Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Datang Lagi


__ADS_3

Lidya bersandar lemas di ujung tempat tidurnya. Hatinya begitu sakit ketika harus menerima perlakuan Alex yang begitu kasar padanya. Jelas terlihat bahwa dirinya begitu remeh dan tidak sangat tidak berharga di hadapan pria yang menyebut dirinya suaminya itu.


Lidya mengusap air matanya yang kini sudah membasahi wajahnya. Entah sampai kapan ia bisa bertahan dari siksaan neraka rumah tangga "terpaksa" ini. Jika mengingat permintaan dari Arman, ayah mertuanya, rasanya sangat mustahil bagi Lidya untuk bisa memenangkan hati Alex.


Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah bersyukur, karena kini Alex telah memberinya kebebasan untuk melakukan apa saja sesuka hatinya. Itu berarti, dirinya bebas untuk keluar masuk rumah itu kapan saja yang ia mau.


Dalam keheningan Lidya berpikir untuk bisa menghabiskan waktu. Untuk dian saja dan bersantai ria di rumah adalah bukan kebiasaan Lidya. Ia terlalu biasa melakukan banyak hal dan tidak mau membuang waktu sedikitpun dengan sia-sia.


"Aku harus mencari pekerjaan," gumamnya. "Berdiam diri sepanjang hari di sini hanya akan membuatku tersiksa dan justru semakin meratapi nasibku yang masih tidak tentu ini."


Lidya membuka laptopnya dan mulai mencari pekerjaan yang sekiranya bisa ia lakukan secara online, untuk menambah penghasilannya selain dari toko online miliknya.


Alex sudah mengatakan bahwa ia tidak akan memberinya nafkah sedikitpun, maka ia harus pandai-pandai mencari cara untuk bisa mendapatkan penghasilan sendiri tanpa harus meminta pada orang tuanya. Dan itu sangat ia hindari, karena ia tidak mau menyusahkan mereka. Biarlah ia simpan dan rasakan sendiri semua penderitaannya saat ini.


Sudah hampir satu jam berkutat mencari lowongan pekerjaan, Lidya masih tetap belum menemukan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Nyaris ia putus asa, tetapi tiba-tiba ia teringat pada Andre. Mungkin sahabatnya itu bisa memberinya bantuan, setidaknya Andre mungkin bisa mencarikan informasi lowongan pekerjaan untuknya.


Lidya menyambar ponselnya dengan penuh semangat. Ia berharap Andre masih mau menjawab panggilan dan berbicara dengannya, meskipun Alex sudah menyakitinya.


"Ya, Lid?" Benar saja, Andre menjawab panggilan Lidya dengan cepat, tak urung Lidya pun mengembuskan napas lega.


"Ndre, maafkan suamiku," ucap Lidya penuh penyesalan.


Terdengar tawa Andre di ujung panggilan. "Aku bisa memakluminya, jangan khawatir," jawabnya.


"Aku tidak menyangka kalau Alex mau datang."


"Tidak masalah Lidya, itu wajar bagiku, karena memang haknya, dia suami kamu."


Lidya menghela napas panjang. "Makasih atas pengertiannya. Itulah kamu, Ndre. Satu hal yang selalu ku kagumi darimu, kesabaran dan ketulusanmu padaku."


Andre pura-pura takjub. "Benarkah? Kamu mengagumi ku?"


Lidya terkekeh. "Jangan ge-er deh. 'Kan cuma kagum."


Andre tertawa lepas. "Omong-omong, kamu bisa bebas bicara denganku, dimana suamimu? "


"Sudah pergi. Aku sendirian sekarang," jawab Lidya.


"Nggak masalah kamu ngobrol sama aku?"


"Nggak dong, Andre sudah kasi aku kebebasan, setidaknya mulai saat ini, sejak aku memprotesnya."

__ADS_1


"Protes tentang sikapnya?"


"Ya. Aku tidak suka perlakuannya padamu, terlebih padaku saat dia mengajakku pulang."


"Kenapa Lid, dia kasar sama kamu?" tanya Andre geram.


"Nggak, ya gitu deh, suka maunya sendiri, dasar pria kutub."


Andre hanya mampu menghela napas di ujung sana. Ia begitu kesal karena tidak mampu melakukan apapun untuk membantu Lidya, setidaknya untuk saat ini.


"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Andre, mengingatkan pada tujuan Lidya menghubunginya.


"Ah iya, aku sampai lupa. Apa kamu bisa membantuku, Ndre?"


"Bantu apa dulu, nih?"


"Kamu 'kan pengusaha, mungkin kalau ada informasi tentang lowongan pekerjaan yang sesuai denganku, aku minta tolong kabari aku, ya," jawab Lidya.


Sontak Andre tertawa mendengarnya. "Informasi lowongan pekerjaan, hm?"


"Iya, Ndre, aku butuh pekerjaan saat ini," jawab Lidya.


"Nggak salah? Ortu mu dan juga suamimu itu orang kaya, buat apa kamu mencari lowongan pekerjaan?" pancing Andre. Sebenarnya ia merasa heran juga, kenapa Lidya sampai seperti itu, apakah suaminya tidak memberinya nafkah?


"Oh gitu, kirain suamimu itu nggak nafkahin kamu," celetuk Andre.


"Nggak lah, cuma biar nggak bosan aja di sini."


"Ehm, apa besok kira-kira kamu bisa datang ke kantorku?" tanya Andre tiba-tiba.


"ke kantormu yang di Bandung?"


"Ya, di Bandung. Bisa?"


Lidya terdiam memikirkan pertanyaan Andre. "Buat apa aku ke sana?"


"Katanya butuh pekerjaan? Aku lagi ada lowongan, yang mungkin sangat sesuai denganmu," jawab Andre antusias.


"Oya? Apa itu, spil dong kerja apa dan bagaimana?"


"Kamu bisa lihat dan tahu sendiri besok, kalau datang," jawab Andre.

__ADS_1


"Ck! Selalu ya, suka banget bikin aku penasaran!" protes Lidya.


Andre tertawa di ujung sama. Tertawa puas hingga membuat Lidya seketika cemberut.


"Bersiaplah, besok pagi aku jemput," titah Andre.


"Oke, baiklah."


"Jangan lupa pamit sama suami kamu, Lid."


"Siap, Mister Bawel."


***


Maria melangkah ke pintu dengan tergopoh-gopoh. Seseorang sudah mengetuk pintu dan menekan bel beberapa kali. Maria takut seseorang itu pergi, karena tidak sabar menunggu pintu dibukakan.


Lidya sedang berada di kamarnya, di lantai dua. Ia tidak mendengar suara-suara dari bawah. Hari itu ia pulang ke rumah orang tuanya, untuk mencari beberapa pakaian yang pantas, yang akan dipakainya pergi ke Bandung, bersama Andre.


"Andre?" Maria terkejut saat melihat ternyata Andre yang datang bertamu.


Andre tersenyum dan mengangguk sopan. "Andre mau jemput Lidya, Tante," jawabnya.


"Ada, Lidya nya masih di kamar, kamu duduklah dulu, biar Tante panggilkan Lidya," jawab Maria dengan perasaan gelisah, ia takut Alex tiba-tiba datang lagi dan membuat kacau semuanya.


"Ma, Lidya pergi dulu sama Andre, ke Bandung," pamit Lidya sembari melangkah turun dari tangga lalu menghambur memeluk ibunya dan mencium takzim, punggung tangan orang yang sudah mengandung dan melahirkannya ke dunia ini.


"Kamu sudah bilang sama Alex, Nak?" tanya Maria memastikan.


"Sudah, Ma. Alek setuju saja, aku di ijinkan untuk keluar juga, tetapi harus tetap jaga diri," jawab Lidya.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Maria. "Akan kamu bawa kemana, anakku ini, Ndre?" tanya Maria yang kini melangkah mendekati Andre.


"Ke tempat kerja Andre, Tante, seperti yang saya katakan kemarin, kami sedang membutuhkan seseorang yang cocok untuk menjadi model iklan kami," jelas Andre sembari mengedipkan satu matanya dan menempelkan telunjuknya pada bibir, memberi kode pada Maria agar tidak membocorkan rahasia ini pada Lidya.


"Baiklah, semoga sesuai dengan kriteria yang kamu cari, Nak," ucap Maria memberi dukungan.


Andre mengangguk dan tersenyum, lalu segera menarik lengan Lidya, mengajaknya untuk segera pergi, di iringi tatapan penuh harap dari Maria.


"Nikmatilah masa muda kalian, anak-anak ku," desisnya dalam hati.


"Kenapa kau ijinkan mereka pergi berdua?" tegur seseorang yang baru datang

__ADS_1


"Alex?"


__ADS_2