Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Beda Jauh


__ADS_3

"Kamu datang?" tanya Maria dengan suara bergetar.


"Ya, kau sudah lihat sendiri bukan?"


Maria hanya mampu menghela napas saat menerima perlakuan dan sapaan yang tidak sopan dari menantunya itu.


"Lain kali kau jangan mengijinkan mereka pergi berdua. Ingat, anakmu itu sekarang istriku, apa kata orang nanti kalau dia pergi bersama lelaki lain?" tegur Alex kesal.


"Bukannya Lidya sudah minta ijin padamu?"


Alex terdiam. Ia tadi memang mengijinkan Lidya untuk pergi, pada awalnya. Tetapi setelah berpikir panjang, Alex berubah pikiran. Ia tidak ingin istrinya itu keluar bersama Andre. Ia akan mengijinkan jika Lidya keluar bersama teman-teman wanitanya, bukan teman lelaki.


"Tapi seharusnya dia menungguku terlebih dahulu kalau mau berangkat," gerutu Alex.


"Lidya tahu kalau kau mau datang, Nak?" tanya Maria.


Alex terpaksa menggelengkan kepalanya, karena memang ia tidak memberi tahu Lidya kalau mau datang ke rumah itu. Ia sendiri sebenarnya juga merasa heran, kenapa hanya karena masalah ini saja, ia rela mengorbankan waktunya yang berharga, hanya untuk datang dan melarang Lidya untuk pergi dengan lelaki lain, terlebih itu Andre, yang ia tahu dari sorot matanya, pemuda itu sepertinya menyimpan rasa terhadap Lidya. Alex tidak bisa terima jika itu benar-benar terjadi.


"Kalau tidak tahu, ya nggak salah dong kalau Lidya pergi begitu saja, terlebih dia sudah mengantongi ijin darimu," celetuk Maria, menahan kekesalannya.


"Tetap saja salah, bukannya bertanya dulu aku mau datang atau tidak, eh, malah kabur duluan sama pria lain. Apa itu pantas?" gusar Alex. Ia tidak terima jika berada di posisi yang salah.


Maria menggelengkan kepalanya heran. "Ya sudah, maafkan ibu dan juga Lidya," ucapnya mengalah. Ia tidak ingin lagi berdebat dengan manusia arogan seperti Alex ini. Yang ada nanti penyakit darah tingginya makin menjadi.


"Sekarang hubungi dia, suruh pulang!" titah Alex pada Maria.


Sontak Maria membelalakkan kedua matanya. Alex begitu seenaknya dan kurang ajar di hadapannya. Jika bukan karena hutang Pramana yang mereka bayarkan, mungkin saat ini Maria akan dengan senang hati mencakar wajah Alex itu, tidak peduli jika Alex adalah menantunya. Toh Lidya juga tidak mencintainya.


"Kamu itu suaminya, harusnya kamu dong yang hubungi Lidya, jangan Tante, karena pasti tidak akan di dengar oleh Lidya." Maria menolak perintah dari Alex.


"Oh jadi Lidya tidak pernah mau mendengarmu? Pantas saja," gumamnya dengan wajah yang sangat menyebalkan di depan Maria yang kini cuma bisa mengelus dadanya berkali-kali.

__ADS_1


Alex mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Lidya. Menurutnya Lidya masih belum jauh dan masih bisa kembali, jika ia memintanya dengan paksa.


"Ada apa? Aku sedang di jalan," jawab Lidya malas.


"Pulanglah sekarang juga," perintah Alex tanpa basa basi terlebih dahulu.


"Ck! Kami sudah setengah perjalanan, dan kau tidak berhak melarangku! Kau lupa kalau tadi sudah mengijinkan aku pergi, hm?" Protes Lidya.


Alex hendak membalas namun Lidya sudah terlebih dahulu menutup panggilan secara sepihak. "Bangs*t!" umpatnya kesal. Nyaris ia buang ponselnya ke lantai, namun urung, karena terdengar ada suara panggilan yang masuk.


"Ada apa, Pa?" jawab Alex.


"Tolong jangan terlalu kasar dan keras pada Lidya. Dia itu sekarang istri sah mu, dan juga kamu harus lebih menghormati kedua orang tua Lidya, mereka mertuamu, Lex," tegas Arman.


Sontak Alex menatap curiga pada Maria, tetapi wanita itu terlihat hanya berdiri diam dan tidak memegang ponsel. Lalu darimana ayahnya tahu kalau ia seperti itu pada Lidya dan ibunya?


"Alex tidak melakukan apapun, Pa," jawab Alex sembari menyugar rambutnya dengan gusar.


"Jangan berbohong, papa sudah tahu semuanya," gertak Arman.


"Tidak penting papa tahu dari siapa, yang jelas, saat ini kembalilah ke kantor dan urus l**ah pekerjaanmu!"


"Tapi Pa, Lidya ...."


"Kenapa dengan Lidya, kamu cemburu? Katanya kamu tidak cinta? Maka biarkan saja dia pergi dengan siapapun yang dia mau, toh kamu sudah berjanji padanya tidak akan mencampuri urusannya, sebagaimana dia juga tidak pernah mencampuri urusanmu," tegas Arman.


Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku tidak mau kalau nanti Lidya ...."


"Sudah! Papa tidak mau dengar apapun alasan darimu. Hormati prifacy Lidya, sebagaimana kamu selama ini masih bebas di luar sana dengan teman-teman wanitamu."


Alex mengumpat sejadi-jadinya dalam hati. Bagaimana mungkin ayahnya itu tahu benar apa yang sudah ia ucapkan dan janjikan pada Lidya? Sedangkan saat itu hanya ada dirinya dan Lidya saja di rumah. Apakah mungkin Lidya yang sudah mengatakan semuanya pada ayahnya itu?

__ADS_1


"Jangan terlalu pusing memikirkan papa tahu darimana, yang jelas bukan Lidya yang melapor pada papa. Camkan itu! Lidya justru selalu menutupi keburukanmu di depan papa, dia tidak pernah bicara buruk tentangmu jika papa tanya," jelas Arman yang khawatir Alex akan memarahi Lidya, karena ia sudah tahu semuanya.


"Oke, Pa." Alex menghela napas panjang.


"Kembalilah ke kantor, jangan lupakan janjimu," titah Arman.


"Iya Pa, Alex berangkat sekarang."


"Bagus! Pamitlah dengan sopan dengan mertuamu, awas kalau kamu masih kurang ajar, memalukan!" gertak Arman yang lalu menutup panggilan secara sepihak.


Maria menahan senyumnya saat melihat Alex begitu tunduk dan patuh pada ayahnya. Ternyata sikapnya sangat jauh berbeda jika berhadapan dengan Arman. Tidak nampak lagi garang dan auman macannya, yang ada hanyalah telinga kelinci panjang yang menekuk kebawah dengan begitu lemah. Saat itu juga Maria paham, bagaimana karakter dan sifat Alex yang sesungguhnya. Satu hal yang nantinya akan dia sampaikan pada Lidya, sebagai bekal untuk bisa menaklukkan hati Alex.


"Ehm, Tante, Alex berangkat kerja dulu," pamit Alex tanpa menatap Maria. Wajahnya terlihat merona. Dengan cepat ia membuang muka saat Maria mengulurkan tangannya untuk menyalami Alex.


"Hati-hati, Nak. Jaga diri baik-baik, semoga pekerjaanmu lancar hari ini," ucap Maria, nendoakan dengan tulus.


Karena Maria tetap mengulurkan tangannya, akhirnya Alex pun terpaksa menerima dan mencium punggung tangan itu dengan setengah hati. Matanya melirik ke segala arah, berjaga-jaga jika ternyata ayahnya sedang mengawasinya di tempat yang tersembunyi. Maria tersenyum lega.


Setelah selesai ritual yang membuat Alex gerah, ia lalu melenggang pergi begitu saja menuju mobilnya yang ia parkir di depan pagar rumah itu. Ia sengaja tidak memarkirkan mobilnya di halaman, agar Lidya tidak mengetahuinya.


"Sudah pulang?" tanya Pramana yang muncul dari balik pintu ruang kerjanya.


Maria mengangguk sembari terus memandangi kepergian Alex, hingga terlihat menjauh dan hilang.


"Hampir saja tadi aku berlari keluar untuk menamparnya, dasar anak kurang ajar!" geram Pramana.


"Lalu kenapa kau tidak langsung keluar? Takut?" sindir Maria. Ia lalu memutar tubuhnya hendak masuk ke dalam kamar, tanpa memedulikan keberadaan suaminya di sana.


"Maria."


"Aku capek, mau tidur. Kalau lapar ambil saja di meja makan, semuanya sudah ku siapkan."

__ADS_1


Pramana menatap nanar punggung Maria yang kian menghilang, seiring pintu kamar yang menutup perlahan.


"Aku akan mengembalikan semua seperti dulu, Maria," desisnya penuh penyesalan.


__ADS_2