Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Ribet


__ADS_3

"Ayolah, aku bisa melakukannya untukmu, sebagai suami yang baik aku tidak akan membiarkanmu susah payah sendirian," bujuk Alex sekenanya.


Lidya seketika hendak muntah mendengar ucapan Alex. Suami yang baik katanya? Ia lalu menepis tangan Alex yang mulai lancang menggerayangi tubuhnya.


"Lepaskan, atau aku berteriak," ancam Lidya.


"Teriak lah, tidak akan ada yang datang menolong kamu, mereka semua pasti akan pergi setelah tahu aku ini suami mu," cibir Alex.


Lidya mendecak kesal. Ia urung melepas pakaiannya dan menggantinya dengan yang baru. Beruntung Sarah tiba-tiba datang sembari menenteng kostum pemotretannya yang lain.


"Tuan Alex, sedang apa di sini?" tanya Sarah heran. Ia lalu menyimpan kostum milik Lidya ke dalam lemari lalu mendekat pada Alex. "Mohon maaf, ini tempat khusus dan sangat pribadi, saya harap Anda menghormatinya," ucapnya sopan.


"Aku tidak melakukan hal yang tidak sopan di sini, ataupun menyalahi aturan," sangkal Alex berlagak pilon. Sarah memutar bola matanya malas. Kim menepuk dahinya pelan. Gawat jika Alex dibiarkan lebih lama di ruang privasi itu.


"Tuan, sebaiknya kita menunggu di luar saja sampai Nyonya selesai mengganti bajunya," bisik Kim sembari menarik ujung lengan jas milik Alex.


"Tidak masalah jika aku tetap berada di sini aku ini suaminya," ketus Alex, tetap berkeras.


"Kalau begitu aku saja yang pergi. Sarah, kita ke tempat lain saja, kostum dan perlengkapannya sudah ku bawa," tegas Lidya memutuskan. Sarah menyeringai lalu mengikuti langkah Lidya menuju kamar mandi umum, khusus untuk wanita. Alex menatap mereka dengan gusar. Kim segera menariknya pergi, sebelum pria itu nekat mengejar Lidya.


"Keputusan yang tepat. Jangan biarkan Alex mendekatimu," ucap Sarah.


"Aku hanya tidak ingin kalah darinya, karena kau tahu, hatiku selalu melemah jika dia menyentuhku," jujur Lidya.


"Cih, dasar bucin!" umpat Lidya jengkel. Kenapa bisa wanita secantik dan sepintar Lidya justru mencintai Alex yang adalah seorang pemain wanita ulung? Sangat disayangkan. Lidya tertawa mendengar reaksi Sarah.


Tak lama mereka pun keluar setelah selesai mengganti kostum, lalu segera menuju ke tempat pemotretan sebelum Alex mendatangi Lidya lagi.

__ADS_1


Dan benar saja, Lidya masih baru saja memulai sesi terakhir pemotretan, Alex sudah berteriak memanggilnya. Beruntung Sarah cepat meminta tolong pada sekuriti untuk menahan langkah Alex yang hendak menghambur menuju ke tempat Lidya.


"Apa dia sudah gila?" celetuk kameramen.


"Sssst ...! Jangan bicara sembarangan, beliau suami sang bintang," celetuk salah satu kru yang lain, membuat semuanya seketika bungkam, terlebih saat Lidya menatap tajam mereka satu persatu, merasa tidak terima jika ada orang lain mengatakan hal buruk tentang suaminya. Tidak ada yang sanggup menentang tatapan dari kedua mata indah milik Lidya.


Alex meronta dalam cekalan dua orang sekuriti. ia lalu diamankan di salah satu kamar kosong, rumah sewa produksi, hingga membuat pria itu marah dan mencak-mencak. "Kalian tidak tahu siapa aku? Aku ini_"


"Sudahlah Tuan, jangan mempermalukan diri sendiri dengan hal ini. Jika mereka tahu siapa Anda, maka kita pasti malu, seorang Alex Pradhana, pengusaha besar itu bertingkah seperti anak kecil, apa Anda mau seperti itu?" Kim memperingatkan.


"Kau yang bilang aku seperti anak kecil, Kim. Bukan mereka!" hardiknya tidak terima. Kim hanya tertawa pelan. Setelahnya Alex justru patuh dan duduk dengan tenang, menunggu sampai Lidya selesai pemotretan.


"Apa ada yang ingin Anda bicarakan dengan Nyonya, Tuan?" tanya Kim.


"Tidak. Aku hanya ingin bersama Lidya saja. Aku merindukannya."


Alex melotot pada Kim. "Kau ini bagaimana, baru kemarin kau ingatkan aku untuk setia pada istri, sekarang kau malah mengingatkanku pada Sephia? Sungguh teramat sangat ribet sekali hidupku ini, Kim!" protesnya. Kim memutar bola matanya malas. Selalu saja bosnya itu berlebihan.


"Maksudku hanya mengingatkan saja, Tuan. Jangan sampai Anda salah bicara dengan Nyonya, perihal Sephia ini," ucap Kim membela diri.


"Aku sudah tahu! Lagipula Sephia menolak untuk bertemu denganku hari ini," ketus Alex yang masih saja merasa gusar. Hanya Lidya dan Sephia yang berano menolaknya, diantara banyaknya wanita yang sangat mendambakannya di luar sana. Dan itu satu tantangan tersendiri bagi Alex saat ini. Ia bertekad untuk bisa menaklukkan keduanya sekaligus, baik Lidya maupun Sephia.


"Setelah selesai pemotretan, kau hubungi Lidya, minta padanya untuk mengantar Lidya padaku."


Kim mengangguk patuh. "Baik, Tuan."


Keduanya lalu duduk dengan tenang sembari melihat kesibukan di lokasi pemotretan. Berkali-kali Alex mendecak kagum saat melihat kecantikan dan gerak tubuh Lidya. Seketika bayangan tentang pergulatannya bersama istrinya itu terpampang jelas dimatanya. Ia kini sangat menginginkan wanita itu.

__ADS_1


"Tuan, kenapa wajah Anda memerah? Anda lapar?" tanya Kim yang sempat memperhatikan Alex.


"Ya, aku lapar."


"Sebentar, biar aku pesankan makanan dulu untuk Anda."


"Pesan kemana, Kim? Makananku sudah tersedia, di sana," ucap Alex sembari menunjuk Lidya dengan gerak dagunya. Kim menepuk pelan dahinya. Lagi dan lagi, Alex terlihat begitu menggilai Lidya. Mungkin ini karma baginya yang selalu menghina dan memandang rendah Lidya.


Ketika pemotretan hampir selesai, Lidya meminta Sarah untuk mengalihkan perhatian Alex dan Kim, agar ia bisa pergi dari tempat itu secara diam-diam.


"Kau akan pergi diam-diam sendirian, tanpaku? Tega sekali kau Lidya," protes Sarah.


"Mau bagaimana lagi? Bukankah bisnismu dan Alex masih berkaitan? Jadi kau ada alasan untuk menemui dan bicara dengannya, dan aku akan pergi dengan diam-diam," ujar Lidya.


"Dasar egois," gerutu Sarah yang sontak membuat Lidya tertawa. "Biar Andre saja yang mengatasinya. Sedari tadi dia belum bertugas," cetus Sarah.


"Nah, kau benar! Buruan hubungi dia. Kita tinggal satu kali take lagi, setelah itu pulang katanya," ucap Lidya. Sarah mengangguk setuju lalu segera menghubungi Andre.


"Ndre, kami mau pergi diam-diam. Tugasmu mengalihkan perhatian Alex dan Kim, ya!" ucap Sarah sembari terkekeh lalu memutus panggilan secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Andre. Lidya menggelengkan kepalanya melihat ulah managernya itu.


"Sudah beres, kita tinggal menunggu kode dari Andre sebelum pergi," ucap Sarah sembari tersenyum lebar. "Kau tahu, aku juga malas menemui suami mu itu," gerutunya. Yang ditanggapi tawa renyah oleh Lidya.


Andre yang saat ini berada di luar lokasi pemotretan terlihat uring-uringan sendiri. Bagaimana tidak, ia harus segera menghabiskan kopi dan makanannya yang baru saja di hidangkan, sementara dari informasi yang ia dapatkan, sekitar sepuluh menit lagi pengambilan gambar akan selesai, itu berarti dalam waktu hanya sepuluh menit ia harus segera menghabiskan makanan dan kopinya lalu kembali naik ke atas, ke lokasi pemotretan yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempatnya berada saat ini. Andre mengusap kasar wajahnya. "Sangat merepotkan!" gerutunya yang lalu cepat-cepat menghabiskan makanan dan minumannya di iringi tatapan heran dari sang pemilik warung.


Setelah selesai, Andre buru-buru membayar pesanannya lalu segera pergi menggunakan motor pinjaman dari salah satu kru. Kini ia tinggal memikirkan bahan pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Alex dan asistennya itu. "Ribet banget sih hidupku! Kalau bukan demi Lidya aku tidak akan mau diperintah seperti ini!" gerutunya kesal.


Makanya jangan bucin sama Lidya, Ndre .... 😌

__ADS_1


√ Like dan komentarnya dong pemirsah


__ADS_2