Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Terpesona


__ADS_3

Kim berlalu meninggalkan Alex berdua dengan Lidya yang kini terlihat tenang di tempat duduknya. Lidya sedang mengirim pesan pada Sarah, bahwa Kim akan mendatanginya. Ia lakukan itu agar Sarah bisa memanfaatkan kondisi dengan sebaik-baiknya. Ia berharap, Sarah pun mampu menjalankan perannya, untuk bisa mendekati Kim. Ya, ia punya ide baru yang melintas begitu saja dalam benaknya saat ini, yang membuat sudut bibirnya terangkat, menyeringai dengan begitu manisnya.


"Rupanya kau sedang bersenang hati, Nona Sephia," celetuk Alex, mencoba memancing penjelasan dari Lidya, kira-kira siapa yang saat ini sedang berkirim pesan dengannya.


"Ehm, tentu saja. Saya mendapatkan klien yang sangat baik hati dan mau memahami kondisi," jawabnya, setengah menyindir Alex.


Alex tersenyum masam. "Apakah dia orang penting?" tanyanya setengah menggerutu.


"Apa Anda lupa, di dunia ini masih banyak orang-orang penting yang sangat jauh di atas kita," jawab Lidya diplomatis. "Dan klien saya ini sangat penting bagi saya," imbuhnya, menegaskan.


"Lalu aku, apakah aku sepenting itu bagimu?"


Lidya mengedikkan bahunya sembari mencebik. "Tergantung," jawabnya. Alex mendengus kesal.


"Bagaimana, kita jadi berangkat?" tanya Lidya sembari menyimpan ponselnya ke dalam tas.


"Jadi 'lah. Tapi kita harus makan dulu sebelumnya, karena kita akan menempuh perjalanan jauh. Aku tidak mau berhenti mendadak saat di perjalanan nanti, hanya karena ada yang kelaparan," jawab Alex.


"Terserah bagaimana baiknya menurut Anda," jawab Lidya dengan tenang. Alex menatapnya gusar. Jika wanita lain yang mendengar, pasti akan merasa gentar dan tidak akan berani menjawabnya. Tetapi ternyata semuanya berbeda jika ia harus berhadapan dengan Sephia, alias Lidya ini.


Tak lama, makanan pesanan mereka pun datang. Keduanya lalu makan dengan tenang, tanpa ada sedikit pun pembicaraan. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


Kondisi yang tidak jauh berbeda dengan Sarah dan Kim yang saat ini sedang duduk berhadapan dalam diam, menunggu pesanan mereka datang. Kali ini Kim bersikap bak seorang pria gentleman, yang mentraktir makanan untuk Sarah. Tentu saja Sarah menyambutnya dengan senang hati.


Sementara itu Andre, di meja yang lain terlihat menggerutu sembari mengunyah makanan pesanannya. Ia yang bertugas untuk mengawasi kedua wanita itu hanya mampu menelan ludah kasar ketika menyadari dirinya hanya sendiri saat ini, sedangkan kedua wanita cantik itu seolah sedang bersama kekasih mereka.


"Enak banget, makan gratis, berdua pula," gerutu Andre. "Sepertinya aku butuh asisten, yang bisa menemaniku di saat-saat seperti ini."


Sarah yang sempat melirik Andre sekilas hanya menyunggingkan senyum tipis lalu mengirim pesan pada sepupunya itu.


|"Biar aku yang bayar makanannya, pesan yang banyak dan nikmati semuanya,"| - Sarah.

__ADS_1


Andre mendengus saat membaca pesan itu. |"Sudah ku bayar sendiri, transfer saja ke rekeningku, anggap itu uang makan dan transportasi!"| balasnya.


Sarah tertawa kecil, mengundang atensi penuh dari Kim, saat tanpa sengaja ia melihat lesung pipit di pipi kiri Sarah. Wanita di hadapannya itu terlihat semakin cantik jika sedang dalam kondisi santai seperti ini. Maklum saja, biasanya ia melihat Sarah dalam mode serius, karena selalu bertepatan dengan urusan pekerjaan, saat mereka bertemu sebelumnya.


Mengetahui Kim sedang menatapnya, Sarah berdehem kecil lalu tersenyum pada asisten Alex itu. "Sorry, lagi asik sama teman," ucapnya. Ia mengira Kim melihatnya aneh karena tertawa sendirian.


"Tidak masalah Nona, Anda kelihatan cantik," jawab Kim yang sontak menutup mulut dengan satu tangannya, sementara wajahnya bersemu merah.


"Terima kasih," ucap Sarah sembari tersenyum geli melihat tingkah Kim. "Santai saja, tidak ada yang salah memuji orang lain, terutama wanita," imbuhnya, mencoba membuat Kim tenang.


"Saya hanya tidak terbiasa saja, Nona. Jadi rasanya aneh dan canggung," ujar Kim sembari mengusap tengkuknya.


Sarah yang melihat gaya canggung dan kaku Kim menahan tawanya dalam hati. Baru kali ini ia melihat ada seorang lelaki yang cukup tampan dan gagah seperti Kim, tetapi canggung saat berhadapan dengan wanita.


"Apa Anda tidak pernah dekat dengan wanita manapun?" tanya Sarah ingin tahu.


Kim tersenyum malu-malu dan menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah."


Kim kembali mengusap tengkuknya. "Tiga puluh tahun," jawabnya.


Sarah melebarkan kedua matanya. Ia mengira usia Kim lebih dari tiga pulih tahun, kalau melihat dari wajahnya. Tapi rupanya ia telah salah. "Masih muda," celetuknya.


"Tapi Tuan Alex bilang saya sudah tua," sahut Kim sembari tertawa.


"Ah, Alex memang begitu, padahal usianya sendiri tidak jauh dari Anda, bukan?"


"Tapi beliau sudah banyak pengalaman, terutama untuk masalah wanita," timpal Kim. "Sedangkan saya justru grogi, tidak bisa sama dengan beliau."


Sarah tersenyum. "Tidak semua orang harus sama, Pak Kim. Karena tiap orang mempunyai keunikan masing-masing."


"Tapi saya memang beda, Nona. Kadang-kadang saya sampai minder sendiri saat Tuan Alex mengolok dan menyindir saya."

__ADS_1


"Apa Pak Kim mau saya ajari, bagaimana sebaiknya bersikap di depan wanita?" ujar Sarah menawarkan diri.


"Apa Anda bisa, Nona?"


"Justru itu pekerjaan saya selama ini," jawab Sarah. "Ada banyak para model lelaki yang saya gembleng dan membuat mereka percaya diri."


"Benarkah? Berapa biaya untuk itu, Nona?" tanya Kim yang merasa tertarik. Sudut hatinya justru bersorak, karena dengan hal itu ia akan bisa sering-sering bertemu Sarah.


Sarah tertawa kecil. "Biaya? Free untuk Anda, Pak Kim. Anggap ini sudah jadi satu paket dengan Alex dan Sephia," jawabnya.


Kim tersenyum lebar, membuat Sarah terpana. Untuk pertama kalinya ia melihat senyum se menawan itu dari wajah kaku seorang Kim. Jika sedang tersenyum begini, Kim justru terlihat jauh lebih muda dari usianya. Sarah mengerjapkan matanya saat melihat dada bidang yang tertutup setelan formal dan juga lengan kekar Kim. Kalau boleh mengakui, sebenarnya gaya dan bentuk tubuh Kim yang ideal adalah tipe-tipe lelaki yang ia cari selama ini. Tapi apa daya, ia sudah menjalin hubungan yang serius dengan Doni, sang fotografer perusahaan.


"Anda serius, free untuk saya?" tanya Kim, membuyarkan lamunan sesaat Sarah.


"Tentu saja, kenapa tidak?" jawab Sarah sembari meneguk minumannya, menyamarkan kecanggungan yang tiba-tiba menyelimutinya. Ia tidak menyangka hatinya bergetar hanya karena sebuah senyuman dari seorang Kim.


"Oke, kapan kita akan memulainya?" tanya Kim antusias. Sarah tersenyum melihatnya.


"Anda ikut bersama Alex? Katanya sekitar satu jam lagi akan berangkat ke luar kota?" tanya Sarah.


"Tunggu sebentar, saya tanyakan dulu," jawab Kim. "Memangnya apa hubungan antara beliau dan urusan kita?"


"Jika Anda ikut, maka saya pun secara otomatis akan ikut. Kita akan sama-sama bekerja di sana sembari saya mengajari Anda, Pak Kim," jawab Sarah. "Jadi waktu kita tidak akan sia-sia saat menunggu mereka."


"Ah, Anda benar Nona. Baiklah, saya tanyakan dulu." Kim serta merta beranjak dari duduknya lalu menghampiri Alex seraya membisikkan sesuatu di telinganya. Alex terlihat melirik Sephia lalu beralih ke Sarah, dan akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya. Entah apa hang disampaikan oleh Kim, yang jelas, menurut penglihatan Sarah, sepertinya Alex menyetujui apa yang sudah diutarakan oleh asistennya itu.


Setelah selesai, Kim kembali duduk di hadapan Sarah sembari tersenyum yang lagi-lagi membuat Sarah terpana. "Beres Nona. Tuan Alex bilang, memang saya harus ikut, karena Nona Sephia pasti akan mengajak Anda turut serta," jelasnya.


"Oke, deal. Kita berangkat sama-sama kalau begitu," sahut Sarah yang ikut antusias mendengarnya. Entah kenapa ia begitu bersemangat kali ini.


"Ehm, kalian terlihat serasi," celetuk seseorang yang cukup mengejutkan Sarah dan Kim yang sedang saling menatap dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2