
Lidya begitu terkejut ketika mendapati kedatangan Alex bersama ayah mertua dan dua orang pengawalnya. Wajah Alex terlihat masam, pria itu langsung berlari ke lantai dua, menuju kamarnya.
"Apa yang terjadi, Pa?" tanya Lidya sungkan.
"Jaga suamimu itu, jangan sampai dia keluyuran tidak jelas," jawab Arman yang lalu duduk sejenak di sofa sembari mengusap kasar wajahnya.
"Bukannya Alex tadi berangkat ke kantor, Pa?"
Arman terkekeh. "Kamu percaya begitu saja, Nak? Dia tidak pergi ke sana, tetapi ..., ah, sudahlah, aku tidak enak untuk mengatakannya. Tidak penting."
Lidya menghela napas. Bukankah dirinya istri Alex, kenapa ayah mertuanya itu justru terkesan menyembunyikan sesuatu tentang Alex darinya?
"Papa mau Lidya buatkan kopi?" Lidya menawarkan.
"Boleh. Apa kamu bisa?"
Lidya sontak tertawa kecil mendengarnya. "Lebih dari bisa. Lidya biasa bikin kopi untuk Papa di rumah," jawabnya sembari menyiapkan air untuk dimasak. Arman terus memperhatikannya dengan intens. Jauh di dasar hatinya sangat menyayangkan Alex yang masih belum bisa menerima atupun mencintai gadis itu.
"Bagaimana rasanya, tinggal berdua bersama Alex?" tanya Arman.
Lidya sedikit tercekat. Haruskah ia jujur mengatakan pada ayah mertuanya itu jika sebenarnya ia tidak nyaman tinggal di sana?
"Pak Arman, kapan datang?" teriakan Bik Marni menyelamatkan Lidya dari pertanyaan Arman.
"Kau darimana saja, Bik?"
"Saya habis belanja, Pak. Mau bibik siapkan makan siang?"
Arman menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Lidya sudah membuatkan aku kopi," jawabnya.
Bik Marni segera menghampiri Lidya lalu melihat racikan kopi yang dibuat oleh Lidya. "Kebiasaan Bapak minum kopi tidak sama dengan Mas Alex," bisiknya pada Lidya.
"Oh ya?"
Bik Marni mengangguk. "Buat seperti yang pertama Mbak Lidya bikin kemarin untuk Mas Alex. Bapak lebih suka rasa seperti itu, manis dan pahit," beritahunya.
Lidya mengangguk patuh lalu meracik kopi lagi sesuai dengan yang Bik Marni sarankan. Setelah selesai, Lidya memberikan secangkir kopi itu pada Arman dengan sopan. "Silakan, Pa."
"Hm." Arman menghirup aroma kopi sembari memejamkan matanya lalu menyesapnya perlahan. Tak lama ia pun menganggukkan kepalanya sembari menatap Lidya. "Enak, kau pandai juga meracik kopi, Nak," pujinya.
Lidya hanya tersenyum lalu beranjak pergi setelah memastikan kopi itu sudah sesuai dengan keinginan ayah mertuanya itu.
__ADS_1
"Makasih, Bik," bisiknya pada Bik Marni yang saat itu sedang menata belanjaannya ke dalam kulkas.
Bik Marni hanya mengacungkan jempol sembari mengedipkan satu matanya pada Lidya.
"Lidya," panggil Arman. "Kemari lah sebentar, Nak, papa mau bicara."
Lidya mengangguk patuh lalu segera duduk di dekat Arman, ayah mertuanya.
"Bagaimana menurutmu, tentang sifat Alex?" tanya Arman sembari menatap lekat menantunya itu.
"Ehm, Alex baik, Pa," dusta Lidya. Tetapi di dalam hatinya sedikit membenarkan jika memang Alex baik, karena tidak pernah menyakiti dirinya dengan berbuat kasar, selain ucapan dan perintah-perintahnya.
"Kamu yakin Alex baik?"
Lidya mengangguk, awalnya sedikit ragu namun kemudian ia mengangguk tegas. "Iya Pa, Alex baik."
Arman tersenyum misterius. "Bagaimana tentang hubunganmu dengannya?"
"Baik-baik saja, Pa."
"Hm, sangat baik?"
Lidya mengangguk dan tersenyum.
Kini Lidya memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya. Untuk masalah ini Lidya benar-benar tidak tahu dan sangat jauh di luar kendalinya, sebab Alex ketika keluar tidak pernah berpamitan atau mengatakan sesuatu padanya.
"Dengar, Lidya. Papa tahu kalau sebenarnya komunikasi diantara kalian masih belum terjalin dengan baik, meskipun kalian tinggal serumah, di sini. Dan papa sangat tahu bagaimana karakter Alex yang sesungguhnya jika dia menemukan satu hal yang sangat tidak disukainya, mungkin termasuk kamu," jelas Arman.
Lidya mengangguk pelan dan terus mendengarkan dengan khidmat semua ucapan ayah mertuanya itu.
"Jadi, kalau ada apa-apa, jangan sungkan bertanya pada papa atau mamamu, atau kamu boleh juga bicara dan tanya-tanya sama Bik Marni yang sudah paham tentang Alex sejak ia masih kecil," lanjut Arman dengan sabar.
"Iya Pa. Untuk sementara Lidya bisa memaklumi sikap Alex, karena memang kami masih belum mengenal sebelumnya," jawab Lidya.
"Aku menghargai pengertianmu. Hanya saja jangan kaget kalau sewaktu-waktu kamu menemukan Alex sedang mabuk atau pulang larut malam. Itu sudah biasa dia lakukan kalau sedang bersama teman-temannya."
"Iya Pa."
"Dan satu lagi. Papa minta tolong padamu agar kamu mau mencoba untuk mendekati Alex, luluhkan hatinya dan ubah Alex menjadi seorang suami yang baik bagimu, Nak. Apa kamu sanggup?"
Lidya tercekat mendengarnya. Satu permintaan yang sangat sulit untuk ia lakukan, mengingat Alex terlihat begitu membencinya.
__ADS_1
"Apa kamu ragu?"
Lidya mengangguk dengan jujur. "Itu sangat sulit bagi Lidya, Pa. Papa tahu sendiri bagaimana kerasnya Alex," jawab Lidya.
"Tapi tidak ada yang tidak mungkin, selama kamu mau berusaha. Ingat, Alex itu suamimu, milikmu! Jangan biarkan dia lepas dari genggamanmu." Arman berkeras.
"Itu jika Alex mau menjaga statusnya, Pa. Tetap saja akan sangat sulit jika Alex tidak pernah mau mendengarkan Lidya."
Arman diam termenung. Semua yang dikatakan Lidya memang benar. Sudah pasti akan sangat sulit jika Alex sendiri tidak mau mendengarkan Lidya. Jangankan mendengarkan, melihat wajah Lidya pun seolah Alex enggan.
Sementara itu Bik Marni yang masih ada di dapur, mendengar semuanya dengan jelas. Ia ikut berpikir dengan keras, mencari cara agar ia bisa membantu Lidya meluluhkan hati Alex, meskipun dari yang ia lihat, Lidya juga masih belum mencintai Alex. Dalam hatinya ia bertekad akan mencari cara terbaik untuk menyatukan Alex dan Lidya, bila perlu ia akan bekerja sama dengan Rosa, ibu Alex yang jauh lebih paham tentang Alex ketimbang dirinya.
"Papa berharap kamu bisa melakukannya, Lidya. Bukan untuk papa, melainkan untuk kebahagiaanmu kelak," ucap Arman melanjutkan. Ia tidak ingin meloloskan begitu saja keinginan Alex untuk menceraikan Lidya, sebelum ia melihat seberapa jauh usaha Lidya untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
"Lidya tidak bisa berjanji, Pa. Tapi Lidya akan mencobanya," jawab Lidya.
"Bagus, setidaknya kamu mau mencoba. Itu saja yang lebih penting. Papa yakin lama kelaman nanti Alex akan luluh dengan sendirinya," ucap Alex penuh keyakinan.
Lidya hanya tersenyum menatapnya, sementara dalam hatinya berkecamuk banyak hal. "Lama kelamaan? Mau sampai berapa lama? Keburu aku lelah sendiri dengan usahaku meluluhkan hati pria kutub itu," gerutu Lidya dalam hati.
"Oke, Lidya. Papa pulang dulu. Kopinya enak, lain kali kalau papa datang, buatkan lagi yang seperti ini, ya. Kamu masih hapal 'kan racikannya?"
Lidya tertawa renyah. "Tentu saja, Pa," jawabnya.
Arman mengusik surai di puncak kepala Lidya lalu segera melangkah pergi, di iringi oleh dua pengawal setianya.
"Jangan khawatir, Mbak Lidya, Bik Marni siap membantu," celetuk Bik Marni yang ternyata sudah berdiri di belakang Lidya.
"Makasih, Bik. Tapi Lidya mau tenang dan diam dulu dalam beberapa hari ini," ucap Lidya.
"Diam dalam artian yang bagaimana, Mbak?" tanya Bik Marni was-was.
"Berdiam diri dulu di kamar, tolong jangan ganggu ya, Lidya cuma butuh waktu buat memikirkan semuanya," jelas Lidya.
"Tapi nanti kalau Mas Alex cari Mbak Lidya gimana?" tanya Bik Marni lugu.
"Kan ada Bik Marni, untuk sementara aku minta tolong dulu ya Bik, maaf," jawab Lidya.
"Enak saja, tidak bisa begitu!"
Sontak Lidya dan Bik Marni memutar tubuhnya dan menoleh ke arah belakang, melihat presisi Alex yang berdiri tegak di ujung tangga bagian bawah, menatap tajam pada Lidya.
__ADS_1
"Wah bahaya ini, Mas Alex mau perang," gumam Bik Marni sembari menatap khawatir pada Lidya.