Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Tanda Kepemilikan


__ADS_3

"Siapa kau? Jangan lancang!" tanya sosok yang mengikuti Lidya dan Andre itu.


"Aku adalah orang terdekat pria, yang saat ini sedang kau ambil gambarnya!" jawab pria itu sembari tertawa lalu memberi kode dua orang pengawal di belakangnya untuk merampas ponsel penguntit itu.


"Jangan! Kembalikan ponselku!"


"Ambil ini, sebagai ganti ponsel butut yang kau buat mencari uang dengan cara jahat." Pria yang datang bersama pengawalnya itu mengulurkan tangannya yang memegang benda pipih berwarna hitam, memberikannya pada si penguntit.


"Aku hanya menginginkan ponselku."


"Tidak akan ku berikan sebelum kau bicara jujur, siapa yang membayar mu untuk ini," tegas sang pria sembari melangkah pergi meninggalkan pria itu. "Hajar dia lalu buang ke ujung jalan, dekat tempat pembuangan sampah," titahnya.


Sosok yang selalu mengikuti Andre dan Lidya itu pun berteriak. Ia meronta mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan kedua pengawal. "Lepaskan aku! Aku akan mengatakannya padamu," teriaknya sebelum pria perampas ponselnya masuk ke dalam mobil.


Dua pengawal menyeret penguntit dan berhenti di hadapan pria paruh baya itu. "Cepat katakan!"


"Nona Lily," jawab penguntit itu. "Beliau mau membayar saya mahal kalau bisa memberikan foto bukti perselingkuhan istri Tuan Alex, kekasihnya."


Sudut bibir pria paruh baya itu terangkat. Pancingannya berhasil. "Kau tahu siapa sebenarnya Lily itu?"


Penguntit itu menggeleng. "Hanya tahu kalau beliau seorang model dan kekasih Tuan Alex, putra pengusaha besar Pradana."


Pria paruh baya itu mengangguk paham. "Aku akan membayar mu tiga kali lipat, jika kau mau menyelidiki tentang Lily," ucapnya menawarkan.


Sontak kedua mata penguntit itu membelalak lebar. "Saya mau, Tuan," jawabnya tanpa pikir panjang.


"Yakin?"


Penguntit itu mengangguk tegas berkali-kali. Jika ada yang jauh lebih banyak, buat apa ia harus berpikir terlalu lama untuk menjawabnya?


"Oke, sekarang kau kirim foto ini padanya dan tunggu apa reaksinya," titah pria itu. "Kau masuklah dulu ke mobil!"


Penguntit itu masuk dan duduk di samping sang pria paruh baya lalu mengirim foto yang ia dapatkan itu pada Lily.


"Dengan begini kau akan dapat dua kali bayaran, dari Lily dan juga dariku."


Penguntit itu tersenyum lebar. Bayangan tentang banyaknya uang yang akan ia terima kini memenuhi benaknya. Ada banyak hal yang akan bisa ia beli dengan uang itu.


"Bagaimana, sudah ada balasan dari Lily?"


"Belum ada, Tuan. Biasanya beliau sibuk di jam seperti ini."

__ADS_1


"Oke, tunggulah saja. Nanti setelah dia balas, kirim ke nomor ini." Pria paruh baya itu memberikan kertas bertuliskan nomor ponselnya. Ia lalu meminta penguntit itu keluar sebelum akhirnya ia pun pergi bersama seluruh anak buahnya.


"Sudah kau copy rekaman dan juga foto-foto itu?" tanya pria paruh baya itu pada salah satu pengawalnya.


"Sudah, Tuan."


"Bagus, simpan baik-baik."


***


Alex keluar dari kamar mandi dengan uring-uringan. Ia lalu berdiri di depan kaca rias milik Lidya lalu mengumpat dengan keras ketika melihat banyak tanda kepemilikan yang tertinggal pada leher, wajah dan dadanya.


"Dasar wanita liar!" gerutunya sembari berkali-kali menggosok tanda kepemilikan itu kuat-kuat hingga kulitnya memerah dan lecet karenanya.


Alex berteriak marah. Semua tanda itu tidak bisa hilang dari tubuhnya. Cepat ia menyambar ponselnya lalu menghubungi Kim, orang kepercayaannya.


"Kim, cepat datang ke rumahku!" teriaknya kesal yang lalu melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang.


"Apa aku harus melakukan operasi pengelupasan kulit biar semua tanda laknat ini menghilang dari tubuhku?" geramnya. "Sepertinya aku harus menjadwalkannya!"


Alex menghempaskan tubuhnya dengan keras ke atas ranjang. Ia membayangkan semua hal yang sudah ia lakukan bersama Inge, di kamar hotel. Seketika wajahnya merona merah. Ia mengingat dengan jelas, ketika ia menyerang Inge dengan membayangkan tubuh Lidya dan selalu menyebut nama istrinya itu. Ia justru heran karena tidak menyebut nama Lily.


Membayangkan tentang tubuh Lidya membuat darahnya mendidih dan sesuatu dalam dirinya bangkit seketika. Ia tak kuasa menahan diri hingga akhirnya ia harus kembali berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menuntaskan hasratnya di sana, tentu saja sembari membayangkan Lidya.


Sementara itu di luar, Kim datang dengan tergesa lalu mengetuk pintu utama rumah besar milik Alex dan Lidya. Lama tidak ada sahutan dari dalam ia pun menekan bel pintu dan akhirnya seorang maid yang membukakan pintunya.


"Silahkan masuk, Tuan Alex masih belum keluar dari kamar," ucapnya menyambut Kim.


Kim mengangguk dengan gaya kakunya, lalu berdiri tegak di depan pintu kamar Alex, di iringi tatapan heran dari sang maid. Kim meliriknya tajam lalu menghardiknya untuk segera pergi menjauh. Ia paham benar tentang apa yang ada dalam benak para maid itu.


"Masuklah!" titah Alex saat ia membuka pintu untuk Kim.


"Carikan informasi untukku!"


Kim menatap Alex penuh tanya. "Informasi tentang apa, Tuan?"


"Tentang operasi pengelupasan kulit!"


Kim melongo mendengarnya. "Kulit apa?"


"Kulit ku, Kim, cepatlah! Aku sudah tidak tahan lagi," bentak Alex.

__ADS_1


Kim semakin melongo. "Maksudnya bagaimana?"


Alex menjambak rambutnya dengan keras. Ia begitu frustasi karena Kim tak kunjung paham juga dengan maksudnya. Dengan satu gerakan cepat, ia melepas kaos yang ia kenakan lalu menunjukkan leher dan dadanya ke hadapan Kim.


"Lihat ini, aku bingung cara untuk menghilangkannya!" geram Alex.


Kim membeku di tempatnya. Ia tidak pernah melihat tanda itu sama sekali sebelumnya. Ia tertegun sembari melihat semua tanda di tubuh Alex satu persatu. "Siapa yang menggambarnya, Tuan?" tanyanya lugu.


Alex memutar bola matanya malas. Sekali lagi sepertinya ia sudah salah tempat untuk bertanya. "Ini tanda anu, ehm, ah, kau tidak akan bisa mengerti, Kim! Aarrrrgh! Sial!" oceh Alex putus asa.


"Apakah ini semacam tato permanen?"


"Ya, begitulah!"


Kim terlihat berpikir sejenak lalu membuka ponselnya, mencari satu informasi yang pernah ia baca di internet. Alex menunggunya dengan tidak sabar.


"Butuh waktu berapa lama untuk mencari informasi ini?" tanyanya gusar.


"Cukup lama, Tuan. Mungkin bisa bertahun-tahun," jawab Kim tanpa melihat ke arah Alex.


"Apa? Tidak!" teriak Alex gusar. "Kenapa bisa selama itu?"


"Karena itu tato permanen, Tuan."


"Pasti ada cara khusus untuk menghilangkannya."


Kim menatap Alex ragu. "Satu-satunya cara hanya dengan operasi," ucapnya.


"Operasi pengelupasan kulit? Oke, aku siap! Kita berangkat sekarang!" putus Alex seketika. Ia lalu menyambar dompet dan jaketnya lalu melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Kim termangu sendirian di sana.


"Satu tato biayanya sekitar sepuluh juta, Tuan. Tato yang Anda miliki jumlahnya sangat banyak, saya belum menghitungnya," teriak Kim yang seketika membuat Alex menghentikan langkahnya.


"Cepat hitung!"


Sontak Kim menghitung satu persatu tanda kepemilikan yang menempel pada leher, dada dan punggung bagian atas tubuh Alex lalu mencatatnya. Tingkah kedua pria itu tak lepas dari pandangan mata para maid yang kini sedang membersihkan meja makan, persiapan untuk makan malam.


"Ada berapa?" tanya Alex.


"Dua puluh tiga tato," jawab Kim. "Ah, ternyata ada yang menempel di wajah Anda, Tuan."


"Apa? Tidak! Aku tidak mau operasi wajah, nanti semua tidak akan mengenaliku karena wajah tampanku menghilang!" teriak Alex putus asa.

__ADS_1


Sontak Kim memutar bola matanya malas.


__ADS_2