
"menikahi aku?" tanya Lidya lugu. "aku sudah nikah, Ndre."
Tak urung jawaban Lidya cukup membuat hati Andre perih. "Bukan begitu, maksudku kalau kamu sudah cerai sama suamimu, aku mau terima dan menikahimu," jelas Andre dengan wajah merona.
Lidya termenung. Cerai? Kata itu yang selalu di dengungkan oleh Alex di telinganya. Tapi apakah mereka akan benar-benar bercerai nantinya? Sedangkan ayah mertuanya mempunyai permintaan dan tantangan yang harus ia penuhi dan hadapi.
"Kita bicara hal lain saja, ya," ucap Lidya mengalihkan pembicaraan. Ia yang memulai, ia juga yang akhirnya merasa jengah sendiri karenanya. Meskipun sebenarnya sedari dulu ia ada hati terhadap Andre, namun ia takut untuk jujur mengakuinya selama ini, karena takut persahabatan mereka rusak. Tanpa ia sadari, Andre pun ternyata mempunyai perasaan yang sama, seperti dirinya. Dan untuk saat ini, lebih baik mereka membicarakan hal lain saja daripada ia salah bicara.
"Bagaimana kabarmu, apa masih lanjut study di Amerika?" tanya Lidya.
"Sudah selesai. Aku sekarang tinggal di Bandung, meneruskan perusahaan Papa di sana," jawab Andre sembari menyamankan duduknya. Kedua matanya tak lepas menatap Lidya. Dalam hatinya mengagumi paras cantik dan dewasa yang kini dimiliki oleh sahabat masa kecilnya itu.
"Oya? Sudah lama di Bandung?"
"Lumayan, sudah dua bulan."
Lidya cemberut mendengarnya. "Dua bulan tapi kau sama sekali tidak menghubungi ataupun memberi kabar padaku," protesnya. "Mana janji manismu, bocah dekil?"
Andre tertawa mendengar panggilan masa kecil Lidya padanya. Bocah dekil, mengingatkan dirinya bahwa saat dulu ia masih sering bermain di tempat-tempat kotor dan sering dimarahi oleh mamanya. Lidya pun tak jarang ikut memarahinya, karena pernah disalahkan, gara-gara dirinya pakaian Andre jadi kotor, padahal sepenuhnya ulah Andre sendiri pada waktu itu.
"Ponselku hilang, aku kehilangan kontak banyak orang, termasuk dirimu," jelas Andre.
"Dirampok?"
"Aku melupakannya di mesin ATM. Aku terburu-buru waktu itu, jadi nggak sempat cek dulu."
"Ck! Kebiasaan lama dibawa kemana-mana. Lain kali pakai tali, kalungkan di lehermu biar nggak hilang," gerutu Lidya.
"Kalau nggak gitu aku nggak bakalan denger lagi omelan kamu, Lidya," sahut Andre cepat. Keduanya lalu tertawa. Sama-sama saling memendam kerinduan dan kenangan.
"Kalau tahu kamu udah nikah begini, lebih baik aku nggak datang ke sini," gumam Andre pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Lidya.
"Kenapa memangnya?"
"Ya, gimana ya. Bisa dibilang aku kecewa berat sama kamu."
Sontak jantung Lidya berdegup kencang. Ada apa ini? Apakah ada sesuatu hal yang disimpan Andre tentangnya?
"Maksudmu, kecewa bagaimana?" tanya Lidya ingin tahu. Ia tidak mau salah paham.
"Kecewa karena kamu tidak lagi sendirian, yang bisa ku ajak kemana-mana, seperti dulu," jawab Andre.
__ADS_1
Lidya tersenyum mendengarnya. "Mau gimana lagi, takdir sudah berkata lain. Aku harus patuh pada orang tuaku," jawab Lidya.
"Patuh? Kamu dijodohkan?" tanya Andre hati-hati. Sesekali ia melirik ke dalam, takut jika tiba-tiba ada yang datang, khususnya ayah atau ibu Lidya.
Lidya hanya tersenyum menjawabnya. Membuat Andre yakin, bahwa Lidya menikah karena terpaksa.
"Jadi kamu tidak mencintainya?" tanya Andre lebih jauh. Ia tidak canggung, karena mereka sudah terbiasa terbuka sejak kecil.
Lidya menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa mencintai, kalau kenal saja nggak," jawabnya.
Andre menghela napas berat saat melihat kesedihan yang terpancar dari wajah sahabatnya itu. "Lalu, kenapa kamu mau?"
"Aku sudah bilang bukan, aku harus patuh pada orang tuaku."
"Tapi ya nggak kayak begini juga caranya, Lid," protes Andre.
"Kalau ada jalan lain aku pasti akan menempuhnya, Ndre. Tapi ini aku lakukan karena aku tidak bisa lagi menolaknya," jelas Lidya.
"Apa kau, maaf, sudah ternoda sebelumnya?" tanya Andre hati-hati. "Jika memang iya, katakan padaku siapa orang yang sudah melakukannya, aku akan menghajarnya tanpa ampun!" desisnya penuh emosi.
"Tidak ada yang menodaiku sebelumnya," tegas Lidya yang membuat Andre seketika menatapnya heran.
"Ada satu masalah yang tidak mungkin aku ceritakan padamu, Ndre. Maaf. Tapi ini menyangkut nyawa Mama."
Andre semakin tertegun dibuatnya. Apa lagi ini, menyangkut nyawa? Itu berarti pernikahan Lidya terjadi karena adanya tekanan dan ancaman?
"Aku semakin tidak mengerti, Lid," ucap Andre bingung.
"Suatu saat nanti kamu pasti tahu dan bisa memahami posisiku," sahut Lidya cepat. Ia lalu menutup bibirnya dengan telunjuk, memberi kode pada Andre untuk diam, karena saat ini ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Bisa aku mengajakmu keluar?" tanya Andre, tanpa mempedulikan kode dari Lidya.
"Aku tidak bisa tanpa ijin suamiku," jawab Lidya.
"Cuma sebentar. Kalau perlu aku yang akan menghubungi suamimu untuk meminta ijin," desak Andre.
"Pergi saja, Lidya. Biar nanti Mama yang bicara sama Alex," timpal Maria yang kini sedang meletakkan makanan kecil dan minuman hangat di meja ruang tamu.
"Tapi, Ma, aku takut Alex salah paham dan marah," sahut Lidya keberatan.
"Gampang itu, biar Papamu yang bantu jelaskan ke Om Arman."
__ADS_1
"Lidya takut, Ma."
Maria tersenyum penuh pengertian. "Kalau kamu takut, coba sekarang hubungi Alex, minta ijin padanya," ucapnya menyarankan.
Andre hanya diam menatap interaksi keduanya. Dalam hatinya bertanya-tanya tentang sosok Alex yang berhasil mendapatkan Lidya, memenangkan Lidya darinya. Andre sungguh tidak terima, terlebih pernikahan itu berdasarkan paksaan.
"Simpan ponselmu!" teriak seseorang dari pintu. Sontak kedua mata Lidya dan Maria terbelalak lebar melihat kedatangan Alex tang tiba-tiba di tempat itu.
"Alex?"
"Ya! Kenapa, takut?" dengus Alex gusar. Ia lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar di samping Lidya sembari menatap tajam pada Andre. "Kau siapa?" tanyanya.
Melihat hal itu, diam-diam Maria berlari ke dalam, mencari suaminya di ruang kerjanya. Ia takut terjadi keributan karena Alex salah paham pada Lidya. Ia pun tidak mau kalau sampai Alex berbuat kasar pada putri semata wayangnya itu.
"Andre Sasongko," jawab Andre tegas sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Alex.
"Hm, Andre." Alex terus menatap Andre tanpa memedulikan uluran tangan pemuda itu, membuat Lidya seketika menatapnya tidak suka.
Andre menarik tangannya kembali lalu memerhatikan penampilan Alex dari atas hingga ke bawah. Terlihat jelas jika Alex bukanlah orang sembarangan, dan Andre harus berhati-hati menghadapinya.
"Ada perlu apa dengan istri saya?" tanya Alex sembari memberi penekanan pada kata "istri".
"Hanya berkunjung, itu saja," jawab Andre sembari terus tersenyum, meskipun nyatanya saat ini hatinya mencelos melihat tangan kiri Alex memeluk erat bahu Lidya.
"Begitu saja, benarkah?"
Andre mengangguk tegas. "Tentu saja. Maaf, tadinya saya tidak tahu kalau Lidya sudah menikah, maka saya datang seperti biasa untuk melihat kondisinya," jelas Andre.
"Nyonya Alex Pradana, asal kau tahu, bukan lagi Lidya," tegas Alex.
Andre menelan saliva susah payah. Menghadapi pria dingin seperti Alex harus ekstra sabar. Kini ia hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan karena merasa bersalah. "Maaf, Nyonya Alex Pradana," ralatnya.
Alex tertawa puas. "Bagus!" ucapnya dingin. "Dan kau istriku, kalau tahu kau akan menemui pria lain di sini, seharusnya aku melarangmu sedari awal untuk keluar dari rumah kita," tandasnya sembari menatap tajam pada Lidya.
"Kau tidak membalas pesanku, Tuan Alex yang terhormat. Terlalu lama menunggu, aku akhirnya memutuskan untuk keluar, lagipula aku tidak tahu kalau ternyata Andre yang datang," jawab Lidya menjelaskan.
"Dia benar," sahut Andre.
"Saya bertanya pada istri saya, Tuan Andre!" hardik Alex tidak suka. "Masih ada keperluan lain? Kalau tidak ada kau bisa pergi sekarang juga."
"Alex!"
__ADS_1