggal biarpun Mas Alex mengusir saya," kekeh wanita itu.
"Bik Marni, tolong mengerti Alex, kami butuh privasi dong sebagai pengantin baru," seloroh Alex. Lidya mencebik mendengarnya. Pengantin baru? Cih!
"Ehm, apa Mas Alex tidak coba hubungi Bapak dulu? Saya takut kalau kembali nanti malah dimarahi beliau, Mas." Bik Marni tetap berkeras. Lidya tersenyum senang. Itu berarti mereka tidak akan tinggal berdua saja.
"Ck! Buat apa Bik? Sudah, Bik Marni pulang saja ya, Alex pesankan taksi," ucap Alex yang juga tetap berkeras.
__ADS_1
"Ya sudah, Mas. Bik Marni pasrah," jawab wanita paruh baya itu.
Lidya menghela napas panjang. Ia urung mendapatkan teman di sini.
Saat Alex tengah membuka aplikasi taksi online, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia terlihat begitu kesal namun tak urung menjawab panggilan itu.
"Apa lagi, Pa?"
"Biarkan Bik Marni tinggal di sana untuk membantu kalian."
"Tapi kami tidak butuh, biarkan Lidya belajar mengurus rumah tangga dengan baik," jawab Alex sok dewasa.
Terdengar kekehan tawa Arman, ayah Alex. "Belajar mengurus rumah tangga? Tidak, Alex. Yang harus mengurus rumah tangga itu kamu, bukan istrimu," tegasnya. "Papa tidak menerima penolakan. Bik Marni harus tinggal di sana, Titik!"
"Tapi, Pa ...."
"Tidak ada tapi-tapi. Apa kau tidak kasihan melihat Bik Marni bolak balik ke rumah? Ini sudah malam Alex, kau tidak harus mengusirnya."
Alex mendecak kesal. "Papa selalu memaksa!" keluhnya.
"Ini semua juga demi kebaikanmu. Lidya juga masih belum terbiasa denganmu. Papa yakin, Bik Marni akan banyak membantunya nanti."
"Justru karena papa memikirkanmu, maka papa menikahkan kamu dengan Lidya. Bersabarlah, papa yakin suatu saat nanti kau akan mencintai Lidya."
"Tidak mungkin! Itu tidak akan terjadi, Pa," tegas Alex.
Arman tertawa mendengar jawaban putranya. "Kita bertaruh. Papa tetap dengan keyakinan papa bahwa kau akan jatuh cinta padanya."
"Oke, siapa takut?" jawab Alex pongah. "Apa yang Papa pertaruhkan?"
"Perusahaan papa di Surabaya, yang sudah lama ingin kau minta," jawab Arman. "Kita bertaruh dalam lima bulan saja, bagaimana?"
Sudut bibir Alex terangkat. "Baik. Dan Alex akan pertaruhkan semua milik Alex untuk Papa. Deal?"
"Deal!"
"Persiapkan semuanya dari sekarang, Pa. Karena belum sampai lima bulan, Alex akan menyingkirkan Lidya dari hidup Alex," desis Alex sembari melirik tajam Lidya yang saat itu sedang sibuk mengaduk kopi pesanannya.
"Papa akan lihat, bagaimana usahamu. Tapi ingat, jangan sampai kau sakiti Lidya!"
Alex tertawa. "Kalau untuk itu Alex tidak janji, Pa."
__ADS_1
"Kau ini? Jangan jadi pengecut, beraninya dengan wanita."
Alex tertawa lebar lalu menutup panggilan secara sepihak, tanpa menjawab olokan dari ayahnya.
"Masuklah, Bik!" titah Alex kemudian. Ia lantas melangkah menuju meja makan, karena ia melihat kopi yang ia minta sudah selesai Lidya buatkan.
"Ah, syukurlah. Bibik sudah lemas menunggu di sini," jawab Bik Marni lega.
"Kamar Bibik di sana," ucap Alex sembari menunjuk kamar di sebelah dapur dan kamar mandi belakang.
"Siap, Mas." Bik Marni menutup pintu lalu melangkah dengan cepat menuju kamarnya.
Lidya tersenyum samar. Ia lalu membawa kopi milik Alex dan meletakkannya di meja, tepat di hadapan Alex. "Kau mau ku buatkan roti bakar?" ucapnya menawarkan.
Alex hanya diam lalu menyesap kopinya perlahan. Sesaat kemudian ia merengut tidak suka. "Minuman apa ini?"
"Kopi," jawab Lidya singkat.
"Ini racun!" teriak Alex.
"Tapi kau tidak mati, Alex!" sahut Lidya cepat. "Sudah jelas itu kopi, bagaimana mungkin kau bilang itu racun?"
Alex mengumpat. Ia tidak menyangka Lidya berani menjawabnya. Selama ini tidak ada yang berani membantah ucapannya.
"Buatkan lagi yang baru! Aku sudah bilang, jangan terlalu manis atau pahit, ini rasanya tidak karuan," gerutunya kesal.
"Benarkah?" Lidya menyendok sedikit kopi Alex lalu mencicipinya. "Ini enak dan pas. Manis dan pahit."
"Aku tidak minta pendapatmu, cepat buatkan lagi dan antar ke atas!" perintah Alex yang laly beranjak pergi dengan kesal. Moodnya terganggu karena kedatangan Bik Marni, dan sekarang semakin tidak karuan saat kopi yang ia minta tidak sesuai dengan harapannya.
Lidya menatapnya kesal. Bagaimana mungkin ia bisa membuatnya jika Alex tidak mengatakan bagaimana rasa yang ia inginkan?
Bik Marni melangkah mendekati Lidya. Ia melirik ke atas lalu berbisik pada istri majikannya itu. "Mas Alex lebih suka kopi yang sedikit lebih manis, bukan manis pahit," ucapnya memberi tahu. Sudah sejak Alex baru lahir, ia mengabdikan diri pada keluarga Arman, maka dari itu ia sangat hapal apa saja kebiasaan dan kesukaan Alex. Mungkin ini tujuan utama ayah dan ibu Alex menempatkannya di rumah itu.
"Ah, begitu. Biar aku buatkan lagi." Lidya segera memasak air dan menyiapkan gelas yang baru.
"Mbak Lidya harus sabar, Mas Alex memang begitu. Nanti juga lama-lama Mbak Lidya akan terbiasa."
"Terbiasa dimarahi?"
Bik Marni tertawa.
__ADS_1