
Lidya tertegun menyadari kesalahannya. Entah kenapa bibirnya begitu lancang mengucapkan kata cemburu pada Andre. Seketika ia merasa cemas, khawatir jika Andre salah paham padanya.
"Bukan, siapa yang bilang cemburu?" jawab Lidya, mencoba mengelak. Andre menyeringai.
"Tadi kamu jelas banget bilang padaku kalau kamu cemburu," jelas Andre. Tetapi ia lalu mengalihkan pembicaraan ke arah lain, karena ia tidak ingin Lidya terganggu olehnya, meskipun ia yakin dengan apa yang sudah ia dengar tadi. "Aku lapar, kamu nikmati aja dulu tempat ini, aku mau masak," celetuk Andre.
"Lapar? Mau masak apa?" tanya Lidya yang lalu ikut bergabung dengan Andre di dapur mini itu.
"Mi instan dong, sama telur setengah matang," jawab Andre sembari terkekeh.
"Mau dong."
"Oke, mau pake cabe nggak?"
"Boleh, cabe dua aja cukup," jawab Lidya.
"Macam iklan KB aja, dua aja cukup," olok Andre yang sontak membuat Lidya tertawa lebar. Sangat jelas terlihat jika ia begitu menikmati kebersamaan mereka saat ini.
"kamu masak mi instan, ntar aku yang bikin kopinya," ucap Lidya.
"Okay, deal!"
Keduanya lalu saling berebut kompor yang hanya satu tungku itu lalu tertawa bersama ketika mengadakan suit seperti saat mereka kecil dulu, untuk menentukan siapa dulu yang akan memakai kompornya.
"Yes!" teriak Andre saat ia yang memenangkan suit. "Kamu mending bersih-bersih meja, nyapu lantai trus mandi dulu, Lid, sambil menunggu masakan ku selesai," ucapnya.
"Ck! Ya sudah, masak yang enak ya!" Lidya lalu segera menjalankan apa yang diucapkan oleh Andre, sampai akhirnya saat ia keluar dari kamar mandi, ternyata Andre masih berkutat di dapur. Lidya menggelengkan kepalanya heran. Hanya memasak mi instan saja Andre terlihat begitu kesulitan dan menghabiskan waktu yang cukup lama.
"Ada yang perlu ku bantu, Ndre?" tanya Lidya yang lalu membersihkan peralatan dapur yang kini terlihat kotor, setelah diporak porandakan oleh Andre.
"Sudah mau selesai, kamu duduklah saja, tunggu di meja makan," jawab Andre malu-malu. Bibirnya bilang selesai, tetapi hatinya justru menginginkan agar Lidya membantunya dan mereka bisa segera makan bersama.
"Selesai gimana, belepotan gini, dih! Dasar cowok ya, kalau masak pasti hancur begini," celetuk Lidya yang lalu menarik tangan Andre dan mendorongnya agar menjauh dari kompor yang masih menyala itu. Tetapi sayangnya, salah satu kaki Andre tersangkut meja, hingga membuatnya tersungkur. Beruntung Lidya sigap menarik tangannya lagi dan kini mereka tanpa sengaja saling berpelukan dengan erat karenanya.
__ADS_1
"Haruskan peristiwa lantai basah itu terjadi lagi, Ndre?" tanya Lidya dengan suara bergetar, merasakan hangat tubuh Andre dalam pelukannya.
Andre terkekeh lalu mengurai pelukannya. "Kalau kamu mau, kita bisa mengulangnya," jawabnya sembari menyeringai. Sontak Lidya mendaratkan cubitan pada perutnya.
"Sembarangan!"
"Nggak masalah kok kalau kamu mau, aku justru senang melakukannya," ucap Andre.
"Ck, kamu ini." Lidya cemberut menatap Andre. Ia lalu menyelesaikan masakan sahabatnya itu dan menghidangkan ke atas meja, setelah selesai.
"Jadi bikin kopi?"
"Jadi dong, tapi tertunda gara-gara mi instan hancur," jawab Lidya. "Pekerjaanku jadi dobel gara-gara kamu," gerutunya. Andre hanya tertawa.
Tak lama keduanya pun menyantap makanan dan minuman dengan nikmat, di tengah suasana sunyi dan udara yang cukup segar siang hari itu. Pepohonan yang cukup rindang mampu menghalangi terik matahari yang sedang begitu bersemangat menyorot ke bumi.
Selesai makan, Lidya segera membawa mangkuk dan gelas yang kotor ke tempat cuci piring. Andre segera menghampiri untuk membantunya.
"Nggak usah, Ndre. Aku bisa sendiri, ini cuma sedikit doang, nggak banyak," tolak Lidya sembari menepis tangan Andre yang hendak mengambil mangkuk dari tangan Lidya.
"Oke, kalau begitu aku yang mengatur semuanya ke rak piring," sahut Andre sembari mengangkat tangannya, mencegah penolakan dari Lidya.
Pada akhirnya Lidya hanya mampu mengedikkan bahu dan tersenyum tipis. Kalau sudah menjadi kemauan keras Andre, ia tidak bisa menolaknya.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Andre, iseng.
"Di sini aja dulu, boleh 'kan?"
"Tentu saja boleh, memang minimal kita harus menyewa tempat ini untuk sehari," jawab Andre.
"Oh ya? Wah, termasuk murah dong ya. Ntar aku ganti uang tiketnya, Ndre. Transfer aja ya!"
Andre tertawa kecil. "Tidak perlu, aku juga ikut menempati rumah ini."
__ADS_1
"Ck! Selalu saja kamu ini. Padahal aku yang minta."
"Memang kenapa? Sudahlah, yuk lanjut lihat-lihat di depan," ucap Andre yang lalu mengeringkan tangannya dengan serbet bersih yang menggantung pada dinding, di sebelah tempat cuci piring.
"Aku hubungi Sarah dulu, minta ijin kalau mungkin kita pulangnya malam," ucap Lidya.
"Aku sudah bilang, kamu tenang aja, Sarah bilang kamu besok juga bisa libur, pemotretan masih tiga hari lagi," ujar Andre. Lidya tersenyum lebar lalu mengirim pesan pada Sarah, untuk mengucapkan terima kasih sekaligus mengajaknya ke tempat ini, bersama kekasihnya.
Andre membiarkan Lidya asik sendiri dengan ponselnya. Ia lalu melangkah keluar, menuju ke depan rumah pohon itu lalu mengambil gambar dirinya sendiri dengan latar belakang hutan pinus. Ia juga mengambil beberapa foto lokasi dan berencana untuk mengadakan pemotretan di lokasi ini, jika ada proyek baru nantinya.
Lidya menyadari kesendiriannya ketika baru saja selesai berkirim pesan pada Sarah. Ia lalu melongok keluar dan tersenyum geli saat mendapati Andre sedang memotret dirinya sendiri. "Asik sendiri nih, nggak ajak-ajak," celetuk Lidya yang lalu melangkah mendekati Andre. "Aku juga mau, tolong foto kan ya," pintanya. Andre mengangguk antusias. Ia yakin foto-foto tentang Lidya bakal bagus hasilnya nanti.
"Berdirilah di depan pintu sembari pegangan pagar," ucap Andre memberikan arahan. "Arah pandangan ke atas, aku akan mengambil gambar dari bawah, di sana angel nya bagus."
Lidya mengikuti arahan Andre dan menggerakkan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman dan bagus menurutnya. Tanpa banyak arahan pun sebenarnya Lidya mampu menempatkan diri dengan benar dan cukup menarik perhatian karena kecantikannya.
"Aku kirim beberapa foto ke kantor, buat bahan referensi proyek selanjutnya," ucap Andre.
Lidya terkekeh. "Meskipun dalam kondisi seperti ini kamu selalu berpikir tentang kerjaan, Ndre. Sesekali bersantai lah, jangan terlalu serius. Pantas kamu masih belum punya pasangan sampai saat ini," ucapnya.
Andre tersenyum masam. "Itu karena aku masih belum menemukan seseorang sepertimu, Lidya," ucapnya jujur.
"Oh ya? Jadi, kamu cari pasangan yang sepertiku?"
"Ya, aku memang berharap, jika saja ada yang sepertimu," jawab Andre. "Sayangnya di dunia ini tidak ada lagi yang sama sepertimu."
"Setidaknya carilah yang mirip denganku, Ndre," sahut Lidya setengah bercanda.
"Kalau saja kamu masih belum menikah dengan Alex," gumam Andre, yang ternyata didengar oleh Lidya.
"Memang kenapa kalau aku belum menikah sama Alex?" tanya Lidya penasaran.
"Kalau kamu belum menikah dengan Alex maka aku yang akan maju, menikahi mu."
__ADS_1