
Lidya kembali mengangguk. "Benar, Alex Pradana," jawabnya.
Sontak Sarah membelalakkan matanya. "Kamu istrinya?"
"Iya, aku istrinya," jawab Lidya. "Kenapa?"
Sarah menatap iba Lidya lalu melirik sekilas ke Andre yang saat itu juga sedang menatapnya penuh tanya.
"Sorry banget nih, tapi aku nggak enak bilangnya," ucap Lidya sembari menatap jengah Lidya.
"Ada apa, katakan saja, Sarah," sahut Lidya sembari tersenyum meskipun tak urung hatinya was-was saat juga saat ini.
Andre mengangguk, memberi tanda pada Sarah untuk jujur saja terhadap Lidya.
Sarah menghela napas panjang lalu menggenggam jemari tangan Lidya. "Sorry ya Lid, tapi Alex itu setahuku seorang playboy, sepupuku pernah jadi salah satu korbannya," ucap Sarah dengan perasaan prihatin. "Apa kamu belum tahu hal ini saat menikah dengannya?"
Lidya tertunduk diam. Haruskah Ia jujur mengakui pada Andre dan Sarah tentang bagaimana sebenarnya kehidupan pernikahannya bersama Alex? Tetapi Lidya juga sempat percaya dengan ucapan Sarah, karena ia ingat, Alex selalu memanggil nama Lily saat bercinta dengannya saat itu.
"Ehm, sebenarnya kami menikah karena dijodohkan," jawab Lidya.
"Apa? Hari gini masih ada perjodohan toh?" tanya Sarah kaget.
Lidya meringis sementara Andre terkekeh pelan. "Buktinya Lidya mengalaminya saat ini," celetuknya.
"Sayang sekali, di jodohkan sama Alex lagi, duh," celetuk Sarah menyayangkan.
Lidya seketika tertunduk sedih. Sebegitu buruknya kah sosok Alex dimata banyak orang? Dirinya pun beberapa kali membaca komentar beberapa orang pada postingan Alex beberapa waktu yang lalu, semua mengatakan bahwa Alex adalah seorang playboy kelas kakap, tetapi selama Lidya belum mengetahuinya sendiri atau tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan percaya dengan semua gosip yang beredar tentang Alex.
"Ups! Sorry banget Lidya, aku memang gini orangnya, suka ceplas ceplos, tapi nggak ada maksud apa-apa, kok, cuma kasi tahu dan peringatan saja, biar kamu selalu hati-hati dan nggak terkejut kalau tiba-tiba melihat Alex sedang bersama wanita lain," jelas Sarah. Ia menyesal mengatakan semuanya karena sudah membuat Lidya bersedih.
Lidya tersenyum. "It's oke, Sarah. Nggak masalah, aku tahu niatmu baik."
"Aku justru ingin menambahi informasi tentang Alex, tapi takut di bilang cemburu," celetuk Andre yang sontak membuat Lidya dan Sarah tertawa.
"Mana Roni?" tanya Andre saat baru menyadari Sarah hanya datang sendirian.
"Bentar lagi datang, barusan kelar pengambilan gambar yang terakhir, di studio 1," jawab Sarah.
Tak lama makanan pesanan mereka datang, bersamaan dengan Roni, kekasih Sarah. Merekapun makan siang sembari membicarakan tentang banyak hal, termasuk tentang tahap akhir pemilihan calon model dan brand ambassador produk kecantikan milik perusahaan rekanan mereka.
***
Alex membuka matanya secara perlahan. Sudah dua hari ini ia harus tidur sendirian tanpa kehadiran Lidya. Sudah dua hari itu pula ia selalu uring-uringan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Bandung, mencoba mencari keberadaan seorang Lidya, di beberapa perusahaan yang Alex ketahui.
__ADS_1
"Kalau melihat alasannya, saya yakin istri Anda sedang mengikuti audisi, pemilihan model brand ambassador di perusahaan sebelah," jawab salah satu klien bisnis Alex, saat ia sengaja berkunjung ke salah satu kenalannya.
"Seingat ku sepertinya dia pernah bingung mengikuti pemilihan model. Awalnya aku tidak menanggapinya dengan serius, tetapi sepertinya dia tidak berbohong," jawab Alex.
"Tumben sekali Anda ribet dengan masalah perempuan?" sindir rekan bisnis Alex. "Ah, saya lupa Anda sudah menikah, tentunya akan selalu memerhatikan keberadaan dan kondisi mereka," lanjutnya sembari berdeham pelan. Pasalnya dari yang ia tahu, Alex bukanlah seorang yang mudah terikat dengan hanya satu wanita. Bahkan pria itu tidak pernah peduli, terlebih jika harus mencari wanita yang pernah bersamanya sebelumnya.
"Tentu saja karena dia istriku. Aku tidak akan membiarkannya sendirian, di manapun dia berada."
"Tapi nyatanya sekarang Anda mencarinya," celetuk pria itu sembari tersenyum. "Cinta memang luar biasa."
"Cinta?"
"Kalau saya lihat, sepertinya Anda ini sedang jatuh cinta," jawab pria itu.
Alex tertegun. Benarkah dirinya sedang jatuh cinta? Padahal ia sudah menanamkan dalam hatinya untuk tidak akan pernah terlihat lemah dan tunduk pada satupun wanita. Tetapi apa yang terjadi padanya saat ini? Ia justru mulai merasa kehilangan ketika Lidya tidak berada di sampingnya.
Alex tersenyum sinis. "Aku tidak mungkin jatuh cinta pada seorang gembel seperti dia. Kau lihat sendiri, aku hanya ingin menunjukkan tanggung jawab sebagai seorang suami," kilahnya. Namun rekan bisnisnya justru tersenyum penuh arti.
"Kelak saat Anda menyadari bahwa Anda sedang jatuh cinta, maka bersiaplah untuk menjadi seorang pria bucin di depan istrinya," ucap pria itu yang lalu tertawa keras. Alex mengumpat sembari menggelengkan kepalanya tidak setuju.
Sementara itu Lidya sedang menikmati proses pemilihan tahap akhir dimana semua peserta harus memakai salah satu pakaian yang sudah di siapkan oleh pihak penyelenggara. Lidya selalu siap meskipun sebenarnya ia sudah membeli dan mempersiapkan materi sendiri, tetapi ia berusaha dengan baik untuk mengikuti arahan dan aturan yang ada.
"Siapa sebenarnya wanita ini?" tanya sang ketua penyelenggara kontes yang saat itu ikut hadir bersama jajarannya.
"Hm, kau banyak tahu juga tentangnya," ucap sang ketua.
"Semua sudah tertulis lengkap dalam data diri yang sudah kita pegang saat ini, Ronald," jawab Sarah sembari tertawa renyah. Ia lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada Lidya yang sedang beraksi di atas panggung. Ia cukup bangga dan kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh sahabat dari sepupunya itu.
Sang ketua penyelenggara itu pun menepuk dahinya pelan saat menyadari kebodohannya. Ia lalu membaca semua informasi tentang Lidya di sana lalu menyunggingkan senyum yang biasanya sangat mahal itu. Sarah meliriknya sekilas lalu tertawa dalam hati. "Sepertinya pria kulkas ini jatuh cinta pada Lidya," gumamnya dalam hati. "Wajar sih, Lidya cantik dan sangat kompeten."
"Aku mau dia!" desis Ronald sembari menunjuk Lidya. Sontak semua yang duduk di deretan bangku penguji mengangguk setuju, termasuk Sarah.
"So, buat apa kita lanjutkan, sudahi saja!" protes Ronald yang tidak sabar ingin menemui Lidya setelah pengujian selesai.
"Tidak bisa begitu, hargai peserta yang lain, setidaknya sampai mereka menunjukkan aksinya," jawab Sarah yang sebenarnya adalah wakil dari Ronald. Mereka berdua sama-sama pencari bakat dan terkenal jeli melihat peluang serta tidak pernah gagal dalam mengambil keputusan.
"Oke, kau benar," jawab Ronald. "Selesai acara, katakan padanya untuk menemuiku di ruang biasanya, sebelum hasil di umumkan. Kau mengerti?"
"Siap! Nanti aku sendiri yang mengantarnya padamu."
Ronald mengacungkan ibu jarinya lalu melangkah pergi begitu saja, meninggalkan kursi kebesarannya. Sontak semua yang hadir pun paham, jika Ronald sudah meninggalkan tempat, bisa dipastikan jika sang pemenang sudah diputuskan.
***
__ADS_1
"Anda memanggil saya?" tanya Lidya dengan hati berdebar saat masuk ke ruang kerja Ronald.
"Ya, duduklah."
Lidya duduk dengan patuh di hadapan Ronald, lalu menunggu dalam diam ketika tahu Ronald kini justru sedang sibuk menuliskan sesuatu pada lembaran cek di tangannya.
"Berapa usiamu?" tanya Ronald sambil lalu.
"Dua puluh tiga tahun," jawab Lidya.
"Sudah bersuami?"
"Sudah," jawab Lidya jujur.
Sudut bibir Ronald terangkat, ia begitu senang mendengar kejujuran dan keberanian Lidya.
"Jika ternyata kau lah pemenangnya, apa yang akan kau lakukan?" pancing Ronald.
"Tentu saja aku akan berterima kasih pada semua orang yang sudah mendukungku, selama kontes audisi ini," jawab Lidya
"Termasuk padaku?"
"Tentu saja, kenapa tidak?" sahut Lidya cepat.
Ronald tersenyum lebar. "Apa tang akan kau lakukan untuk berterima kasih padaku?" tanyanya.
"Maksudnya bagaimana, Pak, maaf?"
Ronald menghela napas saat mendengar panggilan dari Lidya. Ia sangat keberatan karena ia merasa masih terlalu muda untuk mendapatkan panggilan seperti itu.
"Maksudku, apa kau melakukan sesuatu untukku, sebagai ucapan terima kasih?" tanya Ronald, mengulang dengan cara yang berbeda.
"Anda menginginkan hadiah?" tanya Lidya lugu.
"Ya, semacam itu!"
"Tapi apa, saya masih belum memikirkan tentang hal ini," ucap Lidya beralasan.
Ronald mendekatkan wajahnya ke wajah Lidya. "Jadilah kekasih rahasiaku," bisik Ronald sembari memerhatikan lekuk tubuh Lidya yang terlihat begitu indah dalam balutan busana semi formal, dengan bagian dada yang terbuka, menunjukkan bentuk garis bukit yang indah di dalamnya. Seketika Ronald meneguk air liurnya dengan susah payah. Pesona Lidya terasa begitu nyata baginya.
Lidya seketika beranjak dari duduknya lalu menjauh dari Ronald. "Jika itu yang Anda minta, saya tidak akan pernah mau untuk memenuhinya. Lebih baik saya menjadi seorang wanita biasa, daripada menjadi seorang kekasih rahasia demi karir, tidak!" tegas Lidya.
Ronald menyeringai. "Kau boleh kembali ke tempatmu," titah Ronald setelah puas dengan Lidya. "Tunggu pengumuman hasilnya, satu jam ke depan."
__ADS_1
Lidya mengangguk sopan lalu segera beranjak pergi, meninggalkan Ronald yang terus saja menyeringai sembari menatap tubuhnya dengan penuh minat. Lidya bergidik karenanya.