Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Ketahuan


__ADS_3

Lidya melangkah keluar dari kamar Alex dengan hati lega. Kali ini tidak ada penolakan atau ucapan kasar Alex. Sepertinya kopi yang ia buatkan lagi sudah sesuai dengan seleranya, berkat bantuan Bik Marni.


"Mbak Lidya tidur saja, biar bibik yang bersihkan dapur," ucap Bik Marni saat melihat Lidya mulai membersihkan bekas kopi yang ia buat.


"Nggak apa-apa, Bik. Lidya biasa seperti ini," jawab Lidya sembari tersenyum. "Bibik sudah lama mengenal Alex?"


Bik Marni mengangguk. "Iya, sudah sejak Mas Alex lahir. Bibik sudah seperti neneknya," jawabnya sumringah. "Sebenarnya Mas Alex itu baik kok, Mbak. Hanya saja Mbak Lidya masih belum kenal betul sama beliau."


"Iya Bik," jawab Lidya singkat. "Baik bagaimana, kasar dan dingin begitu?" gumamnya dalam hati.


"Iya, memang awalnya terkesan dingin, tetapi Mas Alex sebenarnya suka bercanda." Bik Marni menambahi, seolah bisa membaca pikiran Lidya. Lidya kembali tersenyum.


"Sudah selesai, Bik. Lidya masuk kamar dulu ya, cape banget," pamit Lidya.


"Biar bik Marni bantu, tadi saya lihat ada koper besar di depan pintu," ujar Bik Marni yang lalu melangkah lebih dulu dan menyeret koper Lidya, membawanya masuk ke dalam kamar.


"Bik Marni repot saja, tidak perlu, biar Lidya sendiri saja yang bawa."


"Nggak masalah, Mbak. Bik Marni lagi gabut, belum ada kerjaan."


Lidya menghela napas panjang lalu membiarkan Bik Marni menyimpan semua pakaiannya ke dalam lemari dengan hati-hati, karena ia tahu, semua pakaian itu pasti harganya sangat mahal. Keluarga Arman tidak pernah mau membeli pakaian murah, seperti dirinya.


"Besok pagi biar bibik setrika ya, Mbak. Ini ada beberapa yang kusut," ucap Bik Marni sembari menyendirikan beberapa pakaian yang kusut ke atas keranjang.


"Iya, Bik. Terima kasih. Tapi biar Lidya sendiri yang setrika, tadi Lidya sudah janji sama Alex."


"Itu kan sebelum bibik datang," sahut Bik Marni.


Lidya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia lantas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu keluar dan bersiap untuk tidur.


"Sudah selesai. Selamat beristirahat, Mbak. Malam ini masih sendiri, tapi bibik yakin, lusa atau minggu depan Mas Alex bakal menyusul Mbak Lidya ke kamar ini," ucap Bik Marni sembari terkekeh.


"Apa'an sih, Bik," gerutu Lidya jengah. Baru pertama kenal dengan Bik Marni dirinya sudah merasa nyaman dan tidak canggung. Mungkin karena Bik Marni orang yang baik dan ramah, mau memberinya saran serta bantuan. Lagipula Bik Marni lah yang nantinya akan selalu ada bersamanya di rumah ini, jika Alex berangkat kerja.


Bik Marni keluar dari kamar Lidya lalu menutup pintu dengan hati-hati. Wanita itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Sudah sedewasa ini ternyata, Mas Alex. Tahu-tahu sudah menikah. Istrinya cantik pula," gumamnya.


***


Hari ini Alex tidak datang ke kantornya. Ia lebih memilih untuk mendatangi Lily di tempat pemotretan. Di daerah dekat puncak, untuk iklan produk kecantikan.


Alex menatap kekasihnya itu dengan perasaan bangga. Lily terlihat begitu cantik dalam balutan gaun tipis, berbahan lembut dan sedikit berkilau di bagian bawahnya. Kulitnya yang putih mulus ter-ekspose dengan jelas, membuat semua mata menatap takjub pada wanita itu.


Tak salah jika Alex begitu mencintainya. Selain karena nama Lily sudah terkenal di masyarakat luas, latar belakang keluarganya pun tidak diragukan lagi, bisa dikatakan sepadan dengan status sosial keluarganya. Maka dari itu ia sangat heran ketika mengetahui ayahnya yang justru berkeras menikahkan dirinya dengan anak seorang pengusaha gagal, dengan mengatas namakan persahabatan. Alex mendengkus kesal.


"Tuan, maaf, sebaiknya Anda memakai topi dan kacamata hitam. Ada beberapa wartawan yang datang," bisik salah satu bodyguard Alex.

__ADS_1


"Aku tidak membawa kacamata hitam," desis Alex. Ia tadi berangkat terburu-buru, karena Lily mengiriminya pesan bahwa pemotretannya dilakukan pagi hari, lebih pagi dari biasanya karena mengambil latar belakang matahari terbit, di lokasi perbukitan itu.


"Pakai ini saja, Tuan." Bodyguardnya itu memberikan kacamata hitam miliknya pada Alex yang langsung disambar dan dipakai oleh Alex.


"Cih! Kacamata murahan, sangat tidak nyaman!" gerutu Alex yang sontak membuat bodyguardnya itu tertunduk malu. Apalah dirinya ini, yang hanya memiliki gaji hanya secuil kecil dari pendapatan milik tuan besarnya itu. Seharusnya Alex bisa menyadarinya.


Lily tersenyum kaku saat melihat kedatangan beberapa wartawan yang langsung melontarkan beberapa pertanyaan padanya. Wanita itu terlihat tidak nyaman dan tidak ingin di ganggu di saat istirahatnya.


Alex nyaris berlari untuk membantu Lily, namun tangan kekar dua bodyguard menahan langkahnya. "Sabar, Tuan. Jangan sampai keberadaan Anda terlihat. Ingat, saat ini Anda sudah menikah dengan Nyonya Lidya," ucap salah satu bodyguardnya, mengingatkan.


Sontak Alex kembali duduk sembari mengumpat. "Pernikahan ini sangat menggangguku!"


Kedua bodyguardnya kembali berdiri siaga. Mereka hanya diam mendengarkan segala sumpah serapah yang keluar dari mulut tuannya. Bukan hal rahasia lagi bagi semua anak buah dan bodyguard keluarga Arman, tentang pernikahan paksa Alex dan Lidya. Mereka semua mengetahui tentang perjodohan itu dan menjaga segala rahasianya dengan baik.


Setelah menunggu hingga dua jam lamanya, barulah Lily selesai dengan pekerjaannya. Alex sampai ketiduran di kursi dan baru membuka matanya saat salah satu bodyguardnya memberitahu bahwa Lily baru saja pergi ke apartemennya.


Sudut bibir Alex terangkat. Kini ia dalam perjalanan menyusul kekasihnya itu. Tak lupa ia mengirim pesan terlebih dahulu, agar Lily bisa bersiap seperti biasanya.


Namun senyumnya menghilang, ketika Lily tak juga membaca pesan yang ia kirimkan. Alex menggerutu kesal sembari menatap mobil hitam milik Lily yang melaju kencang di depan mobilnya.


Tidak sabar, Alex langsung saja menekan nomor kontak milik Lily, untuk bicara dengannya.


"Ya, halo."


"Halo, siapa Anda?"


"Dengan asisten Nona Lily, ada yang bisa saya bantu?"


Alex mendecak kesal. "Aku ingin bicara dengannya."


"Maaf, Anda siapa?"


"Katakan saja, Alex Pradana menghubunginya, dia sudah tahu siapa aku."


"Tetapi Nona Lily tidak membawa ponsel. Ini ketinggalan di tas saya, Tuan. Nanti saya sampaikan pesan Anda melalui manager."


Alex mengumpat kesal. "Kenapa tidak bilang dari tadi kalau dia tidak membawa ponsel?" protesnya.


"Maaf, saya baru ingat kalau ini ponselnya."


"Ya sudah, terima kasih." Alex langsung saja mematikan panggilan secara sepihak. Ia lalu menyugar rambutnya lalu mengusap kasar wajahnya. Ia berpikir, mengapa akhir-akhir ini ia merasa mulai kesulitan untuk menemui Lily.


Ya, sejak tahu Alex telah menikah, Lily sudah memerintahkan asisten dan juga semua orang yang terkait dengannya untuk memberikan alasan apapun jika Alex menghubunginya. Bukan karena ada masalah diantara mereka, tetapi Lily ingin menjaga nama baiknya di hadapan media. Ia takut dikatakan sebagai seorang pelakor, jika ia kedapatan masih berhubungan dengan pria itu. Meskipun sebenarnya ia sangat mencintai Alex.


Lily melangkah cepat menuju apartemennya. Dengan pengawalan ketat dari dua orang pria kekar yang melangkah tegap di belakangnya. Tidak heran, karena Lily termasuk seorang model dengan banyak penggemar yang sering nekat mendekat dan menyentuh kulitnya. Lily sangat tidak menyukainya.

__ADS_1


"Lily."


Dua pengawal Lily bergerak cepat menyambar lengan Alex yang berusaha masuk ke dalam apartemen Lily.


Lily menatap Alex lalu beralih pada kedua pengawalnya. "Tolong lepaskan, biarkan dia masuk."


"Baik, Nona."


Mereka melepas cekalan pada lengan Alex, lalu berdiri siaga di depan pintu apartemen Lily, saat wanita itu sudah menutup pintunya.


"Maaf, aku lancang masuk ke sini," sesal Alex. Ia menatap nanar Lily yang saat itu terlihat lelah.


"Apa ada yang melihatmu?"


Alex menggeleng. "Sepertinya tidak ada."


"Baguslah." Lily menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas sofa.


"Letih? Biar aku pijit kakimu," ucap Alex.


Lily tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Jangan. Kau bukan kacungku."


Alex tersenyum penuh haru. Gadis itu selalu bisa menghargai dirinya dan tidak pernah berbuat semena-mena pada siapapun ataupun bersikap sombong.


"Miss you, Lily."


"Aku sudah di dekatmu, Alex."


Alex beringsut, semakin mendekatkan dirinya pada Lily. "Boleh aku memelukmu?"


Lily hanya tersenyum seraya menatap Alex sendu. "Hanya memeluk? Apakah ruang gerakmu sekarang terbatas karena pernikahan itu?"


Alex tercekat. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan Lily. "Tapi aku mencintaimu," jawabnya dengan susah payah.


Lily hanya tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Alex. "Aku lelah. Aku tidak yakin bisa menunggumu selama satu tahun."


"Jangan begitu, bersabarlah." Alex merengkuh tubuh Lily lalu memeluknya dengan erat. Lily menyambutnya dan membalas pelukan Alex.


Keduanya terdiam dalam pelukan. Alex mencium lembut bibir Lily, lalu ********** sepenuh perasaan. Begitu juga dengan Lily. Keduanya saling memagut, menyatukan perasaan yang sudah satu tahun lamanya terjalin. Tetapi kini ada batas yang begitu kokoh, menjadi penghalang hubungan mereka.


BRUAKK!


Keduanya terkejut, tautan bibir itu terlepas begitu saja saat pintu apartemen Lily terbuka dengan keras.


"Alex, pulang!"

__ADS_1


__ADS_2