
Kim dan Sarah sama-sama menoleh ke arah sumber suara, lalu bergegas bangkit ketika ternyata Alex sedang menghampiri mereka.
"Duduk saja, tidak masalah," ucap Alex sembari tersenyum penuh arti, sementara Kim dan Sarah tersenyum canggung.
"Apa sudah waktunya berangkat, Tuan?" tanya Kim.
Alex mengangguk. "Ya. Tapi habiskan dulu makanan kalian, kami akan menunggu di mobil," jawabnya.
"Baiklah." Alex dan Sarah mengangguk patuh sembari menatap kepergian Alex yang kini menarik lembut tangan Sephia dan mengajaknya keluar.
Lidya sempat tersenyum dan mengedipkan satu matanya pada Sarah, lalu mulai melangkah dengan anggun di sisi Alex, terlihat jelas bahwa mereka sebenarnya adalah pasangan yang sangat serasi.
"Kita terlalu serius bicara, sampai lupa menghabiskan pesanan kita," celetuk Sarah. "Buruan yuk, nggak enak, kita sudah ditunggu." Keduanya lalu segera menghabiskan makanan mereka dan segera meninggalkan tempat, saat sudah selesai.
***
"Nona Sephia biar bersamaku," ucap Alex sembari menatap Sarah dan Kim bergantian. "Kalian berdua pakai mobil Sarah dan kawal kami dari belakang."
Sarah dan Kim saling menatap sekilas lalu menganggukkan kepala. "Baik."
Alex membuka pintu untuk Lidya, setelahnya ia lalu memutari mobil dan bersiap untuk masuk di bangku kemudi. "Cepatlah, jangan cuma berdiri diam seperti itu," tegur Alex. "Memangnya kami ini tontonan?"
Sarah dan Kim yang terperanjat segera bergerak cepat masuk ke dalam mobil lalu sama-sama terdiam canggung. Sarah menatap bingung kunci mobil di dalam tangannya, sementara Kim yang justru duduk di bangku kemudi dan ia duduk di jok belakang. Entah kenapa keduanya kini sama-sama salah tingkah.
"Biar saya yang mengemudikan mobilnya, Nona Sarah," ucap Kim sopan.
Sarah tersenyum lalu mengangguk dan memberikan kunci itu ke tangan Kim. "Tunggu sebentar, saya pindah ke depan saja," ucapnya. Kim mengangguk patuh.
Kim segera melajukan mobilnya ketika Alex sudah terlihat jauh. Beruntung atasannya itu mengirim pesan tentang tempat yang akan mereka tuju, hingga ia pun tidak perlu bersusah payah dan bingung jika sampai kehilangan jejak Alex. Ia merasa, mungkin Alex sedang membutuhkan privasi bersama wanita yang baru saja bisa ia dekati dengan alasan pekerjaan itu.
"sudah tahu tempatnya? Mereka sudah jauh," celetuk Sarah sedikit khawatir.
"Tenang saja, Tuan Alex sudah memberitahu saya, Nona. Jangan khawatir, Nona Sephia pasti aman," jawab Kim.
"Okelah kalau begitu."
Kim melirik Sarah dan tersenyum kecil. Meskipun jantungnya sedang berdebar tidak karuan saat ini, tapi ia tetap berusaha tenang agar tetap terlihat cool di hadapan gadis yang sudah menarik perhatiannya ini.
"Senyum-senyum sendiri, apa Anda sedang ada masalah kejiwaan, Pak Kim?" tanya Sarah iseng. Tanpa diketahui Kim, ternyata Sarah juga sedang curi-curi pandang padanya. Baru kali ini gadis itu pergi berdua dengan pria asing, dan cukup membuat hatinya berdebar juga. Padahal selama bersama Roni, Sarah tidak pernah merasakannya. Ini hal baru baginya, dan nyatanya ia cukup tenang, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun saat ini.
"Masalah kejiwaan?" tanya Kim terkejut, tetapi ia cepat tanggap dengan maksud Sarah. Ia pun lalu tertawa kecil. "Kalau boleh jujur, lucu juga rasanya, kita mengekor orang yang sedang kasmaran," jawabnya.
__ADS_1
"Kasmaran?" tanya Sarah memastikan. Sontak Kim merutuki mulutnya yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya. Ia terlalu jujur pada Sarah.
"Ehm, iya. Kalau menurut saya Tuan Alex tertarik dengan Nona Sephia," kilah Kim.
"Apa memang terlihat jelas seperti itu?"
"Kalau menurut saya begitu, Nona."
Sarah mencebik lalu tersenyum sinis. "Bukannya Alex sudah punya istri ya?" tanyanya tiba-tiba. "Mudah sekali bagi seorang Alex untuk jatuh cinta," imbuhnya.
Kim tertegun mendengarnya. Memang benar Alex sudah menikah dengan Lidya, tetapi entah kenapa, selama ini yang ia lihat, tuannya itu sama sekali belum merasa puas dengan memilikinya. Ia pun sebenarnya tidak habis pikir tentang hal itu.
"Apa Anda juga akan meniru gaya Alex, jika sudah tidak canggung lagi di depan wanita?" tanya Sarah.
Kim menggelengkan kepalanya cepat. "Tentu saja tidak, Nona," jawabnya tegas. "Saya salah satu saksi hidup, bagaimana menderitanya hati beberapa wanita yang sudah Tuan Alex sakiti dan tinggalkan selama ini," ungkapnya dengan perasaan sedih.
"Oh ya? Kenapa justru Anda yang mengetahuinya, bukan Alex?"
"Karena setiap ada masalah dengan wanitanya, saya lah yang maju untuk mengurus penyelesaiannya," jawab Kim.
"Dalam bentuk apa? Tanggung jawab atas hal yang tidak Anda lakukan, Pak Kim?"
Sarah mendengus kesal. "Saya yakin tidak semua wanita bisa menerimanya begitu saja, pasti ada lagi tuntutan lain selain materi."
"Tentu saja, Nona. Semua yang terjadi memang sesuai dengan dugaan Anda." Kim membenarkan. "Hanya saja mereka langsung bungkam karena Tuan Alex mempunyai cara tersendiri, yang beliau lakukan dengan orang-orang bayarannya," imbuhnya menjelaskan.
"Wah, rupanya Alex sudah di luar batas normal. Hanya mau enaknya saja dengan para wanita mainannya itu," ucap Sarah mencela.
"Itulah yang cukup memprihatinkan."
"Anda mau saja disuruh Alex mengurus para wanita itu, Pak Kim?" tanya Sarah gusar.
"Mau bagaimana lagi, saya bekerja pada beliau."
Sarah mendecak kesal. Salah satu korban Alex adalah saudara sepupunya yang saat ini baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. Menurutnya Alex benar-benar sudah sangat keterlaluan.
Dua jam lebih telah mereka habiskan di jalanan. Selama itu pula Sarah dan Kim berbicara banyak tentang Alex, dan juga janji Sarah untuk memberikan arahan pada Kim, bagaimana cara untuk bisa tampil percaya diri di depan wanita.
Sementara itu Lidya tertegun saat mereka mulai memasuki kawasan elit, di pinggiran kota. Ia cukup menikmati pemandangan rumah-rumah elit yang berdiri megah dengan taman yang luas di sekelilingnya. Ia sedikit mengerutkan keningnya saat melihat senyum yang tersungging di bibir Alex.
"Tempat apa ini?" tanya Lidya polos.
__ADS_1
"Perumahan elit," jawab Alex singkat.
"Saya sudah tahu ini perumahan elit, maksud saya, apakah tempat ini khusus dipakai untuk keperluan syuting film atau iklan?"
"Oh, bukan hanya itu saja. Nanti juga kau akan mengetahuinya."
Lidya mendengus pelan. Selalu saja Alex bersikap misterius. Kini ia pun lantas memperhatikan seluruh kawasan yang mereka lewati dan kembali tertegun saat mereka sudah sampai pada satu bangunan megah, bak rumah mewah ala-ala film India.
Alex tersenyum simpul melihat wajah lugu Lidya yang begitu terpukau dengan rumah itu. Ia pun lalu menekan klakson saat hampir sampai di depan pagar tinggi, gerbang masuk rumah mewah itu.
Lidya berdecak kagum, pagar itu menggeser perlahan secara otomatis. Alex mulai melajukan mobilnya, memasuki halaman yang sangat luas. Dua orang sekuriti dan beberapa bodyguard terlihat berlarian di belakang mobilnya.
"Oke, kita turun sekarang," ucap Alex sembari membukakan pintu mobil untuk Lidya, bak seorang putri raja.
"Tempat apa ini?"
"Rumah," jawab Alex sembari terkekeh. Lidya mengerutkan keningnya.
"Rumah Anda?"
Alex mengedipkan satu matanya. "Begitulah."
Lidya melangkah keluar dengan anggun lalu mengedarkan pandangannya pada bangunan megah itu. Dalam hatinya kini berkecamuk satu hal, kira-kira berapa banyak uang yang Alex hamburkan untuk membangun rumah semegah ini dengan taman yang sangat luas dan asri? Pasti sangat membutuhkan banyak biaya, mengingat tempat itu juga pastinya membutuhkan perawatan dan penjagaan yang ketat.
"Selamat datang," ucap Alex seraya membungkukkan tubuhnya dengan sopan dan mempersilakan Lidya untuk masuk, dengan tangan kirinya yang ia rentangkan.
"Terima kasih," jawab Lidya. "Anda masuklah terlebih dahulu."
"Kita masuk bersama-sama," sahut Alex yang lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Lidya dengan mesra. "Selamat datang di rumah kita, Sephia. Karena mulai saat ini kau tidak akan bisa keluar dengan mudah dari cengkeramanku, setelah memasuki perangkap cinta ..."
___
TBC
Makasih buat yang masih setia membaca sampai bab ini, mohon maaf untuk keterlambatan update nya, yang akan mulai rutin lagi sejak hari ini šš
Baca juga cerita di bawah ini ya, sambil menunggu update bab baru
Terima kasih š
__ADS_1