Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Teman Masa Kecil


__ADS_3

Sementara itu Alex merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya. Dalam benaknya saat itu dipenuhi dengan bayangan pergulatannya bersama Lidya yang terlihat begitu panas dan kini justru membuatnya ingin melakukannya sekali lagi bersama istrinya itu.


Bayangan wajah Lidya saat memejamkan mata, menikmati permainan begitu mengganggunya. Sudah begitu lihainya kah dirinya, bisa menguasai Lidya dengan begitu mudah dan membuatnya terlena hanya dalam waktu singkat? Jika ia terus memikirkan dan mengingatnya, sebenarnya saat itu ia masih setengah sadar. Sejujurnya ia sangat menikmati tubuh Lidya sepenuhnya, namun entah mengapa saat itu pikirannya selalu dipenuhi oleh bayangan Lily, kekasihnya.


Rasa kecewa atas pernikahan paksa yang dilakukan oleh ayah dan juga sahabatnya, yang adalah ayah Lidya, telah membuatnya begitu marah dan membenci Lidya. Padahal Lidya sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Ia juga korban, sama seperti dirinya. Dan Alex baru saja menyadarinya saat ini.


Alex mengusap kasar wajahnya. Ia lalu bergegas ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas, dan juga sesuatu dalam dirinya yang ternyata telah bangkit dengan sendirinya sejak melihat rekaman video itu.


"Sial, aku harus segera menemukan seseorang untuk bisa meredamnya!" gerutunya kesal.


Setelah selesai membasuh tubuhnya dengan air dingin, Alex bergegas keluar dari kamar mandi, lalu mencari pakaian terbaiknya untuk menemui teman-teman wanitanya. Usai merapikan diri, Alex secepatnya keluar dari kamar.


"Mau kemana, Mas?" tanya Bik Marni saat tahu Alex melangkah turun sembari memainkan kunci mobil pada jemarinya.


"Biasa lah Bik, anak muda," selorohnya.


"Kopinya sudah di minum?" tanya Lidya sambil lalu. "Tadi ku kirim ke kamarmu, tapi kau masih di kamar mandi."


"Pasti sudah dingin. Aku tidak akan meminumnya. Ambillah dan buatkan lagi nanti, saat aku sudah pulang," ucapnya acuh tak acuh. Ia tidak berani menatap Lidya, pasalnya ia masih terbawa adegan mereka dalam rekaman video itu. Alex tidak ingin terpengaruh yang nantinya pasti akan menyerang Lidya membabi buta demi melampiaskan hasratnya.


"Sia-sia dong, kopinya," gerutu Lidya. Ia lalu melangkah naik menuju kamar Alex, tanpa memedulikan tatapan tajam Alex padanya. Terlihat jelas jika Alex tidak terima kata-katanya.


"Sudah, Mas Alex cepat berangkat sana, nggak usah ladenin Mbak Lidya," ucap Bik Marni yang tahu Alex akan menyusul Lidya dengan marah-marah.


"Suka-suka Alex, mau minum kopinya atau nggak. Kenapa dia protes?" gerutu Alex tidak terima.


"Iyaaa, suka-suka Mas Alex. Mungkin Mbak Lidya masih belum terbiasa, Mas. Maklumi saja," ucap Bik Marni mencoba menenangkan Alex.


"Bilang sama dia, jangan pernah sekalipun menentangku, atau hidupnya akan tersiksa di sini!" bentaknya yang masih gusar.


"Iya Mas, nanti bibik sampaikan."


Alex mendengus kesal lalu melangkah pergi dengan bersungut-sungut, di iringi gelengan kepala Bik Marni. "Masih seperti anak kecil saja, padahal sudah nikah dan sudah pintar nganu-nganu sama istrinya," gumamnya.


"Alex dengar, Bik!" teriak Alex dari pintu.


Sontak Bik Marni meringis lalu mengangguk. "Maaf, bibik nggak sengaja, Mas."

__ADS_1


Alex hanya mampu melirik wanita itu sembari menggelengkan kepalanya.


***


"Cari siapa, Nak?" tanya Maria, saat ia baru saja pulang dari pasar. Ia menemukan seorang pemuda yang sedang berdiri di depan rumahnya lalu mengetuk pintu dengan pelan.


"Ah, maaf, Lidya ada, Tante?" jawab pemuda itu sopan.


Maria mengerutkan keningnya, mencoba mengingat tentang sosok pemuda itu yang sepertinya pernah ia kenal sebelumnya. "Lidya sudah tidak tinggal di sini lagi, Nak ...."


"Andre. Tante sudah lupa sama saya?" jawab pemuda itu seraya tersenyum dan menyalami Maria.


"Oh, Andre! Wah, kamu makin tampan aja sekarang ya, tante dengar kamu sedang study di Amerika?" sambut Maria antusias.


"Iya, Tante. Tapi Andre sudah dua bulan terakhir ini pulang dan menetap di sini," jawab Andre.


"Oya? Kenapa baru muncul sekarang?" sahut Maria takjub. "Masuk dulu, yuk. Nggak enak bicara di luar. Di dalam ada Om, mungkin lagi berkebun di belakang."


"Baik, Tante." Andrea mengikuti langkah Maria masuk ke dalam rumah. Ia tidak lantas duduk di sofa melainkan tetap berdiri sembari menatap foto keluarga Pramana, dimana ada potret Lidya di sana.


Andreas Sasongko, adalah teman masa kecil Lidya. Mereka begitu dekat, sudah seperti kakak adik, meskipun usia Andre terpaut tiga tahun lebih tua dari Lidya.


Putra tunggal pengusaha besar, Sasongko grup itu kini sudah berusia 25 tahun, tetapi masih saja terlihat masih belia, jika menilik dari penampilan dan wajahnya.


"Andre, apa kabar?" sapa Pramana, saat ia datang menemui Andre di ruang tamu.


"Baik Om. Wah, makin tambun aja nih, Om." Andre tertawa renyah sembari menyalami Pramana dengan sopan.


"Tentu saja, orang sekarang kerjanya cuma diam di rumah," celetuk Maria sembari mencebik, membuat Pramana seketika merengut. Andre kembali tertawa melihatnya.


"Makin mesra aja, Om dan Tante, bikin Andre iri. Mana masih jomblo begini," cicit Andre bergurau.


"Mesra gimana, orang Tantemu ini lagi marah sama Om," jawab Pramana jengkel. Maria melengos, Andre makin lebar tertawanya.


"Beneran kamu masih jomblo, Ndre?" tanya Maria tiba-tiba.


Andre tersenyum malu-malu. "Iya Tante. Tolong dong carikan pasangan buat Andre," jawabnya. Berharap Maria dan Pramana menawarkan Lidya untuknya.

__ADS_1


Ya, sejak kecil Andre sudah menyimpan perasaan suka pada Lidya, oleh sebab itulah hingga saat ini ia masih betah sendiri, karena berharap bisa menikah dengan Lidya, jika mereka mempunyai perasaan yang sama. Tanpa ia ketahui, Lidya sudah lebih dulu menikah bersama pria lain.


Maria terkekeh. "Setampan kamu mestinya sudah lihai cari pendamping. Jangan terlalu pilih-pilih, biar lekas dapat pacar," selorohnya.


"Kalau lihai sudah dari kemarin-kemarin Andre pacaran, Tante," jawab Andre.


"Sekarang masih study?" timpal Pramana mengalihkan pembicaraan. Sebab jika bicara tentang pernikahan, akan mengingatkannya pada Lidya yang sudah ia paksa untuk menikah dengan Alex demi kelancaran bisnisnya.


"Sudah selesai, Om. Andre sekarang pegang salah satu perusahaan Papa, di Bandung," jawab Andre.


"Oya? Perusahaan yang mana? Seingat om, Mawan hanya bilang kalau dia cuma punya satu perusahaan saja, di kota ini." Pramana memajukan tubuhnya, menatap Andre dengan intens. Ia tidak menyangka, di usia yang masih belia Andre sudah memegang sebuah perusahaan. Dunianya sudah dipenuhi oleh para pemuda masa depan, yang mana di usia belia sudah berhasil meraup kesuksesan. Alex dan Andre, salah satunya.


"Ada, Om. Perusahaan advertising. Kebetulan Papa sudah tidak sanggup lagi mengelolanya secara langsung, jadi Andre yang di utus ke sana," jelas Andre.


"Jadi selama dua bulan ini kamu tinggal di Bandung?" tanya Maria.


"Iya Tante."


"Sendirian?"


"Iya, Tante. Mau sama siapa lagi?" jawab Andre sembari terkekeh geli.


Maria tertawa menyadari kekeliruannya sementara Pramana menyikut lengannya.


"Oh iya, ada perlu apa sampai kamu berkunjung ke pondok kami?" tanya Pramana, mengingatkan Andre pada tujuannya datang.


"Perusahaan kami sedang membutuhkan seorang model dengan wajah natural dan terlihat smart," jelas Andre mulai menyatakan maksudnya. "Andre ingat Lidya, kriteria yang kami butuhkan ada padanya."


Maria dan Pramana tertegun. Saat ini Lidya sudah tinggal bersama Alex. Jika mengingat perlakuan Alex pada Lidya, mereka sangsi Alex akan mengijinkan Lidya untuk menjadi model pada perusahaan milik Sasongko Grup.


"Ehm, tapi Lidya sudah tidak tinggal di sini lagi, Ndre," jawab Maria ragu. Pramana mengangguk membenarkan. "Dan Lidya tidak bisa lagi bebas mengambil keputusan, seperti dulu," lanjutnya.


"Memangnya kenapa, Tante?"


"Karena Lidya sudah menikah, dan dia perlu ijin dari suaminya jika kamu menginginkannya untuk menjadi model di perusahaanmu," jawab Pramana yang seketika bagaikan suara bom atom yang meledak tepat di telinga Andre.


"Menikah?"

__ADS_1


__ADS_2