Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Keresahan Alex


__ADS_3

"Lalu apa yang sebaiknya ku lakukan untuk memperbaiki kesalahanku?" tanya Lidya bingung.


"Tetap jalankan rencana dengan kesungguhan. Jangan biarkan lagi Alex mencicipi tubuhmu agar ia bisa sepenuhnya tertarik pada Sephia," tegas Sarah. "Bagaimana pun kalian sudah terlanjur basah, berkubang dalam hubungan pernikahan yang tidak jelas ini. Sudah saatnya kau mengubah takdirmu, menjadi seorang istri yang sesungguhnya bagi Alex."


Lidya termenung. Usia Sarah yang tiga tahun dibawahnya ternyata tidak membuat pemikirannya pun rendah. Gadis itu justru berpikir jauh dan menimbang semuanya dengan tepat. Sarah benar sepenuhnya. Ia harus segera merubah takdirnya dan memposisikan dirinya menjadi orang nomor satu di hati Alex.


"Hey kalian, cepatlah! Mereka sudah memanggil kita," seru Andre dari dalam mobil saat melihat kedua wanita itu melangkah keluar dari apartemen. Sontak Lidya dan Sarah berlari lalu masuk ke dalam mobil. Ponsel Lidya dan Sarah sudah berbunyi nyaring, tanda bahwa mereka sudah terlambat.


***


"Anda tidak bisa seenaknya begitu, Tuan. Kalau memang Anda mencintai Nyonya Lidya, ada baiknya Anda jujur mengakui dan tetap tinggal bersama beliau," ucap Kim, saat Alex selesai menceritakan semua keluh kesahnya.


"Kau sedang menggurui atau mengolok ku?" tegur Alex. Sontak Kim terdiam.


"Kau tahu, aku tidak bisa lepas begitu saja dari Lily," ucap Alex.


"Tapi Nona Lily 'kan sudah mau menikah, Tuan?"


"Dia tidak mencintainya, asal kau tahu," sahut Alex cepat.


"Darimana Anda tahu?"


"Dari sikapnya yang begitu pasrah padaku dan mau saja memenuhi keinginanku, seperti biasanya," jawab Alex.


Kim menunduk diam. Ini berarti tuannya sudah sering berhubungan di luar batas bersama model cantik itu. Kim menggelengkan kepalanya pelan. Ia begitu heran, hubungan Alex dan Lily sangatlah riskan, tetapi mereka bisa melaluinya selama dua tahun belakangan ini dengan lancar tanpa ada yang mengetahuinya. Lalu, bagaimana dengan kondisi calon suami Lily yang adalah juga seorang pengusaha itu? Bagaimana kalau pada akhirnya dia tahu tentang hubungan terlarang ini?


"Ada apa geleng-geleng kepala begitu? Aku tidak menawari mu wanita yang seperti waktu itu," tegur Alex. Kim mengerucutkan bibirnya.


"Bukan itu yang ku pikirkan. Aku hanya tidak habis pikir dengan hubungan Anda dan Nona Lily," jelas Kim.


"Cinta itu sangat rumit, Kim," ucap Alex. "Makanya cepat cari pendamping, biar kau bisa merasakan pusing seperti aku," selorohnya. "Sudah setua ini masih jomblo, apa nyaman sendirian?"


Kim tersenyum masam. "Memang jodohku masih jauh, Tuan."


"Kau hanya malas mencarinya, Kim. Saat kau sudah bertemu jodoh, kau tidak memanggil dan menjemputnya, makanya jodohmu menghilang dan menjauh lagi," olok Alex sembari terkekeh. "Rugi sekali masa muda mu dihabiskan dengan kejombloan sejati. Kau masih beruntung di hari itu aku berikan tester dua wanita sekaligus."


Kim mengumpat dan mengomel sejadi-jadinya. Alex tertawa. Ia ingat betul bagaimana Kim yang begitu kewalahan saat mendapatkan pelayanan maksimal dari dua wanita panggilan itu.

__ADS_1


"Hidup hanya sekali, maka nikmatilah, Kim. Jangan sampai kau menyesal karena telah menyia-nyiakan masa muda mu." Alex sok bijak. Kim mencebikkan bibirnya.


"Suatu saat aku pasti menemukan wanita yang cocok untuk ku jadikan pendamping," ucap Kim pelan, seolah sedang menyemangati dirinya sendiri.


"Memangnya bagaimana kriteria wanita idamanmu?" tanya Alex iseng.


"Boleh aku sebutkan?"


"Sebutkan saja sesukamu, kau bebas memilih dan menunjuk siapapun sebagai contoh," jawab Alex.


"Benarkah?"


"Ya!"


Kim berdeham pelan. Ia lalu menatap Alex tanpa berkedip. "Apa Anda tidak marah kalau aku sebutkan kriterianya?"


"Kau ini, apa alasanku untuk memarahi mu? Kau pikir aku akan cemburu? Jelek-jelek begini perkakasku masih tegak kalau melihat wanita, jangan kau kira aku sudah belok!" gerutu Alex tidak terima. Kim tertawa.


"Wanita yang ku cari sebenarnya yang sama seperti Nyonya Lidya," jawab Kim takut-takut. Sontak Alex menatapnya tajam.


"Kau menyukai istriku?"


Alex terdiam membeku. Kedua matanya masih menatap tajam pada Kim yang kini justru tertunduk takut. "Kau tidak boleh menyukai istriku, Kim. Ini peringatan bagimu!" tegurnya.


"Tapi Tuan mengacuhkannya, bukan? Tidak masalah kalau ada orang lain yang menyukai Nyonya," jawab Kim.


"Kau mau menentang ku?"


"Oh, tidak begitu Tuan. Aku hanya ingin memastikan saja. Kalau memang Nyonya tidak boleh aku jadikan acuan, ya tidak masalah, aku akan cari karakter dari wanita lain saja," jawab Kim. Alex tertawa keras.


"Kau ini lugu sekali. Tentu saja boleh kalau kau hanya menjadikannya acuan untuk mencari pasangan hidup, karena memang Lidya pantas untuk itu," jelas Alex.


"Berarti Anda mengakui kalau Nyonya memang pantas menjadi istri Tuan?"


"Tentu saja!"


"Lalu kenapa Tuan masih mencari kesenangan dari wanita lain? Ku kira Nyonya saja sudah cukup, ternyata masih kurang. Aku benar-benar tidak mengerti, Tuan."

__ADS_1


Alex tertampar mendengar ucapan Kim. Apa memang selama ini ia selalu merasa kurang? Dan sebenarnya apa yang ia cari selama ini? Kepuasan? Yang bagaimana? Karena sejatinya ia tidak pernah merasa puas dan terus saja berkelana mencari tempat untuk pulang dan menyandarkan hatinya yang sebenarnya sudah begitu lelah. Ia masih belum menemukan tempat yang bisa membuatnya nyaman, selain Lidya. Ya, sebenarnya hanya bersama Lidya ia baru merasakan kenyamanan. Tapi ia masih belum yakin sepenuhnya, karena masih ada Lily dalam hatinya.


"Jadi bagaimana, Tuan?" tanya Kim, membuyarkan lamunan Alex.


"Bagaimana apanya?" tanya Alex bingung.


"Boleh pakai target karakter seperti Nyonya, bukan?"


Alex tertawa lepas. "Pakai saja, tidak masalah. Asal kau tidak menyentuh istriku!" tegasnya. Kim tersenyum lega.


"Kau ini keras, tapi lembek kalau dalam hal cinta dan perasaan. Payah!"


"Kalau soal perasaan bukan bidang dan keahlianku, Tuan. Semua dibawah kekuasaan Anda," jawab Kim. "Angkat tangan dan angkat jempol untuk Tuan."


"Jangan berlebihan, biasa saja. Aku hanya mengikuti kata hati."


Keduanya lalu tertawa dan mengalihkan pembicaraan mereka ke hal lain, terutama pekerjaan kantor yang beberapa hari ini tertunda, karena Alex masih berada di Bandung. Meskipun bisa dikerjakan secara online, tapi sebenarnya Alex dan Kim lebih cocok secara offline dan bertemu langsung dengan orang-orang lapangan, begitu juga dengan semua laporannya.


"Apa ada rencana perpanjangan waktu di kota ini, Tuan?" tanya Kim.


Alex menggeleng pelan. "Mungkin tidak. Tapi aku masih belum yakin, karena aku masih ingin mengawasi Lidya."


"Bilang saja kalau sebenarnya Tuan takut kehilangan Nyonya," sindir Kim tepat sasaran. Wajah Alex semburat merah.


"Jangan sembarangan bicara!"


"Maaf, Tuan." Kim mengambil buku kerjanya lalu membuka halaman demi halaman hingga ia akhirnya sampai pada catatan kerja hari ini dan esok hari. "Untuk hari ini tidak ada hal yang penting, tetapi besok ada pertemuan dengan direktur utama dari jajaran manajemen NurFilm, di Cahaya Resto, tepat jam makan siang," ucapnya melaporkan.


"NurFilm?"


"Ya, tempat Nona Lily bernaung dibawahnya," jawab Kim. Sontak raut wajah Alex berubah cerah.


"Kita pulang ke Jakarta besok pagi," ucapnya. Tapi kemudian ia terdiam.


"Kenapa, Tuan?"


"Aku berubah pikiran. Kau saja yang menemui direktur NurFilm," jawab Alex.

__ADS_1


Kim tertegun.


__ADS_2