
Pagi itu Sarah sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya dan juga Lidya. Kalau memasak, Sarah lebih suka melakukannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Tadi pun sebenarnya Lidya sudah memaksa untuk membantunya, tetapi gadis itu menolaknya dengan tegas. Akhirnya Lidya hanya bersih-bersih apartemen lalu setelah itu mandi, sambil menunggu sarapan sudah siap.
Di tengah kesibukannya memasak, tiba-tiba ponselnya berdering. Sarah memperkecil nyala api di kompor lalu menyambar ponselnya sembari menjauh dari dapur.
"Ya, halo."
"Dengan Nona Sarah, Manager Lidya?"
"Tepat sekali, Anda siapa?"
"Saya Kim, asisten Tuan Alex."
"Oya, ada apa, Tuan?"
"Tuan Alex ingin agar pertemuan beliau dengan Nona Sephia dipercepat," ucap Kim tanpa basa basi.
"Apa, dipercepat? Maaf, saya harus tanyakan dulu ke agensi tentang hal ini," jawabnya sedikit bingung. Pasalnya Lidya masih dalam kondisi kacau karena ulah Alex semalam.
"Tidak bisakah Anda memutuskannya sendiri? Tuan Alex bilang sudah membayar Anda mahal."
"Tetap saja saya harus melaporkan ke agensi, Tuan. Bukan kapasitas saya untuk mengambil keputusan," tegas Sarah. "Lagipula, Nona Sephia juga masih belum tentu bisa, beliau jadwalnya sangat padat."
Terdengar suara decakan jengkel di ujung panggilan, yang Sarah yakini itu adalah suara Alex. Seperti biasanya, Alex selalu minta diprioritaskan dan tidak menyukai penolakan.
"Nona Sarah, Tuan Alex ingin bicara sendiri dengan Anda." Kim memberitahu. Sarah hanya menggumam pelan.
"Sarah, pilih jam kosong Sephia dan isilah pertemuan denganku," paksa Alex.
"Maaf, saya tidak bisa memutuskan sekarang, Tuan. Ijinkan saya menghubungi agensi dulu sebelum menjawab Anda," ucap Sarah sembari menyeringai. Yang ia maksud dengan agensi sebenarnya adalah dirinya sendiri dan juga Andre, termasuk Lidya.
"Oke, ku tunggu hasilnya bagaimana, secepatnya! Nanti aku yang akan menghubungimu."
"Siap."
Sarah tertawa kecil saat Alex menutup panggilan. Gadis itu lalu segera menghubungi Andre dan mengajaknya untuk datang ke apartemen, sekalian sarapan bersama.
"Siapa yang telepon? Kantor? Apa kita harus segera berangkat? Ini masih jam tujuh pagi," ucap Kidya dengan serangkaian pertanyaannya.
"Alex," jawab Sarah. "Dia minta pertemuan dengan Sephia dipercepat," jelasnya.
Lidya tertegun. Apa lagi yang di inginkan Alex kali ini? Apa wanita semalam tidak bisa membuatnya puas? Batinnya berkecamuk.
__ADS_1
"Dipercepat? Kapan katanya?" tanya Lidya yang lalu duduk di meja makan, sementara Sarah mematikan kompor karena masakannya sudah matang.
"Entahlah, dia masih belum bilang. Dari caranya bicara, aku yakin dia ingin bertemu Sephia hari ini juga," jawab Sarah sembari menuangkan sayur dan lauk pauk pada wadah yang tersedia.
"Aku masih malas bertemu dengannya."
"Itu masalah gampang. Kita tinggal menolaknya saja, beres!" ujar Sarah.
"Apakah semudah itu?"
Sarah terkekeh lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak juga sih," jawabnya. "Kita sama-sama tahu Alex tidak suka penolakan."
"Itulah."
Keduanya sama-sama terdiam sampai akhirnya bel pintu apartemen Sarah berbunyi. Sarah segera melangkah untuk membukakan pintunya. "Masuklah, Ndre, sekalian kita sarapan bareng," ucapnya menyambut saudara sepupunya itu.
"Wah, tahu aja kalau aku lagi nggak sempat masak dan beli sarapan," celetuk Andre sembari melangkah masuk lalu duduk di samping Lidya. "Bagaimana kabarmu pagi ini?"
"Begini saja, seperti yang kau lihat," jawab Lidya malas.
"Hey, ada apa denganmu, masih sepagi ini terlihat lesu," celetuk Andre. Lidya hanya tersenyum tipis. Sarah berinisiatif untuk menceritakan tentang ulah Alex semalam pada Andre, sekaligus permintaan pertemuan yang dipercepat itu.
"Tidak bisa, nanti jam sepuluh kamu masih ada pemotretan yang kita tidak tahu, bakal selesai jam berapa," tegas Andre. "Sekali waktu Alex harus tahu bagaimana rasanya ditolak," imbuhnya.
"Lalu kita makan apa hari ini?" Andre menatap penuh minat hasil masakan Sarah yang sudah terhidang cantik di atas meja. "Kalian benar-benar wanita sempurna, bisa memasak seharum ini. Boleh aku mencicipinya?"
"Langsung ambil dan makan saja bisa, nggak perlu basa basi sepanjang itu, Ndre," gerutu Sarah yang sontak membuat Andre dan Lidya tertawa.
"Sarah yang masak. Aku cuma kebagian bersih-bersih saja hari ini," ucap Lidya yang lalu menyuapkan makanan ke mulutnya sembari tersenyum kagum "Enak sekali, kau benar-benar seorang chef yang handal, Sarah," ucapnya.
"Kau juga sama saja dengan Andre. Sudah, makanlah, tidak usah banyak bicara, nanti tersedak." Sarah tersipu malu mendapat pujian langsung dari dua orang terdekatnya itu. Ketiganya kini makan tanpa bersuara, hingga akhirnya Andre selesai terlebih dahulu.
"Masalah pertemuan dengan Alex tetap sesuai dengan kesepakatan awal, tegaskan begitu saja, Sarah," ucap Andre.
"Baiklah, nanti aku jawab seperti itu kalau dia hubungi aku," jawab Sarah yang lalu berlari menuju kamar mandi, setelah meletakkan piringnya di atas tempat cuci piring. "Nitip ya, tiba-tiba sakit perut nih!" pekiknya tertahan. Lidya hanya tertawa menanggapinya.
Lidya mencuci semua bekas makan dan minum mereka, sementara Andre membersihkan meja makan. Ia berencana untuk tetap di sana dan berangkat bersama Lidya serta Sarah.
"Ndre, tolong dong," teriak Lidya tiba-tiba. Sontak Andre berlari mendekatinya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Keran airnya kok begini, nggak bisa dimatikan. Aku putar ke kiri malah makin banyak keluarnya," gerutu Lidya. "Lihat tuh, airnya sampai ke lantai, padahal baru ku bersihkan." Lidya menatap lantai yang tergenang air.
Andre tertawa pelan. Mungkin Lidya masih belum paham tentang keran air modern yang penggunaannya semakin diputar semakin keluar airnya. Cara mematikan hanya mengangkat tuasnya saja.
"Biar aku lihat, permisi sebentar," ucap andre yang lalu berdiri di samping Lidya untuk mematikan keran. "Begini caranya," ucapnya menahan geli.
"Ah, aku baru tahu sih," kilah Lidya malu-malu. Andre tertawa melihatnya.
"Puas banget tertawanya, Ndre. Seneng ya lihat aku malu?" gerutu Lidya yang lalu melangkah pergi karena pekerjaannya telah selesai. Tetapi baru dua langkah berjalan, Lidya tiba-tiba terpeleset dan terhuyung ke belakang. Beruntung Andre sigap menangkapnya.
"Hati-hati, lantainya licin," ucap Andre pelan sembari menahan degup jantungnya sekuat tenaga. Posisi Lidya yang bersandar padanya seolah dirinya sedang memeluk Lidya daei belakang.
"Aku masih mau ambil kain pel udah mau jatuh aja," ucapnya pelan. Ia begitu malu karena nyaris jatuh di depan Andre.
Lidya melepaskan diri dari pelukan Andre lalu kembali melangkah dengan pelan. Sayangnya ia kembali sial, kali ini ia terpeleset agak jauh dari Andre, tetapi lagi-lagi Andre sigap menangkap tubuhnya. Mereka kembali terlihat seperti sedang berpelukan. Andre tidak mampu lagi menutupi degup jantungnya, begitu pun Lidya, yang saat ini tengah mendongak menatap wajah Andre.
"Sepertinya aku harus menuntun mu," ucap Andre.
Lidya hanya tersenyum dengan wajah bersemu merah. "Tolong tangan nya di kondisikan," ucap Lidya pelan sembari meringis di depan Andre.
"Tangan?"
"Iya, lihat tanganmu sekarang pegangan apa?" jawab Lidya dengan wajah yang semakin merona.
Sontak Andre melihat ke arah tangan kirinya yang memeluk dua bukit kembar milik Lidya dengan telapak yang mencengkeram bukit sebelah kanan Lidya, sedangkan tangan kanannya melingkar di perut Lidya. Kedua matanya terbelalak seketika, menyadari kelancangan tangannya yang begitu refleks bergerak menuju ke arah yang strategis itu.
"Sorry, aku nggak sengaja," bisik Andre gugup.
"Kok makin kencang pegangannya, Ndre?" tanya Lidya dengan jantung berdebar. Hangat tubuh Andre menjalar di tubuhnya, sementara tak dapat dipungkiri, ia nyaman berada dalam posisi itu bersama Andre.
"A-aku takut jatuh kalau tanganku terlepas," bisik Andre. Ia sengaja memancing reaksi Lidya dengan kondisi mereka itu.
Lidya tertunduk diam, tidak mampu mengatakan apapun. Ia bisa merasakan dengan jelas detak jantung Andre yang sedang berlomba dengan jantungnya. Sejak menikah dengan Alex, pria itu tidak pernah memeluknya seperti ini. Andre pria kedua setelah Alex, yang pernah menyentuh area terlarangnya. Memikirkan tentang Alex, membuat Lidya tersadar akan statusnya.
"Maaf Ndre, tolong lepaskan," ucapnya pelan.
Andre tersenyum. Lidya bukan wanita murahan. Rasa ingin tahunya terjawab sudah. "Maafkan aku," desahnya sedikit kecewa, karena hanya sejenak menikmati tubuh Lidya.
Namun saat Andre melangkah sedikit menjauh dari Lidya, tiba-tiba ia pun terpeleset, refleks Lidya meraih tangannya, menarik agar Andre tidak terjatuh, namun sayangnya tenaganya kalah kuat dibanding tubuh Andre. Mereka berdua pun terjatuh bersamaan, dengan posisi Lidya berada tepat di atas tubuh Andre.
Keduanya saling menatap dalam diam dan jantung yang berdebar. Jarak yang begitu tipis diantara wajah keduanya, membuat Andre terpancing. Ia lantas begitu saja mencium lembut bibir merah Lidya lalu diam meresapi. Lidya tertegun, tidak menyangka jika Andre akan menciumnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian tiduran di lantai?"