Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Meminta Jatah


__ADS_3

Pagi itu Lidya dan Sarah sedang berkutat di dapur, memasak makanan sesuai keinginan mereka masing-masing. Alhasil kondisi dapur begitu berantakan dan suara mereka yang begitu berisik, berebut alat masak hingga berujung tawa yang berderai karena masakan mereka gosong.


Meskipun mereka tetap melanjutkan memasak, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang ada dalam benak mereka dan berakhir dengan tatapan sendu mereka, melihat masakan gosong dan juga tak berbentuk.


"Ini gara-gara kita terus aja ribut dan ribet sama perkakas dapur," celetuk Lidya kecewa.


"Lagi-lagi perkakas yang jadi masalah kita, sejak kemarin malam. Aku jadi heran, bagaimana bentuknya?" timpal Sarah, tidak jelas maksudnya bagaimana.


"Bentuk apa nih? Awas lho, pikirannya jangan kotor begitu, kamu masih dibawah umur," tegur Lidya sembari tertawa.


"Apa sih? Bentuk perkakas dapur ini lho, Lid. Udah nggak bener, pada meletot semua karena kena panas, bukan bentuk perkakas yang lain," jawab Sarah. "Pikiranmu tuh yang kotor, dasar jablay!"


Lidya tertawa. "Iya ih, udah tiga harian aku nggak disentuh sama Alex," timpalnya, sengaja agar Sarah semakin sewot, karena ia yang selalu iri melihat kemesraan orang lain.


"Iya deh, iyaaaa. Yang udah nikah mah bebas!" gerutu Sarah.


"Makanya cepetan nikah, ajak tuh pacarmu," sahut Lidya.


"Doi masih belum siap, lagi nyiapin rumah dulu baru nikah, katanya sih begitu."


"Kelamaan! Kan bisa ditanggung berdua tuh, ntar kalau udah nikah." Lidya menatap heran pada Sarah. "Kamu yakin pacarmu nggak cuma cari-cari alasan aja?"


"Yakin lah, orang aku udah lihat rumahnya gimana," jawab Sarah. "Masih enam puluh persen progresnya."


"Oh, lagi proses bangun rumah? Syukurlah kalau begitu."


"Makanya, dia mau fokus dulu, ntar kalau udah kelar baru bicara soal nikah."


Lidya mengangguk paham. Ia menatap Sarah intens. Gadis yang terlihat smart dan ceria itu kini terlihat sedikit murung, entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.


"Lid," panggil Sarah.


"Ya?"


"Jadi sarapan nggak nih, kita?" tanya Sarah lugu. Ia lalu mengusap perutnya berkali-kali. "Yang di dalam sini sudah berteriak dari tadi."


"Oh, astaga, aku lupa! Ya udah gih, pesan online aja," pekik Lidya sedikit panik. Pasalnya satu jam lagi mereka sudah harus sampai di studio 1 untuk pengambilan gambar yang selanjutnya.


"Yakin mau pesan online saja?" tanya Sarah memastikan.


"Ya nggak masalah sih kalau nggak pesan. Emang kamu mau habisin ini semua? Udah kayak kota yang terkena bom atom aja nih penampilannya, aku nggak tega," ucap Lidya sembari menutup matanya.


"Sama dong, aku juga nggak tega. Ya udah, fix kita pesan online saja ya!"


"Sip!" Lidya mengacungkan ibu jarinya sembari mengangguk setuju. "Aku ke kamar mandi dulu, panggilan alam," pamit Lidya yang langsung diangguki oleh Sarah.


Belum lagi Lidya membuka pintu kamar mandi, di dalam kamarnya, terdengar suara bel pintu depan berbunyi. "Sarah, tolong bukain ya!" teriaknya yang lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sarah yang baru memilih menu untuk sarapan, mengurungkan niatnya untuk memesan. Dengan malas ia lalu bergegas melangkah ke pintu dan membukanya. "Wah, kamu datang!" serunya girang.


"Pagi, mana Bosmu?" sapa Andre yang datang sembari membawa dua kantong plastik yang cukup besar, berlogo rumah makan ternama di kota itu.


"Lagi di dalam," jawab Sarah. "Apa yang kamu bawa itu?" tanyanya sembari menatap tak berkedip, bawaan Andre.


"Coba tebak!" Andre menyeringai lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa sembari mengembuskan napas panjang.


"Pasti makanan!" jawab Sarah sembari menelan saliva.


"Ntar aja nebaknya, tunggu sampai Lidya keluar."


"Dih, kelamaan." Sarah ikut duduk sembari cemberut.


Tak lama Lidya keluar dari kamarnya lalu tersenyum menatap Andre. "Sudah dijemput sama Pak Bos, nih, harus buru-buru," celetuknya.


"Iya, mana masih belum sarapan," gerutu Sarah menimpali.


"Belum sarapan? Kenapa, nggak bisa masak? Dasar pemalas!" tegur Andre.


"Enak aja, kamu lihat tuh di meja makan, semua udah kelar dan siap dimakan," sahut Sarah jengkel.


"Lalu kenapa nggak kalian makan aja? Gitu aja ribet!"


"Ya jelas ribet lah, nggak sesuai selera," jawab Sarah.


"Kamu nggak pengen cobain hasil masakan kita, Ndre?" celetuk Lidya sembari menutup makanan yang gosong dengan nasi.


"Boleh, memang masih ada?" Andre beranjak dari sofa dan berpindah ke meja makan. "Wah, kelihatannya enak."


"Makan aja kalau mau." Lidya mendorong piring berisi makanan, ke depan Andre. "Habiskan semua kalau kamu sanggup," imbuhnya sembari menahan tawa.


"Oke, siapa takut? Kalau begitu yang di kantong itu buat kalian berdua, deh. Aku yang ini saja," ucap Andre yang sontak mendapat sambutan dari kedua wanita itu. Andre hanya menggelengkan kepalanya, heran melihat tingkah dua manusia itu yang terlihat seperti tidak makan selama berhari-hari.


"Thank's, Ndre! Aku makan di kamar aja sambil bersiap-siap," ucap Lidya yang lalu berlari masuk ke kamar sembari membawa satu kantong berisi makanan dari Andre.


"Aku juga!" teriak Sarah yang lalu menyusul Lidya sembari membawa kantong makanan miliknya. Andre kembali menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir melihat tingkah keduanya. Ia pun lalu mulai melahap makanan yang sudah dihidangkan oleh Lidya. Tapi baru saja ia mengunyah, seketika ia berlari ke ujung dapur, mencari tempat sampah untuk membuang hasil kunyahannya.


"Woiy, kalian, awas ya!" teriak Andre marah-marah. "Kalian sengaja beri aku racun!"


Lidya dan Sarah yang sedang berdiri di balik pintu kamar pun tertawa. Mereka lalu keluar dan bergabung bersama Andre yang sudah duduk di meja makan sembari menenggak minuman dingin dalam botol.


"Kena deh!" teriak Sarah sembari menepuk bahu Andre gemas.


"Kalian tega banget, pagi-pagi sudah bikin aku keracunan!" protes Andre.


"Makanya, lain kali di lihat dulu sebelum makan, kira-kira itu makanan masih layak apa nggak buat dimakan," ucap Lidya sembari membuang makanan bekas Andre lalu meletakkan kantong makanannya di depan Andre. "Udah sana, sarapan ini saja."

__ADS_1


"Nggak, itu buat kamu," tolak Andre yang memang membeli makanan itu untuk Lidya dan Sarah.


"Emang kamu udah sarapan?" tanya Lidya.


"Sudah tadi di sana, sambil nunggu yang dibungkus," jawab Andre datar.


"Beneran?"


Andre mengangguk. "Sudah, buruan dimakan, keburu siang."


Tanpa banyak bicara, Lidya mengambil piring besar lalu membuka makanannya di hadapan Andre. Satu porsi makanan itu terlihat cukup banyak. Lidya meringis melihatnya. "Bantu habisin ya, ini terlalu banyak," ucapnya sembari mengambil dua sendok lalu memberikan salah satunya untuk Andre. "Sepiring berdua, sudah lama kita nggak melakukannya, bukan?"


Andre tersenyum lebar lalu ikut makan bersama Lidya, sedangkan Sarah yang duduk di sudut lain hanya menatap iri keduanya. "Apa cuma aku doang yang kepikiran kalau sebenarnya kalian tuh cocok jadi sepasang kekasih," celetuknya.


Lidya dan Andre saling menatap lalu sama-sama menunduk, kembali sibuk dengan makanan mereka.


"Oke, dikacangin! Emang enak jadi nyamuk," celetuk Sarah sekali lagi membuat Lidya dan Andre tertawa. Ketiganya kini makan bersama sembari sesekali cekikikan saat saling melempar candaan hingga suara ketukan pintu berhasil membuat mereka diam seketika.


"Siapa tuh?" tanya Sarah. "Masih belum waktunya berangkat, apa kamu ada janji dengan seseorang?"


Lidya menggelengkan kepalanya. "Biar aku lihat ke sana," ucapnya yang lalu beranjak dari duduknya, hendak membuka pintu.


Sontak Andre memegangi lengan Lidya lalu memintanya untuk duduk kembali. "Biar aku saja," ucapnya yang lalu menggantikan Lidya, membuka pintu. Lidya menajamkan telinga saat mendengar suara-suara orang berbicara di luar.


Begitu pintu terbuka lebar, tampaklah sosok pria yang berdiri dengan gagah, menatap lurus ke arah Lidya, dengan tatapan yang sulit diartikan. "Boleh aku masuk?" ujarnya tenang. Di belakangnya terlihat dua orang tergeletak lemah di atas lantai.


Lidya gelagapan. Ia lalu berlari mendekati sosok itu. "Masuklah," ucap Lidya sembari mengedipkan matanya pada Sarah dan Andre, memberi mereka kode, agar mengijinkan pria itu masuk. Keduanya pun mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah keluar, memberi kesempatan pada Lidya untuk bicara, bersama tamunya.


"Kau ada pekerjaan di kota ini? Aku lihat kau lebih sering di kota ini," tanya Lidya basa basi.


"Begitulah," jawab pria itu singkat.


"Apa tujuanmu datang ke sini, Alex?" tanya Lidya.


"Mengunjungi istri," jawab pria itu yang adalah Alex. "Apa tidak boleh, seorang suami mengunjungi istrinya sendiri?"


"Boleh," sahut Lidya cepat.


"Kalau begitu boleh juga dong, kalau suami meminta jatah pada istrinya?" tanya Alex iseng. Kedua matanya menatap penuh damba, wajah dan seluruh tubuh Lidya.


"Jangan menatapku seperti itu, nanti kau jatuh cinta," celetuk Lidya dengan wajah merahnya.


"Kau ada waktu?" tanya Alex.


"Masih sekitar setengah jam lagi sebelum kembali ke studio," jawab Lidya sembari melirik jam tangannya.


"Beri aku waktumu," pinta Alex yang lalu menggendong tubuh Lidya ala bridal style.

__ADS_1


__ADS_2