Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Sesuai Harapan


__ADS_3

"Andre, aku lolos ke tahap selanjutnya!" pekik Lidya dengan begitu senangnya hingga tanpa sadar ia menghambur dan memeluk Andre, membuat pria itu merasa pusing, karena harus ekstra kuat menahan diri untuk tidak membalas pelukan Lidya. Bagaimana pun juga, dirinya tidak pantas melakukannya, karena Lidya sudah menjadi milik orang lain.


"Selamat ya!" ucap Andre turut senang. Ia mengucapkannya dengan napas tertahan karena himpitan tubuh Lidya yang begitu kuat.


Lidya tersadar ia telah memeluk Andre. Ia lalu bergegas melepas pelukan itu dan tertunduk malu. "Terima kasih, Ndre. Maaf, aku kelepasan memelukmu," ucapnya dengan suara bergetar menahan malu.


"Sudahlah, anggap saja kamu tidak pernah memelukku, oke? Itu tidak sengaja," jawab Andre sembari tersenyum.


Lidya mengangguk membenarkan.


"Oke, sekarang apa rencanamu? Jadi menghubungi mertuamu?" tanya Andre, mengingatkan kembali niat Lidya.


"Oh iya, aku harus secepatnya menghubungi Papa Arman," ucapnya memutuskan.


"Sip! Kapan tahap pelaksanaan tahap selanjutnya?"


Lidya kembali membaca dengan teliti isi surat keputusan hasil tes awal itu lalu mengedipkan matanya, bingung.


"Kenapa?"


"Pelaksanaannya besok," jawab Lidya. "Tapi aku masih belum ada persiapan, aku juga harus secepatnya pulang untuk menyiapkan segala perlengkapan ku, termasuk baju ganti."


"Itu mudah. Kamu tidak harus pulang. Tinggallah di hotel itu untuk sementara, untuk baju dan perlengkapan lainnya bisa kita beli nanti," ujar Andre.


Lidya menatap Andre lama. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada sahabatnya itu. Kalau bukan karena dukungan dan bantuannya, Lidya tidak akan mampu menjalani tes awal itu dengan baik, termasuk juga kamar hotel yang sudah Andre siapkan untuknya.


"Baiklah, tapi aku jadi nggak enak sama kamu, Ndre," jawab Lidya.


"Kenapa memangnya? Santai saja lah."


"Aku nggak enak karena sudah merepotkan mu jadinya."


"Nggak masalah. Kamu seperti orang lain saja," sahut Andre cepat. "Sekarang cobalah hubungi mertuamu, sebelum lanjut ke tahap berikutnya."


"Siap! Kamu cocok jadi managerku, Ndre."


"Mana bisa? Yang ada ntar suami kamu itu marah-marah sama aku."


"Biarkan saja dia, jangan hiraukan, kalau nggak marah itu bukan dirinya."


Andre tertawa mendengar ucapan Lidya. Ia bisa maklum jika Lidya tidak seberapa memedulikan suaminya.


Lidya mencoba menghubungi ayah mertuanya. Lama ia menunggu, panggilannya tidak kunjung dijawab juga. Akhirnya ia pun menyerah. Mungkin mertuanya sedang sibuk dengan pekerjaannya, dan dirinya pun lama-lama merasa jengah, terlebih tujuannya adalah untuk kepentingan dirinya sendiri.


"Kenapa?" tanya Andre.


"Papa mertuaku tidak menjawab panggilan," jawab Lidya. "Mungkin sedang sibuk. Aku jadi nggak enak."

__ADS_1


"Nggak masalah, namanya juga mencoba. Nanti cobalah lagi, siapa tahu beliau sudah selesai dengan kesibukannya."


"Iya, nanti ku coba."


Andre menepuk lembut punggung tangan Lidya. Ia tidak mau sahabatnya itu patah harapan hanya karena tidak bisa menghubungi mertuanya.


"Apa kamu cukup dekat dengan beliau?"


Lidya mengangguk. "Nggak juga sih. Tapi beliau cukup bisa mengerti aku, dan sepertinya lebih mendukung aku daripada Alex."


"Itu berarti kamu cukup diterima di sana."


"Hanya Alex yang menolakku."


"Kamu sedih?"


Lidya tertawa kecil. "Sedih kenapa? Kami tidak saling mencintai."


Andre menghela napas panjang. Ia merasakan sedikit kegetiran dalam nada suara Lidya. Ia tahu, Lidya tentunya sangat sedih dan sakit hati dengan pernikahan paksa ini.


Dalam kediaman mereka saat itu, tiba-tiba ponsel Lidya berdering. Cepat Lidya nama sang pemanggil. Sudut bibirnya terangkat ketika orang yang ia tunggu kini balas menghubunginya.


"Ada apa? Maaf, tadi papa sedang meeting, jadi tidak sempat menjawab panggilan darimu."


Lidya tersenyum. "Tidak masalah, Pa. Lidya cuma mau cerita dan meminta ijin Papa."


"Apa itu? Katakanlah, Nak."


"Begini Pa, Lidya minta maaf, saat ini Lidya sedang cari pekerjaan di Bandung. Bukannya apa, Lidya tidak biasa berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun," jelasnya, mulai bercerita.


"Hm, lalu, apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan itu?"


"Saat ini Lidya sudah lulus tahap awal, besok Lidya lanjut ke tahap berikutnya," jawab Lidya. "Mereka mencari model baru yang akan dijadikan brand ambasador sebuah produk kecantikan, apakah Lidya boleh melanjutkan, Pa?"


Lidya menunggu sampai beberapa saat, dan akhirnya terdengar suara deheman kecil di sana.


"Papa selalu dukung keputusanmu, Nak, asal kamu paham bagaimana harus menjaga dan menempatkan diri di sana. Kamu istri Alex, papa tidak ingin kamu sampai dinilai buruk oleh orang lain hanya karena tidak bisa bersikap bagaimana seharusnya."


Lidya mengembuskan napas lega. "Itu berarti Papa mengijinkan Lidya untuk jadi model?" tanyanya, memastikan.


"Tentu saja. Papa percaya padamu sepenuhnya. Papa yakin kamu akan menjaga nama baik keluarga, terutama dirimu dan juga Alex," tegas Arman.


"Lidya oaham, Pa."


"Kamu berangkat ke Bandung bersama temanmu?"


"Iya Pa."

__ADS_1


"Maaf, laki-laki?"


"Iya Pa."


"Apa dia bisa menjaga dan menghormatimu sebagai istri Alex?"


Lidya tersenyum. "Namanya Andre, Pa. Kami bersahabat sedari kecil dulu. Tidak ada hubungan apapun diantara kami, selain persahabatan atau persaudaraan," jelas Lidya. "Andre menjaga Lidya dengan baik, dia sangat paham denga batasnya. Selama di sini, Andre yang menyiapkan semuanya untuk Lidya, termasuk hotel dan semua keperluan Lidya, terkait tes pekerjaan ini."


"Syukurlah kalau begitu. Aku hanya tidak ingin ada salah paham diantara kalian yang akhirnya justru membuat hubungan kalian renggang, oadahal kamu tahu, papa ingin kamu memenangkan hatinya, sebagai suamimu."


"Iya, Pa. Lidya mengerti."


"Ya sudah, kalau begitu papa tutup dulu ya. Sampaikan pada Andre, ucapan terima kasih dariku, dan aku akan mengganti semua biaya yang sudah dia keluarkan untukmu."


"Baik, Pa." Lidya langsung saja menyampaikan pesan dari Arman untuk Andre. Sontak Andre meminta dengan sopan, ponsel Lidya dan betmaksud untuk bicara secara langsung dengan Arman.


"Om, jangan khawatir, saya yang akan menjaga Lidya, ehm, maaf, Nyonya Alex Pradana di kota ini. Janji Andre tidak akan melukainya ataupun menyakitinya," ucapnya yang sontak membuat Arman tertawa. Entah kenapa mendengar suara Andre ia seketika merasa, bahwa Andre adalah orang yang menyenangkan dan bisa di percaya.


"Tolong kirim nomor rekeningmu, Nak. Aku akan mengganti semua biaya yang sudah kau keluarkan untuk menantuku."


Andre tertawa. "Tidak perlu, Om. Saya ikhlas, dan itu adalah kewajiban saya sebagai saudaranya," jawab Andre.


"Tidak bisa begiyu, dia menantuku, sudah sepantasnya kalau aku yang menanggung semua kebutuhannya."


Andre kembali tertawa. "Lakukan itu untuk kebutuhan Lidya yang lainnya, kalau di sini, biar Andre yang melakukannya. Tolong, beri saya kesempatan untuk menjadi seorang kakak yang baik baginya."


"Baiklah kalau itu maumu. Terima kasih karena sudah begitu baik terhadap Lidya."


"Sama-sama, Om."


Andre mengembalikan ponsel ke tangan Lidya.


"Pa, Lidya tidak bisa pulang hari ini, Lidya akan tetap di sini sementara, sampai tes itu selesai," pamitnya meminta ijin sekali lagi.


"Oke, jaga dirimu baik-baik. Oya, papa baru saja transfer ke rekeningmu. Pakailah untuk membeli semua keperluanmu di sana, jangan terlalu merepotkan Andre."


"Baik, Pa."


Arman menutup panggilan setelah selesai urusannya dengan Lidya.


"Bagaimana, sudah lega?" tanya Andre sembari tersenyum.


"Tentu saja."


"Selamat, kesuksesan sudah di depan mata."


"Masih belum."

__ADS_1


Saat mereka tertawa berdua, tiba-tiba datanglah seorang gadis yang lalu melingkarkan tangannya di leher Andre dengan erat. "Ternyata kau di sini," ucapnya sembari mengecup lembut puncak kepala Andre.


Lidya seketika merasa jengah dan tidak enak sendiri.


__ADS_2