
Terlihat beberapa kameramen dan juga pengarah gaya sedang meneriakkan instruksi pada beberapa orang yang sedang berbaris menunggu giliran untuk di panggil maju ke depan kameramen, di dalam studio foto dan rekaman AnKo Grup, perusahaan milik Andre.
Sudah ada beberapa peserta yang beranjak pergi setelah dinyatakan gagal dalam tes pertama. Dari sekitar 200 peserta yang sejak pagi sudah mengantre, Lidya adalah salah satunya, yang mendapatkan nomor antrean 180. Ia sudah lelah menunggu tetapi masih ada sekitar 70 orang lagi yang masih belum me jalani tes pertama.
"Apa kamu perlu ku belikan minuman?" tanya Andre menawarkan. Tidak ada yang tahu jika Andre adalah sang pemilik perusahaan itu, termasuk Lidya. Yang ia tahu, Andre hanya bekerja di perusahaan itu.
"Aku lelah, bisakah kau pinjamkan aku kursi atau apapun yang bisa dipakai untuk duduk?" Lidya sedikit merengut. "Harusnya pihak panitia menyediakannya."
Andre tertawa pelan. Hanya ada beberapa kursi, dan itu di tempatkan di dekat tim penguji," jawab Andre. "Kalau kami harus menyediakan kursi, maka tempat ini sudah pasti penuh sesak.
Lidya mendecak. " Mau sampai jam berapa ini?"
"Sampai semuanya selesai. Tahun lalu katanya selesai tengah malam," jawab Andre.
"Buset, nggak kalah sama audisi pencarian bakat," celetuk Lidya.
"Memang tujuannya semacam itu, kami mencari seseorang yang mempunyai bakat dan bisa menyampaikan iklan dengan baik ke seluruh dunia," jelas Andre.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Lidya yang memang masih belum mengerti. Andre sejak awal tidak menjelaskan padanya tentang lowongan pekerjaan apa yang dibuka di perusahaannya itu. Sahabatnya itu hanya menyampaikan bahwa saat ini sedang dilakukan tes pertama, dan harus sabar karena antreannya pasti akan sangat banyak, mengingat AnKo Grup adalah salah satu perusahaan terbesar di kota itu.
"Jadi begini, sebenarnya kami mencari sosok baru yang akan kami jadikan brand ambasador sebuah produk kecantikan hasil produksi perusahaan kami," jelas Andre. "Kenapa harus orang baru? Selain agar lebih ekonomis, kami ingin mencari bakat-bakat khusus yang terpendam, yang mungkin nantinya akan kami bimbing dan bantu untuk menjadi seorang bintang tenar."
"Ah, begitu." Lidya mengangguk paham. Tapi tak lama keduanya membelalak lebar. "Jadi, lowongan pekerjaan itu untuk pencarian bakat dan model baru?"
"Ya. Kami mencari bintang baru, untuk model iklan produk kecantikan," jawab Andre.
Lidya ternganga. "Apa? Ndre, kamu nggak salah? Orang sepertiku? Model iklan produk kecantikan?" tanyanya tak percaya.
Andre tertawa. "Kenapa tidak?" jawabnya. "Aku melihat potensimu sudah ada sejak kita masih kecil dulu. Aku selalu mengingatnya, dan jika melihat wajah dan bentuk tubuhmu, aki yakin kamu memenuhi kriteria yang kami butuhkan," imbuhnya, menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi aku sudah menikah, Ndre," protes Lidya.
"Kenapa memangnya? Kau takut dengan suami mu?"
Lidya mengangguk. "Bukan hanya itu, aku juga nggak enak sama mertuaku," jujurnya.
"Begini saja, jalani dulu tes ini, nanti kalau memang kamu lulus tes di tahap awal, kamu coba hubungi mertuamu, ceritakan semuanya termasuk niat dan tujuanmu, lalu mintalah ijin pada mereka," ucap Andre menyarankan. "Jangan mundur sebelum mencoba. Nanti kalau memang mertuamu tidak mengijinkan, kamu masih bisa membatalkan tes yang selanjutnya."
Lidya mendengarkan penjelasan Andre dengan seksama. Tidak ada salahnya jika ia mengikuti saran dari Andre, toh pekerjaan ini tidak akan membuatnya terlihat buruk di depan siapapun.
"Oke, baiklah. Aku akan mengikuti saran darimu," putus Lidya pada akhirnya. "Terima kasih banyak," ucapnya tulus.
"Dengan senang hati, Lidya," jawab Andre tak kalah tulus. Pria itu memandangi senyum yang tercetak di wajah Lidya. Dalam hatinya sangat menyayangkan, kenapa ia bertemu dengan Lidya setelah wanita yang sangat ia cintai itu sudah menikah? Sungguh ia benar-benar menyesal, terlambat menemui Lidya, padahal ia sudah berada di Indonesia sejak dua bulan yang lalu. Mungkin memang ini yang dikatakan tidak berjodoh. Mereka mungkin berjodoh hanya dalam persahabatan, tetapi tidak berjodoh dalam hal percintaan. Meskipun begitu, dalam hatinya tetap bersyukur, bahwa dirinya dan Lidya masih diberi kesempatan untuk tetap bersama. Dan ke depannya, ia akan terus menjaga wanita itu dan melindunginya dari siapapun yang mungkin berniat jahat padanya, tidak terkecuali Alex.
"Ndre, kok melamun?" Pertanyaan Lidya membuyarkan lamunan Andre. Pria itu cepat membuang muka ke arah lain sembari mengusap tengkuknya.
Lidya mengangguk dan tersenyum. "Jangan lupa membawakan kursi buatku, nanti kalau kamu kembali ke sini," jawabnya.
"Mana bisa? Yang ada nanti lainnya pada iri dan mengeroyokku. Apa kamu mau aku dipecat, hm?"
Lidya tertawa sembari meringis. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Aku hanya bercanda, Ndre. Gitu aja ditanggapi serius. Sudah sana, kerja!"
"Oke, see you."
Andre bergegas pergi meninggalkan Lidya. Terlalu lama berdekatan dengan wanita itu membuat hatinya semakin tersiksa karena tidak mampu memiliki Lidya.
"Seratus delapan puluh!"
Akhirnya, setelah menunggu sekitar dua jam lamanya, kini giliran Lidya dipanggil. Ia lalu segera melangkah maju dan mempersiapkan diri di depan kamera sesuai arahan, sembari menenangkan degup jantungnya yang semakin menggila, terlebih banyak pasang mata kini melihat dirinya. Di awal percobaan, Lidya terlihat kaku dan begitu gugup, namun ketika masuk ke tahap tes yang sesungguhnya, ia berhasil menenangkan dirinya dan berpose sesuai arahan dengan lebih rileks. Ia justru semakin menikmatinya hingga tanpa terasa sesi tes pertama telah ia lalui dengan lancar.
__ADS_1
"Sudah selesai, ambillah ini," ucap seorang penguji yang maju mendatanginya dan memberinya sebuah amplop berwarna ke emasan.
"Setelah ini bagaimana, Tuan?" tanya Lidya dengan lugunya.
"Buka amplop ini di luar, dan lihatlah isinya. Nanti kau akan tahu dengan sendirinya apa yang harus dilakukan untuk selanjutnya," jawab penguji itu sembari tersenyum.
Lidya mengangguk paham. "Baik, terima kasih," ucapnya. Ia lalu berpamitan pergi.
Pria itu mengangguk. "Jangan pulang dulu sebelum melihat isinya," ucapnya sekali lagi, mengingatkan Lidya.
Andre yang berdiri di kejauhan tersenyum saat melihat Lidya telah selesai menjalankan tes tahap pertamanya dengan lancar. Ia sudah begitu yakin jika Lidya mempunyai potensi dan kriteria yang di butuhkan.
Andre berlari menghampiri Lidya yang kebingungan mencari tempat sepi untuk membuka amplop miliknya. Beberapa orang terlihat menatapnya penuh tanya dan juga penasaran tentang hasil yang dicapai oleh Lidya.
"Lid, ke marilah!" teriak Andre.
Lidya menoleh dan bergegas mendekati Andre.
"Bagaimana?" tanya Andre ingin tahu.
"Entah, aku belum lihat hasilnya," jawab Lidya. "Aku deg-degan! Kamu tahu, tadi awalnya aku grogi banget, tapi lama-lama nggak," ujarnya bercerita dengan menggebu-gebu. Ia begitu bersemangat kali ini.
Andre segera mengajaknya masuk ke satu ruangan yang kosong. Ia lalu meminta Lidya untuk membuka amplop itu.
"Aku gemetar, Ndre!" pekiknya yang lalu menghitung mundur sebelum membuka amplop itu.
Andre tertawa melihat tingkah Lidya. "Semoga beruntung," ucapnya.
Setelah usai berhitung, pelan Lidya membuka amplop itu, dan ....
__ADS_1