Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Cemburu


__ADS_3

"Kenapa harus aku? Kalau kau mau, aku akan mencarikan orang yang lebih pantas untuk menjadi manager mu, Lidya," ucap Sarah menawarkan bantuan.


"Tidak, aku hanya ingin kamu yang jadi managerku, Sarah. Mau 'kan?" tegas Lidya.


Andre tertawa lebar demi mendengar permintaan Lidya. Ia sangat setuju, karena dengan begitu ia akan tetap bisa mendekati Lidya melalui Sarah.


Sarah menelan ludahnya kasar. Antara iya dan tidak, kini ia bingung untuk memutuskan. Jika ia menolak, maka akan sangat disayangkan sekali karena dengan menjadi manager Lidya maka ia akan bisa memengaruhinya untuk menjauhi ataupun menjalankan rencananya demi merubah kebiasaan Alex. Tapi jika ia menerima, maka pekerjaan dan tanggung jawabnya akan semakin besar dan tentunya sangat berat. Tetapi juga satu tantangan tersendiri bagi Sarah untuk bisa menjadi seorang manager ditengah hobi petualangannya. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ia sanggup untuk terus berada bersama Lidya dan mengesampingkan hobinya yang sudah begitu mendarah daging baginya?


"Pikirkanlah dulu baik-baik, aku akan sabar menunggu jawaban darimu," ucap Lidya sembari tersenyum.


Sarah mengusap dahinya yang tiba-tiba basah karena peluh. "Tawaran kerja yang sangat berat sekaligus sangat menantang," celetuknya yang disambut tawa oleh Andre.


"Sudah saatnya kau meninggalkan hobimu demi masa depan yang lebih cerah, Sarah," sahut Alex.


"Kau benar. Ini sangat patut untuk dipertimbangkan dengan matang, sebelum memutuskan." Sarah menatap nanar Lidya. "Bagaimana jika aku menolak?"


Lidya mencebikkan bibirnya. "Tidak masalah, mungkin aku akan meminta Alex untuk menjadi kandidat penggantimu," jawab Lidya dengan cukup tenang. Ia tahu ucapannya akan cukup memengaruhi Sarah.


Benar saja, begitu mendengar nama Alex yang disebutkan oleh Lidya, sontak Sarah menegakkan tubuhnya lalu mengangguk mantap. "Oke, aku setuju menjadi manager mu!" tegasnya.


Lidya tertawa lalu beranjak dari duduknya dan memeluk Sarah. "Terima kasih Sarah, kau menyelamatkanku dari Alex," ucapnya.


"Jangan lebay!" gerutu Sarah. "Kau tahu kelemahanku, kau juga tahu kalau aku tidak akan membiarkan dia menjadi manager mu, bisa rusak nanti semuanya."


Lidya dan Andre tertawa melihat raut wajah Sarah yang begitu lucu saat membayangkan Alex menjadi manager Lidya.


"Itu tidak akan terjadi," tegas Lidya. "Oke, sebagai manager, tolong katakan padaku apa yang seharusnya aku lakukan dari sekarang," lanjut Lidya sembari menatap Sarah dengan antusias.


"Yang perlu kau lakukan sekarang?" tanya Sarah.


Lidya mengangguk membenarkan.


"Yang perlu kau lakukan saat ini hanyalah istirahat yang cukup! Tidurlah dan isi tenaga untuk besok," jawab Sarah.


Sontak Lidya mendesah kecewa. "Ini masih sore," jawabnya.


"Tidak masalah, tetap lakukan! Besok pagi aku akan menyampaikan padamu apa saja urutan pekerjaan yang harus kita jalankan," tegasnya. "Harus patuh pada manager," imbuh Sarah saat melihat Lidya hendak membantah.


"Baiklah, siap," jawab Lidya pada akhirnya.


"Wah, kalau begitu aku harus pulang sekarang," celetuk Andre yang lalu beranjak dari duduknya.


"Aku juga," timpal Sarah.


"Aku ikut," sahut Lidya.


Sontak Sarah dan Andre menatapnya penuh tanya. "Ikut kemana?"


"Ikut pergi, aku tidak mau sendirian di sini," jawab Lidya.


"No! Kamu harus tetap tinggal di sini, Lidya," cegah Sarah.


"Kamu saja yang di sini, Sarah. Temani Lidya," ucap Andre menyarankan. "Tidak mungkin kalau aku yang ikut tinggal, nanti Alex menghajarku."


"Tapi aku tidak membawa pakaian ganti," gumam Sarah.


"Beli saja, jangan kayak orang susah! Sudah jadi manager juga masa pelit sama diri sendiri?" olok Andre yang lalu tertawa sendiri mendengar ucapannya.


"Masih belum gajian, aku baru diangkat jadi manager," timpal Sarah tidak mau kalah.


"Nih, aku ada uang kalau kamu mau kasbon," sahut Lidya sembari menunjukkan dua ikatan tebal uang pemberian dari Alex.


"Wow, banyak banget! Tapi aku anti menerima uang dari Alex," ucap Sarah pongah.


"Ya sudah nggak usah diterima, kita pakai saja langsung buat belanja keperluanmu," jawab Lidya. "Lihat bajumu, semuanya casual begitu," lanjutnya mengkritik Lidya.


"Iya deh. Yuk mari belanja," ajak Sarah pada akhirnya.

__ADS_1


"Nih ambil uangnya."


"Ogah! Uangku banyak, jangan khawatir," tolak Sarah. Sementara Andre melangkah terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali.


***


"Dari mana saja?" tegur Arman, saat Alex masuk ke rumahnya.


"Dari Bandung, jenguk Lidya," jawab Alex dingin.


"Rupanya kau sudah mulai bucin pada gadis itu," celetuk Arman sembari menyeringai.


"Papa salah, aku melakukannya karena ingin memastikan bahwa Lidya bersikap baik dan tidak sampai mencemarkan nama baik kita di sana," sahut Alex beralasan.


"Begitu?"


"Tentu saja!"


Arman tertawa lalu menganggukkan kepalanya. "Papa tidak sabar ingin menimang cucu dari kalian, setelah ini," celetuknya.


Alex mendengus kesal. Ia sedang tidak ingin mempunyai anak dari siapapun saat ini, karena ia tidak ingin ribet dengan segala tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Alex masih ingin hidup bebas tanpa dibebani mengurus anak ataupun istri, apalagi yang selalu bersikap manja. Itu pasti akan sangat merepotkan Alex nantinya. Ia juga masih belum puas menikmati tubuh-tubuh indah para wanita yang selama ini di incarnya.


"Tunda dulu keinginan Papa, Lidya masih ingin menjalankan karir barunya sebagai seorang model, di Bandung. Kami bakal pisah ranjang dalam waktu yang lama," jawab Alex malas.


"Nada suaramu terdengar sedih, kau merasa kehilangan?" pancing Arman setengah menyindir Alex.


Alex tertawa getir. "Sama sekali tidak, Alex justru merasa bebas sekarang, tidak ada yang melarang," jawabnya dengan tenang.


"Yakin?"


"Tentu saja," tegas Alex.


Arman tertawa pelan. Ia lalu mengirim video pada Alex yang berisi rekaman kejadian saat Ronald mencium pipi Lidya.


"Apa maksud Papa kirim video ini ke Alex?"


Alex mematuhi perintah Arman. Ia melihat seluruh isi rekaman itu hingga detik terakhir dan ia pun tertegun saat melihat dirinya berlari mendekati Lidya lalu memarahi Ronald. Ia baru ingat kalau saat itu hatinya terlalu panas ketika melihat pria lain menyentuh Lidya, selain dirinya.


"See? Kau cemburu, Alex," ucap Arman sembari terus menatap Alex, memastikan dugaannya.


Alex mencebikkan bibirnya. "Siapapun akan marah jika ada hal yang terjadi dan mengancam nama baiknya," desisnya berkilah. Padahal saat itu ia kembali menahan marah ketika melihat dengan jelas bagaimana cara Ronald mencium pipi Lidya dengan begitu rakusnya.


"Begitu?"


"Iya, Pa."


Arman mencebikkan bibirnya. "Jadi intinya semua tentang harga diri dan nama baik?"


"Tentu saja, Pa."


"Lalu apa yang sudah kau perbuat itu juga untuk menjaga harga diri dan nama baik kita, Alex?" tanya Arman, menjebak Alex.


Sontak Alex terdiam. Ayahnya benar, apa yang sudah ia lakukan justru lebih mencoreng nama baik mereka terlebih di sana ada banyak wartawan yang sudah mulai mendekat untuk meliputnya.


"Tidak bisa menjawab?" sindir Arman. "Kau menuduh Lidya seperti itu, tetapi dirimu sendiri tidak mau dituduh dengan hal yang sama."


"Bukan begitu maksud Alex, Pa, tadi itu ...."


"Tadi itu kamu terbakar api cemburu dan lalu ingin menghajar Ronald, yang sebenarnya adalah ketua penguji yang memang tertarik dengan Lidya," potong Arman cepat. "Alex, bukalah matamu! Ada banyak yang mengincar Lidya tetapi kau justru mengacuhkannya, apa itu waras?"


"Salahnya dimana jika memang Alex tidak mencintainya?"


"Tetap saja salah karena secara tidak langsung kau mengingkari janjimu sendiri yang sanggup menikahi Lidya," tegas Arman. Alex tertunduk diam. Ayahnya itu jika sudah dalam mode serius akan semakin sulit untuk dikalahkan.


"Alex sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa, Pa," ujar Alex lesu.


Arman mencebik. "Papa tidak pernah memaksamu."

__ADS_1


Keduanya lalu terdiam, sibuk bergelut dengan pemikiran masing-masing. Hingga akhirnya suara dering ponsel Alex menggema di seluruh ruangan itu.


"Ya?"


"Bos, Nyonya sedang bersama laki-laki itu," lapor anak buahnya.


"Laki-laki, siapa?"


"Laki-laki yang pernah, maaf, mencium Nyonya waktu itu," jawab anak buahnya.


"Kau yakin itu dirinya?"


"Yakin, Bos. Fotonya sudah kami kirimkan barusan tadi," jawabnya.


"Oke, kerja bagus. Awasi terus mereka, jangan sampai kehilangan jejak!" titah Alex yang lalu menutup panggilan secara sepihak. Kini ia terlihat bingung saat mendengar Lidya sedang bersama Ronald, pria flamboyan yang genit itu.


Arman terus memerhatikan gestur tubuh Alex yang bergerak gelisah. Raganya di tempat ini, tetapi pikirannya melayang jauh entah dimana. Putranya itu terlihat gusar dan marah, sampai menjambak rambutnya sendiri dengan keras.


"Apa yang terjadi pada Lidya saat ini?" celetuk Ayahnya, mencoba memberi perhatian secara penuh.


"Tidak ada masalah apapun di sana," jawab Alex.


"Tapi kau jadi cemburu begitu, pasti ada sebabnya," desak Arman.


Alex mengusap kasar wajahnya. "Lidya sedang bersama pria yang ada dalam rekaman video ini," jawabnya dengan cemas.


"Lalu bagaimana, kau akan ke sana lagi?" pancing Arman. "Keburu Lidya celaka," imbuhnya menakut-nakuti Alex.


"Tidak! Jangan sampai. Jika itu terjadi maka Ronald akan menghadapi ku, dan aku akan menghajarnya habis-habisan!" geram Alex.


"Kau benar, kau harus menghajar Ronald sebelum pria itu bertindak makin jauh terhadap istrimu," timpal Arman.


"Tidak akan ku biarkan Ronald menyentuh Lidya seujung jariku sekalipun," geram Alex.


Arman menganggukkan kepalanya berkali-kali. Sekarang sudah jelas terlihat, bagaimana sebenarnya perasaan Alex terhadap Lidya. Cinta!


Ya, Arman bisa merasakan cinta itu dalam sorot kemarahan Alex dan juga dari sikap Alex yang sangat terlihat jelas, ia tidak terima jika ada pria lain yang menyentuh istrinya. Sudut bibir Arman terangkat, sepertinya usaha Lidya untuk meluluhkan hati Alex menunjukkan tanda-tanda yang baik.


"Sekarang apa rencanamu?" tanya Arman.


"Alex akan ke Bandung, Pa."


"Lagi?"


"Ya, demi Lidya. Alex akan melindunginya dari kejauhan," tegas Alex.


"Memang bisa?"


"Pastinya bisa, Alex akan mencari cara apapun itu asal Lidya tidak tersentuh siapapun."


Arman kembali menganggukkan kepalanya. Semakin ia memancing Alex, maka semakin terlihat pula reaksi yang menunjukkan tentang perasaan Alex pada Lidya.


"Kau bisa rasakan dan lihat sekarang, Alex?" tanya Arman.


"Apa itu?"


"Perasaanmu terhadap Lidya," jawab Arman.


"Perasaan?"


"Ya. Bukankah jelas terasa kalau kau begitu marah saat Ronald mencium pipi Lidya? Dan juga saat ini ketika Lidya bersamanya?" pancing Arman.


"Tentu saja aku marah. Aku tidak terima istriku disentuh pria lain."


"Itu berarti kau mencintainya, anakku," ucap Arman.


Alex bungkam.

__ADS_1


"Kau cemburu."


__ADS_2