Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Tergoda


__ADS_3

"Ehm, maksudku aku butuh dirimu untuk tanda tangan perjanjian," ralat Alex. Lidya hanya menatapnya nanar. Ia paham benar kemana maksud Alex yang sebenarnya.


"Baiklah, kita harus bicarakan itu dimana?" tantang Lidya.


Alex menyeringai. "Kau sudah tidak sabar rupanya," ucapnya.


"Karena saya sedang banyak urusan, bukan hanya dengan Anda, Tuan Alex," kilah Lidya cepat. Alex menganggukkan kepalanya paham.


"Habiskan dulu makanan dan minumannya, setelah ino kita berpindah tempat," ujar Alex yang lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Lidya hanya mengikuti Alex. Ia pun sudah tidak sabar menunggu apa tindakan Alex selanjutnya, termasuk isi surat perjanjian itu.


***


"Kau ikut mobilku saja, Nona, biar sopir mu kembali ke kantor," titah Alex saat mereka sudah berada di luar restoran.


"Kenapa harus begitu? Berangkat dan pulang, saya harus tetap bersama driver saya," tegas Lidya.


Alex menghela napas berat. "Baiklah, terserah kau saja," jawabnya yang lalu segera masuk ke dalam mobil. Lidya juga masuk ke dalam mobilnya yang dikemudikan oleh Andre yang juga memakai penyamaran.


"Apa kita harus ikuti dia?" tanya Andre.


"Ya, dia mengajakku ke suatu tempat untuk membicarakan pekerjaan," jawab Lidya.


"Kau harus hati-hati. Jangan terkecoh dengannya."


"Tentu saja, jangan khawatirkan aku."


Andre segera melajukan mobilnya saat melihat mobil Alex meninggalkan halaman parkir restoran. Dalam hatinya saat ini merasa cemas dan khawatir jika Alex melakukan sesuatu pada Sephia alias Lidya.


Setelah menempuh setengah jam perjalanan, mobil Alex terlihat berhenti di depan sebuah hotel. Lidya dan Andre sama-sama mengerutkan keningnya heran, tetapi mau tidak mau mereka harus tetap mengikuti Alex dan berhenti tidak jauh dari tempat Kim memarkirkan mobil Alex.


Namun saat Alex keluar dari mobilnya terlihat seorang wanita berlari menghambur dan memeluk pria itu serta menciumi bibirnya dengan gemas. Alex yang terkejut hanya diam membiarkan wanita itu lalu menepisnya saat tersadar bahwa adegan itu terjadi tepat di depan Sephia, yang masih duduk di dalam mobilnya.


Lidya menatap nanar pemandangan itu. Ia lalu menunduk, mengalihkan perhatiannya pada ponsel di tangannya. Ternyata melihat adegan seperti itu tepat di depan matanya, rasanya lebih menyakitkan daripada saat ia melihat kiriman foto tentang Alex dengan para wanitanya.


Andre menggenggam erat tangan Lidya, mencoba memberinya kekuatan. Andre tahu jika saat ini Lidya pasti sedang cemburu melihat suaminya dicium wanita lain, terlebih saat ini tangan wanita itu bergerak liar menyusuri aset milik Alex yang paling berharga.


"Tetaplah tenang, Lidya. Jangan biarkan pemandangan itu merusak rencana kita," ucap Andre memperingatkan.

__ADS_1


"Aku sudah biasa melihatnya," jawab Lidya. "Tenanglah, ini tidak akan berpengaruh pada Sephia."


Andre menganggukkan kepalanya. Ia yakin Lidya akan bisa menguasai dirinya di depan Alex. "Aku percaya padamu."


"Lepaskan! Siapa kau?" gertak Alex yang begitu terkejut dengan tingkah wanita itu.


"Anda lupa denganku?" tanya wanita itu sembari terkekeh.


"Aku tidak mengenalmu! Kim, usir dia, mengganggu saja!" teriak Alex yang lalu mendorong tubuh wanita itu hingga terlepas darinya. Kim bergerak cepat memegangi pergelangan tangan wanita itu dan segera menariknya, menjauhi Alex.


Lidya tersenyum tipis lalu menatap Andre sekilas dan segera keluar dari mobil. Ia lalu melangkah anggun menghampiri Alex dengan tatapan tajam kedua matanya.


"M-maaf atas pemandangan tadi. Hanya wanita gila yang tiba-tiba datang mengejutkanku," sesal Alex sembari mengusap bibir dengan lengannya.


Lidya hanya tersenyum. "Dimana kita bicara? Di restonya?"


"Ah, maaf. Ikutlah denganku. Kita bicara di kamarku," jawab Alex.


"Saya tidak mau di kamar, bisakah kita di restonya saja?" tolak Lidya.


"Tenanglah, aku tidak akan melakukan hal yang tidak baik terhadapmu. Bagaimana mungkin kita bicara di resto, sedangkan semua berkasnya aku simpan di kamar?"


"Baiklah. Bisakah dipercepat? Waktunya tinggal sedikit, saya masih ada urusan lain yang harus segera diselesaikan," jawab Lidya memutuskan.


"Ikutlah denganku," titah Alex yang kini menyambar tangan Lidya begitu saja, menggenggamnya erat lalu mengajaknya melangkah bersama, masuk ke dalam hotel. Andre tetap menunggu di mobil, sembari menghela napas berat melihat keduanya yang begitu serasi.


Sementara itu Kim sudah selesai mengusir wanita itu. Ia lalu masuk ke dalam mobilnya dan menunggu perintah selanjutnya dari Alex.


"Masuklah," ucap Alex saat mereka sudah sampai di depan kamar yang ditempati olehnya.


Lidya terdiam sembari melangkah masuk dan memperhatikan kamar Alex yang terlihat bersih dan nyaman. Ia lalu melangkah ke sofa lalu duduk dengan tenang.


"Mau minum apa?" Alex menawarkan.


"Saya masih kenyang. Bisakah kita mulai saja?"


"Baiklah."

__ADS_1


Alex mengambil berkas yang sudah ia siapkan di atas nakas. Ia lalu melangkah dan duduk di samping Lidya. "Baca dulu perlahan, pelajari dan segera tanda tangani jika kau sudah memahami dan menyetujui isinya," ucap Alex sembari menelan ludah saat melihat tubuh Lidya yang begitu dekat dengannya. Entah mengapa, hanya dengan melihatnya saja, aset berharga miliknya terasa penuh sesak di bawah sana.


Lidya menerima dan membaca seluruh isi perjanjian itu, lalu segera membubuhkan tanda tangannya di sana, karena merasa tidak keberatan dengan isinya.


"Kau langsung setuju?" tanya Alex.


Lidya mencebikkan bibirnya. "Semuanya masih bisa saya penuhi," jawabnya. "Meskipun ada yang janggal, di poin ke lima, saat saya harus bersedia menemani Anda selama dua hari dalam satu minggu, secara penuh, dua kali dua puluh empat jam."


"Ya, itu benar. Saat itu kita harus berdiskusi atau mengadakan pemotretan serta segala sesuatu yang diperlukan nantinya," jelas Alex.


"Oke, masih bisa diterima," tegas Lidya yang lalu membubuhkan tanda tangannya dengan penuh keyakinan.


"Bagaimana tentang salary?" tanya Alex.


"Saya tidak memperhitungkannya. Berapapun dari Anda akan saya terima, sejauh itu masih pantas," tegas Lidya.


Alex tersenyum penuh arti. Baru kali ini ia bertemu seorang wanita yang tidak silau dengan harta. Sama seperti Lidya. Lidya? Ya, Alex tiba-tiba mengingat dan merindukan istrinya itu, saat melihat sosok Sephia di sampingnya.


"Oke, sudah selesai. Saya harus segera pergi," ucap Lidya memutus lamunan Alex tentang Lidya.


Dengan berat hati Alex mengangguk dan beranjak dari duduknya saat Lidya berdiri dan bersiap untuk pergi. "Senang berbisnis denganmu, selamat bergabung dengan kami, mulai hari ini," ucap Alex sembari tersenyum lebar, membuat Lidya terpaku menatapnya.


"Ah, oke, senang berbisnis dengan Anda," sahut Lidya cepat saat ia menyadari sentuhan tangan Alex di tangannya.


Lidya mengangguk lalu memutar tubuhnya hendak melangkah keluar, tetapi naas, kakinya menyentuh kaki meja, membuat tubuhnya seketika terhuyung ke depan.


Refleks Alex menyambar tubuh ramping itu dan mendekapnya erat dari belakang. "Berhati-hatilah saat melangkah, Nona Sephia," bisik Alex, tepat di telinga Lidya, membuatnya sedikit berjengit dan memejamkan matanya, merasakan sensasi getaran dalam hatinya saat mendengar suara Alex.


Alex berusaha menahan debaran jantungnya yang terasa begitu cepat. Ia menelan ludah berkali-kali saat menghirup aroma tubuh Lidya yang begitu menggoda, terlebih saat ini tubuh itu sedang menempel padanya dengan erat.


Tak berbeda jauh dengan Lidya. Wanita itu kini terlihat pasrah dalam pelukan pria yang sangat ia rindukan itu. Sejenak ia pasrah dan menikmati, hingga nyaris terbawa saat tiba-tiba Alex mencium puncak kepalanya dengan lembut.


"Kau begitu cantik dan mempesona, Nona, bolehkah aku menciummu?" bisik Alex yang lalu menarik dagu Lidya dan mendaratkan bibirnya ke bibir merah milik Lidya, menciumnya lembut dan ********** perlahan.


Lidya bisa merasakan getaran tubuh Alex dan sesuatu yang begitu keras, yang kini mendesak aset tubuhnya di bagian belakang. Pikirannya menolak, tetapi gerak tubuhnya berkata lain. Ia sedikit mend*sah pelan saat Alex lebih menekan dan menggeser miliknya ke bottom Lidya seraya memperdalam ciumannya.


Lidya memejamkan matanya saat satu tangan Alex bergerak meremas satu bukit kenyal miliknya. Seketika tubuhnya lemas. Ingin rasanya ia memutar tubuh dan membalas gerak Alex dan melakukan lebih dari itu, tetapi tiba-tiba ia ingat, saat ini dirinya adalah Sephia.

__ADS_1


Dengan cepat Lidya menarik tangan Alex dan menjauhkan tubuhnya dari pria itu. "Saya pergi," ucapnya singkat. Ia pun lantas berlalu pergi sembari merapikan penampilannya, meninggalkan Alex yang menatapnya penuh damba.


"Tunggu, kita masih belum selesai!" teriak Alex menahan langkah Lidya.


__ADS_2